MENUNGGU PULANG

 

Saya lelah menunggu mati di pagi hari, 
lelah disuntik geragap menunggu pulang suami.
Besok,
besok, 
besok. 
Saya….
Harus makan. 
Harus cuci piring.
Harus bereskan rumah.
Lalu?
Sapu rumah. Belum bereskan pakaian, belum urus cucian Bu Tety. Ah ya, cucian, cucian, cucian. Gosokkan lebih banyak sabun di sana dan di sini, semprotkan wewangian. Setrika! Tapi harus yang rapih. Jangan sampai tidak.
Tentu, tentu, tentu. Tidak mau lagi seperti kemarin. Bu Yuli marah-marah. Bu Diantro hilang banyak kancing-kancing bajunya. Rusak. Rusak. Rusak. Rusak. RUSAAAAAAAAAKKK. Butuh uang lagi buat ganti rugi. Sedangkan listrik terus menunggak, harga bahan makanan terus makin mahal. 
Uang untuk hidup. Hidup untuk uang. Uang untuk hidup. Tapi hidup tanpa uang?
Mati saja!
Mati.
Mati.
Mati.
Matttiiii.
Kepingin bilang begitu. Tapi mati berarti harus lapar dulu. Tapi mati berarti anak perempuan saya harusnya hilang harapannya beli gaun putih-putih itu. Berarti anak lelaki saya harusnya berhenti ngayal, berhenti makan cat. Pun saya harus berhenti….
Berhenti, berhenti. 
Berhenti makan.
Berhenti jahit jas suami.
Berhenti tunggu suami.
Berhenti berharap pada suami.
Berhenti berharap pada suami….
Berharap pada suami…
Pada suami….
Suami….
…belum juga pulang. Belum. Maka terus menunggu. Menunggu terus. Menunggu suami, menunggu suami, menunggu suami… 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer luna.love
luna.love at MENUNGGU PULANG (10 years 10 weeks ago)
70

Hmm, bagus!

Sudi kak mampir ke pekarangan tulisanku!

Writer Shinichi
Shinichi at MENUNGGU PULANG (10 years 10 weeks ago)
70

mau juga dong ditunggu isteri :D