Contra Mundi - Bab I (dan II)?

BAB I : AWAL

 

Alam Semesta Versigi

RS Hasan Sadikin Bandung, Kontingen Barat, Republik Indonesia Serikat, 4 April 1994.

            Seorang pria berusia 30 tahunan akhir dalam balutan celana hitam, kemeja merah maron bermotifkan kotak-kotak duduk termenung di sebuah ruangan di rumah sakit negeri yang ada di kota Bandung itu. Ruangan itu berukuran 4 x 4 meter. Di dalamnya terdapat sebuah meja kerja yang dipahat dari kayu besar dan dihiasi ukiran ala jepara, sebuah kursi kulit hitam, sebuah filing cabinet berwarna abu-abu serta sebuah almari kaca yang memuat beragam barang pribadi, souvenir, dan foto-foto yang dibingkai dalam bingkai-bingkai foto berwarna perak.

            Pria itu mengulurkan tangannya ke sebuah papan nama yang terbuat dari batu marmer yang bertuliskan : dr. Adhibratha Mursito, Sp.PA. Ia memutar-mutar papan nama itu selayaknya anak kecil. Ya anak kecil, masa-masa yang sudah hilang dari dirinya. Ia merindukan rasanya menjadi anak kecil, anak kecil yang polos dan tak perlu tahu banyak. Selalu dilindungi dan merasa aman setiap saat dalam dekapan ayah atau ibu mereka, sungguh berbeda dengan apa yang ia alami saat ini. Ia tahu terlalu banyak dan sekarang tidak tahu harus bertindak apa.

            Lama sekali pria itu bermain-main dengan papan namanya itu, memutar-mutar benda itu ke kiri dan ke kanan, terkadang satu putaran namun terkadang juga hanya setengah putaran hingga seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.

            “Selamat siang Dokter, saya Adinda. Maaf Dok, ada yang mau bertemu anda,” kata suara perempuan dari balik pintu.

            “Persilakan dia masuk, Suster!” jawab Mursito.

            Pintu pun terbuka dan tampaklah seorang pria berpakaian rapi dalam balutan celana hitam dan jas coklat serta kemeja biru yang dipercantik dengan dasi bermotif garis-garis merah dan kuning. Pria itu berjalan dengan angkuh ke arah kursi di depan meja kerja sang dokter lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi tersebut. Segera sesudah itu dinaikkannya kaki kirinya ke atas kaki kanannya, sebuah posisi yang seolah mengisyaratkan bahwa dia adalah orang yang sangat berkuasa.

            “Siang Dokter,” sapa pria itu ramah namun Mursito benar-benar menunjukkan ekspresi tidak suka akan kehadiran pria itu di sini.

            Pria itu melanjutkan lagi ucapannya, “Dokter tahu kan apa maksud kedatangan saya ke sini?”

            Mursito langsung menyatukan kedua telapak tangannya lalu membungkukkan badannya ke arah pria itu dan menatapnya dengan tatatapan matanya yang setajam elang, “Jadi benar itu hasil kerja kalian?”

            “Orang itu tahu terlalu banyak soal kami maka sudah selayaknya dia lenyap dari muka bumi.”

            “Dan siapa yang memberimu hak mencabut nyawa orang, hah? Sangkamu kau dan teman-temanmu itu bisa terus melenggang kabur? Tidak! Aku jamin tidak kali ini. Jika kau bermaksud menyuap aku maka hal itu tidak akan berhasil. Aku akan tetap bersaksi di pengadilan. Dia bukan mati karena serangan jantung seperti klaim dokter bedebah itu. Ia mati diracun!”

            “Oh, ya ampun Dok. Apa Dokter tak peduli dengan masa depan keempat anak anda?” kata pria itu dengan ekspresi licik yang memuakkan mata Mursito.

            “Mencoba mengancam?” hardik Mursito dengan mata melotot.

            “Yah, kalau begitu saya tidak akan berlama-lama lagi di sini. Selamat siang Dokter,” balas pria itu sembari tersenyum.

            Tak makan waktu lama, pria itu sudah keluar dari rumah sakit itu dan menuju tempat parkir. Di sana telah menunggu sebuah mobil Mercedes-Benz 300 Class berwarna coklat yang menunggunya. Pria itu membuka pintu belakang dan langsung masuk ke dalam. Segera sesudah itu mobil pun berjalan meninggalkan area rumah sakit itu.

            Seorang pria lain duduk di samping pria yang baru masuk itu, ia memalingkan wajahnya kepada penumpang di sampingnya itu dan mulai bertanya, “Apa reaksi dari dokter itu, Agni?”

            “Dia menolak, Pak Bayu” jawab pria yang baru masuk itu.

            “Berarti dia sudah menandatangani kontrak kematiannya. Agni, hubungi Calya! Dokter itu harus sudah mati paling lambat hari Minggu ini!”

 

Alam Semesta Versigi

Kebun Binatang Ragunan, Jakarta, Daerah Administratif Khusus Ibukota Pemerintahan Republik Indonesia Serikat, 10 April 1994.

