Ruang Kelam: Rindu Ini

 

RINDU INI

 

Waktu yang senantiasa mengikis usiaku, waktu yang senantiasa memutarkan roda nafasku, waktu yang senantiasa menampar wajahku akan dosa dan gelobang hidup itu sendiri. Aku terjebak dalam waktu yang tak kusadari. Terlanjur dan tak dapat kuperbaiki. Aku tak dapat mengembalikan roh mereka. Aku takkan pernah mampu menggali kuburan mereka dan membuat darah mereka kembali mengalir. Tidak. Aku salah. Aku memang salah dan tak patut menyesal. Sudah terlambat. Kematian terlanjur menggila.

Manusia terkadang tak mampu melihat walau mereka memiliki mata. Manusia terkadang tak mampu mendengar walau mereka memiliki telinga. Manusia terkadang tak mampu merasakan walau mereka memiliki hati. Manusia terkadang tak mampu berpikir walau mereka memiliki akal dan aku adalah satu dari mereka. Satu yang tak lagi berarti.

Istriku mati. Kedua anakku mati. Mereka mati ketika sebuah senyuman seharusnya kuberikan pada mereka. Mereka mati termakan panas debu jalanan yang bercampur dengan raungan mesin bus pariwisata yang melaju cepat. Saat itu pukul 11 siang. Saatnya istriku yang malang menjemput anak-anak pulang sekolah. Ia menggunakan motornya dan aku yakin, ia mengendarainya dengan pelan. Maut takkan menjemput jika bus terkutuk itu tak melaju bak iblis. Basah darah di tubuh mereka, basah air mata di pipiku dan Tuhan memberikan peringatan yang terlalu menyakitkan atas segala salahku, atas segala dosaku.

//////////////////////

 

Hari ini, Sabtu pukul 11 siang. Tepat seminggu Tuhan mengutus malaikat maut-Nya untuk keluargaku. Saat ini, aku tinggalkan kesibukan di kantor. Pekerjaan yang tengah menunggu takkan sanggup membangkitkan kehidupan yang telah habis di tubuh istri dan anak-anakku. Pekerjaan tak mampu mengembalikanku ke waktu lalu. Tak akan. Aku memandang kuburan mereka dengan mata sayu dan sembab. Sangat sembab. Aku tak lagi dapat melakukan apa-apa. Peristiwa itu membuatku menyadari arti penting sebuah kehangatan dalam keluarga, menyadari betapa sebuah senyuman mampu untuk mencairkan kebekuan dan kekakuan karang rumah tangga, dan aku tak sempat memberikannya pada mereka…sampai kematian itu datang.

Aku duduk di samping makam mereka. Tanah yang tercium wangi bunga-bunga kematian, udara yang terasa sesak dalam dada, dan langit yang siap menggempur kepedihanku dengan butiran hujan, tak kupedulikan. Aku kini serasa tak lagi ingin hidup. Namun juga tak ingin mati. Aku ada di antaranya, ada di antara ada dan tiada.

“ Istriku, aku ingin mengajakmu menyelami dunia yang tak pernah kita singgahi. Aku selalu sibuk akan pekerjaanku dan tak becus tuk menjadi suami idamanmu. Aku tak pernah mengajakmu makan malam di restauran yang temaram dan romantis. Aku tak pernah mengajakmu memandang langit malam yang cerah tuk menatap indahnya sinar purnama yang tersenyum. Aku tak pernah memelukmu ketika kau menangis. Aku tak pernah mencumbuimu sebelum kau terlelap. Aku tak pernah membawakan bintang-bintang untuk menghiasi mimpi-mimpi polosmu. Aku tak pernah melakukan semuanya. Aku tak pernah menjadi suamimu. “

Aku menangis memeluk kuburan istriku. Ia adalah seseorang yang sangat-sangat kesepian. Sejak dahulu ia mengatakan bahwa ia ingin menikah dengan seorang pria yang dapat menghangatkan harinya. Namun, mengapa ia memilihku tuk menjadi sandarannya? Mengapa aku tak pernah bisa menjadi sandaran hidupnya??? Aku bahkan tak pernah mendengar keluhannya. Aku bahkan tak pernah mengajaknya tersenyum. Ia tak pernah mengeluh. Ia tak pernah kecewa. Ia tak pernah membenciku. Ia sangat suci. Dia adalah wanita yang sungguh suci. Terlalu suci untuk diriku…

