What Happened in London

BAB SATU

Keklisean Murid Baru

 

 

Seorang anak cowok yang luar biasa tingginya—seratus delapan puluh sentimeter lebih, kalau boleh kutebak—dengan kulit putih yang luar biasa bersih serta rambutnya yang cokelat—cokelat, maksudku benar-benar cokelat seperti warna batang pohon. Ya, cokelat yang seperti itu—serta mata berwarna biru—singkatnya, seorang anak cowok yang luar biasa tampan—sedang berdiri di depan kelas sekarang. Pak Anggono, guru kimia sekaligus wali kelasku, sampai harus mendongak untuk memperkenalkan murid baru itu, padahal Pak Anggono juga bukan seorang pria yang pendek.

            “Jadi, Anak-anak,” kata beliau berusaha meredam kasak-kusuk yang terjadi di kelas XI IPA 6 saat ini. Semestinya Pak Anggono tak perlu kaget mendengar murid-muridnya asyik berkasak-kusuk setiap kali ada murid baru. Apalagi murid baru yang ganteng atau cantik, semacam yang ada di depan kelasku sekarang ini. Omong-omong dia belum menyebut namanya. Kutebak namanya cukup keren seperti Steven atau Nicholas. Kalian tahu orang-orang tampan selalu memiliki nama yang tampan pula. “Mulai hari ini Daniel—“Aku benar, kan,” gumamku—akan menjadi kawan baru kalian. Ia berasal dari Inggris, tapi sudah beberapa tahun menetap di Jakarta. Sebelumnya Daniel homeschooling di rumahnya, tapi kemudian ia ingin mencoba bersekolah di sekolah umum. Hari ini hari pertamanya, jadi Bapak mohon kalian bisa berteman dengan Daniel dengan baik. Kau bisa kenalkan namamu, Daniel?”

            “Iya, Pak,” katanya dengan bahasa Indonesia beraksen Inggris—adakah hal semacam itu?—dengan terbata-bata. “Nama saya Daniel Luis Schirmer, tapi kalian bisa memanggilku Dan. Saya harap kita bisa berteman baik.”

            Kelas mengalami situasi yang kusebut keheningan-tak-wajar. Entah mereka semua terpana dengan logat Inggris-nya yang menggoda—kuakui logat Inggris-nya memang begitu kental. Aku cukup terkejut mengingat ia sudah beberapa tahun menetap di Jakarta, tapi kupikir homeschooling itu penyebabnya—atau mereka tak ingin berteman baik dengan Daniel.

            “Dia keren banget, kan, Stef?” bisik Rasya, sahabat sebangkuku yang manis, tepat di telingaku. Setiap udara yang ia embuskan tepat ke lubang telingaku membuatku merasa geli.

            “Betul, ia keren.” Aku mengangguk setuju. Aku akan menjadi seorang pembohong besar kalau mengatakan murid baru itu jelek karena kenyataannya sebaliknya.

            “Lo pikir dia udah punya pacar?” Rasya berbisik. Aku menoleh ke arahnya dan memancarkan ekspresi tidak percaya yang sudah menjadi ciri khasku. “Apa?”

            “Ah, enggak apa-apa,” gumamku. Pertanyaan Rasya baru saja membuatku bertanya-tanya apakah semua anak cewek yang ada di kelas ini menanyakan pertanyaan yang sama. Entah mengapa aku merasa merinding dan bergidik. Kuputuskan untuk mengalihkan pikiranku dari hal itu dan memandang Dan—wow, aku sudah mulai memanggilnya dengan nama panggilan—yang sedang menuliskan nama lengkapnya dengan spidol di papan tulis. Tulisan tangannya jelek sekali. Maaf.

            Da-nie-l Lu-is Sc-hirm-e-r. Aku menelengkan kepalaku untuk berusaha membaca mantra macam apa yang ia tulis di sana. Daniel Luis Schirmer. Nama itu kedengarannya tak begitu asing bagiku. Barangkali aku pernah melihatnya di kredit yang sering muncul di akhir film bioskop yang biasa kutonton bersama Rasya dan Ervan, teman cowokku yang sekarang sedang asyik mengupil di bangku sebelah kananku. Aldi, teman sebangkunya, menatapnya penuh kejijikan sepenuh hati, sementara Ervan sekarang menoleh ke arahku dan memberikan seringainya yang tersohor. Aku membalasnya. Kedudukan Ervan sebagai cowok keren ketiga dalam kelas mulai terancam akibat kedatangan murid baru.

            “Oke, mari kita lihat tempat dudukmu, Daniel,” kata Pak Anggono sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas. Aku tahu kalau Daniel akan duduk di bangku belakangku saat Pak Anggono mengunci tatapannya tepat ke arahku selama beberapa milidetik sebelum mengalihkannya lagi. Dengan cepat ia beralih kembali kepadaku dan menunjukku—maaf, bangku di belakangku, maksudnya—dan berkata, “Bagaimana kalau bangku kosong di belakang Stefanie dan Rasya, Daniel? Kau tak keberatan duduk di belakang, kan, Daniel? Stefanie akan senang hati membantumu. Lagipula ia lahir dan besar di London.”

