Progress Report - Faris (5)

***

Biasanya, Faris berusaha untuk tak memikirkan urusan-urusan rumahnya setiap kali pergi bersekolah. Tapi sekali ini, ada perasaan mengganjal di dalam hatinya yang tak berhasil disingkirkannya bagaimanapun juga.  

Enggak ada gunanya aku memikirkannya sekarang!

Demikian Faris berusaha meyakinkan dirinya sendiri, saat dengan tangkas dan dalam kecepatan tinggi, ia bersepeda menuruni jalanan turunan bukit yang lebar.

Sepanjang jalan, berkas-berkas cahaya mentari berkelebat di sela-sela dahan pepohonan rimbun di sekelilingnya. Angin semilir segar yang tak asing menerpa wajahnya, memacunya untuk melaju semakin cepat, melewati jalanan berkelok yang diapit bebatuan dan semak. Barulah saat ia melintasi persimpangan yang mengarah ke kompleks pemakaman, dan sebentar lagi tiba di wilayah perumahan yang sudah akrab ia lewati, Faris menekan tuas rem dan memelankan laju sepedanya hingga berhenti.

Ia terdiam.

Di bawah naungan pepohonan yang kesejukannya menggigil, mencoba memikirkan ulang semuanya secara jernih, Faris terduduk di atas sepedanya, dan  terdiam.

Faris teringat sesosok pelayan perempuan yang sempat dilihatnya sebelum berangkat.

Apa itu Nedya?

Godaan untuk mengingat kembali seperti apa rupa wajahnya muncul. Tapi Faris dengan cepat menyingkirkannya, dan memegang teguh asumsi bahwa kemunculan sosok pelayan itu sama sekali tak berarti apa-apa.  

Apa aku melupakan sesuatu?

Faris memeriksa ulang semua buku dan perlengkapan sekolah yang ia bawa. Tapi lalu ia tersadar dirinya melakukan hal konyol. Karena hari tersebut merupakan hari pertama caturwulan baru, jadi sudah jelas belum ada bahan penting yang perlu dibawanya hari itu.  

Sudah dua minggu berlalu tanpa Faris melakukan rutinitas bersepeda ke sekolah ini. Menyadari hal tersebut, dan kembali berkesimpulan bahwa tak ada gunanya jika keresahan ini terlalu ia pusingkan, Faris mulai mengayuh sepedanya kembali.

Faris mencapai jalanan aspal datar, di sekitar beberapa ruko kecil yang belum dibuka di ujung jalan. Dengan kecepatan konstan, dirinya mulai menyusuri jalanan kota yang mengitari sisi selatan bukit.

Untuk beberapa lama, Faris melewati pagar kawat setinggi pinggang yang membatasi wilayah perumahan dan jalanan tersebut dengan kawasan lingkungan hidup liar di sekitar bukit. Kemudian, ia berbelok ke salah satu cabang jalanan perumahan itu yang mengarah ke wilayah perkotaan.

Faris lalu tiba di pertigaan besar yang mengarah ke Pelataran Kota. Bukit tempat rumahnya berada kini terlihat jelas di kejauhan di sebelah kanan. Bayangan panjang yang tercipta—berkat sinar matahari yang menyorot dari timur, namun terhalang oleh sosok besar bukit—bisa Faris lihat menaungi bangunan-bangunan yang berdiri di wilayah sana.

Pemandangan bayangan panjang itu untuk suatu alasan menjadi sesuatu yang tak pernah Faris lewatkan setiap kali berangkat ke sekolah.

Faris lalu bersyukur. Sejauh ini, rutinitas keberangkatannya ke sekolah berlangsung normal tanpa ada hal-hal aneh terjadi. Terlepas dari janggalnya insiden yang berlangsung di rumahnya semalam, atau kerisauan bagaikan firasat buruk yang melandanya kini, masih belum ada permasalahan berarti yang ia temui di awal caturwulan ini.  

Sesudah mengamati pemandangan di sekelilingnya dalam diam pada hari itu, Faris, dengan wajah datar, menyadari penghuni-penghuni rumah di sekelilingnya sudah mulai terlihat di perkarangan masing-masing untuk memulai aktivitas, dan mulai memandangi dirinya yang tanpa sadar telah kembali terdiam. Iapun mempercepat kembali kayuhannya menuju pusat kota.

Dari sana, sekolahnya sudah tak jauh lagi.

Read previous post:  
23
points
(1774 words) posted by Alfare 8 years 4 weeks ago
57.5
Tags: Cerita | Novel | drama | misteri | remaja | scifi
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Door_Knocker
Door_Knocker at Progress Report - Faris (5) (8 years 2 days ago)
70

Sorry baru main ke mari...
Keseringan nongkrong di KasFan... juga masalah matkul dengan dosen killer... berusaha hemat dengan pakai inet kampus...
*yak, curcol selesai*
.
So, here I go!
.
Permulaan cerita:
'Biasanya, Faris berusaha untuk tak memikirkan urusan-urusan rumahnya setiap kali pergi bersekolah. Tapi sekali ini, ada perasaan mengganjal di dalam hatinya yang tak berhasil disingkirkannya bagaimanapun juga.'
Maksudmu, selama ini Faris berhasil mengenyahkan pikiran itu 'kan? Menurutku, antara kalimat kedua dan pertama, sebaiknya ada satu kalimat lagi. Kesan paragraf ini agak meloncat soalnya. :D
.
Mengenai deskripsi...
Hmmm... Bagus, bagus aja sih... Hanya saja (mungkin aku aja yang lebih banyak baca cerpen dengan pandangan seperti ini) menurutku, mending kamu buat suasananya lebih mencerminkan kondisi mental Faris. Bagaimana kalau dibuat suasana yang menurut Faris tidak biasa? Hari masih pagi tapi sudah ramai, ada kecelakaan...
.
Bukan maksud menggurui. Aku, terus terang, ga ngerti syarat deskripsi pendukung cerita yang bagus kaya gimana. Monggo, kalau Bro Alfare memberi masukan untuk diskusi.
.
Terus ini:
'Di bawah naungan pepohonan yang kesejukannya menggigil, mencoba memikirkan ulang semuanya secara jernih, Faris terduduk di atas sepedanya, dan terdiam.'
Mengapa pakai 'terduduk' dan 'terdiam'?
.
Awalan ter- memiliki makna:
paling atau sangat: terpanjang, terkecil, terpandai
dapat atau berhasil (biasanya didahului oleh kata tidak): terhalang, termakan, terminum
tidak disengaja: terbakar, tertukar
tiba-tiba: terlena, terjatuh
.
Maaf bila kurang berkenan...

Writer Alfare
Alfare at Progress Report - Faris (5) (7 years 50 weeks ago)

Sip. Sori telat juga. Makasih buat pengingatnya.

Writer asahan
asahan at Progress Report - Faris (5) (8 years 1 week ago)

ditunggu lanjutannya :)

Writer Alfare
Alfare at Progress Report - Faris (5) (8 years 1 week ago)

Sori. Satu dan lain hal muncul. Jadi... kayaknya bakal pending lagi.
.
Maaf. Beneran maaf. orz