Merry Go Round - Chapter 9

Chapter 9 - Epilog part 2

 

Bagaimana membedakan mimpi dan kenyataan?

Jo tertawa sejenak, lalu menjawab, "Yang pertama, setahuku, tak ada Sphinx di dunia nyata."

Bagaimana kau bisa yakin?
Orang-orang di masa lalu percaya kami ada.
Orang-orang di masa lalu menceritakan kisah kami.
Dan menurutmu siapa yang jadi model untuk monumen yang mereka buat di Mesir?

"Tunggu dulu. Aku yakin sekali bahwa Sphinx yang ada di mesir tak memiliki sayap, ataupun dua kepala."

Well, yah mereka mencoba membuatnya.
Jadi bagaimana?

"Bagaimana?"

Jawaban untuk pertanyaan kami tadi.
Kami tak bisa membiarkanmu masuk melewati gerbang Mobius jika kau tak bisa menjawabnya dengan tepat.

Jo mengeluh, "Maaf, tapi aku sungguh-sungguh tak ingin masuk ke sana, ke dalam kegelapan yang seolah tanpa batas, kalau kau mau tahu, aku mudah sekali mengalami Clusterphobia."

Clusterphobia?
Itu artinya dia takut pada Santa Claus.
Sungguh?
Ho ho ho

Jo menepuk jidatnya keras-keras. Sekarang dia benar-benar ingin pulang ke kamarnya yang nyaman.

Tenang saja, aku yakin tak ada Santa Claus di dalam sana.
Ngomong-ngomong, Apa kami sudah cerita bahwa kami juga harus memakan siapa saja yang gagal menjawab pertanyan kami?

"Bukankah itu agak terlalu... ekstrim?"

Maaf nak.
Itu tuntutan profesi.

"Dan kalau tak salah, bukan itu teka-teki yang dulu kalian bawakan. Aku yakin sekali dulu jawabannya Manusia."

Uhh begitulah.
Tapi berhubung semua sudah tahu jawabannya.

Belakangan kami menggantinya dengan pertanyaan lain.
Bukan karena kami kelaparan.


Grwl Grwl Grwl

...

Jo menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Entah mengapa saat ini ia berharap ada DEADUS di dekatnya. Bukan karena apa. Sungguh. Hanya saja, setelah beberapa bulan bersamanya, Jo mulai menerima keberadaan DEADUS sebagai bagian normal dari kehidupannya, hampir-hampir mirip dengan apa yang dirasakan seseorang yang baru saja menjalani transplatasi organ atau menggunakan organ buatan.

"Apa aku tak punya pilihan lain?" tanya Jo lagi.

Selain dimakan?
Kau bisa menyebutkan sandinya.

"Well, mengapa tak kau sebutkan dari tadi?"

Kau tahu kata sandinya?

"Tidak," jawab Jo jujur, "aku heran saja, mengapa kalian harus repot-repot dengan teka-teki apabila ada kata sandi?"

...

Itu bagian dari aturan.

"Dalam semesta yang serba kacau ini?"

A violent order is a disorder; and A great disorder is an order.
These Two things are one.

"Dan aku baru tahu kalian bisa menggunakan bahasa asing!"

Tentu saja.
Bagaimanapun kami profesional.
Pernah berada di bermacam ruang.
Pernah berada di berbagai waktu.
Jadi bagaimana?
Bagaimana membedakan mimpi dan kenyataan?
Tapi jika menurutmu ini hanya mimpi
Tentu kau tak keberatan jika kami memakanmu kan?
Karena bagaimana pun juga.
Ini hanya mimpi.

"Sejujurnya," jawab Jo, "Aku sama sekali tak peduli. Entah kenyataan ataupun mimpi, tak jadi soal selama aku melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan."

...

Jawaban yang bagus bocah.
Dan sekarang, selamat makan!

...

...

...

[Sesuatu yang terlalu sulit digambarkan dengan kata-kata]

...

...

...

Jo berdiri di depan gerbang.
DEADUS melayang di sampingnya.
Potongan-potongan daging berceceran.

"Aku benar-benar penasaran apa jawaban yang benar," gumam Jo sambil melangkahkan kakinya.

 

****


Post Script: Kurasa... bulan ini aku hanya akan menuliskan hal-hal yang ringan.

Post PS: Hmm, itu bagian dari "Connoisseur of Chaos" oleh Wallace Stevens kalau ada yang mau tahu...

Post PPS: Dan untuk Clusterphobia, well, credit goes to SpongeBob :p

Read previous post:  
14
points
(334 words) posted by 145 10 years 11 weeks ago
46.6667
Tags: Cerita | Cerita Pendek | kehidupan | 145 | panti jompo | Sekedar Bacaan
Read next post:  
Be the first person to continue this post