Speed Memory (bagian 1) : Pertemuan Mendadak

Seorang gadis berlari menuju gerbang utama, melewati deretan bangunan bertingkat lima. Gedung SMU Wahana Harapan. Untunglah ia bisa berlari cepat, seandainya ia terlambat lima detik saja, gerbang itu sudah tertutup dengan kendali dari gedung pusat dan ia harus menunggu sampai besok agar gerbang itu terbuka lagi. Ia berjongkok dengan tangan bertumpu pada lututnya mencoba mengatur nafasnya sebelum ia berlari lagi meninggalkan gedung tadi.

Ia melirik jam tangannya dan tanpa sadar ia menelan ludahnya. Semoga aku tepat waktu dengan waktu hanya lima menit lagi batinnya berharap. Matanya berkeliling melihat batang-batang kekar pohon cemara yang tertimpa matahari sore yang ia lewati. Kalau saja diwaktu yang lain, ia akan bersyukur melihat pemandangan yang dilewatinya tetapi sayangnya ia sedang berpacu dengan waktu sehingga pemandangan itupun dilewatkan begitu saja.

“Sialnya …” gumamnya terengah-engah. Seandainya saja Valensea tidak pergi dan mau menungguku, batinnya gusar. Dear … ternyata begini rasanya punya saudara, saudara kembar, pikirnya ditengah usahanya menuju gerbang Wahana Harapan yang sudah mulai terlihat. Ia mempercepat larinya sebisa kakinya membawanya.

Kumohon biarkan aku lewat setelah itu baru kunci. Kunci sepuasnya bila perlu, batinnya menyumpahi.

Usahanya tidak sia-sia. Ia berhasil melewati gerbang itu pada detik-detik terakhir, sebelum gerbang itu tertutup.

“Ya Tuhan, akhirnya!” ucapnya terengah-engah menghembuskan nafas lega seraya berbalik menghadapi geliat Buitenzorg sore hari yang mulai meningkatkan aktifitasnya.

“Ok … pertama ke rumah Tante Lilian!”ucapnya memastikan. Ia lalu menyeberangi jalan menuju gereja dan masuk gang di sebelahnya menuju komplek rumah-rumah berpagar tinggi yang sepi.

“Aduh … nomor dua  puluh lima atau dua puluh tujuh ya?” gumamnya kebingungan menatap dua rumah berpagar tinggi keemasan yang nyaris sama. Ia mencoba mengingat ucapan ibunya namun tetap saja buntu di antara nomor dua puluh lima dan dua puluh tujuh.

Ia mundur beberapa langkah di tengah jalan itu sehingga bisa menatap kedua rumah itu. Ayo Vie … pikirnya. Ingat-ingat yang mana rumahnya.

Pikirannya tersita pada dua rumah itu sehingga tidak menyadari laju sebuah sepeda motor yang kencang ke arahnya. Gadis itu menoleh tanpa sempat menghindar dan …

B R A A K K K . . . .

Motor itu terguling berikut pengendaranya, setelah ia berhasil memiringkan motornya agar tak menabrak si gadis. Namun tetap saja gadis itu terserempet sehingga ia jatuh terduduk dengan keras.

Beruntung, si pengendara motor itu mengenakan helm, kalau tidak mungkin lehernya sudah patah. Dengan terhuyung-huyung ia berdiri dan mendirikan motornya. Ia mendekati si gadis yang masih terduduk karena kaget. Ia membuka helmnya lalu membantu gadis itu berdiri. Sebersit darah tampak meleleh dari sudut bibirnya.

“Maaf … kau tak apa-apa?” Tanya si pengendara motor yang ternyata adalah seorang pria.

“Kau pikir aku tidak apa-apa?” sahut si gadis sewot setelah ia berhasil berdiri. Pria itu tersenyum, namun tiba-tiba ia memuntahkan darah dan tersungkur, membuat si gadis mengurungkan niatnya untuk memarahinya habis-habisan.

“Hey … kau kenapa … oh ayolah … jangan menakutiku?!” kata si gadis mengguncangkan bahu pengendara motor itu yang masih saja memuntahkan darah. Sedetik kemudian, dia terkulai lemas. Pingsan.