            Hari ini hari Minggu dan ini adalah hari Minggu yang langka bagi sebuah keluarga. Ya karena hari ini bertepatan dengan perayaan dirgahayu lahirnya pemerintahan serikat maka seluruh pegawai kantor dan instansi pemerintah diperbolehkan berlibur selama 4 hari terhitung sejak kemarin. Mursito merasa sudah saatnya dia mengajak keluarganya berjalan-jalan sejenak karena itu diajaknya Rahayu istrinya serta keempat putra mereka berjalan-jalan ke Kebun Binatang Ragunan, Jakarta.

            Ketiga putranya tampak amat gembira diajak ayah mereka berjalan-jalan setelah sekian lama mereka hanya menghabiskan hari libur mereka melihat ayah mereka tak pernah ada di rumah karena bertugas di rumah sakit hingga sore hari. Hanya seorang dari mereka yang tampaknya paling sulung dari antara mereka tampak resah, berkali-kali ia memainkan jari-jarinya dengan resah, matanya menerawang keluar jendela dan tidak sepatah kata pun ia ucapkan pada saudara-saudaranya yang sedang bercanda ria sepanjang perjalanan.

            Salah seorang di antara saudaranya memperhatikan betul perangai aneh kakaknya hari ini. Ia beranikan diri bertanya pada saudara tuanya, “Kak Sanjaya kok diam saja?”

            Remaja 16 tahun itu menoleh pada saudaranya, si nomer tiga yang masih duduk di kelas 5 SD lalu menjawab, “Tidak, tidak, tidak apa-apa. Saya hanya capek.”

            Ibunya menimpali dari kursi depan, “Kamu sakit, Guh?”

            “Tidak Ma, hanya capek.”

            “Kalau pusing, Mama bawa Ponstan[1] di kotak obat.”

            “Tidak Ma, Cuma kurang tidur.”

            Mursito melirik ke arah putra sulungnya itu melalui kaca spion yang ada di bagian tengah. Dalam hati ia tahu bahwa perjalanan ini tidak akan berakhir dengan baik. Putra sulungnya peka akan hal-hal semacam ini. Dipandanginya si bungsu yang masih berumur 1 tahun tidur dengan tenang di pangkuan istrinya. Mursito merasa bahwa hari ini adalah hari terakhir ia bersama keluarganya. Para mafia itu akan memanggil Calya, sang legenda, pembunuh puluhan saksi persidangan tanpa meninggalkan jejak dan tidak ada satupun dari mereka yang pernah selamat dari makhluk itu. Ya! Makhluk! Ia menyebutnya makhluk sebab jelas-jelas baik Calya maupun para mafia itu bukan lagi manusia melainkan makhluk jahat dari dunia bawah.

            Sementara dua insan manusia itu termenung sepanjang perjalanan tak terasa mereka sudah sampai di Ragunan. Mursito memarkir mobil kijangnya di tempat parkir lalu seluruh keluarga itupun memasuki area kebun binatang. Dari kejauhan seorang pria yang tampak kikuk, berkumis tipis dan berkacamata berlari tergopoh-gopoh menuju ke pintu masuk kebun binatang dan tanpa sengaja menyenggol Mursito hingga tersungkur.

            “Ya ampun! Maaf Bapak, saya terburu-buru,” kata orang itu meminta maaf.

            “Lain kali hati-hati Pak!” kata Mursito dengan nada sebal.

            “Iya Pak, sekali lagi saya mohon maaf,” jawab orang itu sembari pergi dengan terburu-buru yang anehnya bukan menuju ke dalam kebun binatang tapi malah ke arah berlawanan. Mursito bangkit dan bersama keluarganya masuk ke dalam kebun binatang Ragunan.

            Baru sekitar 5 menit di dalam kebun binatang itu Mursito mulai merasa pandangannya kabur, ia merasa dunia sekitarnya bergoyang dan kakinya tak kuat menumpu tubuhnya lagi. Akhirnya ia berkata pada istrinya, “Ma, Papa mau duduk dulu di sana ya.”

            Istrinya lalu bertanya keheranan, “Lo kenapa? Papa sakit?”

            “Tidak Ma, Papa kok tiba-tiba ……,” belum selesai Mursito berkata-kata dirinya sudah ambruk di tanah dan kemudian kejang-kejang.

            “Loh? Papa … Papa!!” seru istri dan ketiga putranya panik.

            Seorang petugas keamanan kebun binatang Ragunan dengan sigap segera menggendong Mursito ke klinik pegawai dan di sana seorang dokter wanita dengan sigap langsung memberi pertolongan pertama pada rekannya sesama dokter itu.

            “Panggil ambulans dari RS Trimurti!” seru dokter itu pada seorang pegawai.

            “Ya Bu!” jawab pegawai itu yang langsung memutar piringan nomor telepon dengan panik.

            Tapi ketika sirene ambulans mulai terdengar, hal itu sudah terlambat bagi Mursito. Nyawanya sudah meregang sesaat sebelum mobil berhias suara berisik itu memasuki area kebun binatang Ragunan ini.

 

BAB II : FAILED

Alam Semesta Xaxes

Kastil Haxet, 1 Indigo 781.