            Pak Anggono tersenyum penuh makna kepadaku.

            Tuh, kan. Tuh, kan. Aku selalu bilang pada Dad kalau lahir di London itu tak pernah memberiku keuntungan, tapi Dad tak mau mendengar.

            “Tentu, Pak,” jawabku sambil menyunggingkan senyum. Sementara di sampingku, Rasya mencubit lenganku berkali-kali. Cubitannya terkenal cukup masyhur di kelas ini kalau kalian ingin tahu.

            “Si cowok ganteng bakalan duduk di belakang kita,” desisnya bagaikan seekor ular sanca. Aku tak tahu apakah ular sanca berdesis, tapi itu satu-satunya jenis ular yang sanggup terpikirkan saat ini.

            “Iya, gue tahu,” kataku kalem. Cewek yang jarang melihat cowok tampan macam Rasya memang harus ditenangkan sesegera mungkin sebelum ia berhiperventilasi.

            “Ya Tuhan, mimpi apa gue semalam?” ucap Rasya pelan sambil menatap langit-langit kelas. Sementara itu, si murid baru yang ganteng itu sudah berjalan menuju ke bangku belakang tempatku dan Rasya duduk sekarang—Rasya berhiperventilasi, sesuatu yang kutakutkan, sekarang.

            Daniel mengulurkan tangannya ke depan Rasya, dan Rasya, dengan ekspresi yang amat tidak natural, membalas uluran tangannya dan berkata, “Rasya Ferniani.”

            “Hai, Rasya. Senang bertemu denganmu,” ucapnya sambil tersenyum.

            “Aku juga senang bertemu denganmu, Dan,” balas Rasya. Dia menggunakan aku alih-alih gue menunjukkan ada sesuatu yang salah di sini. Aku ingin melambai-lambaikan tanganku kepada Mifta, gadis berkerudung yang menjadi seksi kesehatan di kelas ini, untuk segera memboyong Rasya ke UKS.

            Daniel kemudian beralih kepadaku dan mengulurkan tangannya padaku. Aku sempat melirik jam tangan Rolex hitam yang meliliti pergelangan tangannya yang putih dan mencium aroma mint yang menyeruak dari tubuhnya. Parfum mahal kutebak.

            “Stefanie Hartwick,” ucapku sambil membalas uluran tangannya.

            Ia mengernyitkan dahinya seakan-akan sedang berpikir, lalu berkata, “Kau orang asing juga?”

            Aku mengangkat bahu dan menjawab, “Dad dulu orang Inggris, tapi sekarang ia tinggal di Indonesia.”

            Daniel mengangguk-angguk, tapi kemudian ia mengernyitkan dahinya untuk kedua kalinya kepadaku—apa lagi yang salah?

            “Apa kita pernah bertemu sebelumnya, Miss Hartwick?”

            Aksen Inggris-nya saat menyebut nama belakangku benar-benar membuat jantungku berdetak seratus tiga belas persen lebih kencang. Kalian tahu aksen orang Inggris saat menyebut kata-kata yang mengandung huruf ‘r’. Sensasinya seperti itu.

            “Tidak, kurasa tidak,” jawabku pelan.

            “Sudah cukup perkenalannya, Daniel?” tanya Pak Anggono. Ia sudah menghapus tulisan nama Daniel-Luis-siapa-tadi dan sudah menggantinya dengan tulisan laju reaksi, lengkap dengan gambar grafik-grafik memusingkan.

            “Sudah, Sir,” katanya. Kemudian ia kembali berjalan dan mendengar suara debum ransel pelan yang dijatuhkan ke atas lantai kelas. Aku berani bersumpah Pak Anggono merinding mendengar dirinya dipanggil dengan sebutan ‘Sir’. Apalagi oleh orang Inggris. Sensasinya sama seperti yang sudah kusebutkan tadi.

            Apa kita pernah bertemu sebelumnya, Miss Hartwick?

            Tidak, kurasa tidak.

            Untuk kesekian kalinya, aku kembali berbohong. 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer ianz_doank
ianz_doank at What Happened in London (9 years 24 weeks ago)

dan, ceritamu slalu bikin penasaran.. Awas kalau sampai yg ini jg nggak dilanjutkan.. Ahaha

Writer dansou
dansou at What Happened in London (9 years 23 weeks ago)

Kak Iaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan >////< *nari-nari pompom*

Writer ianz_doank
ianz_doank at What Happened in London (9 years 20 weeks ago)

ahahaha.. Aku tunggu lanjutannya segera... :D

Writer znake
znake at What Happened in London (9 years 24 weeks ago)
100

biar poin yg berbicara. wahai raja narasi, saya pesen cabe ditulisan saya, sepedas apapun saya akan memakannya dengan bahagia *hormat*

Writer dansou
dansou at What Happened in London (9 years 22 weeks ago)

Oh... stop it's you... ._.