“Sial … apa yang harus kulakukan?” ia bertanya pada dirinya sendiri. Ia menoleh kesana kemari berharap menemukan bantuan tetapi komplek itu sepi benar-benar sepi. Hanya ada dirinya dan si pria itu serta burung gereja yang sesekali melintas di atasnya. Ayo berpikir, batinnya.

“Ambulans!” ucapnya tiba-tiba. Ia segera merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi rumah sakit.

 

Rumah Sakit, beberapa jam kemudian …

Si pria pengendara motor itu masih terbaring diam, sedangkan si gadis duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang. Ia baru saja menelepon nomor-nomor yang ada di ponsel si pria dan sekarang ia sedang asyik meneliti wajah pria itu. Mirip siapa ya? … pikirnya. Ia merasa pernah melihat wajah seperti itu.

“Apa dia baik-baik saja?” Tanya seorang wanita yang kemunculannya mengagetkan gadis itu, membuyarkan lamunannya.

“Ah … eh … I-iya kata dokter ia hanya perlu istirahat. Ia tidak apa-apa!” jawabnya gugup.

“Oh … syukurlah!” ucapnya menghempaskan dirinya pada satu-satunya kursi yang masih kosong di sana. Ia tersenyum, “terima kasih sudah meneleponku … kalau tidak …”

“It’s ok. Tak apa!” ucap gadis itu yang tanpa sadar memperhatikan penampilan wanita di hadapannya. Ia modis sekali, pikirnya. Aku suka rambut ikalnya.

“Oh ya … aku belum tahu siapa namamu. Namaku Kitana!” ucap wanita itu. Rupanya ia merasa kalau ia diperhatikan.

“Namaku Virginie!” jawab si gadis yang merasa tak sopan. “Panggil saja Vinnie atau Vie. Siapa namanya?” Tanya Vinnie menunjuk pria yang masih terbaring diam.

“Dia … Sky. Ia lebih senang dipanggil begitu!”

Tiga orang muncul di ambang pintu. Tampang mereka menyiratkan kecemasan. Satu yang berjalan di tengah agak pendek dan gemuk. Ia paling subur badannya dibandingkan dengan dua rekannya. Ia berkacamata bulat dengan rambut pirang yang dipotong pendek nyaris cepak.

Di sebelah kanannya, ada pria yang tinggi kurus. Rambutnya yang hitam lebat itu agak gondrong. Sedangkan di sebelah kiri si kacamata ada seorang pria yang bertubuh sedang. Hanya saja ia selalu menunduk dan gemetaran.

Senyum Kitana mengembang melihat mereka bertiga.

“Sky baik-baik kan, Kit?” Tanya si kacamata.

Kitana mengangguk. “Iya, dia baik-baik saja. Mana Terry … dia tidak ikut?”

“Dia tidak bisa ikut.” Jawab si kurus. “Ada klien yang datang sore ini. Mobil caravan coklat itu … lagipula ia khawatir meninggalkan bengkel. Yah … wajar sih!”

Kitana kembali mengangguk. “Baguslah … kalian lebih tahu siapa Raven ‘kan?” tanyanya yang dibalas anggukan ketiganya.

Vinnie yang sejak tadi diam saja mendengarkan pembicaraan mereka, mulai gelisah. Ia jengah berlama-lama di Rumah Sakit. Lagipula sejak tadi ia merasa diawasi oleh si kurus. Kitana rupanya menyadari hal itu.

“Oh ya … kenalkan ini Vinnie, orang yang menghubungi kita dan yang membawa Sky ke rumah sakit!” kata Kitana tiba-tiba, mengagetkan Vinnie.

Vinnie mengulurkan tangannya, membalas uluran tangan ketiga teman Kitana yang juga menyebutkan nama masing-masing. “Leon” kata si kacamata. “Joe” ucap si kurus dan “Kian” sambung si gemetaran.

“Well … boleh aku pulang sekarang … toh sudah ada kalian!” ucap Vinnie.

“Sekarang?” … mmm … baiklah … tapi kau tidak marah ‘kan?” Tanya Kitana nampak bersalah.

