Cinta Creig

            “ – Selamanya kau mencintaiku?”

            “Bahkan menggilaimu.”

            “ – Namun aku merasa sepi.”

            “Apakah hatimu merasa dingin?”

            “ – Jika hal itu menggambarkan suasana batinku saat ini, maka artinya ‘ya’.”

            “Buanglah perasaan itu. Aku ada disini sekarang, menghangatkanmu.”

            “ – Benar, jiwaku ingin bergumul padamu.”

            “Maka cintailah aku!”

            “ – Tentu, aku mencintaimu!”

            “Aku juga mencintaimu!”

 

.     .     .

 

            Ia seperti diberkati dewi cinta!

            Lihat wajahnya! Aku belum pernah menyaksikan spontanitas yang begitu mence-ngangkan saat ia tertawa atau bergurau. Kali ini beda, aku bisa menyimak raut muka sukacita dari dasar hati yang membumbung tinggi hingga mencerahkan sorot matanya. Ia bagai angsa putih yang bersorak-sorai sebab telah menemukan sumber air hidup setelah sekian lama bergulat dengan padang tandus dan udara kering. Bahkan penampilannya pun berubah drastis! Mana ada seorang buruh pabrik yang mengenakan setelan jas lengkap dengan sepatu hitam pada hari kerja?

            Kurasa itu sangat berlebihan.

            “Lepaskan kemejamu dan pakai pakaian yang lain.” Suruhku, terdengar agak tajam.

            “Tapi aku ingin sekali berpakaian seperti ini.” Ia merengek padaku.

            “Kita bukan sedang menghadiri opera sabun konyol di teater sebelah,” tandasku semakin mempertinggi suara. Bukan karena aku galak, hanya saja setelan jas sangat kontras dengan lingkungan berdebu dan kotor. “Cepat lepaskan itu dan bantu aku!”

            Sedikit nada otoriter ternyata berhasil meluluhkan kepalanya. Ia melepaskan jas, kemeja, celana hitam serta sepatunya lalu kembali ke lapangan lima belas menit kemudian. Aku heran akan jalan pikirannya. Mungkinkah ada momen spesial yang membuatnya sedikit tidak waras?

            Selama bekerja, serentetan pertanyaan kulontarkan untuk memojokkannya. Dari jawaban yang ia kemukakan padaku – entah benar atau tipuan – ia menyebutkan perihal seorang pendamping hidup yang tengah menyusup ke dalam kisah cinta hidupnya. Wanita berparas elok nan anggun, ia menambahkan, telah menggoda hasrat kejantanannya untuk memadu kasih bersama. Layaknya seekor kumbang madu, ia langsung terpikat pada kembang manis itu. Ia tak henti-hentinya memuji kecantikan  gadisnya, yang ia sebut sebagai ‘bidadari malam’.

            “Ia terlihat cantik pada waktu malam, bahkan petang pun menunduk dalam sebab tak mampu menatap pancaran kasih dalam aura wajahnya.”

            Jujur saja, aku belum pernah mengenal seorang gadis secara intim, jadi sulit bagiku menggambarkan kemolekan tiada tara yang ia katakan. Namun dari caranya bicara serta mimik wajah dan gerak-gerik tubuhnya yang mengisyaratkan keindahan seperti penggambaran para penyair romantisme – penting bagi seseorang untuk membaca karya sastra – kutarik kesimpulan bahwa gadis pujaannya memanglah anggun sedemikian rupa.

            Tak kuragukan lagi, anggur cinta telah memabukkannya.

 

            Pabrik industri tempatku bekerja memiliki peraturan yang berbeda dengan standar peraturan pabrik-pabrik lainnya. Biasanya hari kerja usai begitu waktu menunjukkan pukul enam sore, maka aku bisa menghabiskan waktu bersantai di rumah dua jam lebih cepat. Sebagai timbal baliknya, kami – aku dan, tentu saja, para pekerja lain – harus bekerja lebih ekstra agar barang produksi yang dihasilkan sejajar dengan kemauan pasar. Betapa beruntungnya aku bisa menjadi pegawai buruh di pabrik tersebut. Bila industri mengalami keuntungan berlipat, maka kami akan mendapat imbalan yang sama besar sesuai tingkat kerja keras kami, meskipun hal itu juga berlaku saat kerugian meningkat. Jadi pada intinya, kerja di sini menimbulkan banyak kemungkinan tergantung dari segi mana aku memulai hariku saat bekerja.

