Progress Report - Faris (4)

***

Siapa sebenarnya Nedya?

Apa alasan Ibu membawanya kemari?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut secara alami terlintas di benak Faris persis sesudah kejadian itu.

Perasaan… apa ini?

Sesudah diperkenalkan kepada Nedya, Faris dipersilakan untuk ke kamarnya kembali. Tapi sepanjang perjalanannya menyusuri lorong-lorong rumahnya yang gelap itu lagi, pikirannya berkecamuk. Ada sesuatu yang terasa tak beres. Sesuau yang tak biasa. Namun, Faris tak yakin apa.

Menenangkan diri, menahan kantuk secara ajaib yang tiba-tiba saja kembali menyerang, Faris mencoba memikirkan kembali apa yang baru saja terjadi dengan pikiran jernih. Faris diterpa dorongan luar biasa untuk menguap lebar, tapi ia berhasil memulai pemikirannya dengan pertanyaan ‘apa.’

Apa lagi sebenarnya yang sedang Ibu rencanakan?

Ibu Faris sudah sering melakukan hal-hal yang menghebohkan sebelumnya. Tapi untuk sekali ini, Faris benar-benar merasa seperti ada sesuatu yang berbeda. Ada sesuatu yang tiba-tiba saja membuatnya resah. Seperti, semacam firasat; suatu firasat aneh akan awal terjadinya sesuatu yang besar.

Hal besar? Tapi hal besar apa?

Namun pening yang dirasakannya akibat rasa lelah dan kurang tidur menggagalkan upaya Faris untuk meneruskan pemikirannya lebih lanjut. Rasa lelah itu akhirnya memaksa Faris untuk tenggelam ke alam mimpinya sekali lagi. Faris dengan cepat tiba di kamarnya kembali. Dengan menelan sedikit rasa kesal yang masih tersisa, iapun ambruk ke atas ranjangnya dan sekali lagi tertidur lelap. Menunda apapun keresahan yang dirasakannya untuk esok hari.  

Namun persis pada detik itu, Faris menyadari keanehan pertama: suara Nedya terasa mirip dengan suara yang didengarnya dalam mimpinya barusan. Ini merupakan suatu penilaian yang sepenuhnya subjektif. Karenanya, sama sekali tak dapat diandalkan menurut Faris bahkan secara bawah sadar. Maka Faris pun tak mencoba untuk berpikir dari sana lebih lanjut. Di samping itu, Faris menyadari kenyataan ini persis saat dirinya sudah separuh tertidur. Karenanya pula, kesadaran tersebut akhirnya luput dari alam sadar pikirannya untuk beberapa lama pada saat dirinya terjaga kembali.

 

 

***

Keesokan paginya, perasaan Faris sudah lebih baik. Tapi ia merasa seperti telah melupakan sesuatu yang benar-benar penting.

Faris terbangun dari tidur tanpa mimpi. Ia terbangun agak lebih siang dari biasanya. Namun jam bangunnya tak sampai ke tingkat yang akan membuatnya terlambat sampai ke sekolah.

Secara aneh, Faris merasa seperti habis melupakan sesuatu yang benar-benar berarti. Tapi kegagalannya untuk mengingat apa persisnya hal berarti tersebut hanya membuatnya kecewa dan resah. Menghela nafas perlahan, iapun bangkit dari tempat tidur, Dengan langkah gontai, ia melintasi lantai kamar tidurnya yang berselimutkan karpet hijau tua.

Faris melangkah menuju jendela kamarnya yang tertutup. Dari balik tirai yang sedikit terbuka, Faris melihat kegelapan malam yang pekat telah sedikit memudar menjadi terang. Kaca yang disentuhnya masih serasa beku oleh embun. Tapi suara kicauan burung yang riuh samar-samar sudah terdengar dari kejauhan. 

Faris menghela nafas kembali dan memeriksa jam meja kecil yang terletak di atas meja belajarnya. Faris melakukan beberapa gerakan senam sederhana untuk merenggangkan tubuhnya. Kemudian ia memeriksa buku-buku tulis yang berada di atas mejanya untuk terakhir kali, kalau-kalau ada buku sekolah penting yang lupa ia masukkan ke dalam tas.

Pada saat itulah, ia menyadari adanya sesuatu yang berbeda.

“Seragamku.”

