Ambulans

Ambulans
oleh Yusriest

Suara sirine ambulans memecah keheningan malam. Melintasi gang yang sunyi. Raungannya masih terdengar, meski beberapa menit yang lalu mulai menjauh dari area kampungku.

Napasku tiba-tiba menjadi sesak, dan keringat dingin mengucur deras dari kedua pelipisku. Entah sejak kapan rasa takut ini menyerang. Aku tak tahu. Mungkin sejak malam itu. Ya, malam itu.

***
“Kenapa harus pakai ambulans sih, Kak? Kita kan bisa pakai mobilnya paman Nuh?” tanyaku pada kakak perempuanku itu.

Tanpa memedulikan ucapanku, kak Rida segera melangkah keluar, mengikuti dua pria berseragam putih-putih. Mereka mendorong ranjang―di atasnya ayahku sedang tergolek tak sadarkan diri―keluar dari rumah.

Dengan tergesa-gesa aku mengambil kunci dari dalam lemari. Setengah berlari, aku mengikuti kak Rida, setelah memastikan rumah telah terkunci.

Kami pun segera meluncur ke rumah sakit dengan menumpang mobil ambulans.

Hening. Hanya suara tangis kak Rida yang terdengar. Seakan ingin menyaingi raungan sirine mobil ini.

Perhatianku beralih pada sosok pria di hadapanku, yang masih saja belum sadarkan diri. Mataku menatap nanar pada wajahnya yang justru memancarkan ketenangan. Entah apa yang saat ini ayah pikirkan.

Meski tak benar-benar memperhatikan, celah mataku bisa menangkap gerak-gerik kedua perawat itu. Mereka tengah berusaha untuk memberikan pertolongan pertama pada ayah. Mungkin inilah alasan kenapa kak Rida tetap ngotot memakai jasa ambulans.

Aku tersenyum miris. Mencoba menahan tangis yang semakin kuat menggempur pertahanan yang kubuat. Helaan napas pun terasa begitu berat.

Ayah, bertahanlah! bisikku, di sela rangkaian doa yang kurapal.

“Sebentar lagi, rasa sakitnya juga pasti akan hilang.”

Aku tersentak mendengar suara itu―suara seorang wanita. Mataku menerabas seisi mobil. Bukan kak Rida. Juga bukan aku. Sementara kedua perawat ini, mereka laki-laki. Lalu suara siapa yang barusan kudengar?

Refleks, tubuhku terdorong ke belakang. Selarik benda―apapun itu―berwarna putih tengah melengkung di leher ayah. Bukan alat penopang leher. Benda itu transparan, seperti benda gaib, menurutku. Entah bagaimana, aku tak tahu bagaimana menyebutnya. Tapi benda itu membuatku yakin bahwa ia harus segera terlepas dari leher ayah.

“Kenapa, Ta?” tanya kak Rida di sela tangisnya. Ketika melihatku menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah ketakutan.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Shinichi
Shinichi at Ambulans (8 years 28 weeks ago)
70

asyik.
meski andai cerita ini nggak berhenti begitu saja
:D
kip nulis
ahak hak hak

Writer imreara
imreara at Ambulans (8 years 36 weeks ago)
90

Itu malaikat pencabut nyawa? Wow nice story. Semangat kawan :D

Writer Rayes
Rayes at Ambulans (8 years 36 weeks ago)
50

diawal oke banget, sumpah

tapi di tengah dan menjelang akhir jadi bingung..

cerita ini memang belum kelar? atau, sayanya saja yang terlalu bego untuk memaknai dan menangkap isi cerita ini..

Writer Aletheia_agatha
Aletheia_agatha at Ambulans (8 years 36 weeks ago)
80

kurang greget. dan lagi saya nggak terlalu ngerti alurnya. masih abu-abu.

Writer kim zhu rin
kim zhu rin at Ambulans (8 years 36 weeks ago)
100

eydnya perhatikan lagi

Writer yuu_sara
yuu_sara at Ambulans (8 years 36 weeks ago)

bisa kasih tahu saya mana eyd yang salah .... mungkin saja nanti bisa saya perbaiki, asalkan kamu memberitahuku.

Writer imreara
imreara at Ambulans (8 years 36 weeks ago)

Cm huruf kapital mungkin. ayah jadi Ayah. kak Rida jadi Kak Rida. Sisanya pas kok :D

Writer Aletheia_agatha
Aletheia_agatha at Ambulans (8 years 36 weeks ago)

sejauh mata saia membaca, tak ada masalah tuh eyd-nya ;)

Writer tsukiya_arai
tsukiya_arai at Ambulans (8 years 36 weeks ago)
70

pendalaman perasaannya kurang, jadi nggak kerasa kesedihan ataupun ketakutan si tokoh utama.

Writer Shelly Fw
Shelly Fw at Ambulans (8 years 36 weeks ago)
50

Akan lebih greget lagi kalau di-improve =)
Salam kenal.