Lalu aku beranjak ke kuburan anak-anakku. Menatap mereka dan membelai tanah yang telah menjadi rumah mereka saat ini. Aku ingat, selama mereka masih bernyawa, aku tak pernah memberi pujian ketika mereka naik kelas. Aku tak pernah mengantarkan mereka ke mal untuk membeli baju baru. Aku hanya memberikan uang pada istriku dan istriku yang membelikannya. Aku tak pernah mencium anak-anakku tatkala mereka terlelap. Aku tak pernah mendongengi mereka dengan cerita yang manis dan menenangkan. Aku bahkan jarang menatap wajah mereka, anak-anakku sendiri. Bagaimana rasanya mengajak mereka bermain-main di halaman rumah dengan semprotan air? Bagaimana rasanya memeluk mereka untuk mengucapkan selamat atas keberhasilan yang mereka dapatkan? Bagaimana rasanya berkumpul bersama istri dan anak-anakku di ruang tengah untuk menyaksikan televisi bersama? Aku tak tahu. Aku tak dapat tahu. Bagaimana rasanya punya suami sepertiku? Bagaimana rasanya punya ayah sepertiku? Bagaimana rasanya mati? Bagaimana rasanya melihat darah sendiri? Bagaimana rasanya mengakhiri kehidupan dan masuk ke dalam keabadian? Sakit? Hampa? Kalian dimana saat ini? Kalian dapat melihatkukah? Apakah kalian di sampingku? Apakah kalian di situ?

Aku hanya ingin…

Memeluk…

Memeluk…

//////////////////////

 

Rasanya aku sudah melangkahkan kaki untuk pulang. Namun, aku merasa semakin jauh dari rumah. Aku tak tahu dimana mobilku. Aku tak tahu mengapa aku tak ingin mencarinya. Aku hanya ingin pulang dengan berjalan kaki, walau aku merasa sangat aneh. Trotoar yang kulalui ini sangat panjang. Rasanya aku belum pernah melaluinya sebelum ini. Kompleks pertokoan sepanjang kiri dan kanan jalan tampak didatangi pengunjung walau tak banyak. Jalanan ini juga tak terlalu besar, hanya beberapa mobil berwarna hitam terlihat melintas dengan pengendaranya yang berkulit pucat. Orang-orang yang berjalan di tortoar ini seakan tak melihatku. Mereka terus melangkah tanpa tahu aku ada. Wajah mereka kusam dan tak bergairah. Aku tak tahu apa yang terjadi. Aku hanya ingin pulang.

Tiba-tiba aku mendengar suara. Anak-anakku! Itu suara mereka! Aku segera mencari dimana mereka. Tak boleh terlambat. Aku harus menemui mereka untuk, setidaknya, mengatakan bahwa aku sangat mencintai mereka. Aku berlari menyusuri pertokoan. Suara terdengar cukup jelas. Aku yakin pasti di sekitar sini.

Lalu, beberapa detik kemudian, aku sampai di sebuah mal. Aku melihat anak-anakku tengah berlari keluar mal sambil membawa tas belanja. Lalu terlihat diriku sendiri dan istriku keluar menyusul mereka. Kami terlihat senang dan aku merasa lain. Aku tak seperti biasanya. Aku menyaksikan diriku sendiri sungguh hangat. Wajahku cerah dan tampak bahagia.

“ Papa, ayo pulang! Cepatlah! Aku tak sabar ingin mengenakan pakaian ini! Ayo kita pulang sekarang, Pa! “

Anakku yang berumur 7 tahun itu menarik-narik tanganku. Ia terlihat sangat gembira. Sepertinya aku baru saja membelikan pakaian untuk mereka.

“ Terima kasih, Papa. Sebenarnya sudah sejak lama aku menginginkan baju ini. Aku takut untuk meminta langsung kepada Papa karena Papa selalu sibuk di kantor dan pulang malam. Namun, Papa saat ini terlihat berbeda. Papa terlihat murah senyum. Apakah Papa baru saja mendapat sesuatu? “

Anakku yang berumur 10 tahun itu tampaknya lebih peka akan perubahanku. Ya. Aku memang jarang tersenyum pada mereka.

“ Iya. “ Jawabku, “ Papa memang mendapatkan sesuatu yang selama ini tak Papa dapatkan dalam kehidupan Papa, yaitu kesadaran akan arti sebuah keluarga. Selama ini, Papa selalu sibuk di kantor dan jarang peduli akan kalian. Papa selalu menganggap bahwa keluarga hanya sebuah tempat untuk beristirahat dari lelahnya urusan kantor. Namun, akhirnya Papa menyadari bahwa keluarga ternyata lebih dari itu. Keluarga adalah segalanya. Keluarga adalah surga bagi penghuninya. Papa membayangkan, bagaimana seandainya suatu saat kalian pergi meninggalkan Papa. Tentu Papa akan sangat kehilangan arah. “

“ Iya, Pa. Terima kasih. Mama tak pernah menyesal memiliki Papa. “

Istriku menatapku sambil tersenyum. Ia menggandengku dan kami menuju ke mobil untuk pulang.