Faris bergumam, mendapati satu stel seragam sekolahnya yang baru disetrika terlipat rapi di kursi duduk dekat lemarinya.

Kamar Faris termasuk salah satu kamar tidur terbesar di rumah itu. Terletak di lantai dasar, agak di bagian belakang, dengan langit-langit tinggi dan jendela panoramis yang menghadap ke arah timur.

Ada nuansa ‘lega’ yang Faris sukai di dalamnya. Luasnya sekitar tiga kali tiga meter, dengan dinding-dinding bertekstur krem kejinggaan polos. Perabot di dalamnya tak banyak; terbatas pada tempat tidur, meja belajar, dan satu lemari pakaian.

Lalu karena jendelanya berhadapan dengan pekarangan yang berbatasan dengan hutan, kamarnya mudah sekali gelap saat senja menjelang. Tapi Faris menyukai kegelapan awal itu. Bayangan-bayangan panjang yang menaungi kamarnya setiap senja seakan menggambarkan kerumitan rahasia dalam keluarganya yang selama ini ia terus jaga.

Sebuah rahasia yang ia sendiri tak tahu kapan akan ia bocorkan kepada orang lain.

Kamar inilah yang mungkin secara naluriah telah dipilihnya, saat orangtuanya memberitahu bahwa dirinya sudah cukup besar untuk tidur di sebuah kamar yang  dimilikinya sendiri. Kamar ini pula yang bisa dikatakan merupakan satu-satunya tempat di mana Faris bisa menemukan rasa damai.

Meski ukurannya mungkin mengesankan sebaliknya, Faris sangat jeli terhadap setiap perubahan kecil yang berlangsung di dalam kamarnya. Mungkin karena ia benar-benar merasa telah ‘menempati’ kamar tersebut selama bertahun-tahun. Karena itu, kehadiran seragam tersebut menjadi sesuatu yang teramat mencolok. Bagaimanapun, Faris jelas ingat kalau tak ada baju seragam yang diletakkan di sana pada malam sebelumnya.

Ini sesuatu yang enggak biasa, pikirnya.

Selama ini, seragamnya harus ia ambil sendiri dari dalam lemari. Atau bahkan dari ruang pencucian bila kebetulan bajunya belum disetrika.

Mungkin ada pelayan yang sadar hari ini aku akan bangun agak siang. Makanya baju ini udah disiapin di sini sebelumnya.

Pada titik ini, Faris masih berada dalam keadaan setengah sadar akibat baru bangun tidur. Pikirannya masih separuh mengawang; belum bekerja selancar biasanya.

Barulah sesudah mandi dan kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian, Faris menyadari keadaan lorong-lorong rumahnya yang lengang. Sebagian besar lampu luar telah dimatikan. Tapi tak seperti biasanya, tak ada seorangpun pelayan di rumahnya yang terlihat. Bahkan Franco yang biasanya hilir mudik dari satu ruangan ke ruangan lain pun tak terlihat.  

Apa mungkin Ibu lagi menyuruh mereka melakukan sesuatu? Apa lagi sih yang sedang ia rencanain?

Saat itu, barulah Faris tersadar.

…Seragam itu.

Tiba-tiba saja ia terhenyak.

Apa itu berarti ada salah seorang pelayan yang diam-diam masuk ke kamarku pas aku masih tidur? Tapi bukannya Ibu dengan keras enggak ngizinin mereka seenaknya masuk kamar tidur kita tanpa izin?

Sebuah kenangan lama mendadak terputar ulang dengan teramat cepat di dalam kepalanya. Kenangan saat ibunya membentak-bentakkan sesuatu soal ‘batas ruang pribadi.’

Larangan untuk memasuki ruang tidur seseorang tanpa seizin pemiliknya menjadi salah satu peraturan paling keras dalam rumah itu. Bukan hanya bagi para pelayan. Sebab bahkan Faris dan ibunya pun telah menetapkan diri untuk tak seenaknya memasuki kamar tidur seorang pelayan tanpa seizin yang bersangkutan. Hukumannya cukup keras bila ada yang melanggar. Bagi para pelayan, ancamannya pemecatan langsung. Bagi Faris—dan mungkin juga ibunya sendiri—hukumannya adalah sesuatu yang konon ‘takkan mau ia bayangkan.’