“Kenapa aku harus marah?” Tanya Vinnie heran. Kitana hanya mengangkat bahunya lalu tersenyum. “Selamat malam!” ucap Vinnie seraya melangkah keluar setelah membalas senyuman Kitana.

“Boleh aku mengantarmu?” Tanya Joe seraya bangkit.

“Terima kasih tapi … apartemenku tidak terlalu jauh dari sini kok!” tolak Vinnie halus.

“Oh …baiklah!” jawab Joe lemas.

“Maaf ya?!” kata Vinnie berusaha tersenyum.

Joe hanya tersenyum lemas. Pandangannya mengikuti kepergian Vinnie sementara dibelakangnya, Leon dan Kian menutup mulutnya menahan tawa.

“Uh … sialan kalian!” umpat Joe kesal.

Vinnie melangkah meninggalkan ruangan RS itu dengan membawa pertanyaan besar. Siapakah sebenarnya Sky dan mengapa ia seolah pernah dekat dengan pria itu.

Ia menaiki bus kota yang membawanya menuju apartemennya meninggalkan RS yang dibalut langit malam. Matahari sudah terbenam sejak tadi.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post

wew... :3

80

asyik.
tapi saia terpaksa nggak suka sama tokoh dgn nama Sky itu. hanya pada namanya sih, mbak.
dan soal dialog "Ayolah" itu keren bagi saia.
ayolah...
siippp :D
ahak hak hak

yay ... \o/ ... makasih om ichiiii ... but kenapa gak suka ... *manyun*
nama aslinya bukan itu kok ... hehehe ... argatou na

hihihi.
apa nama aslinya, mbak? :)

80

“Sialnya…(,)” gumamnya terengah-engah.
.
“Maaf … kau tak apa-apa?” (t)anya si (P)engendara (M)otor yang ternyata adalah seorang pria.
Klo ada awalan kayak "si" atau "sang", huruf awalnya besar, sista :D ex: si Gadis, si Cowok, sang Srigala, ect...
.
Humm... aku pikir sista juga demen banget pake kata "ucap" padahal dari nada bicara tokohnya, itu bukan sekedar ucapan.. kayak:
“Well … boleh aku pulang sekarang … toh sudah ada kalian!” ucap Vinnie.
klo aku pikir sih... ucapan nggak sebanyak ini.. lebih cocok dibilang "kata" aja.
.
Sista juga demen pake titik-titik XD
sebenernya g ada masalah sih. cuma mau ngasih tahu aja, klo ada kata sebelum titik-titik itu, nggak usah pake spasi..
"Oh..." "Wah..." "Yeah..."
cuma yah, pisah dari kata selanjutnya..
"Oh... Jadi begitu."
.
owh.. gitu aja kali ya.. Maapin, sista, cuma ngingetin, jgn dianggap menggurui >.<
.
soal cerita, komennya udah tadi kan? Alurnya g masalah, ceritanya lumayan bikin penasaran :v klo aku sih g permasalahin nama tokohnya disebutin kapan XD *soalnyaJugaKayakGiniPasDiPrologSendiri*
.
He? Sejak kapan namanya sista berubah jadi Shinchan???
*lirikBawah* XD
Mercii, sista

waw ... so many ... :) but i take it ... hehehe, yup saia sering pake titik2, kebiasaan kali yah ... hadeehhh, um ...*ikutan lirik bawah* itu sih di Damet ajah ... hihihi

Umm ... Harusnya nama tokohnya di sebut d awal yah? ... Kupikir lewat percakapan mereka tuh bakalan tau ...
Btw ngapain dikau yang pundung non ... Tak apa lg ... Saya kan masih belajar, mohon bimbingannya ... :)

50

Apa akan ada kelanjutan ceritanya? Hmm.... Interesting... Dtunggu kelanjutan ceritanya yah.

Adaaaa ... Akan saya posting secepatnya ...
Terima kasih dah mampir ...

70

ini ceritanya memang hanya segini? atau masih ada lanjutannya? agaknya cerita ini menggantung ya? its oke, keep write, salam :)

Masih ada lanjutannya kakak ... Umm menggantung yah ...
Baiklah, terima kasih dah mampir ... Salam