RUANG KELAM: MATA INI

MATA INI

 

( Sebelumnya, aku minta komentnya yaaa kalo dah baca ni, n tlg kasi koment juga di cerpenku yang jdulnya RUANG KELAM: RINDU INI. Buat evaluasi. Thx b4 ^-^ )

 

Ketika Seminggu yang lalu tepatnya, perban di mataku mulai dibuka, aku segera menyadari bahwa aku memang harus hidup selamanya dalam kegelapan. Saat itu aku menangis. Aku tak dapat menerima takdir ini sebagai konsumsi yang harus kutelan sehari-harinya. Aku buta. Aku buta. Segala sesuatu yang seharusnya indah menjadi tak dapat dikatakan indah lagi. Segala yang berwarna menjadi kelam dan semakin kelam jauh dalam lubuk hati. Takdir ini adalah mimpi buruk dan menjadi sangat buruk jika melihat kondisi kehidupanku yang sebenarnya tengah merona.

“ Nak, “ Suatu ketika ibuku yang telah tampak letih menjalani hari-harinya berkata,       “ Apapun yang terjadi padamu, itu adalah kehendak-Nya. Apakah kau pikir dapat menggerakkan hati-Nya tuk mengembalikanmu ke waktu lalu dengan setiap malam kau selalu menangis dan menyendiri, menyesali keterpurukan yang semakin menjadi dan semakin menjadi? Kau harus menghidupkan dirimu untuk hidup dalam kehidupan yang memang kian merisaukan ini. Ketika usia semakin menyeruak menuju kematian, manusia semakin menyadari akan hakikat kehidupan dan takdir yang diterimanya. Jadilah demikian, anakku! Kau belum habis sampai di sini. “

Itulah ucapannya. Namun, dapatkah aku yang seorang diri mampu untuk menerimanya? Aku masih muda! Mimpi-mimpi yang kulantunkan setiap malam dan nyanyian-nyanyian ikhtiar menjadi tak ada guna setelah aku menjalani malam tiada ujung ini. Aku telah habis dalam sisa waktu yang masih panjang. Penantianku akan karir dan cinta seolah kembali menjadi mimpi yang kan usai dan terlupa tatkala bangun di pagi hari. Cinta? Tentu saja. Dengan kebutaan yang disematkan di kedua mataku, aku menjadi tak mampu lagi untuk memandang wajah cantik kekasihku yang kini meninggalkanku karena neraka di kedua mataku ini! Tentu saja, siapa yang sudi untuk bercinta dan bersuamikan seseorang dengan cacat yang fatal ini? Aku tak mungkin dapat melindungi keluarga. Aku tak akan dapat mencari nafkah demi surga rumah tangga. Aku tak dapat melihat wajah mungil anakku ketika bayi, betapa lucunya, betapa manisnya, betapa polosnya ia… Siapa gadis yang sudi bercinta denganku? Siapa gadis yang sudi bercinta denganku?? Siapa wanita yang sudi bercinta denganku, setan!? Aku tak melakukan apapun di hari ini. Biarlah kubangun kamarku menjadi rumah keduaku. Aku tak akan pergi. Aku akan tetap di dalamnya dan mencoba kembali menjadi aku yang dahulu. Saat-saat dimana aku masih dapat mengendarai awan dan meniupkan pelangi ke angkasa. Biarlah aku begitu, karena apa lagi yang harus kulakukan? Mimpi terkadang menjadi satu-satunya cara untuk bahagia.

//////////////////////////

 

“ Mina! Mina, tunggu! “

Kulihat Mina berlari di antara puing-puing kota.

“ Mina! Mengapa kau lari dariku, menjauh dan mengacuhkanku? “

Kulihat ia terus berlari dan menghilang di balik puing-puing itu. Aku terdiam, membiarkannya melakukan apa yang ia inginkan. Sesukanya. Aku berdiri di tengah sebuah kota yang hancur, sehancur jiwaku saat ini. Aku dapat melihat. Namun hanya ketika aku ada di kota ini. Aku tak ingin kembali ke duniaku. Sebab, jika aku kembali maka aku kembali menjadi buta dan terkurung dalam kegelapan lagi. Tidak mau. Namun, jika aku terus di kota ini, aku hanya akan melihat keprihatinan. Kota yang hancur, mayat-mayat yang bergelimpangan, dan langit yang selalu mendung dan hujan. Apa yang musti kulakukan? Mina berlari meninggalkanku. Apakah aku harus mencarinya? Untuk apa? Secara jelas dia sudah tak peduli lagi. Secara vulgar dia tak lagi membuka tangannya. Aku bukan sampah. Aku hanya cacat… buta.