Itulah alasan mengapa Faris senantiasa diingatkan untuk secara berkala meminta kepada salah seorang pelayan secara spesifik untuk membereskan kamarnya jika Faris tak ingin membereskannya sendiri.

Tunggu, apa mungkin ini… pelayan baru itu?

Faris berpikir bahwa bisa jadi pelayan tersebut masih belum sepenuhnya mengetahui setiap norma dan aturan yang berlaku di rumah itu. Dirinya dengan diam-diam, dengan maksud baik, memasuki kamar Faris pada saat pemiliknya masih dengan lelap tidur dan kemudian mempersiapkan seragam itu di atas meja.

Tapi kemudian, kembali, Faris tersadar.

Faris tersadar akan apa hal penting yang sepertinya telah ia lewatkan.

Sebentar. Tunggu dulu, sebentar.

Pikirannya kembali hinggap ke gadis cantik yang ibunya semalam perkenalkan sebagai ‘pelayan pribadi’ barunya itu. Hal pertama yang pikirannya angkat adalah pertanyaan-pertanyaan yang malam sebelumnya sudah sempat ia pikirkan.

Apa maksud Ibu memperkenalkan pelayan pribadi itu semalam?

Terlebih dari itu, maksud ‘pelayan pribadi’ itu juga sebenarnya apa?

Memikirkannya kembali, gadis yang disebut ‘Nedya’ itu pasti seseorang yang ibunya pandang tinggi jika ibunya sempat menggunakannya bahkan untuk sekedar mengganggu Franco.

Dari mana dia berasal?

Apa sekarang juga dia benar-benar… masih ada di rumah ini?

Faris dengan gugup sekali lagi memandangi sekeliling isi rumahnya yang megah namun lengang. Jangankan Nedya, bahkan pelayan-pelayan yang lain masih kunjung tak terlihat.

Dia dipandang tinggi… bahkan oleh Ibu…

Faris kini mulai sungguh-sungguh berpikir keras.

Serius. Siapa dia sebenarnya?

Meski terkadang ia sendiri meragukannya, Faris sebenarnya memiliki suatu keyakinan aneh bahwa setiap keributan yang ditimbulkan ibunya sebenarnya telah terencana. Dalam artian, kalau sebenarnya ada semacam makna atau arti tersembunyi di balik setiap tindakan ‘liar’ yang ibunya lakukan.

Faris tak terlalu bisa menjelaskan atas landasan apa keyakinannya ini berdasar. Tapi bagi Faris, hal tersebut cukup terindikasikan dari kenyataan belum adanya kerabat atau rekanan bisnis yang mengambil alih kekuasaan atas perusahaan-perusahaan mereka.

Dengan suatu cara yang masih belum Faris pahami, mungkinkah ibunya sebenarnya masih memegang kendali atas segala sesuatu yang terjadi di dalam rumah dan kehidupannya? Apa mungkin semua tingkahnya itu sebenarnya hanya sandiwara?

Tapi, untuk apa?

Faris sebenarnya sudah lama menyerah untuk mencoba memahami atau bahkan menemukan jawabannya. Tapi kini, dengan kemunculan Nedya…

Faris tanpa sadar mengepalkan tangan.

Jika gadis bernama Nedya itu sungguh-sungguh dipandang tinggi oleh ibunya, bahkan sampai dipandang mampu menggantikan kedudukan Franco sebagai kepala pelayan, apa benar dirinya tak tahu soal aturan untuk tak seenaknya masuk ke kamar orang itu?

Baru pada titik itu sungguh-sungguh terpikir oleh Faris, mungkinkah memang ada sesuatu tentang situasi hidupnya saat ini yang selama ini luput dari pengetahuannya?

Namun Faris tak memiliki waktu untuk mempermasalahkan hal ini lebih lanjut.

Dengan ketiadaan para pelayan untuk membantunya, ia harus melakukan segala persiapan keberangkatan ke sekolahnya sendiri. Ini suatu hal yang biasanya takkan dipersoalkannya, mengingat dirinya sudah lebih dari cukup mampu untuk bersikap mandiri. Hanya saja, segala sesuatunya benar-benar jadi terasa tak wajar…

Melintasi ruang makan kecil saat hendak memakai sepatu, sebelum keluar rumah melalui pintu pekarangan samping yang terhubung dengan dapur, Faris mendapati sarapan untuknya rupanya telah disiapkan di atas meja. Beberapa potong roti tawar panggang dan dua porsi telur dadar. Lengkap dengan mentega untuk roti; serta irisan daun bawang, potongan tomat, serta cacahan keju pada telur. Masih hangat dan mengepul.

