Cerpen Usang 28: Pelacur Ke-1000 di Pekaranganku

Maaf, tulisan ini dihapus karena menghindari plagiasi

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post

Well yeah, ceritanya memang agak keras, vulgar dan begitulah. Tapi cukup frontal dan ane setuju dengan intinya. Paling suka ke bagian Tuhan juga gak bakalan kasih izin melacur, benar-benar langsung ke inti bahwa memang gak ada alasan untuk melacur secara hakikatnya :)

70

Saya rasa ga ada masalah sama tulisan ini sih. You write whatever you want to write. Dan soal pandanganmu yang agak "keras" terkait soal ini, itu sama sekali hakmu buat berpandangan begitu, dan hakmu juga buat menulisnya dengan cara kayak gini.
.
Walau secara pribadi, menurut saya bentuk racauan begini ga cukup memuaskan buat dikatakan sebagai 'cerpen' sih. Tapi yea, selama ada isinya dan dituturkan dalam bahasa kepenulisan, saya ga bermasalah sama postingan macam ini. Pada intinya, masih jauuuuh lebih mendingan daripada banyak postingan lain yg berseliweran di situs ini belakangan. At least ini bisa bikin orang mikir. :p
.
*comot tempe lalu kabur*

pernah baca cerpen Emha Ainun Najib yg judulnya, "Pelacur ke-1000 di Ranjangku" nggak? atau cerpennya Djenar Maesa Ayu yang judulnya, "Namaku..." pernah?
paling tidak jika cerpen ini tidak setara dengan dua cerpen karya dua orang di atas. Maka cerpen ini suatu bentuk dekonstruksi acak adut dari dua cerpen di atas

Terserah anda mau makan tempe atau gak. Yang penting, saya dibagi.

70

Humm... Menurutku cerpennya ga jelek. Vulgar, ya. Cerita ga ada. Tapi tujuannya kurasa untuk direnungkan. Walaupun memang, tokohnya ini kontradiktif. Di awal seakan menentang prostitusi, tapi di akhir ternyata tokohnya penikmat juga. /swt
.
Uhuk. Ga kaya Mba cnt, wacau. Aku rasa ceritanya ok ok aja ditaruh di kekom. Toh kan namanya situs penulisan bebas. (ampuuunn, guysss, girlsss... Jangan timpuk saia TT___TT)
Tapi baiknya sih, dikasih tag dewasa aja.
.
Piss, all.... ^^v
.
*anggra melarikan diri ke lcdp*

terserah anda, untuk tags "Dewasa", sebenarnya saya sendiri males nyantumin berbagai macam tags selain tag "kumpulan cerpen usang"

80

Saia tidak sependapat dengan mbak cnt dan mas wacau. Saia jadi ingat kalau ada hukum atau apalah tentang kebebasan berpendapat. Saia jadi ingat buku/referensi yang saia baca tentang tulisan vulgar beginian di indonesia dulu. Engga apa apa kok dipublish, tapi memang kemudian.com (benar kata mbak cnt) itu bukan diatas 17 (dewasa secara psikologi) semua. Ada juga kok yang anak-anak.

Menurut saia tulisan ini lumayan kok, seperti punya perasaan tersendiri terselip dalam tulisan ini. Kembali keatas, tulisan se-sarkasme dan se-vulgar ini tidak baik dipublish si public site yang bisa dibaca bebas oleh orang banyak (termasuk dibawah umur)

Maaf, saia jadi meracau, abaikan saja kalau ga berkenan, di bantai juga gapapa. Ini hanya pendapat pribadi saia. Maaf kalau berasa sotoy.

pernah baca cerpen Emha Ainun Najib yg judulnya, "Pelacur ke-1000 di Ranjangku" nggak? atau cerpennya Djenar Maesa Ayu yang judulnya, "Namaku..." trus di kalimat pembukanya ditulis gini, "Memek namaku." ? pernah?

paling tidak jika cerpen ini tidak setara dengan dua cerpen karya dua orang di atas. Maka cerpen ini suatu bentuk dekonstruksi acak adut dari dua cerpen di atas

oh btw, 'perduli' itu harusnya 'peduli' lho

oohhh perduli itu jadi peduli. Saya pikir tadinya "peduli" itu kata bakunya "perduli"