Kota ini seperti kota mati. Aku tak mengenalnya. Gedung-gedung telah terlihat usang dan kotor. Kaca-kaca remuk dan berserakan. Beberapa dari gedung itu telah runtuh dan memenuhi jalanan. Mobil-mobil telah ditinggalkan pemiliknya. Terbakar, senyap, menyedihkan. Sementara mayat-mayat itu, apakah mereka telah di surga, di suatu tempat yang ribuan kali lebih baik dari kota ini? Benarkah mereka telah mati? Benarkah mereka mayat? Terkadang aku merasa mereka memperhatikanku sementara aku tak menyadarinya. Terkadang tubuh mereka merayap mengikuti kemanapun aku melangkah. Aku disini, ditemani keterasingan yang seharusnya tak asing lagi. Mimpi tuk kembali ke waktu lampau menjadi sia-sia.

Langkahku menuju ke utara. Siapa tahu masih ada yang hidup dari sekian mayat yang menakutkan. Siapa tahu masih ada yang berkenan untuk memapahku menuju ke arah yang seharusnya. Langit dengan awan yang bergulung, apakah ini gambaran jiwaku saat ini? Siapa yang menginginkannya? Bukan aku. Tak pernah.

Aku menuju ke sebuah tempat yang kupikir taman hiburan. Roller coaster dengan rel yang hancur dan komidi putar yang diam dalam kesenyapan. Tempat ini seharusnya menjadi hal yang menyenangkan bagi semua pengunjung. Mereka tentu kemari untuk mendapatkan kesegaran dan supply bagi energi positif yang terkuras habis akibat tuntutan kehidupan.

Tempat ini juga berantakan. Tak ada lagi kesenangan, hanya kepingan-kepingan senyuman yang masih tampak di bibir mereka, mayat-mayat itu. Mereka mati tatkala kebahagiaan tengah didapatnya. Anak-anak itu, wajah mereka bahagia. Mengapa mereka yang masih polos harus mengalami kematian seperti ini? Lihatlah anak-anak itu! Lihatlah bayi-bayi itu! Mereka tengah beranjak dari dunia pertama menuju dunia berikutnya. Mereka masih dipenuhi mimpi dan khayalan-khayalan yang ria. Mereka adalah simbol kesucian yang Tuhan berikan tuk menjadi pilar dunia. Mereka tak seharusnya berakhir, berpeluk bersama kematian, dan tempat ini tak seharusnya menjadi seperti kuburan yang mencekam.

“ Di kota ini ada kematian. Di kedua mataku ada kematian. Di hatiku ada kematian. Kematian yang meliputiku seakan tak mau lepas. Mereka memilihku dengan tujuan yang tak kupahami. Mayat, darah, kengerian. Apakah kalian pernah hidup sebelumnya? Apakah kalian pernah menjadi aku? Ketika kalian menjadi mayat yang berbaur dengan kegelapan, apakah masih ada cahaya di dunia kalian yang menuntun menuju tempat yang  dikehendaki? Mengapa kalian mati di saat aku membutuhkan kehidupan kalian? Bisakah kalian mendengarkan pintaku dan mencoba untuk membangkitkan diri kalian sendiri lalu membangun kembali kota yang telah hancur ini? “

Aku tahu, teriakan keputusasaanku ini tak pernah ada gunanya. Mereka memang mayat. Aku bukan Tuhan atau dewa yang sanggup meniupkan roh ke tubuh mereka. Namun, kegelapan yang kurasakan ini semakin menguras biru langit di hatiku menjadi semakin kelam dan hitam.