            Itu adalah sebuah bangunan, sebuah puri, sebuah benteng yang tertutup oleh es, membeku. Sekeliling puri itu dikelilingi oleh pilar-pilar es sebening kristal yang amat kokoh. Puri itu terdiri atas 3 tingkat, memiliki 4 menara jaga dan 6 balkon. Sebetulnya puri itu amatlah indah namun suasana di sana tampak sunyi sekali, gelap dan sunyi, tak ada satupun makhluk hidup yang tampak di sana. Dua bulan purnama kembar sudah muncul di langit dan secara mengejutkan obor-obor di dalam kastil tersebut mulai menyala sati demi satu.

            Suara langkah-langkah kaki mulai terdengar dari dalam istana es itu. Sekumpulan orang dalam balutan tunik dan tudung kepala membawa masing-masing sebuah lilin dalam genggaman tangan mereka. Ada 7 orang yang berbaris dalam barisan tersebut, mereka menelusuri lorong-lorong kastil hingga tibalah mereka pada sebuah aula besar dengan karpet merah menutupi seluruh ruangan, di dinding ruangan itu terpampang pula panji-panji dengan simbol singa dan grifon yang saling bertarung memperebutkan sebuah trisula.

            Ketujuh orang tersebut berdiri membentuk sebuah lingkaran dan secara ajaib muncul sebuah meja kayu bundar di tengah-tengah mereka. Mereka bertujuh pun duduk membicarakan beberapa hal yang tampaknya amat penting tapi sejenak kemudian suasana kembali sepi. Obor-obor mulai padam dan suara-suara ketujuh orang tadi perlahan menghilang. Tapi yang lebih aneh lagi adalah … istana itu perlahan juga menghilang bersamaan dengan terbitnya matahari.

 

Alam Semesta Versigi

TPU Pucang Anom, Surabaya, Daerah Administratif Khusus Ibukota Region Barat, 10 April 2010.

            Suasana di pemakaman itu sepi dan sunyi dari taman batu nisan dan kijing itu hanya terdengar suara kaok burung dan ributnya suara tonggeret, tetapi tiada satupun… tiada satupun …. sosok manusia. Tunggu!!! Ada!!! Ada seseorang .. tidak … dua orang berdiri di hadapan sebuah pusara. Seorang dari antara mereka adalah pria berpakaian rapi ala gentleman, sementara seorang lainnya adalah seorang siswa SMA. Kedua orang itu tak lain adalah Teguh Sanjaya dan Mahija Nandi, putra sulung dan putra ketiga Mursito dan pusara yang ada di hadapan mereka tak lain dan tak bukan adalah pusara ayah mereka.

            Sayup-sayup terdengar suara Nandi memulai pembicaraan, “Kak, aku dengar dari beberapa orang, kau menjadi pembunuh bayaran?”

            “Benar,” jawab Sanjaya ringan.

            Nandi berjalan mendekati kakaknya lalu kembali bertanya, “Kak kenapa? Aku tahu kau adalah orang paling rasional di antara kami. Jika kau mempunyai alasan yang bagus untuk melakukan hal ini tolong beritahu aku apa alasanmu menjadi seperti ini.”

            “Kau masih memuja cahaya Nandi?”

            “Cahaya?”

            “Ya, cahaya! Cahaya suci dari Ilah-Ilah[2] yang tidak jelas keberadaannya itu. Cahaya suci yang diagung-agungkan oleh para Patriakh[3] dan Matriakh[4]. Cahaya suci yang membutakan dan mempesonakan mata banyak orang yang tanpa mereka sadari di balik itu ada macan yang siap menerkam mereka.”

            “Kau Abaravand[5] sekarang?”

            “Dan apa yang akan kau lakukan? Kegelapan membuatku lebih waspada, membuatku terlindung dari musuh-musuhku. Musuh-musuh kita! Para cecunguk busuk berperut buncit yang isinya hanya molembo[6] dan ulat bulu.”

            “Aku tak akan melarangmu, tetapi dari kata-katamu barusan aku menangkap bahwa kau mencari pembalasan dendam? Pada siapa dan kenapa?”

“Mereka bilang negara ini negara hukum, tapi sebenarnya negara ini adalah taman bermain bagi para penjahat. Kita adalah permainannya, hukum adalah mesinnya dan bajingan-bajingan itu adalah pemainnya. Aku di sini untuk menjadi pemain sekaligus membalikkan kondisi permainan mereka sebanyak mungkin yang aku bisa.”

“Kau mau menjadi vigilante[7]? Atau kau mau mencari pembunuh Papa?”

            “Kau sudah tahu soal itu bukan? Mustahil Papa meninggal akibat serangan jantung.Aku sudah menghubungi Dokter Aryo untuk menanyakan hal itu. Papa meninggal diracun bukan karena serangan jantung!”

            “Tapi ….,” Nandi mencoba menyergah namun kembali dipotong oleh kakaknya.

            “Tentu saja fakta itu tidak pernah sampai dan disampaikan di pengadilan. Karena jaksa dan hakim-hakim itu sudah dikenyangkan oleh tumpukan kertas warna-warni bernama uang! Mereka tak perlu lagi menelan yang namanya kebenaran sebab perut mereka sudah dikenyangkan oleh kotoran-kotoran para bajingan itu! Dokter Aryo sendiri… kau sudah tahu ceritanya.”