            Dan pada hari ini, tidak seperti beberapa hari sebelumnya, Creigton membuat janji pertemuan dengan pujaan hatinya. Ketika lonceng besar berbunyi dan pipa asap bersiul kencang, ia bergegas menuju ruang ganti. Aku tak terlalu ambil pusing mengenai pakaian yang ia kenakan, sebab ia telah menggunakannya sewaktu kerja. Diiringi langkah mantap sambil bergaya bak bangsawan tak bermodal, ia melewati setiap pekerja seraya memamerkan ketampanan dan kegagahannya berjalan. Sungguh, hari ini adalah harinya. Kubiarkan ia menjadi raja dalam sehari.

            Setelah mengucapkan salam berpisah padaku, ia kemudian meneriaki sebuah taksi yang kebetulan lewat lalu masuk ke dalamnya. Begitu memastikan mobil hitam itu telah lenyap dari pandangan, segera aku berlari ke ruang ganti. Bukan menggeledah barang-barangnya di loker, melainkan bertemu seseorang. Ia kupercaya bisa mendapatkan informasi akurat melalui metodologi mata-mata.

            Aku menemui Seyren, untunglah ia masih di depan lokernya sedang melepas pakaian kerja. Tanpa basa-basi, kutanyai ia tentang perubahan sikap drastis Creigton yang mencengangkan. Aku juga menyinggung seorang wanita yang, bisa jadi, adalah pacar Creigton. Saat aku menyelesaikan semua kalimatku, responnya cukup membingungkan. Petama ia mengangkat sebelah alis, kemudian ia menatapku seolah aku ini bukan berasal dari bumi ini. Lalu sejurus kemudian ia mengatakan bahwa semua itu tidak benar adanya. Ia menambahkan sejumlah fakta yang membuatku harus memikir ulang tentang isi otak si pria berjas hitam itu. Entah siapa yang harus kupercaya, namun kalimat terakhir dari Seyren malah semakin menguatkan diriku untuk melakukan penyelidikan pribadi :

            “Aku hanya melihat pria itu samar-samar, tapi aku ingat nada suara itu milik Creigton. Aku menyaksikannya tertawa dan tersenyum sambil menatap sampingnya. Ia sepertinya terlalu senang atau apa sehingga ia kehilangan akal sehatnya, ia tertawa bersama udara.”

            Semalaman aku terus memikirkan perkataan terakhir Seyren. Benarkah Creigton bertingkah demikian? Sebagai teman dekatnya semenjak kecil, aku tahu persis apa yang menjadi kegemaran sekaligus ketidaksukaannya terhadap sesuatu. Dan anggur bukanlah dedikasi utama dalam hidupnya. Kurasa fakta yang satu ini bisa kukesampingkan untuk sementara, namun begitu ada sebuah isyarat kecil yang terus menggoda batinku untuk mene-lusuri kebenaran. Ya, saatnya aku bertindak!

            Paginya aku bergegas mandi dan mengenakan seragam lengkap. istriku sudah menyiapkan sarapan di meja makan seperti biasa. Ia kaget begitu melihatku berpenampilan lebih menarik dalam jubah hitam legam nan rapi serta topi cap dan sepatu kulit semua serba hitam. Aku berdusta dengan menyebut soal pertemuan penting di pabrik, dan aku terpilih dari sekian banyak buruh untuk menghadirinya. Jawaban tersebut langsung memuaskan keingintahuannya. Setelah selesai melahap roti lapis telur dan segelas kopi, aku beranjak ke jalan.

            Tentunya aku tak sedang ke pabrik saat ini. Mobil taksi yang kutumpangi mengarah ke selatan, menuju kediaman Creig – kurasa jauh lebih praktis bila ia disebut demikian. Sesampainya di depan gang sempit jalur utama, aku turun dari taksi lalu menapaki gang sempit itu. Beberapa celah membuka gang baru di deretan rumah, namun aku paham betul letak rumah Creig. Lurus saja hingga mencapai akhir gang, sangat praktis dan mudah diingat. Tak makan waktu lama untuk sampai di depan pintu utama seniman musik itu.

            Suasana hening sempat membuatku tercekat. Panik di tempat tinggal teman sendiri? Berlebihan! Tapi setidaknya itulah perasaan batin yang memaksa jantungku berdegup tak keruan. Ini tidak seperti waktu kujungan di masa lalu, ada aura gelap yang menyelubungi area perumahan susun ini. Terlalu sepi, bagai kota mati. Terlebih gemawan putih yang menghalangi mentari semakin menguarkan tekanan negatif yang mampu membuat jiwa-jiwa insan menjadi depresi. Jendela-jendela sengaja dibiarkan tertutup, meski ada yang terbuka itupun hanya sepersekian inci. Pada intinya, semua pemilik rumah di gang ini enggan menyambut dunia di hari baru ini.   

