RUANG KELAM: KEMATIAN INI

KEMATIAN INI

 

Aku berlari sekencang-kencangnya menghindari cambukan mereka, menghindari amarah mereka. Mereka mengejarku dalam dunia yang penuh penghakiman. Aku berlari di antara darah, air mata, dan ketakutan tiada tara. Namun, apakah pelarianku ini akan memperbaiki nasibku di sini? Di dunia kematian ini?

Mereka terus mengejar. Aku hampir kehabisan nafas dan putus asa. Pakaian yang kukenakan telah terkoyak dan basah oleh darah dari tubuhku sendiri. Kulitku pun tak luput dari aroma kepedihan. Sebagian wajahku tak lagi normal. Kulit wajahku mengelupas di bagian pipi kanan hingga keningku. Begitu pula dengan kulit tangan sampai dadaku. Semua mengelupas dan menampakkan jaringan-jaringan otot  bahkan tulang dan darah. Aku tak tahu mengapa aku harus mati. Aku tak tahu mengapa.

Aku masih berlari di antara tangisan dan darah dari tubuh mereka yang menggenangi tempat ini. Mereka adalah roh-roh yang tengah disiksa dengan berbagai bentuk penyiksaan yang sungguh tak mampu dipandang oleh kedua mataku. Aku hanya sanggup tuk mendengar teriakan dan merasakan darah mereka membasahi kedua telapak kakiku. Suara-suara ketakutan, keputusasaan, dan hasrat untuk kembali hidup walau itu takkan pernah terjadi pada mereka. Darah ini membasahi kakiku. Terasa panas dan pedih. Aku tak tahu bagaimana menjadi mereka yang telah bertahun-tahun atau berabad-abad mengalami penyiksaan di tempat seperti ini tanpa ada harapan untuk kembali berseri. Kapankah hal itu dapat berakhir? Apakah mereka kekal di sini? Darah ini terasa panas di kakiku, menandakan bahwa kesakitan yang mereka terima juga sama panasnya atau bahkan lebih panas dari ini, dari neraka.

Dua algojo berkepala kerbau itu masih mengejarku. Merekalah yang membuatku seperti ini. Merekalah yang selama ini selalu mencambukku dengan cambuk mereka yang ujungnya menyala merah dan lebih tajam dari pedang. Merekalah yang selalu tertawa dan menyiksaku dengan riang gembira. Mereka selalu menyerukan nama Tuhan dalam setiap neraka yang mereka teteskan di tubuhku. Tuhan… Tuhan… Engkaukah yang memberi titah?

Akhirnya, sampailah aku di sebuah gerbang yang di baliknya merupakan kegelapan yang sangat pekat dan tak mampu kujangkau oleh mataku. Namun, tak ada pilihan lain. Tak ada jalan lain yang dapat kutelusuri. Sakit yang kurasakan ini telah sangat mengiris. Ketakutan yang ada di dalam dada telah sangat menggerogotiku. Aku tak punya pilihan lain. Segera kubuka gerbang itu sebelum cambuk para algojo melumpuhkanku, sebelum kesempatanku terbenam dan sirna.

Tubuhku terjatuh dalam kegelapan…

Ketiadaan…

Walau suara-suara penghakiman mengejar…

Masih mengejar…

//////////////////////

 

Tiba-tiba saja di dalam benakku muncul bayangan-bayangan masa lalu. Bayangan-bayangan itu begitu banyak sehingga aku tak mampu melihat semua secara jelas. Aku hanya dapat menangkap sebagian saja. Bayangan-bayangan itu berputar-putar di kepalaku seolah menghina dan mencemooh atas kematianku ini. Aku memang rindu kehidupan. Aku rindu akan rumahku dengan halamannya yang ditumbuhi rerumputan segar yang setiap pagi selalu basah oleh embun. Aku rindu akan orang tuaku, saudara-saudaraku, teman-teman, dan kekasihku. Entah apa yang tengah mereka lakukan saat ini. Aku rindu akan dunia. Aku rindu akan sinar mentari yang menghangatkan tubuhku. Aku rindu cahaya rembulan yang mendamaikan hatiku tatkala bersama kekasihku. Aku rindu semuanya dan sekarang aku dilumat kegelapan. Entah sampai kapan. Tubuhku remuk dan tak pantas lagi disebut manusia. Aku telah berubah menjadi satu dari mereka, para arwah neraka itu. Kurus, hitam, dan mengerikan.

Kepalaku terasa sangat pening…

Semilir angin kematian kurasakan menerpa tubuhku…

Ya, aku masih di sini…

Aku harus bangkit untuk kembali berlari…

Kubuka mata…

Kubuka mata…

Pandanganku kabur. Namun, aku yakin masih berada di sini. Rasa sakit di kepalaku terasa perih dan semakin perih. Aku mencoba untuk menyadarkan diriku. Kucoba untuk sesegera mungkin membuka dan memfokuskan pandanganku. Waspada terhadap segala neraka yang menyemut.