Akhirnya, tiupan angin dingin yang keras memaksaku untuk meninggalkan tempat itu. Akupun meninggalkan semua jasad itu dan kembali menyusuri jalanan yang lengang dan hancur. Entah, akupun tak tahu. Sudah berapa lama aku berada di kota ini? Sudah berapa ratus hari, berapa ratus tahun atau abad singgah dan takkan pernah tahu jalan tuk pulang? Aku bahkan tak tahu nama kota ini. Aku tak tahu apa yang telah terjadi pada mereka, mayat-mayat itu. Peristiwa apa? Aku tak tahu. Aku telah begitu gelap. Aku begitu lemah untuk menyisir kenyataan.

Langkahku terhenti di sebuah tanah lapang. Luas area ini tak dapat kujangkau. Sungguh lapang dan tenang. Tiada pepohonan, tiada angin, tiada kehidupan. Aku seorang diri di sana. Lalu tanpa sengaja kulihat dari sudut mataku, sesosok tubuh manusia tergeletak. Tampaknya ia salah satu mayat itu. Matanya terpejam. Namun, wajahnya menghadap ke arahku. Di sampingnya tergeletak sebuah sekop. Entah getaran apa yang menjalariku, aku segera menghampirinya perlahan, dan membelai sosok malang itu. Namun tiba-tiba, matanya terbuka. Matanya terbuka penuh dan menatapku dengan tatapan kematian. Matanya berwarna putih. Putih seluruhnya. Ia menatapku seolah ingin mengatakan sesuatu, atau ingin melakukan sesuatu yang membuatku menyesal.

“ Kubur aku…! “

Aku terperanjat. Mayat ini mengatakan sesuatu. Mengapa ia dapat bicara? Mengapa hanya ia?

“ Kubur aku…! “

Lagi. Bibirnya bergerak. Matanya menatapku tajam dan putih. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku takut, tapi juga iba.

“ Kau harus menguburku di tanah ini. Kau harus menguburkanku bersama yang lain. Kau harus menguburkan kami semua, agar jiwa kami tak lagi di sini. Kami ingin bebas dari jerat takdir yang membelenggu seperti rantai yang sangat kokoh sehingga kami tak dapat berbuat apa-apa. Kuburkan kami! Ambillah sekop itu dan galilah lubang sebanyak-banyaknya untuk kami! Kami masih ingin melihat surga. Kami rindu dengan sanak saudara dan keluarga kami yang telah mendahului kami. Kami dengar, mereka telah bahagia di sana. Kami ingin ikut. Kami rindu cahaya. Kami rindu padang rumput dengan bunga-bunganya yang kecil dan berwarna cerah. Kami rindu sapuan awan putih di langit yang biru jernih. Kami ingin melihat sungai-sungai dengan ikan-ikannya dan juga suara gemerciknya. Kaulah satu di sini. Kuburkanlah kami dan jangan pernah mengikuti kematian kami. Saat ini kami tak lagi berguna. Kami telah jadi mayat yang bercampur dengan debu. Hanya dengan kau menguburkan kami satu demi satu, kau akan melihat dunia ini berubah. Dunia ini takkan lagi menakutkan seperti saat ini. Tak perlulah kau memeras tenagamu saat ini. Kau perlu melakukannya sedikit demi sedikit. Jika sampai matahari terbenam kau belum dapat mengembalikan kami semua ke tanah, maka mentari esok masih menantimu. Mulailah lagi mengubur kami pelan-pelan. Percayalah, temanku! Dunia kan berubah.”

Aku menoleh ke belakang. Kulihat ratusan mayat menatapku dengan harapan yang menggebu-gebu di dalam bola mata mereka yang putih pucat. Mereka kini berada di belakangku. Semuanya. Bahkan, anak-anak yang kulihat di taman hiburan juga kulihat saat ini, di sini. Aku merasa takut dan resah. Mereka menatapku. Semuanya. Tak ada kata terucap, tak ada laku dibuat. Semua hening tapi dingin sunyi. Aku ragu akan kemampuanku menguburkan mereka semuanya walau tak harus selesai hari ini. Aku sungguh merasa lemah tak berdaya. Aku telah cacat dan tak mungkin lagi melakukan sesuatu yang luar biasa. Aku takkan sanggup mengubur mereka semuanya dan Tuhan takkan menurunkan mukjizatNya.