            Dua orang itu kemudian terdiam, melarung pemikiran mereka dalam kepala masing-masing sampai kemudian Nandi memecah suasana hening itu, “Tidak biasanya kau berdiri lama sekali di depan pusara Papa. Kau berdiri dengan khidmat dan hormat, seolah memohon izin dan restu pada almarhum. Apa dengan ini kau sudah tahu pelakunya, Kak?”

            “Mereka menyebutnya Calya, si siluman malam.”

            “Jangan bilang kau mau menantang Calya, Kak!”

            “Memangnya kenapa? Apa yang akan kau lakukan?”

            “Kau bisa mati, Kak!”

            “Ha! Aku tidak akan mati semudah itu!”

            “Jangan terlalu sombong dengan kemampuanmu itu, Kak!”

            “Berhentilah menjadi penakut dan pengecut Nandi…!” dan dengan segera sebuah pukulan mendarat di pipi kanan Sanjaya.

            “Jangan pernah sebut kata itu lagi!” hardik Nandi sembari mencengkeram kerah baju Sanjaya.

Sorot mata Nandi berubah, dari sorot mata yang lembut menjadi sorot mata yang tajam dan penuh amarah. Sanjaya sampai terpana atas perubahan sikap adiknya yang tiba-tiba ini. Setahunya adiknya ini tidak pernah menunjukkan sikap semacam ini, ia selalu diam walau dicela macam apapun.

            “Kak, dengarkan! Bukan hanya kau yang dianugerahi indera lebih,” kata Nandi kemudian, kali ini dengan suara yang lebih lembut dari ekspresinya barusan namun masih ada tekanan berat di nada suaranya, menandakan keseriusannya atas topik yang ia bicarakan, “Milikku adalah mengintip masa depan, aku tahu soal Calya dan aku juga tahu nasibmu akan seperti apa.”

            “Aku tak percaya pada ramalan,” sergah Sanjaya sembari memalingkan muka.

            “Kak, engkau juga melihatnya kan?” Nandi menarik wajah kakaknya untuk menatapnya langsung, “Kau juga bisa melihat masa depan, sama sepertiku. Tidak akan ada yang bisa kita capai dengan membunuh Calya.”

            “Ada Nandi!” Sanjaya berseru dengan nada tinggi seraya mengibaskan tangan adiknya yang mencengkeram dagunya.

            “Apa itu!” hardik Nandi tak kalah lantang.

            “Kita harus tunjukkan pada Calya bahwa masih ada orang yang berani menentang dia, masih ada orang yang mengincar nyawanya, dan hidupnya di dunia ini sudah tidak aman. Sedikit ketidaktenangan akan menggoncangkan jiwanya, membuatnya lebih mudah ditarget oleh orang lain yang juga mengincar nyawanya.”

            “NAIF!!!! Yang kami dapat ujung-ujungnya adalah kau dalam wujud kunarpa[8]!”

            “Lebih baik begitu daripada hidup dalam lumpur dendam!”

            “Tak bisakah kau pikirkan hal lain selain balas dendam?”

            “Tidak Nandi! Selama dendam ini belum terbalas aku tak akan bisa tidur tenang, tak akan bisa makan dengan tenang dan selamanya akan digerogoti oleh rasa dendam ini. Apalah gunanya hidup jika hidupku tidak lagi utuh? Dengar Nandi, ada jutaan  .. tidak… milyaran orang di dunia ini. Hidupku hanyalah satu dari sekian milyar dan dunia tidak akan dirugikan jika hidup ini berakhir lebih cepat.”

Nandi memalingkan mukanya, matanya menerawang jauh ke suatu arah sebelum ia mulai berkata-kata kembali, “Aku rasa sudah tidak berguna lagi diriku ada di sini. Keputusanmu sudah bulat dan tak akan ada yang bisa menghentikanmu. Kalau begitu aku pulang dulu.”

            “Nandi?” panggil Sanjaya sembari masih menatap pusara ayah mereka.

            “Ya?”

            “Berjanjilah satu hal!”

            “Apa?”

            “Kamu tidak akan membiarkan Sumitra, Wima, atau Mama tahu akan hal ini!”

            “Pasti, dan berjanjilah satu hal pula Kak!”

            “Ya?”

            “Kembalilah hidup-hidup.”

            “Oke.”

            “Walau aku meragukan hal itu akan terjadi,” kata Nandi lagi sembari berjalan keluar dari area pemakaman itu.

 

 

Alam Semesta Versigi

Jl. Urip Sumoharjo, Surabaya, Daerah Administratif Khusus Ibukota Region Barat, 12 April 2010.

            “Calya?” seru Sanjaya pada seorang pria botak berkacamata di sebuah sudut gudang mebel yang sudah tidak terpakai lagi.

            “Hmm, Si Elang Hitam rupanya cepat sekali mengenali diriku,” jawab pria itu sembari tersenyum licik.”

            Pria itu beranjak dari tempatnya semula berdiri, menyingkapkan sebuah pemandangan mengerikan yang berada di balik tubuhnya selama ini. Sesosok mayat pria tersandar di sebuah tiang bangunan dengan tubuh yang berlumuran darah, kedua bola matanya telah hancur ditusuk pisau sementara ada setidaknya 4 luka tikaman di tubuhnya, membuat seluruh kemejanya yang semula berwarna biru kini berubah menjadi ungu karena darah yang mewarnainya.