Akhirnya, aku dapat melihat dengan jelas. Kakiku terasa sakit dan kaku. Apakah aku memang telah terjatuh dari gerbang itu? Aku memandang langit mencari dimana letak gerbang itu. Tak ada. Aku tak melihatnya. Langit berwarna merah gelap dan bergejolak dengan pelan. Aku mengalihkan pandanganku ke sekeliling. Tempat ini begitu asing bagiku. Seperti sebuah hutan, tetapi pohon-pohon yang ada berbentuk aneh. Mereka berwarna ungu gelap dan daun-daun mereka meneteskan darah yang terus mengalir. Ranting-ranting mereka meliuk-liuk dan batang mereka penuh dengan wajah manusia. Bukan hanya itu. Bukan hanya itu yang menakutkan dari mereka! Namun, wajah-wajah manusia itu terus menatapku sambil menangis dengan suara riuh rendah. Mereka menangis sambil menatapku. Jutaan wajah kematian menatapku dari batang pohon-pohon itu!

Tiba-tiba ada yang memanggilku!

Aku terperanjat seketika. Kucari-cari dimana sumber suara itu. Lagi, sebuah suara yang aneh memanggilku. Lalu, salah satu pohon itu bergerak. Salah satu rantingnya yang meliuk menghampiriku. Tubuhku menggigil. Aku takut. Sungguh.

“ Kemarilah…! Aku tahu kau ketakutan. “

Ranting itu memiliki mulut yang sangat lebar dan lidah yang panjang. Ia sangat menakutkan.

“ Kemarilah, manusia manis! Kau butuh perlindungan dari para algojo itu, bukan? Kemarilah! Masuklah ke dalam tubuhku lewat bawah sini dan kau akan selamat. “

Suaranya sangat berat. Apakah ia memang menawarkan perlindungan? Aku bahkan tak tahu harus percaya atau tidak.

“ Kemarilah dan tidurlah sejenak! Kau pasti kelelahan dan merasa perih atas apa yang telah terjadi di tubuhmu itu. Kemarilah, sayang! Tidurlah di dalam sini. “

Perlahan ia mengangkat akarnya yang berupa ribuan cacing berwarna hitam dan berkilat. Di dalamnya tampak hanya kegelapan yang berkabut.

“ Tak perlu takut, manisku. Aku memang mengerikan, tetapi hatiku baik. Percayalah! Setelah kau beristirahat di dalam, kau akan merasakan tenang dan tubuhmu akan kembali seperti sedia kala. Para algojo itu takkan pernah melihatmu lagi. Ayo! Kemarilah…! “

Tiba-tiba terdengar teriakan algojo memanggil namaku. Teriakan itu begitu kerasnya hingga langit terbelah seketika. Ia masih memburuku dan jika aku tak segera bertindak, ia akan menemukanku dan menyiksaku lagi dengan cambuknya.

“ Manis, ayo ke sini! Kemarilah…! Kemarilah…! “

Beberapa rantingnya meliuk-liuk mendekatiku dan mulai melilitku lembut. Penuh kasih sayang.

“ Jangan! Jangan dia! Aku saja! “

Tiba-tiba terdengar suara. Salah satu pohon yang lain bergerak dan rantingnya mendekatiku. Pohon itu juga menawarkan hal yang sama kepadaku. Lalu, entah apa yang terjadi, semua pohon di sekelilingku mulai bersuara. Mereka memanggilku dan menawarkan perlindungan untukku. Mendengar itu, pohon pertama tak terima dan beradu mulut dengan yang lain. Semua riuh. Saling berebut untuk melindungiku sampai akhirnya aku mendengar ucapan yang sungguh menakutkan.

“ Kau sudah makan banyak! Aku dari kemarin belum makan daging manusia! “

Suasana hening…

Nafasku serasa terhenti…

Lalu, semua pohon dengan rantingnya yang bermulut lebar dan berlidah panjang itu seperti menatapku.

“ Maaf, tanpa sengaja dia mengatakan yang sebenarnya. “

Aku segera berlari setelah mendengar perkataan itu. Suara gemuruh terdengar di belakangku. Mereka mengejar. Mereka mengejar! Aku berusaha berlari sekencang-kencangnya menghindari makhluk-makhluk itu. Aku berlari untuk mencari tempat yang lapang walau bahaya tetap selalu kan ada. Namun, pohon-pohon itu begitu menjijikkan. Mereka begitu mengerikan dari para algojo itu. Aku tak mau menjadi santapan mereka. Aku tak mau! Aku harus berlari walau kedua kakiku semakin mati rasa, semakin lumpuh. Walau kulit di tubuhku semakin mengelupas dan bernanah.

