Fantasy Fiesta 2012, Awal Sebuah Akhir

...
 

Aegis berdiri di dalam ruang Rekreasi. Sendirian. Di tengah ruangan itu ada sebuah tungku besar berukir dua naga yang sedang berhadapan, saling menyemburkan api. Tungku tersebut digantung dengan uliran tali tambang setebal tiang listrik yang diikatkan pada empat pilar yang mengelililinginya. Empat pilar yang berukir beda.

Aegis berjalan mengelilingi tungku. Mengamati pilar-pilar itu dengan seksama. Pilar pertama berukirkan sebuah lambang udara. Pusaran angin dan hembusan menyatu dalam pilar itu. Seekor burung dengan jambul dan ekor ganda yang panjang, yang bersiap untuk terbang menembus langit. Pilar selanjutnya berukir sebuah lambang air. Deburan ombak dan rintik air hujan menghiasi pilar itu. Seorang dewi air dengan gaun lilitan kain asyik menari di dalam air, membentuk sebuah pusaran. Pilar berikutnya berukir lambang petir. Tidak ada ukiran istimewa dalamnya. Hanya seorang pria yang mengangkat gadanya ke arah langit, berhiaskan kilat menyambar. Pilar selanjutnya berukir lambang batu dan tanah. Berukir pemandangan yang sering anak kecil buat saat awal sekolah, seperti gunung, sawah, bukit, dan sebagainya.

“Wow... Phyr-hoga, Aroc-hoga, Wherqa-hoga, Dreya-hoga, dan Tla-hoga. Hogama Tensa dan juga Hogama Gorda. Seandainya aku menjadi salah satu dari penerus mereka,” gumam Aegis.

“Selena?” pundak Selena tiba-tiba disentuh oleh seseorang. Refleks Aegis mengeluarkan jurus pertahanannya. Menjatuhkan orang yang menyentuhnya. Saat sadar, ternyata dia seseorang yang dikenalnya.

“Au, au, au, sakit,” rintih orang itu.

“Sele- eh, Aegis?” sahut Aegis kaget. Dia menjatuhkan tubuhnya sendiri. Tubuh asli yang kini dipakai oleh Selena.

“Maaf aku terlambat,” kata Selena.

“Sebentar,” Aegis melepaskan kunciannya dan menyentuh dahi tubuh yang digunakannya, “Miordoca Traifane!”

Aegis menarik kuat pintalan benang putih dari kepala Selena dan menyentuh dahi tubuhnya yang asli. Mereka berdua terpejam sesaat.

“Kali ini benar-benar selesai, Selena,” bisik Aegis. Mereka membuka mata bersamaan.

“Aku kembali ke dalam tubuhku! Terima kasih, Aegis!” pekik Selena sambil terus memeluk Aegis yang masih tertelungkup di atas lantai.

“Ae-!” Azalea kaget saat memasuki ruangan dan melihat pemandangan di hadapannya, “-gis.”

Selena segera bangkit bersamaan dengan Aegis. Menatap Azalea yang melihat mereka berdua dengan tatapan tidak percaya.

“Ini tidak seperti yang kamu kira, Azalea,” kata Selena.

“Jadi, benar bahwa gadis itu adalah Selena, Aegis?” tanya Azalea. Aegis hanya diam. Mengelus tangan kanannya yang terkilir.

“Jawab Aegis! Kalau kamu menyukai Selena, mengapa kamu tadi menciumku?” gusar Azalea.

“Kita urus masalah kita ini nanti,” jawab Aegis singkat.

“Apa maksudmu? Kamu jahat, Aegis! Bukankah kamu tahu kalau aku menyukaimu?”

“Yang menciummu tadi bukanlah aku melainkan Selena. Kami tadi bertukar tubuh karena Selena mengagetkanku tadi pagi,” jawab Aegis santai.

“Eh?” Azalea menyentuh bibirnya, ”Jangan bercanda kamu, Aegis!”

“Itu memang benar, Azalea. Maaf, aku hanya ingin penyamaranku tidak terbongkar,” sahut Selena.

“I-i-itu tadi ciuman pertamaku, Selena. Kukira aku berciuman dengan Aegis, ternyata itu kamu,” kata Azalea dengan gugup sembari terus memegangi bibirnya yang merah merekah.

“Tenang saja, Azalea. Akan kubalaskan sakitmu pada Selena,” kata Aegis singkat sambil tertawa nakal.

“Eh? Saya? Apa yang akan kamu lakukan padaku, Aegis?” balas Selena seraya mengatupkan jubah merah yang dikenakan pada dadanya.

“Buat apa kamu tutupi, Selena? Kan aku bisa menguasai dirimu kapan saja,” bisik Aegis di telinga Selena.

“Haiiish.... aku pergi dulu, sebentar lagi aku akan ujian Ramuan untuk yang ke dua kali,” kata Selena seraya berlari keluar dari ruang Rekreasi.