            “Korbanmu, Huh?” timpal Sanjaya

            “Yaahh, Brigadir  Polisi ini tidak mau dengar apa kata tuanku dan beginilah jadinya.”

            “Tuan? Berapa banyak uang yang tuanmu berikan padamu?”

            “Tidak, ia tidak membayarku dengan uang,” jawab Calya santai, diambilnya sebatang rokok dari dalam saku jaketnya kemudian diambilnya sebuah pemantik dari saku kiri celananya. Ia nyalakan puntung rokok tersebut, dihirupnya dalam-dalam kemudian dihembuskannya secara perlahan.

            Sanjaya berjalan perlahan mendekat ke arah Calya, kemudian berputar mengelilingi Calya dengan jarak kurang lebih 15 langkah dan mulai berbicara, “Bisa kau katakan padaku siapa tuanmu itu? Apakah dia juga yang membunuh dokter Mursito 16 tahun yang lalu?”

            Calya menyeringai, dihembuskannya asap rokok yang ada dalam hidungnya kuat-kuat kemudian menjawab pertanyaan Sanjaya, “Aku tak bisa mengatakan namanya sebab aku sudah terikat perjanjian dengannya. Mengenai pertanyaan keduamu aku akan bilang “ya”!”

            “Katakan padaku namanya sekarang dan kau akan terus hidup,” kata Sanjaya sembari menodongkan sepucuk revolver P3 ke dahi Calya.

            “Aku akan terus hidup Elang Hitam, yang aku takutkan adalah … kau tidak akan bisa melihat matahari terbit dan terbenam lagi,” jawab Calya santai.

            Sejurus kemudian, Calya telah memukul telak pergelangan tangan Sanjaya, membuat revolver yang ia pegang tadi jatuh ke lantai dan melepaskan sebuah tembakan yang mengenai tembok beton. Calya segera menendang kaki kiri Sanjaya tetapi Sanjaya dengan gesit menghindar. Tak berapa lama Calya mengeluarkan dua bilah belati kecil yang segera ia lemparkan ke arah Sanjaya. Sanjaya dapat menghindari satu belati sementara satu belati lainnya menyerempet pipinya, menimbulkan sebuah luka yang kini menghiasi wajahnya.

            Sanjaya balas melancarkan pukulan, tetapi ditangkis oleh Calya. Kedua pembunuh bayaran itu terlibat aksi saling pukul, saling tendang, dan saling tangkis. Kemampuan bertarung mereka sama baiknya, berkali-kali Calya tampak kewalahan menangkis serangan tangan kosong Sanjaya yang bertubi-tubi.

            “Ha, reputasimu memang bukan omong kosong Elang Hitam!” seru Calya kembali melancarkan serangan. Kali ini ia melancarkan sebuah pukulan telak ke arah dada Sanjaya. Sanjaya menangkis pukulan Calya, kali ini ia keluarkan sebuah pisau dari balik jaketnya dan dilemparkannya ke arah Calya dan … meleset. Calya bersalto, menghindar dengan gesit namun sejurus kemudian menarik sepucuk revolver dari balik jaketnya lalu mulai menembaki Sanjaya.

            Sanjaya berlindung dari tembakan Calya di balik sebuah tiang beton. Ia menarik sebuah revolver lagi dari kaus kaki kirinya dan kemudian mulai balas menembak. Setelah sekian tembakan, Sanjaya melakukan gerakan roll menyamping, mengambil revolvernya yang tadi jatuh dan kemudian mulai menembaki Calya. Sanjaya berani bersumpah bahwa ada pelurunya yang mengenai Calya atau setidaknya menyerempet tubuhnya namun tak terdengar jua suara erangan apapun dari mulut Calya.

            “Apakah ia memakai pakaian anti peluru? Ataukah dia memang tahan terhadap berbagai macam derita?” gumam Sanjaya. Tapi sejurus kemudian sebuah benda mendarat di sampingya, sebuah silinder logam yang tampaknya dilempar oleh Calya. Ia segera berlari menghindari benda itu, sebab ia tahu bahwa benda itu adalah … GRANAT!!”

            Tak berapa lama setelah silinder itu mendarat, timbullah ledakan yang amat dahsyat, ledakan itu meruntuhkan sebuah tiang beton dan beberapa bagian atap seperti kuda-kuda dan seng. Sebuah bongkahan besar tiang beton itu mendarat tepat di atas Sanjaya. Sanjaya berusaha menghindar tetapi terlambat, bongkahan material itu mendarat, menimpa kakinya dan menjepitnya.

            “Arrghhh! Sial!” erang Sanjaya setelah menyadari bahwa kakinya terjepit di antara reruntuhan. Saat itulah Calya mendekat ke arahnya, menodongkan revolver ke arahnya, siap meledakkan kepalanya kapan saja.

            Du luar dugaan, alih-alih menembaknya, Calya malah meletakkan revolvernya ke lantai “Sanjaya, kuberi kau tiga kali kesempatan untuk membunuhku,” kata Calya santai sembari menendang revolver itu hingga membentur sikut kanan Sanjaya.