Sesuatu tampak di depan! Sebuah pintu yang berwarna emas! Ini pasti pertanda baik! Kukencangkan lariku menuju pintu itu. Gemuruh suara makhluk-makhluk pohon itu masih terdengar walau sudah jauh sekarang. Pintu itu menjadi harapanku saat ini. Aku harus mampu menjangkaunya sebelum mereka melilitkan ranting mereka ke tubuhku dan memasukkanku ke dalam perut mereka.

Gagang pintu kugenggam. Kucoba membukanya. Namun, ternyata sangat berat. Aku harus mengerahkan seluruh tenagaku untuk membukanya. Aku harus bisa! Aku harus berusaha! Kudengar suara gemuruh itu semakin dekat di belakangku. Aku harus bisa membuka pintu ini! Sedikit demi sedikit pintu berhasil kubuka. Seketika tercium aroma yang sebenarnya kukenal. Namun, jauh di dalam ingatanku. Masih belum cukup lebar. Aku harus mengerahkan tenaga lebih besar lagi. Namun, apakah aku mampu? Apakah aku mampu tuk masuk ke dalam sebelum mereka menangkapku? Suara gemuruh itu semakin dekat dan semakin dekat. Aku takut akan mereka. Aku takut akan semuanya. Ayolah! Sedikit lagi cukup bagiku untuk masuk! Ayo! Ayolah…!

//////////////////////////

 

“ Ibu! Ayah! Kakakku! Teman-teman! Kekasihku! “

Aku memanggil mereka tatkala mereka ada di depanku, membicarakanku sambil membuka album foto. Itulah mereka, orang-orang yang aku cintai, tengah duduk di ruang tamu rumahku. Aroma yang tercium tadi adalah aroma pengharum ruangan di rumahku. Aku menghampiri mereka walau mereka takkan pernah bisa melihatku walau samar. Aku mencoba mendengarkan apa yang mereka bicarakan.

Ibuku menceritakan bahwa aku adalah seorang anak yang tak pernah tahu bagaimana cara menghormati orang tua. Aku sangat berbeda dibanding kakakku yang sangat menghormati mereka. Ia mengatakan bahwa aku tak pernah mau belajar untuk merasakan pengorbanan orang tua selama ini. Aku anak berandal yang tak pantas hidup di rumah itu. Namun, mereka tak pernah merasa kecewa. Mereka selalu bersyukur dan selalu menerima perlakuan burukku pada mereka. Mereka selalu sabar dan selalu mendoakanku setiap malam dan di setiap kata yang mereka ucapkan.

Teman-temanku mengatakan bahwa aku gemar minum, berjudi, dan berkelahi. Mereka mengatakan bahwa aku memang berandal. Namun, mereka tak pernah dendam padaku. Mereka selalu berusaha mendekatiku dan menuntunku ke jalan yang seharusnya walau aku tak pernah sudi. Aku tak pernah membuka mata dan telingaku pada mereka. Entah mengapa mereka tak pernah lelah untuk itu. Mereka tetap menerimaku sebagai teman mereka. Mereka juga akan selalu mendoakanku jika waktu luang menghampiri mereka. Mereka mengatakan bahwa mereka mencintaiku.

Kekasihku mengatakan bahwa aku selalu mengajaknya bercinta. Aku selalu mengencaninya di suatu tempat dan mencumbuinya. Entah sudah berapa kali. Entah sudah berapa lama. Ia sering menolak. Namun, tak kuasa ia menahanku karena besarnya cinta yang ada di dalam hatinya. Cintanya sungguh murni dan ia sangat ingin untuk dapat mengubah sikapku menjadi pribadi yang baik, yang pada akhirnya dapat menjadi suami yang menyayangi dan mengerti akan kebutuhan keluarganya. Ia sangat mencintaiku dan di setiap titik air matanya saat aku mencumbuinya, ia selalu berusaha tersenyum walau sakit, walau perih. Walau sebenarnya ia ingin menghadiahkan keperawanannya ketika malam pertama kami. Namun, aku terlanjur menjadi setan yang terkutuk, walau di matanya, aku tetaplah sebagai malaikatnya.