            Kucoba menekan rasa takut ini. Konyol sekali hanya karena keadaan sepi seperti ini mengurungkan niatku untuk bertemu dengan kawan sepenanggungan. Kuangkat tanganku dan kuketuk pelan pintu di depanku.

            TOK, TOK, TOK!

            Sunyi. Tak ada sahutan dari dalam.

            Saat hendak memberi ketukan berikutnya,

            “Pergi! Pergi dari rumah itu!”

            Refleks aku melempar pandang ke sumber suara, dimana di salah satu jendela di rumah yang berlawanan dengan kediaman Creig terbuka, memperlihatkan sosok wanita tua beruban yang rambutnya tergerai mengerikan dan sebagian hampir menutupi wajahnya.

            “Terkutuklah kediaman jahanam, dan segala perbuatan hina dan menjijikkan yang bersarang di dalamnya!”

            Kemudian ia segera menutup daun jendela, begitu keras. BRAKK!

            Selintas dalam benakku muncul sebuah anggapan miring: gila. Aku heran wanita mis-terius seperti dirinya seharusnya ditempatkan pada wadah khusus seperti panti jompo atau rumah sakit jiwa. Bahkan penampilannya menyiratkan kesintingan atau memang ia yang malas merawat diri. Lebih dari itu, hatiku seakan-akan tergerak oleh perkataannya. Tepatnya, menyetujuinya.

            Oh, ya ampun, apa yang sedang kupikirkan?

            Bagaimana bisa aku percaya pada orang asing, stres dan tua itu?

            Sudah sepantasnya aku harus memercayai anggapanku sendiri. Dan kenyataannya memang wanita tua itu terlihat mencurigakan. Menaruh kepercayaan pada lontaran kata-katanya sepertinya terlalu awal untuk menyimpulkan benang merah dari misteri ini. Lagipula siapa peduli dengan manusia paruh baya yang berkoak tak jelas dan malah menimbulkan kesan buruk melalui gerak-geriknya? Namun bukan berarti aku lantas mengacuhkan peringatannya tersebut padaku. Entah mengapa tipu daya tidak ada dalam mulutnya. Aku merasa–

            Fakta terselip dalam pandangan lurus matanya.

            Benar, itu menggangguku.

            Sangat mengganggu!

            Mendapat kenihilan atas penyelidikan pertama, aku menjauh dari teras depan sang seniman kemudian berlalu keluar gang. Sesuatu dalam benakku mendesakku untuk berhenti, dan pada langkah kelima, aku memaku. Kemudian aku memutar pandang ke belakang. Di celah jendela itulah si wanita tua menatapku dengan sebelah matanya yang... aneh. Pupil matanya terlihat sangat jelas, begitu kecil. Pancarannya antara benci dan gelisah, berbaur sedemikian rupa sehingga sulit bagiku mereka-reka apa yang sedang ia pikirkan.

            Jauh dari itu semua, pandangan itu membuatku ngeri.

            Udara berembus menggerakkan beberapa helai rambutku. Dengan sigap aku kembali melangkah, berusaha menghilangkan bayang-bayang keriput wanita itu, menyingkir dari keheningan gang yang mencekam.

.   .   .

Read previous post:  
45
points
(555 words) posted by Erick 9 years 14 weeks ago
64.2857
Tags: Cerita | Cerita Pendek | lain - lain | cermin | Psikopat | racauan
Read next post:  
Writer mira_hoshi
mira_hoshi at Cinta Creig (8 years 51 weeks ago)
90

Keren.. Suasana seremnya bener2 kerasa. Endingnya begitu pulak >__<

Writer Anya
Anya at Cinta Creig (9 years 11 weeks ago)

Awesome...endingnya agak mengejutkan...
Ini Ada lanjutannya?
main2 ke tptku lah...

Writer adara_acariba
adara_acariba at Cinta Creig (9 years 12 weeks ago)
100

terlepas dari bersambung atau enggak. it's amazing
mungkin emang lebih baik menggantung gini. wow...

Writer Erick
Erick at Cinta Creig (9 years 11 weeks ago)

aha, terima kasih~! ^^

Writer villyca.valentine
villyca.valentine at Cinta Creig (9 years 12 weeks ago)
80

itu bersambungkah?

Terus koq ada '-' yang aneh ya?spt 'mence-ngangkan'...dan 1nya lg villy lupa...
Juga ada 1 typo..pencuri jadi umm...lupa..hehehe
Ok...ditunggu lanjutannya... ^_^

Writer Erick
Erick at Cinta Creig (9 years 11 weeks ago)

wah, masih ada typo?

hmm, perlu perbaikan ulang nih untuk crita berikutnya...

sebenernya sih gak bersambung, cuman ada crita yg menggunakan nama tag "simfoni"...