60

Oke, sekarang cabenya.
.
Ini... tokoh utamanya keren. Bukan, bukan. Maksud saia, narasi POV 1 di cerpen ini sangat pas menggambarkan sifat si protagonis. Untuk hal ini dikau berhasil; +2 poin dari 5 poin awal.
.
Selanjutnya. Saia enggak tau cerpen ini tujuannya apa. Bukan, saia bukan ngomongin tema ataupun masalah pelacuran dst dst. Tapi ini: Cerpen ini bercerita tentang apa? Dari yang saia baca sepertinya cuma infodump isi kepala si protagonis doang dari awal sampe akhir. Enggak ada sesuatu-sesuatu yang menjadikan ini sebuah cerita pendek. Untuk ini dikau gagal; -2 poin dari total 7 poin.
.
Satu lagi. Ini masalah selera. Di isi cerpen ini enggak ada penjelasan bahwa si pelacur adalah pelacur keseribu. Keterangan macam itu cuma ada di judul. Nah menurut saia ini hal bagus! Soalnya, kalo udah dijelasin di judul, buat apa buang-buang kata di isi buat ngejelasin ulang? Tambah +1 poin dari sisa 5 poin.
.
Total 6 poin. 3 bintang.
p.s. Ksatria Moral itu apaan sih?

Ksatria Moral itu (bisa jadi) salah satu calon cerpen FF2013 (saya) nanti

Ksatria Moral adalah kakak dari Satria Oral

innuendo detected

pernah baca cerpen Emha Ainun Najib yg judulnya, "Pelacur ke-1000 di Ranjangku" nggak? atau cerpennya Djenar Maesa Ayu yang judulnya, "Namaku..." trus di kalimat pembukanya ditulis gini, "Memek namaku." ? pernah?

Enggak pernah. Emang kenapa?

jika tulisan ini tidak setara dengan dua cerpen karya dua orang di atas. Maka cerpen ini suatu bentuk dekonstruksi acak adut dari dua cerpen di atas. Tetapi sekali lagi terserah pembaca bagaimana memaknainya

Oh waw, keren.
.
Lalu apa tanggapan dikau terhadap ulasan saia di atas? Jawaban dikau yang menjelaskan bahwa ini adalah "bentuk dekonstruksi cerpen Emha dan Djenar" menurut saia hanyalah sekilas info, bukan tanggapan.

ya saya terima saja krena itu kan anda sebagai pembaca berhak memaknainya begitu sesuai kehendak anda. Untuk apa saya gurui bagaimana cara anda menanggapi tulisan saya.

Dikau ini kok mikirnya kebalik sih?
.
Saia tanya, apa tanggapan dikau terhadap ulasan saia. Kenapa malah saia yang harus menanggapi tulisan dikau?

anda tanya apa tanggapan saya terhadap ulasan anda. Maka saya jawab, nggak akan saya tanggapi karena untuk apa saya tanggapi ulasan anda sebab ulasan anda kan tanggapan untuk tulisan saya. Saya menghargai apapun ulasan (komentar) orang lain terhadap tulisan saya, dan tidak akan menggurui bagaimana caranya orang lain menanggapi, mengulas, memaknai tulisan saya. Begitu maksudnya

*makan tempe*

100

Hai cinta~

Hai cyyn~

100

Oh wow. A Serbian Film

Eh tapi tapi di sini kurang seru, soalnya enggak ada nyolok mata orang pake phallus sampe mati, lol

my thoughts exactly!

*makan tempe*

saya tidak peduli kamu makan tempe atau makan tahu.

uh ... tapi saya juga lapar sih sebenernya sih sih

90

Wah ada apa dengan komentar2 dibawah o.o padahal menurut saya ini bagus. Ya orang kan bedabeda hehe

pernah baca cerpen Emha Ainun Najib yg judulnya, "Pelacur ke-1000 di Ranjangku" nggak? atau cerpennya Djenar Maesa Ayu yang judulnya, "Namaku..." trus di kalimat pembukanya ditulis gini, "Memek namaku." ? pernah?