Aku dari sini hanya terpaku melihat penampakan mereka. Mengapa mereka muncul di saat aku merindukan mereka? Ya. Aku memang ingin berbuat demikian pada mereka. Aku melihat betapa bahagianya aku di situ. Namun, itu hanyalah semu. Semua semu. Hanya aku sendiri yang berdiri di sini, menyesali penyesalan yang tak semu.

Tiba-tiba sesuatu terjadi. Aku melihat di kejauhan, sebuah kegelapan menjalari seluruh langit secara perlahan. Langit yang mendung menjadi lebih pekat dan semakin gelap. Akhirnya seluruh langit terliput kegelapan seperti malam yang pekat. Namun, yang lebih mengherankan adalah orang-orang di sekelilingku tak lagi bergerak. Mereka tak bergerak sama sekali. Mereka diam dalam kesibukan yang tengah mereka lakukan. Diam, beku, dan, dan kaku. Mereka patung sekarang. Tak ada lagi kehidupan. Mobil-mobil yang melintas juga berhenti mendadak. Sekarang sunyi. Lampu-lampu pertokoan itu tak ada yang menyala. Gelap gulita tanpa cahaya, tanpa nyawa. Hanya tinggal aku seorang diri. Seluruh rambut di tubuhku meremang. Aku merasakan sesak dan megap-megap, juga ketakutan yang mulai menjadi. Aku berlari tanpa tahu arah. Aku berlari menyusuri trotoar dengan patung-patung yang mencekam itu. Terkadang aku menabrak tubuh mereka hingga mereka roboh dan aku mendengar suara seperti sesuatu yang berat hancur berantakan. Mungkinkah patung yang tertabrak olehku itu menjadi hancur? Jika hancur, apakah ia mati? Jika ia mati, apakah aku telah membunuhnya? Apakah aku telah membunuhnya? Mengapa sekarang aku menjadi pembunuh? Aku yakin, kematian keluargaku bukan kehendak alam. Namun, kehendakku sendiri.

Aku berlari dalam kegelapan tanpa cahaya. Aku ingin pulang. Namun, aku tak tahu tengah dimana. Aku tak tahu dimana rumahku. Aku tak tahu mengapa aku ada di jalan ini? Istriku, aku merindukanmu! Anak-anakku, aku ingin menggendong kalian!

///////////////////

 

Akhirnya, aku melihat cahaya di kejauhan. Aku segera berlari mendekat dan semakin mendekat. Air mata yang mengalir di pipiku sedari tadi tak mampu kubendung. Mengalir dan terus mengalir.

Aku tak percaya hal ini. Aku pulang! Cahaya yang kulihat ternyata cahaya rumahku. Itu rumahku! Tak salah lagi! Aku segera mendekat dan berdiri sebentar di teras rumah untuk memastikan bahwa rumah ini benar rumahku. Aku memandangnya, meneliti catnya, bentuk rumahnya, dan tatanan halamannya. Benar. Tak salah lagi. Aku telah pulang.

Kubuka pintu rumah perlahan dan kututup lagi setelah aku di dalam. Sunyi. Apakah mereka sudah terlelap? Aku menncari kamar anak-anakku dan membuka pintunya. Aku melihat mereka telah terlelap dan sudah berpakaian tidur. Mereka tampak damai. Aku segera menghampirinya dan mencium mereka satu demi satu. Inilah yang kuinginkan saat ini. Kubelai mereka dengan sepenuh hati.

“ Nak, ini Papa. Papa pulang. Papa rindu pada kalian. Papa cinta pada kalian. Maafkan Papa yang selama ini mencampakkan kalian dalam kehidupan Papa. Papa janji takkan mengulang dosa yang sama. Papa janji akan mengubur masa lalu Papa. Mari kita membuka lembaran baru. Papa akan menjadi manusia yang berbeda untuk kalian. “

Aku kembali mencium kening mereka lembut agar mereka tak terbangun. Setelah memandang mereka sebentar, aku beranjak menuju kamarku. Aku ingin melihat istriku. Aku rindu dengan posisinya ketika tidur. Namun, aku khawatir, apakah aku yang lain itu juga telah bersamanya saat ini? Sesaat aku ragu. Namun, aku segera memberanikan diri untuk tetap maju.

Setibanya di depan pintu kamarku, Aku terdiam sejenak dan membuka perlahan-lahan. Suasana sunyi. Namun, sebuah suara segera mengejutkanku.

“ Papa? Papa sudah pulang? “

Istriku yang tengah berbaring di ranjang menatapku dengan heran. Aku cukup gugup dan bingung.