            “Apa maksudmu?” tanya Sanjaya tidak mengerti.

            “Seperti yang sudah kukatakan.”

            “Kau ingin mati Calya?”

            “Aku ragu kau bisa membunuhku karena itu aku mempersilakan kau mencoba, Elang Hitam!”

            Sanjaya meraih revolver tadi kemudian menembakkan sebuah peluru ke arah jantung Calya, “DORRR!!” dan sejenak kemudian ia lihat Calya masih berdiri tegak, tak bergeming.

            “Ayo! Masa cuma segitu?” ejek Calya.

            Sekali lagi Sanjaya mengarahkan revolvernya, kali ini ke arah kepala Calya. Sejenak kemudian ditembakkannya dua peluru sekaligus ke arah kepala Calya. Satu peluru menembus mata kanan Calya sementara peluru lainnya menembus dahinya, “Yeah! Dia pasti mati!” gumam Sanjaya.

            Tapi sejurus kemudian mata Calya kembali utuh, lubang peluru di dahinya juga hilang tak berbekas sama sekali. Sanjaya terbelalak melihat pemandangan di depannya itu, “Kau … kau … itu apa?”

            “Inilah yang menyebabkan tidak ada satupun yang berhasil membunuhku. Hehehehe … kau bukanlah yang pertama Sanjaya. Kau bukanlah yang pertama mencoba, dan kau akan menjadi seperti yang lainnya.”

            “Mengalami kematian, huh?” balas Sanjaya dengan nada gemetar, rasa takut mulai merasuki pikirannya.

            “Lebih buruk!” jawab Calya.

            Calya mengibaskan tangannya dan dalam sekejap saja seluruh reruntuhan yang menimpa Sanjaya beterbangan dan membentur tembok gudang bagian barat. Sanjaya tak menyia-nyiakan kesempatan itu, segera saja ia berdiri dan langsung menghunus belati tikam yang terselip di bagian belakang sabuknya. Calya bergerak menghindar namun Sanjaya dengan cepat menikam Calya di tenggorokannya. Kali ini hasilnya sama saja, Calya dengan tenang mencabut belati tikam itu dari tenggorokannya, membuangnya ke lantai lalu berkacak pinggang di hadapan Sanjaya yang melongo melihat pemandangan yang tidak lazim itu. Dirinya kini semakin diselimuti rasa takut, rasa takut akan sosok di hadapannya yang jelas-jelas menunjukkan kemampuan yang melampaui manusia.

            “Kau heran Elang Hitam?” tegur Calya pada Sanjaya yang diam tertegun.

            Sanjaya mulai panik,“Apa – apaan itu? Bagaimana mungkin kau masih tetap hidup? Siapa kau sebenarnya?”

            Calya tersenyum penuh arti lalu menyilangkan kedua tangannya dan kemudian mengucapkan bait-bait mantra yang tidak dimengerti sama sekali oleh Sanjaya.

Wahai kekuatan malam

Aku memanggilmu

atas dasar hak yang diberikan padaku

O segel 6 kekuatan semesta

Cyric, Agator, Azuth, Siamorfi, Hass, dan Zorn

kembalikanlah padaku apa yang menjadi hakku

supaya sejak malam ini hingga sepanjang abad

jeritan musuhku akan tertelan kelamnya …

wujud asliku.

 

            Sosok Calya perlahan mulai berganti rupa, perlahan-lahan pakaiannya satu persatu mulai terkoyak oleh karena tubuhnya mula membesar. Kuku-kuku panjang mulai tumbuh dari ujung-ujung jarinya. Tangannya yang pucat, kurus dan keriput kini berubah menghitam, dari punggungnya muncul dua buah sayap seperti sayap kelelawar sementara kepalanya terbelah menjadi dua dan dari dalamnya muncul kepala baru dengan wujud yang amat mengerikan, sebuah sosok seperti wajah manusia yang sudah rusak tanpa mata dan hidung-digantikan oleh sebuah lubang hitam yang seakan hendak menyerap jiwa siapapun yang menatapnya. Mulut wajah tersebut layaknya bibir seorang wanita tetapi hitam kelabu, kulit wajahnya pun turut pula menjadi kelabu layaknya abu sisa pembakaran.

            Sanjaya bergidik ketakutan, otaknya memerintahkan ia untuk segera lari dari sini namun kakinya tak bisa ia gerakkan, seolah kakinya dipaku oleh pasak pada lantai bangunan ini. Dengan tangan gemetaran Sanjaya membuka sebuah kantong kulit yang terpasang pada bagian kiri sabuknya. Cepat-cepat ia menarik sebuah selongsong peluru dan dengan cepat ia masukkan ke dalam revolvernya yang memang sudah kosong itu. Ditembaknya sosok Calya yang secara perlahan mendekatinya namun peluru-peluru itu tidak berdampak apa-apa. Sanjaya terus menerus menembak mulai dari kepala, dada, perut, kaki, dan tangan monster tersebut tetapi Calya semakin saja mendekat sampai akhirnya pistol itu kehabisan peluru lagi.