80

:( Jadi keinget ....orang, kenapa emosiku meluap waktu baca cerita ini kak? kenapa seperti hina sekali?
tapi sebenarnya bagus

semua saya serahkan kepada pembaca

10

Baca ini kok rasanya perih. Bukan karena terpukau oleh cerpennya (sama sekali tidak!), melainkan karena sy teringat pada film dokumenter At Stake/Pertaruhan. Dalam film tersebut ada Nur, seorang ibu dari 4 orang anak yang ditinggal suaminya sehingga terpaksa melakoni hidup yang memedihkan: siang menjadi buruh pemecah batu sementara malamnya menjadi pelacur bertarif 10ribu. Semua itu atas dasar tekad kuat bahwa anak-anaknya mesti sekolah. Pun dia tak pernah mengeluh, baru ketika film Pertaruhan diputar di Jiffest dan orang-orang menangis menonton kehidupannya, dia berujar, "Kok, hidupku ternyata berat sekali ya."
Berdasarkan peristiwa2 semacam itulah sy bersetuju dengan Wacau, bahwa isu seperti ini tidak bisa disederhanakan menjadi melulu soal selangkangan. Ada jaring yang sangat rumit yang menjadikannya tidak serta-merta hitam-putih. Bersumpah serapah memang mudah, tapi untuk mempreteli persoalan-persoalan yang melatarbelakanginya...? Dan mau tidak mau sy jadi membayangkan apa yang bakal dirasakan Nur atau perempuan-perempuan lain yang senasib dengan dia kalau membaca cerpen ini. Berang? Gusar? Sedih? Ah, barangkali untuk bersedih pun mereka tak punya waktu...

wah, ini cuma cerpen asal saja, untuk apa berlogika macam2 kaya nulis skripsi, tesis, atau disertasi. Lagipula kalau anda semua mau khutbah dan peduli moral, cari saja orang lain. Saya tidak butuh digurui oleh anda. Kalau mau jadi ksatria moral, cari saja orang2 yang suka ama moral. Siapa anda dan komentar anda juga tidak penting buat saya. Kecuali kalau memang anda semua doyan nyampah di wadah komentar, ya silahkan.

kali ni aku jg setuju dengan poinmu. trims udah berbagi satu contoh yg relevan dg persoalan pelacuran, soalnya aku rada ga mood untuk ngetik banyak, walopun sebagian dah keketik juga. mudah2an yang punya tulisan kembali ke jalan yang benar, dan insap dari jalan sumpah serapah.

ini mah bukan cerpen yang usang, tapi konstruksi berpikir penulisnya yang acakadut amburadul ga karu2an. dari kata pertama di alinea pertama sampai kata terakahir di alinea terakhir, semua logika yang dibangun jungkir balik.

 

di satu sisi menghakimi pelacuran, tapi di sisi lainnya seolah2 membenarkan lelaki yang memanfaatkan jasa mereka : "Acap kali kau menimpakan kesalahan kepada penisku dan penis lainnya yang kau nikmati untuk mencari uang" <- (double facepalm). dan "Tuhan terlalu egois untuk memikirkan nasibmu, Dia cuma mencipta, bukan mengasuh bayi", ya .. itu tuhanmu, klo Tuhanku Dia mengasuh semesta ini tanpa pandang bulu.

 

sebaik2 tulisan itu, minimal minimal adalah pepesan kosong. tapi tulisan ini berada di level minus, berderajat2 di bawah pepesan kosong. mending dirimu itu banyak2 introspeksi diri aja. ga usah sok2an jadi kesatria moral, apalagi kalau ga ngerti dan ga bisa memetakan persoalan yang ada. emangnya pelacuran itu sekedar persoalan kelamin?? emangnya moralitas itu melulu urusan selangkang??

 

bagiku, tulisan ini ga layak dipublish .. dimanapun.

emangnya saya jadi ksatria atau pejuang moral ya? wah terserah saja lah klo situ membacanya demikian. Yang jelas saya hanya menulis apapun yg saya mau di sini. Malahan kalau nantinya anda justru melarang2 saya mulis di sini karena tulisan saya seperti ini. Justru anda yg kelihatan jadi ksatria moral. Sekarang sih saya masih beranggapan anda gak sampe ke arah melarang2 itu

wow .. dari poin2 yang disampaikan, daya nalarmu cuma sebatas ksatria moral atau bukan? apa kamu ndak bisa melihat bahwa itu sekedar bumbu dan poin2 sebelum dan sesudah line tersebut, yang jauh lebih penting? secara ga langsung, line yang aku bold seblmnya itu tepat kan ?