Aku mengambil sekop itu dan mulai menggali sebuah lubang, sedikit demi sedikit. Aku terdiam saat melakukannya sambil di dalam benakku berkecamuk berbagai tanya yang membutuhkan jawaban yang kuat. Di dalam hatiku bergemuruh berbagai rasa antara takut, pesimis, gelisah, rindu, dan duka. Namun, inilah yang harus kulakukan saat ini. Aku ingin melihat apakah yang dikatakan mayat itu benar bahwa dunia akan berubah saat semua mayat ini kukuburkan. Aku tak tahu. Aku hanya ingin tahu.

Akhirnya, akupun menyadari bahwa ucapannya benar ketika aku menguburkan mayat yang ke limapuluh. Aku mulai menyadari sesuatu yang selama ini tak kusadari. Aku tahu ini berat, menjalani hidup sebagai orang yang cacat. Namun, kita memang harus tetap menjalani kehidupan ini. Kita tak sendiri. Kita punya teman. Kita punya saudara. Kita masih punya harapan untuk bahagia. Tuhan tak pernah mati. Ia akan melihat kita selalu, apalagi jika kita mendekatkan diri padanya.

Aku terus menggali lubang di tanah itu. Masih ada beberapa ratus mayat lagi. Tak apa. Tak perlu selesai hari ini. Setidaknya, kita telah berusaha untuk berubah. Akupun kan bertekad untuk tak lagi membuka jiwaku yang seperti kota mati ini. Akupun juga tak akan pernah lagi menggali dan memunculkan mayat-mayat itu ke kota ini, ke ruang jiwaku. Mereka adalah cerminan kepedihanku atas kekurangan yang kumiliki ini. Aku memang terpuruk setelah menyadari bahwa aku menjadi cacat selamanya. Kecelakaan yang terjadi waktu itulah yang membuatku seperti ini, yang membuatku secara tak sadar membangun sebuah kota mati dengan para mayatnya yang tanpa sadar kuciptakan di kota itu. Aku memang cacat sekarang. Namun, bukan berarti aku tak punya pilihan lagi. Aku masih punya pilihan. Aku masih punya harapan tuk tersenyum karena aku tak pernah sendiri. Aku tak akan pernah sendiri di dunia ini.

“ Hidupkan hidupmu! Bangun surga dalam jiwamu! Kubur semua kematian dalam hatimu! Teruslah hidup walau terik mentari membakar kulitmu, walau dingin purnama malam menggigilkan sukmamu! “

////////////////////////

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer adie_ebook
adie_ebook at RUANG KELAM: MATA INI (8 years 27 weeks ago)
70

Panjang banget tapi, Bagus juga :)

Writer Mr_ebro.arif
Mr_ebro.arif at RUANG KELAM: MATA INI (9 years 19 weeks ago)
70

menyentuh kang.. intropeksi bangett

Writer shin_nirmala
shin_nirmala at RUANG KELAM: MATA INI (9 years 23 weeks ago)
80

sukaaa ... penggambarannya keren .. aku membayangkan despair, terhimpit, saat kau menggambarkan kota mati itu.
kunjungi lapakku yah ... :)

Writer BudakTEROR
BudakTEROR at RUANG KELAM: MATA INI (9 years 23 weeks ago)

Makasih.... kalo sempat, baca juga ceritaku yang judulnya Ruang Kelam: Rindu Ini. Lam kenal... ^-^

Writer ufee
ufee at RUANG KELAM: MATA INI (9 years 23 weeks ago)

gaya bahasanya saya suka !!! :-D
salam kenal Om.....

Writer BudakTEROR
BudakTEROR at RUANG KELAM: MATA INI (9 years 23 weeks ago)

Makasih...... Lam kenal jg. Jgn panggil om. Panggil kak aja. Hehe ^-^

Writer BudakTEROR
BudakTEROR at RUANG KELAM: MATA INI (9 years 23 weeks ago)
100

Koment ya... ^-^