“Terima kasih, Selena! Aku akan membalasnya kelak,” kata Aegis.

“Sekarang, benar kamu ini ya, Aegis?” tanya Azalea.

Aegis mengangguk.

“Ayo sekarang kita ke kelas Penguasaan Elemen!” ajak Aegis sambil menggandeng tangan Azalea.

 

Ruangan Penguasaan Elemen cukup gelap bagi Aegis dan Azalea yang baru saja masuk dari alam yang sedang disinari matahari dengan kuat. Mata mereka mengerjap-ngerjap. Menyesuaikan mata mereka dengan kegelapan.

“Ya, Aegis dan Azalea! Silakan masuk dan duduk di manapun yang kalian mau!” kata guru Penguasaan Elemen, Avitra-tensa. Wanita berambut sebahu warna kemerahan dengan mata biru muda yang redup.

“Namun, sebelumnya kalian duduk, tolong peragakan kontrol elemen bending yang kalian miliki. Aegis, kamu dulu!”

Wajah terkejut sedikit tergambar di muka Aegis. Jari telunjuk kanannya mengarah ke hidungnya yang mancung.

“Saya?”

“Lakukan. Tunjukkan bahwa elemen api juga bisa dikendalikan!” perintah Avitra-tensa. Aegis mengangguk. Dengan gulana, dia maju ke depan kelas dan meletakkan tasnya di bawah sebuah meja. Di atasnya duduk manis sebongkah batu mirip permata yang sangat bening dengan warna-warna pelangi menghiasi di dalamnya. Aegis menatapnya sekilas lalu segera menghadap ke arah teman-teman sekelas yang duduk di tempat yang disediakan.

Setelah mengambil nafas, Aegis melakukan kuda-kuda dan menggerak-gerakkan tubuhnya. Bagai menari, perlahan dari ujung-ujung jemari tangannya muncul asap yang kemudian berubah menjadi api. Dari puluhan pasang mata yang ada di ruangan itu, semua terpana melihat tarian api Aegis. Tak menyadari bahwa batu permata di belakang Aegis semakin menyala merah. Lalu, pecah dan serpihan permata sebesar kerikil terjatuh di atas telapak tangan Aegis yang kebetulan terbuka dan terpaku karena ledakan batu itu.

“Gem of Elementairee pecah! Tidak mungkin!”

Serombongan Tensa muncul dari pintu kelas dan menghambur mengelilingi Aegis.

“S-saya tidak melakukan apapun yang salah. Saya melakukan pengendalian api seperti yang tertulis dalam buku Phyr-Hoga,” sahut Aegis dengan gugup. Terdengar suara tertawa dari belakang kerumunan itu. Kerumunan membuka dan tampak Phyr-Hoga

“Nampaknya, Gem of Elementairee telah memilih penjaga-penjaganya yang baru. Terpisah lagi menurut elemen-elemen alam yang ada. Berarti sebentar lagi tugas kami sudah selesai.”

“Apa maksud Phyr-Hoga?” tanya Aegis.

“Kematian. Yang memulai semuanya adalah permata milikmu, Aegis. Gem of Aegis.”

Semua terdiam. Terutama Aegis. Tidak menyangka bahwa semua akan berakhir dan yang memulai akhir dunia itu adalah dirinya. Aegis mendesah.


...

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
60

terlalu menggantung dan 'OPEN' untuk sebuah one-shot... yah tapi terus terang... penamaan karakternya bagus loh.
ada nama saya tuh, hehe, Azalea :3
*seneng karena alesan gapenting

60

Aku masih hijau di tulis-menulis, jadi mohon maaf kalau penilaianku kurang tepat...
.
Ini sudah hampir 1/3 cerita dan masih belum kelihatan mau dibawa kemana. Dari awal pembaca disuguhi pameran kekuatan Aegis dan setting (mungkin) sekolah dan sayangnya, tidak tampak korelasi yang cukup.
.
Setuju sama Bro Alfare. Kamu seperti belum memutuskan mau cerita tentang apa, inti cerita belum jelas.

70

Saya adalah tipe orang yang ga bisa mencerna banyak istilah asing dalam sekali lihat, apalagi kalau penjelasannya ga sambil jalan
.
Dan karena cerita ini (koreksi bila salah) belum 'selesai', saya belum bisa berkomentar sepenuhnya.

60

Kau beneran kurang fokus di cerita ini. :|
.
Bagian awal ceritanya maparin cinta segitiga aneh yang melibatkan pertukaran tubuh. Sedangkan bagian akhirnya maparin semacam kejadian enggak disangka yang melibatkan kehancuran dunia.
.
Kau harus cepet putusin sebenernya mau cerita tentang apa. Kalau mau keduanya sekaligus, itu brarti keduanya mesti disambungin, dan jadi tantangan dengan batasan cuma 3000 kata. :|