 

aku baru menunjukkan 2 poin dari absurditas logika jungkir balikmu, padahal seperti yang aku bilang aku bisa mengurutkan dari kalimat pertama smpe kalimat terakhir kesalahan berpikirmu. cuman itu jelas buang2 waktu, lha wong poin2 penting pada level komentar aja ga bisa kamu tangkap kok. (facepalm)

 

semangat untuk kebenaran harus dibarengi dengan kemampuan nalar dan logika yang jangkep, sehingga persoalan bisa dipetakan sedemikian rupa, sukur2 bisa mengarah pada rumusan2 penyelesaian yg tepat sasaran. nah tulisan mu ini boro2 penyelesaian, pemetaan persoalan aja ga ada sama sekali. yang ada cuma sumpah serapah, dan serapah, dan sumpah, dan sumpah serapah.

 

setau aku ya, para nabi mengatakan diri mereka dzolim lewat doa2 mereka dan mendoakan kebaikan untuk seluruh umat. nah ente (sadar ato tidak) menempatkan diri sebagai ksatria yang paling tidak dzolim sehingga paling lancar menyumpah serapahi orang lain. dan lazimnya, sumpah serapah itu berbalik dan mengenai diri yang menyumpah.

bla bla bla, terserah anda saja-lah mau memaknai apa dan bagaimana.

perasaan jawaban komentar dari anda kebanyakan cuman "terserah... terserah dan terserah..."

Kalo kekom adalah situs pribadi anda, mungkin silakan saja kalo mau terserah, tapi ini kan situs publik, dan udah ada terms and conditionnya sbelum gabung ke sini. Mohon ditaati ya. Jangan cuma terserah terserah aje... Mau jadi penulis kan? Pertama-tama mulai dari perbaiki sikap ente dulu...

Nulis sesuatu yg isinya cuman pepesan kosong buat apa? Buang2 energi aja buat sesuatu yg ga ada manfaatnya... :)

ya terserahlah, mau pepesan kosong atau tidak, buang energi atau tidak, ngapain harus ngikutin kemauan atau ucapan orang lain. Saya mau nulis apaan juga terserah saya sebagai orang yg bebas dan punya kehendak bebas. Dan kalau anda mau khutbah, mendingan cari orang yang mau digurui, tapi kalau emang doyan nyampah di sini ya saya persilahkan. Saya pun gak butuh khutbah anda sebenarnya, tetapi anda pun saya persilahkan mau komen atau tidak komen. Makanya saya jawab terserah anda mau komen di sini seperti apa atau bagaimana.

ya ampun. kamu merusak niatku buat gak banyak komentar di kekom lagi. :))
tulisan apa ini? tulisan yang isinya cuma bahasa kotor semua. kamu pikir anggota kekom itu yang usianya di atas 17 th semua? masih banyak yang di bawah umur, dan ketika mereka membaca tulisan sampah serapahmu ini, entah apa yang akan terjadi dengan otak mereka. ckckck.. poor kekom.

waduh, saya bukan ksatria moral, jadinya ga berpikir kalo nulis

=)) pantesaaaaaaaannnnn............ punya otak ga dipake sih, ya? ga pernah mikir kalo nulis. =)) jadi tulisannya kayak orang misuh2 ga jelas dan ga ber-etika. secara tidak langsung kamu mengakui bahwa kamu punya otak tapi ga dipake. =)) isinya kutu x, ya?

to: momod. plis hapus postingan ini. aku setuju sama saudara wacau, postingan ini tidak pantas dipublish dimanapun.

wah, ini baru ksatria moral. Ya, terserah anda sih mau nggak setuju atau setuju. Soal usulan menghapus tulisan ini juga terserah saja. Yang jelas saya hanya menulis. Kalau pun dihapus, saya juga ada blog2 lain yang sudah saya posting tulisan ini dan bisa disearch di google. Jadi tak perlu khawatir.

ga nanya kamu dah posting di blog mana aja. :)) ga usah promosi deh. liat yg di sini aja udah eneg, suruh search pulak di google. =)) sok penting lu, ah!

anda saja gak saya minta komen tetap komen. saya juga ga perlu ditanya buat promosi. gitu aja kok repot

Sejujurnya aku jijik terhadap pelacur---> dan sy jijik membaca tulisan anda ini

silahkan saja anda mau jijik terhadap apa saja. Bukan urusan saya.