            Sanjaya dengan cepat mengambil selongsong peluru lagi untuk mengisi ulang pistolnya tetapi kali ini Calya secara tiba-tiba sudah ada di depannya. Calya mencengkeram leher Sanjaya dengan tangan kirinya yang penuh kuku-kuku tajam lalu dengan suara berat berkata, “Permainan selesai!”

            Detik berikutnya Calya sudah memisahkan bagian pinggang sampai kaki Sanjaya dengan tubuh bagian atasnya. Belum sempat Sanjaya bereaksi, kembali ia mencabut rahang bawah Sanjaya dari tempatnya sehingga sosok Sanjaya kini tak memiliki rahang bawah, otot-otot tenggorokannya tampak jelas dan darah mengalir deras dari tempat yang semula adalah tempat rahang bawah berada itu. Darah merah mengalir membasahi pakaiannya sementara dari luka di pinggangnya menetes sejumlah besar darah yang membasahi lantai beton. Sosok pemuda itu kini hanya bisa mengerang dengan suara tidak jelas seolah memohon belas kasih dari musuhnya. Calya tersenyum melihat kondisi lawannya yang seperti itu. Sejenak kemudian Calya mengangkat tubuh Sanjaya tinggi-tinggi seraya berkata, “Setelah ini … aku harus mengucapkan selamat atas kehidupan barumu.”

            Calya mengulurkan tangan kanannya kemudian ditembusnya dada kiri pemuda tersebut dengan tangan kanannya lalu ditariknya kuat-kuat jantung Sanjaya sehingga detik berikutnya pemuda itu meregang nyawa.

            Melihat lawannya sudah tak bernyawa, Calya langsung melahap jantung lawannya dengan rakus. Sesaat kemudian, perlahan-lahan sosok monster itu kembali ke wujud manusianya, seorang pria kurus dan botak dengan wajah culun berhias kacamata bulat lalu pergi meninggalkan tempat itu. “Permainan yang menarik, Sanjaya! Terima kasih sudah menghiburku untuk malam ini.”


[1] Sejenis obat penghilang nyeri

[2] Sesembahan

[3] Semacam pendeta dalam kepercayaan dunia Versigi, Paravandaah. Paravandaah sendiri memiliki arti terhubung dengan semua.

[4] Seperti Patriakh tetapi wanita

[5] Abaravand mengandung arti terpisah dari semua, dalam dunia ini menyatakan orang-orang yang tidak percaya lagi pada ajaran tunggal Paravandaah, di dunia ini kita menyebut mereka Atheis atau Murtadin.

[6] Di sini molembo adalah sejenis hewan seperti cacing tanah berwarna hijau dan hidup di bangkai hewan.

[7] Orang-orang yang berusaha menegakkan hukum dengan cara mereka sendiri

[8] jenazah

Read previous post:  
47
points
(2452 words) posted by panglimaub 9 years 29 weeks ago
67.1429
Tags: Cerita | Novel | metafisika | apocalypse | Contra Mundi | Mahija Nandi
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Hazuki_Auryn
Hazuki_Auryn at Contra Mundi - Bab I (dan II)? (9 years 29 weeks ago)
20

Baiklah, aku mulai, Kakak...
.
(maron) itu kalo pke b.ing jd (maroon) n kalo pke b.indo jd (marun) tp ntah kalo d dunia ini jd (maron)
.
(kota Bandung itu) "itu" itu dgunakan untuk menunjuk ato menggantikan ato mengacu kpd kata ato benda ato kejadia yg telah dsebutkan sebelumnya. sedangkan d sini (itu) itu terletak d kalimat pertama, jd tdk perlu ada.
.
(Ya anak kecil, ...) itu kurang pas, (Ya, anak kecil, ...) mungkin gitu...
.
(tak perlu tau banyak) dan (anak kecil aman dll "mereka") itu gimana ya... tak semua anak kecil seperti itu, mungkin (masa kecil) Mursito memang seperti itu, tp tdk semua org. jd gak bs dbenarkan kalo pendapatny Mursito mengatakan (anak kecil, mereka) yg mengacu kpd keseluruhan, krn contoh j masa kecil "ku" sama skali tdk seperti itu, sejau yg ku ingat. jd mungkin jk (masa kecilnya, dia) mungkin lebih pas.
.
(saya Adinda) itu juga kurang pas, kya'ny d nyata juga biasany (saya Suster Adinda,) gitu,
.
(dipercantik) itu kurang pas kalo buat (pria), mungkin (dipadukan) ato (diserasikan) lebih pas.
.
(...namun Mursito benar2 menunjukkan ekspresi tdk suka akan kehadiran pria itu d sini) itu... pertama kaliny nama sang dokter dsebut. knp bukan (...namun Mursito, si/sang dokter, menunjukkan .....itu d hadapannya.)...?
.
("Dokter tahu kan apa maksud...) itu ada koma stelah (kan) jadi ("Dokter tahu, kan, apa maksud...)
.
("Orang itu terlalu banyak soal kami maka...) itu mungkin ("Orang itu tahu terlalu banya soal kami, maka...)
.
(...keempat anak anda?") berasa ganjil, krn penggunaan (Anda) itu untuk org yg dhormati, sama skali gak tepat kalo yg bicara org itu dlm situasi sprt itu.
.
(Di sana telah menunggu sebuah mobil... yg menunggunya.) itu juga, satu saja. (Disana telah menunggu sebuah mobil...) saja ato (Di sana sebuah mobil... telah menunggunya.) saja, pilih slh 1.
.
(segera sesudah itu mobil pun...) kurang koma d blakang (itu).
.
(...berjalan2 sejenak krn itu diajaknya Rahayu istrinya serta...) sangat kurang koma, dua.
.
(...hr libur mrk melihat ayah mrk tak pernah...) itu juga, hadhuh, -_-a
.
(...saya hanya capek.) itu terlalu formal untk ngbrol dg adik sendiri.
.
("Kamu sakit, Guh?") itu, jd namany (Kak Sanjaya) ato (Guh) yg benar?
.
(dunia bawah) itu penjelasa, apkh definisiny sama dg yg umum ada d dunia nyata ini, ato beda? d nyata pun yg namany "dunia bawah" juga beda2.
.
Sampai d sini aku bosan.
pemilihan kata yg parah,
penggunaan terlalu banyk (itu) yg mengganggu,
penulisan crita yg membosankan,
terlalu formal n kurang berasa kalo itu novel,
pendeskripsian ntah gimana itu,
.
ini aku, yg maniak mbaca buku.
bayangkan kalo org normal yg baca.
O_O
Jadi, bhs tertulis tu beda dg bhs terucap.
novel tu jlas j beda dg game.
.
Maaf, ini aku, kalo lg frustasi gak bs dpt feel dr yg ku baca.
.
Mohon jangan ngambek, n jd bales dendam dg menghujat tulisanku,
:P
(kritik boleh, tp jangan nyari2 ksalahan yg bs dkritik)
:-)
hehehe :P
.
Jadi,
kapan2 pasti ku baca, kalo mood ku buat baca ni dah balik lg,
:P
Skali lg maaf, Kakak, maaf bgt...
:-)
.
.
mohon jangan kapok buat maen2 ke Orphenox ku...
:-)
.
Pokoknya,
tetep, smangat, bikin yg lebih baik lg.
Yosh!
(,")/