Faris terpana sejenak, kemudian mengernyit.

Rumah Faris memiliki ruang makan besar untuk menjamu tamu yang terletak tak jauh dari pintu depan. Lalu ada ruang makan kecil yang lebih sederhana, yang dekat ke dapur, yang dulu sering digunakan oleh Faris dan keluarganya—meski pada tahun-tahun belakangan lebih banyak digunaan oleh Faris sendiri.

Melihat hidangan ini, kembali, ada sesuatu yang dirasanya aneh. Sesuatu yang mengingatkan Faris akan sesuatu, tapi Faris tak yakin persisnya apa.

Karena sudah terlanjur dikejar waktu, Faris mempersilakan diri untuk sarapan tanpa banyak bertanya-tanya.

Sesudahnya, Faris dalam diam meletakkan perabot makan yang baru digunakannya di tempat cucian piring, memanggul tas sekolahnya yang sempat ia letakkan di atas salah satu kursi, keluar pintu samping, mengencangkan tali sepatunya, kemudian mengeluarkan sepeda gunungnya dari bangunan gudang.

Matahari telah beranjak naik. Angin semilir yang sejuk berhembus. Udara pagi yang masih segar dan dingin mengisi paru-parunya.

Ke mana sebenarnya koki dan para pelayan yang lain? adalah hal terakhir yang Faris pikirkan saat memandang kembali ke arah pintu.

“Aku berangkat!” Faris mencoba berteriak.

Namun seperti diduganya, tak ada jawaban.

Faris kemudian memastikan pintu yang baru dilaluinya telah tertutup rapat, menaiki sepedanya, dan mulai mengayuh.

Namun persis saat ia berbelok melewati rerimbunan semak yang menghiasi kebun bunga di halaman depan rumahnya, Faris merasa ada salah seorang pelayan wanita keluar dari pintu yang baru ia lalui dan membungkuk ke arahnya. Tatkala menyadari itu, Faris sudah terlanjut melaju terlalu cepat untuk berhenti.

Read previous post:  
23
points
(2929 words) posted by Alfare 8 years 5 weeks ago
57.5
Tags: Cerita | Novel | drama | misteri | remaja | scifi
Read next post:  
Writer chatalex
chatalex at Progress Report - Faris (4) (7 years 45 weeks ago)
Writer 145
145 at Progress Report - Faris (4) (8 years 4 weeks ago)
90

Uuh chapter yang cukup padat... meski tidak terlalu panjang lumayan berat membacanya, mungkin karena perpaduan antara narasi dan deskripsinya.

Writer Alfare
Alfare at Progress Report - Faris (4) (8 years 4 weeks ago)

Setelah aku membacanya kembali, bagian ini emang agak aneh. Damn. Aku mesti memperbaikinya lagi nanti.

Writer Door_Knocker
Door_Knocker at Progress Report - Faris (4) (8 years 4 weeks ago)
70

Setuju ama Sam ^^
Bab ini lebih berupa penjelasan setting dan belum ada pengaruh yang terlihat dari bab sebelumnya. Penjelasan setting yang detail banget bukan seleraku sih makanya nilai Bro Al agak turun ^^
.
Lanjut!

Writer Alfare
Alfare at Progress Report - Faris (4) (8 years 4 weeks ago)

Sori. Biasanya aku juga enggak kayak gini. ^^
.
Tapi aturan Chekov's Gun udah kupikirin secara baik kok. Jadi ga akan ada deskripsi di cerita ini yang bakalan sia-sia.
.
Makasi banget udah ngikutin ampe sejauh ini. Postingan berikutnya bakalan agak panjang.

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at Progress Report - Faris (4) (8 years 4 weeks ago)
70

...saya bakal jujur. Saya ngerasa ga dapet apa-apa dari bagian ini selain pemikiran Faris yang seolah lagi berusaha membangun suasana / setting
.
Bab Faris, eh? Berarti bakal ada pergantian PoV ya... Hum.

Writer Alfare
Alfare at Progress Report - Faris (4) (8 years 4 weeks ago)

Hmm. Mungkin itu enggak salah-salah amat sih. :|
.
Sori. Trims.