“ Iya. Papa pulang. Mama belum tidur? “

Aku menghampiri istriku.

“ Papa, Mama tidak bisa tidur. Mama selalu teringat akan masa lalu Mama. “

Aku memeluk istriku. Ia menangis. Ya. Ia menangis.

“ Mama selalu teringat masa lalu Mama akhir-akhir ini. Dulu, Mama selalu merasa kesepian. Setiap saat dan setiap waktu. Mama selalu merasa rendah diri ketika bergaul dengan laki-laki. Selalu dan selalu. Mama ingin punya pacar sama seperti yang lain. Namun, Mama merasa tak pantas. Mama dari kampung yang terpencil dan tertinggal. Mama selalu kesepian dan menangis setiap malam, sampai akhirnya Mama menemukan Papa yang sudi menjalin dan mengarungi samudra cinta bersama Mama. Mama bahagia waktu itu. Seolah dunia semakin luas dan mentari semakin terang. Seolah rembulan selalu purnama dan angin selalu semilir lembut. Papa, jangan pernah tinggalkan Mama. Mama terlanjur cinta dan satu dengan Papa. Mama akan melakukan segalanya demi Papa dan anak-anak kita. Jangan pernah tinggalkan Mama! Papa akan selalu jadi tubuh Mama. “

Entah apa yang terjadi. Mendadak saja kami telah saling melumat satu sama lain. Aku bahkan tak lagi mengingat tugas kantorku yang masih menumpuk. Kami saling berpeluk dan berhasrat. Kubuka pakaiannya dengan ganas dan iapun demikian kepadaku. Aku rasa, inilah yang harus kulakukan setelah sekian lama menjalani hari, bulan, dan tahun tanpa bercinta dengan istriku. Aku menciumi tubuhnya, mendengarkan desahannya, hingga akhirnya kami benar-benar bersatu. Dalam tangisnya, aku dapat melihat senyumannya. Senyuman seorang istri yang tak pernah kulihat selama ini. Dia memang kesepian. Dia butuh seorang suami yang mencintai dan menerimanya apa adanya.

“ Istriku, aku milikmu saat ini! Tikam aku! Bunuh aku! Lakukan semua yang kau inginkan! Aku cinta padamu! “

//////////////////////////

 

Aku terkejut tatkala terbangun di esok harinya. Aku mendapati istriku berubah menjadi batu. Tubuhnya hitam dan terbujur kaku di sampingku. Ia menjadi seperti orang-orang di jalan itu. Aku panik. Sungguh! Tanpa berpikir panjang aku segera berlari menuju kamar anak-anakku dan berharap bahwa ini hanya mimpi buruk. Ternyata tidak. Tuhan!

Tubuhku lemas ketika melihat dua makhluk mungil itu terbaring kaku di ranjang. Aku tak kuasa lagi menahan perih ini. Aku menangis. Aku tak tahu harus bagaimana dan kemana. Aku menyadari bahwa mereka memang sudah tiada. Mereka telah pulang ketika bus pariwisata itu menghantam motor istriku. Mereka memang telah pulang ke rumah yang sebenarnya. Aku tak pernah membelikan anak-anakku pakaian di mal seperti yang kulihat waktu itu. Aku tak pernah bercinta dengan istriku malam tadi. Semua hanya ada dalam otakku. Semua hanya ada dalam penyesalanku. Aku tak pernah tersenyum dan berubah seperti yang dikatakan anakku itu. Tak pernah. Mereka telah tiada dan takkan pernah lagi ada di sisi untuk menemaniku. Anak-anakku tak pernah lagi menangis atau terlihat riang gembira bermain di halaman rumah. Istriku tak pernah lagi memelukku dalam diamku yang selalu ia terima dengan setulus hati. Aku menyadari sekarang. Mereka telah tiada. Mereka telah tiada untukku. Namun, aku masih memiliki foto-foto mereka yang takkan pernah kulepaskan dari tanganku. Takkan pernah kulepaskan dari mataku. Semua foto yang kumiliki akan kupajang di dinding kamarku untuk menjadi teman satu-satunya sebelum aku terlelap.

“ Mama, sekarang Papa yang merasa kesepian… “

//////////////////////

 

Aku beranjak bangkit dari makam keluargaku. Hari telah sore. Gerimis mulai turun. Aku harus segera pulang untuk melanjutkan aktifitasku di hari ini.

////////////////////

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Mr_ebro.arif
Mr_ebro.arif at Ruang Kelam: Rindu Ini (8 years 47 weeks ago)
80

menyentuh deh,, kaya yang nyata..

Writer asahan
asahan at Ruang Kelam: Rindu Ini (8 years 50 weeks ago)
80

aku save dl deh y,...