Writer Hazuki_Auryn
Hazuki_Auryn at Contra Mundi - Bab I (dan II)? (9 years 29 weeks ago)

Ralatt_:

aku BUKAN maniak mbaca buku,
tp,
aku CUMA suka mbaca buku.
:P
Maaf, Kakak...

Writer Hazuki_Auryn
Hazuki_Auryn at Contra Mundi - Bab I (dan II)? (9 years 29 weeks ago)

Ini komen yg OOT:
.
Agni?
O_O
aku juga punya karakter Agni (bukan d Orphenox tapi),
tapi Agni-ku itu cewek,
(dan aku emang lebih suka Agni seorang cewek, kalo cowok itu Bara, Brama, Dahana,)
O_O
(knp aku jd nglantur? payah)
-_-a

Writer panglimaub
panglimaub at Contra Mundi - Bab I (dan II)? (9 years 29 weeks ago)
100

Self-reward XD

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at Contra Mundi - Bab I (dan II)? (9 years 29 weeks ago)

sial! cerita asli si Nandi ini ternyata asik sekali! saya iri!

Writer 145
145 at Contra Mundi - Bab I (dan II)? (9 years 29 weeks ago)

yup yup >_< kau juga harus berjuang sam

Writer panglimaub
panglimaub at Contra Mundi - Bab I (dan II)? (9 years 29 weeks ago)

Poinnya dong? Masa ga dikasih poin?

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at Contra Mundi - Bab I (dan II)? (9 years 29 weeks ago)

...ini ol hape. kalo emang perlu poin nanti saya kasih belakangan

Writer panglimaub
panglimaub at Contra Mundi - Bab I (dan II)? (9 years 29 weeks ago)

Makasih Sam XD

Writer 145
145 at Contra Mundi - Bab I (dan II)? (9 years 29 weeks ago)
100

Hauuuu masih keren ~_~
-
Hmmm tinggal di surabaya?
-
Gaya ceritanya sedikit mengingatkanku pada beberapa karya Michael Crichton.
-
Menarik. Sudah ada rencana sampai berapa Bab?

Writer panglimaub
panglimaub at Contra Mundi - Bab I (dan II)? (9 years 29 weeks ago)

Saya orang Malang. Tinggal di Surabaya sekitar tahun 1994-1998 XD

Writer 145
145 at Contra Mundi - Bab I (dan II)? (9 years 29 weeks ago)

Heee sebelum kejatuhan rezim eh :D
-
Entah mengapa menurutku penggunaan istilah RIS beneran menarik.

Writer panglimaub
panglimaub at Contra Mundi - Bab I (dan II)? (9 years 29 weeks ago)

Di semesta ini RIS tida pernah dibubarkan dan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 tidak pernah dikeluarkan XD

Writer panglimaub
panglimaub at Contra Mundi - Bab I (dan II)? (9 years 29 weeks ago)

7 bab sudah selesai tapi perlu diedit sana-sini

Writer 145
145 at Contra Mundi - Bab I (dan II)? (9 years 29 weeks ago)

Ahahaha kayaknya aku mesti berusaha lebih keras >_<
-
Berjuanglah