Aku mengerti. Semua dosaku adalah jalan yang lurus menuju siksa neraka. Kini aku sadar bagaimana neraka itu. Semua orang menggambarkan neraka sebagai suatu tempat yang penuh dengan iblis, api, dan darah. Dahulu aku tak pernah takut akan neraka. Dahulu aku hanya menganggap bahwa neraka hanya sebagai gertakan dalam kitab suci agar pemeluknya menjadi taat beragama. Ternyata tidak! Aku terlalu bodoh dan terlalu terlambat untuk menyadari hal itu. Neraka adalah tempat yang tak dapat digambarkan dengan apapun, tak dapat dituliskan dengan apapun. Neraka lebih dari itu semua. Namun, bukan itu yang saat ini kurenungkan. Dosa-dosaku di dunialah yang kusesalkan. Aku memang tak pernah menghormati orang tuaku. Aku memang gemar minum di bar dan bermain judi hingga pagi. Aku memang gemar berkelahi karena aku merasa hebat. Aku suka menyetubuhi kekasihku karena aku memang tak mau menahan nafsuku. Bagiku, seks tak pernah terasa tawar. Namun, itu semua yang membawaku ke arah kematian dan menenggelamkanku kekal di tempat itu. Aku mati sebelum aku menyadari semuanya. Aku sudah sangat terlambat. Aku ingin meminta doa dari mereka saat ini. Namun, aku tahu bahwa mereka takkan pernah dapat mendengarku lagi. Aku telah mati. Tuhan, aku telah mati.

Tiba-tiba sebuah tangan kekar muncul dari dalam lantai ruang ini.

“ Aku menemukanmu, bocah! Cambukku telah haus akan darahmu! Kemari!!! “

Itulah saat terakhir aku melihat mereka yang kucintai. Tanpa sempat aku berpikir, aku telah jatuh dan kembali ke padang penuh penghakiman. Dua algojo berdiri di depanku.

“ Tak tahukah kau bahwa kau kekal di sini? Segala pelarianmu akan percuma! “

Neraka itupun kuterima. Cambuk mereka menghancurkan tubuhku bergantian. Suara kesakitan dari mulutku berbaur bersama suara roh-roh lainnya. Namun, aku tak tahan. Aku bersedia kekal di sini tetapi aku tak ingin selamanya mendapat penghukuman seperti ini. Maka, dengan sisa-sisa tenaga aku mencoba berlari menjauh dari dua algojo itu.

Aku berlari sekencang-kencangnya menghindari cambukan mereka, menghindari amarah mereka. Mereka mengejarku dalam dunia yang penuh penghakiman. Aku berlari di antara darah, air mata, dan ketakutan tiada tara.

Mereka terus mengejar. Aku hampir kehabisan nafas dan putus asa. Pakaian yang kukenakan telah terkoyak dan basah oleh darah dari tubuhku sendiri. Kulitku pun tak luput dari aroma kepedihan. Sebagian wajahku tak lagi normal. Kulit wajahku mengelupas di bagian pipi kanan hingga keningku. Begitu pula dengan kulit tangan sampai dadaku. Semua mengelupas dan menampakkan jaringan-jaringan otot  bahkan tulang dan darah. Aku tak tahu mengapa aku harus mati. Aku tak tahu mengapa.

Akhirnya, sampailah aku di sebuah gerbang yang di baliknya merupakan kegelapan yang sangat pekat dan tak mampu kujangkau oleh mataku. Namun, tak ada pilihan lain. Tak ada jalan lain yang dapat kutelusuri. Sakit yang kurasakan ini telah sangat mengiris. Ketakutan yang ada di dalam dada telah sangat menggerogotiku. Aku tak punya pilihan lain. Segera kubuka gerbang itu sebelum cambuk para algojo melumpuhkanku, sebelum kesempatanku terbenam dan sirna.

///////////////////////////////////////

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Shinichi
Shinichi at RUANG KELAM: KEMATIAN INI (8 years 41 weeks ago)
70

apik.
meski, saia rasa beberapa paragraf gemuk itu baiknya dipadetin lagi. dipendekin bgtu.
ehehehe.
trus, sejatinya selama pngejaran thdp tokohnya enak dibikin tegang. namanya dikejar2. namun, ketegangan itu cenderung pelan, alias gk bikin debar2. tempo narasinya cnderung lambat. alhasil ketegangan yg ingin diciptakan malah nggak full. mungkin bisa diakali dgn kalimat2 pendek saja.

tapi ini hanya pendapat saia pribadi.
kip nuli dan

salam

Writer Mr_ebro.arif
Mr_ebro.arif at RUANG KELAM: KEMATIAN INI (8 years 47 weeks ago)
90

hebattt... renungan nya udah mencapai hati yang paling dalam. ampe ampe kebawa sedi :(.. hebat hebat,, gk kya di waty

Writer BudakTEROR
BudakTEROR at RUANG KELAM: KEMATIAN INI (8 years 47 weeks ago)

Mksh... lam kenal... ^-^

Writer diar
diar at RUANG KELAM: KEMATIAN INI (8 years 47 weeks ago)
60

lumayan keren

Writer BudakTEROR
BudakTEROR at RUANG KELAM: KEMATIAN INI (8 years 47 weeks ago)

Thx dah baca... ^^