Writer simple_mind
simple_mind at What Happened in London (9 years 29 weeks ago)
2550

INI KEREN BANGET CERITANYA! :D:D:D
alur ceritanya mulus dan bisa tergambarkan dengan baik. Kebayang sih sosok "Daniel" itu dengan mata birunya hehe

lanjutin donggg, pengen tau ada apa di balik pertemuan Daniel dan Stefanie. Ditunggu ya lanjutannya :)

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at What Happened in London (9 years 30 weeks ago)
90

Dandy, sebenerna narasina bagus, BANGET.
Tapi, tanda strip (euh, DASH?) kadang ga pas penempatanna, bikin bacana tersendat-sendat.
.
Ya, ya, ya, seperti yang banyak dikomentari di sini, kau RAJA NARSIS, Dandy XDD
Harusna nama panggilanna BUKAN Dan, melainkan Dandy~ >:D
.
Terus... hmm... Di sini:
“Mulai hari ini Daniel—“Aku benar, kan,” gumamku—akan menjadi kawan baru kalian. Ia berasal dari Inggris, tapi sudah beberapa tahun menetap di Jakarta.
Kayakna ada kesalahan penempatan tanda petik deh, Dandy~ :D

Writer dansou
dansou at What Happened in London (9 years 29 weeks ago)

*peluk Gie* *pokoknya apapun komentar Gie, tetep peluk Gie*

Writer yuu_sara
yuu_sara at What Happened in London (9 years 31 weeks ago)
100

nyundul poin.

Writer skybluescramble
skybluescramble at What Happened in London (9 years 31 weeks ago)
70

aku baru aja menemukan halaman ini karena rekomendasi seseorang, dan....

oh. god. why.

TROLL BANGEEEEEEEET :))))

oke.
namanya DANIEL.
SERATUS DELAPAN PULUH SENTIMETER.
BULE.
(DIKISAHKAN) GANTENG.
BERLOGAT BRITISH UNYU NAN SEKSI.
ehm, gak yakin sih 'seksi'nya ada beneran di tulisan di atas, but anything's fine. whatever.

SUMPAAAH TROLL BANGET x)))

*kemudian menghela napas untuk berhenti ketawa*

mengenai tulisanmu...

fine.
bagus sih, kayak baca novel teenlit" pada umumnya. cuman masih awkward aja bahasa dialognya, kayak bingung antara mau kamu kulturisasikan ala novel barat atau teenlit indonesia.

ini gak ada lanjutannya ya?
yaudalah kalo gak ada.
gue cuman nanya.
*antiklimaks

Writer revalina
revalina at What Happened in London (9 years 32 weeks ago)
100

lanjutin dongggg :DDDD

Writer revalina
revalina at What Happened in London (9 years 32 weeks ago)

keren sekali >.< alur ceritanya mulus banget dan bisa dinikmati, tapi sayang ceritanya belum tuntas tuh T_T

Writer Aletheia_agatha
Aletheia_agatha at What Happened in London (9 years 32 weeks ago)
90

ini cuma perasaan saia apa...?
narasinya.. yeah, renyah, mengalir. saia iri -__-
tapi kurang sreg ama dialognya. bahasa gue-elo-nya kayak kaku banget gitu. trus si Gurunya, Pak Anggono juga bicaranya kaku--apakah karena ketularan bahasa dialog yang lain? saia nggak tahu :v
.
btw, karena dikau udah dicap sebagai "raja prolog", saia nggak ngarep ada lanjutannya :P
.
#Daniel ganteng? musti itung2an ama Fiefie nih -___-

Writer dansou
dansou at What Happened in London (9 years 32 weeks ago)

Tuh kan tuh kan saya enggak berbakat ber-gueh elooh oTL
.
Pak Anggono guru gauuuuuul \m/
.
Hum... sebenernya saya mo bikin ini kolab, cuma sedang menunggu lamaran orang.
.
Thank youu~

Writer Titikecil
Titikecil at What Happened in London (9 years 32 weeks ago)
80

Acung jempol deh bua prolognya yang sukses bikin penasaran buat nungguin kelanjutannya,
Cuma aku rada ga nyaman di dua paragraf awalpas penggunaan kata2 sekarang yg tkesan boros ato ga tau kalo ini malah typo..heu
-semacam cowok tampan yang sekarang ada didepan kelasku sekarang
-sekarang sedang berdiri dideppan kelas sekarang
ga tau seh ya tapi ini berdasar rasaku aja hehe lam kenal yak!

