Homesick

 

Winterslow, musim dingin. Matahari bulan November selalu bisa kucemooh disini. Hanya mampu tersenyum malu dan tidak terasa hangatnya lagi. Rerumputan boleh hijau, tetapi tidak terasa murah hati seperti hamparan padi yang selalu merunduk meski berisi. Aku rindu. Pada Indonesia. Padamu. Pada wangi teh melati yang menguar dari poci tanah liat. Pada rambut-rambut hitam dan kulit kecokelatan. Memang, Winterslow juga desa. Tapi bukan desaku. Dan memang, aku tidak sendiri. Tapi bukan sedang bersamamu.

 

Winterslow, Bonfire Night. Aku semakin mencibir pada matahari malam ini. Tidak mau pergi, tapi tetap tidak berarti. Tidak seperti di negeriku, yang sepanjang tahun begitu murah hati. Aku ingin pulang. Kembali kepadamu. Betapa menyedihkan ketika rindu harus bergulat dengan isi saku. Sungguh, aku ingin pulang. Ingin lagi bersamamu. Aku hanya tidak mampu. Maafkan aku.

 

Kembang api berserakan di langit. Binar warna-warninya mengingatkanku pada matamu.

 

Aku rindu. Sungguh, sungguh rindu. Padamu.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer hewan
hewan at Homesick (9 years 23 weeks ago)
80

Hehe, nice. "Seperti ilmu padi, makin berisi makin menunduk." Jarang ada orang yang mengutip peribahasa cantik ini...

Writer just_hammam
just_hammam at Homesick (9 years 25 weeks ago)
80

selamat menikmati rindu.

Writer Putri_Pratama
Putri_Pratama at Homesick (9 years 25 weeks ago)
80

Penggambaran yang bagus.

Writer kupretist
kupretist at Homesick (9 years 25 weeks ago)
50

winterslow nama kota kah? atau musim?

Writer toebugz
toebugz at Homesick (9 years 29 weeks ago)
80

keren