Writer dansou
dansou at What Happened in London (9 years 32 weeks ago)

Ah... iyaaa... saya pasti ngantuk waktu ngetik itu. Makasih ya :)

Writer Dedalu
Dedalu at What Happened in London (9 years 32 weeks ago)
90

Saia iri dengan diksinya~ :(

Writer dansou
dansou at What Happened in London (9 years 32 weeks ago)

iri sama diksinya gimana -_- ini diksi standar sestandar-standarnya

#hajaar

Writer Dedalu
Dedalu at What Happened in London (9 years 32 weeks ago)

Eh, iya loh, dandy. Banyak penggunaan kata-kata yang tidak biasa, tapi masih tetap ada kesan halusnya. :3

Writer dansou
dansou at What Happened in London (9 years 32 weeks ago)

kesan halus bagemana? :O

Writer Dedalu
Dedalu at What Happened in London (9 years 32 weeks ago)

Ah, sudahlah, lupakan :3

Writer dansou
dansou at What Happened in London (9 years 32 weeks ago)

piye to -___-

Writer aocchi
aocchi at What Happened in London (9 years 32 weeks ago)
100

tokoh utama cowok berperawakan tinggi dan si penulis menyatakan sebagai "cowok tampan biasanya memiliki nama yang tampan"
kau bukan raja prolog, dandy, kau raja narsis! o.O
.
eniwei, ini mengalir, dandy ... saya selalu iri pada siapa pun yang bisa menulis dengan narasi renyah begini *pundung*
<-- nyadar diri, nulis buat remaja, tapi narasinya gak renyah sama sekali *pundung di pojokan bareng Sion*
.
eniwei lagi, ini dilanjutin dong ... saya kasih ling'er buat dikau deh #ehsalahnawar #kabursebelumdibantaiDandy

Writer dansou
dansou at What Happened in London (9 years 32 weeks ago)

*uhuk* kesamaaan nama tokoh memang disengaja *uhuk* Wkwkwkwk...
.
Ah, punya kak Ao juga manis '-') Saya enggak bisa bikin yang manis-manis macem begitu '-')
.
Apaan itu ling'er? :O

Writer aocchi
aocchi at What Happened in London (9 years 32 weeks ago)

ling'er = panggilan saya buat Kolonel Riesling <3
#kabuuur

Writer elbintang
elbintang at What Happened in London (9 years 32 weeks ago)
100

cieeeeeeeeeeeeeeeeeeh tokohnya tinggi :))

*oh jangan khawatir, pointnya jelas-jelas karena crita ini belum dibaca*

^bully level up :p

Writer dansou
dansou at What Happened in London (9 years 32 weeks ago)

Mwahahahaha....
.
Nilainya jangan dikurangin yah Nek :p
.
Makasih nenenda tercintaaa <3

Writer wiedya_sweed
wiedya_sweed at What Happened in London (9 years 33 weeks ago)
100

raja ngibul—raja prolog, maksudnya—selalu aja bikin penasaran setengah tewas buat nunggu lanjutannya. Lanjutin loh yaa~

Writer dansou
dansou at What Happened in London (9 years 32 weeks ago)

Lanjutin gak yaaaaa ~

<(")

Writer herjuno
herjuno at What Happened in London (9 years 33 weeks ago)
80

Ah, TNSD udah dihapus, jadi nggak bisa bikin perbandingan...
.
Anyway, kembali ke gaya lamamy, Dan? Tapi entah kenapa saya merasakan sesuatu yang tidak alami di sini. Entahlah, tanda dash-tanda dash itu terasa kurang...natural. Saya tidak tahu kenapa, tapi itulah yang saya tangkap.
.
Itu dulu, selebihnya baru bisa komen lagi kalau udah ada post lebih lanjut ^^

Writer dansou
dansou at What Happened in London (9 years 33 weeks ago)

Ah.... begitukah? :v Saya emang abusif banget sama tanda dash :v. Entar saya benerin deh (enggak tahu gimana) Hum... ini gaya lama? Saya pikir ini malah gaya baru, soalnya si tokoh utama ini lebih sinis :v.
.
Hum... rencananya ini sih mau saya bikin ada flashback-flashback di London, jadi ada dua cerita: masa kini dan masa lalu. Rencananya. Sekarang saya bingung mana yang mesti saya lanjutin :'(
.
Thanks for mampiring om Jun

Writer herjuno
herjuno at What Happened in London (9 years 33 weeks ago)

Maksudnya ke gaya teenlit-terjemahan, setelah sebelumnya mengeksplorasi berbagai gaya.
.
Bikin aja selang-seling, hakahk. Tapi utk karakterisasi, saya masih no komento dulu.

Writer dansou
dansou at What Happened in London (9 years 33 weeks ago)
100

Saya enggak berbakat pakai gue-lo oTL