BATTLE OF REALMS N2 MATCH B-2: YUNUS VS REDINA (VERSI YUNUS) KEMENANGAN DARI REDINA

                “BOOOOMMMM...”

                Suara ledakan menggema di kota Paris, Prancis tepatnya dibawah salah satu kaki menara Eiffel. Ledakan itu cukup membuat orang-orang yang sedang berkunjung di Eiffel menjadi sangat panik dan berlarian. Para petugas menara Eiffel segera membimbing orang-orang yang sedang berada dimenara untuk turun.

                “BOOOOMMMM...”

                Ledakan kembali terjadi di salah satu kaki sebelah kiri menara Eiffel dan kali ini lebih keras dari ledakan pertama, para polisi dan petugas gegana Prancis segera dikerahkan menuju menara Eiffel.

                “Dépêcher de descendre [cepat segera turun],” Teriak petugas polisi Prancis.

                Orang-orang berteriak panik segera berlarian mencari tempat aman, polisi dan timnya segera memasang pita “Ne se croisent pas [Do not Cross]” di sekitar menara Eiffel.

                “BOOOOMMM...”

                “BOOOOMMM...”

                Dua ledakan muncul bersamaan di kaki menara Eiffel, tidak lama dari bekas ledakan tadi muncul cahaya-cahaya yang melesat ke langit sehingga terlihat seperti pilar. Dari jauh para wartawan dan sebagian orang merekam kejadian langka tersebut. Beberapa petugas mencoba mendekati pilar-pilar cahaya tersebut tapi semuanya langsung terpental pada radius 5 meter dari pilar.

                Sebuah kilatan-kilatan listrik muncul di lantai kedua menara Eiffel, kemudian kilat-kilat tersebut membetuk dua buah lingkaran. Dan dari lingkaran tersebut keluarlah seorang wanita berambut pendek dengan gaya punk (Redina) sedangkan di lingkaran lainnya keluar seorang pria berambut panjang rapi dengan gaya santri (Yunus).

                “Luar biasa, ramai sekali disini,” ucap Yunus.

                “Tentu saja, inikan salah satu menara paling populer di dunia," ucap Redina.

                Dari puncak Menara Eiffel muncul seorang wanita berpakaian militer lalu melompat ke tempat Yunus dan Redina. Suara dentuman keras terdengar saat wanita tersebut menapakan kakinya di lantai menara tersebut.

                “Selamat datang di Eiffel, aku adalah kepala Maid dan aku juri di pertandingan ini...” ucap wanita tersebut.

                Yunus dan Redina mengangguk.

                “...Aku tidak akan berlama-lama jadi kita mulai saja pertandingannya, untuk mementukan pemenangnya sangat mudah yaitu buat lawanmu terbaring selama 10 detik saja. Pertandingan ini tidak ada batas waktu, dan kalian tidak perlu khawatir tentang para penonton di luar sana karena aku sudah ciptakan perisai pelindung di sekitar menara ini. Jadi buatlah pertandingan yang seru,” ucap Kepala Maid sambil terseyum.

                Kepala Maidpun kembali melompat lalu menghilang. Yunus menoleh kearah Redina yang juga menatapnya.

                “Jadi apa yang akan kita lakukan?” tanya Yunus.

                Redina mendekati Yunus lalu tiba-tiba Redina melancarkan sebuah pukulan kearah wajah Yunus dengan tangan kanannya. Dengan gesit Yunus berhasil menghindar dengan berguling kesamping.

                “Apa yang kau lakukan?” tanya Yunus.

                “Tentu aja bikin loe pingsan,” jawab Redina enteng.

                “Tapi tidak harus seperti itu kan?” ucap Yunus.

                “Emang loe pikir gimana lagi? Cuma gini satu-satunya cara,” balas Redina.

                “Tunggu, pasti ada cara lain,” ucap Yunus.

                “Udah anggap aja ini latihan buat loe,” ucap Redina sambil bergerak menerjang Yunus.

                Dengan cepat Yunus melompat beberapa kali kebelakang menghindari terjangan Redina.

                “Ayolah, jangan ngindar terus napa” gerutu Redina kesal.

                “Baiklah, kalau itu maumu,” ucap Yunus.

                Dengan tenang Yunus mengarahkan tangan kanannya ke arah Redina. Redina yang sedang berlari kearah Yunus tiba-tiba berhenti dan jatuh berlutut.

                “!”

                “A...Apa... yang... loe... la...lakuin?” tanya Redina terbata-bata karena tubuhnya tiba-tiba saja tidak bisa bergerak dan terasa sangat berat.

                “Apa kau lupa dengan kemampuanku?,” ucap Yunus sambil menurunkan tangan kanannya.

                Seiring dengan gerakan tangan Yunus yang turun tubuh Redina terasa semakin berat dan Redina sekuat tenaga melawannya.

                “Jangan paksakan dirimu, Red”

                “Uuuhhkkk...gue... nggak akan kalah,” ucap Redina sambil mengepalkan kedua tangannya.

                “HAAAAAA...” Redina berteriak sambil memaksakan dirinya berdiri.

                Terjadi sebuah Ledakan sekaligus semburan api yang besar menyebar ke segala arah saat Redina berdiri. Bahkan Yunuspun hingga terpental dan menubruk pagar pembatas akibat ledakan tersebut.

                “Hmm... pegal sekali,” ucap Redina sambil memutar-mutar bahunya.

                “Luar biasa,” ucap Yunus sambil memegang dadanya yang sedikit sesak.

                “Sekarang giliran gue,

                Redina kembali melakukan serangan sambil berlari zig-zag ke arah Yunus yang sepertinya masih kesakitan. Redina langsung melakukan tendangan dengan kaki kirinya ke arah Yunus, tapi dengan sigap Yunus menahannya dengan tangan kanannya. Kemudian Redina melakukan pukulan dari samping kanan, samping kiri, dan dari bawah beberapa kali ke arah Yunus, tapi lagi-lagi dengan mudah Yunus menangkis pukulan-pukulannya. Serangan Redina berhenti saat Yunus melakukan sebuah serangan tenaga dalam.

                “Tapak Sakti...” ucap Yunus sambil melancarkan telapak tangan kanannya kearah Redina.

                Sungguh beruntung Redina mampu menghindarinya dengan memutar tubuhnya kesamping kiri. Dan serangan Yunus menghancurkan pagar pembatas menara diseberangnya.

                “Gile, loe mau bunuh gue?” tanya Redina kesal.

                “Ma...maaf, aku tidak sengaja,” jawab Yunus.

                “Ah curang loe, kalo gitu gue juga bisa,” Redina berkata sambil melancarkan pukulan-pukulan.

                Setiap pukulan Redina mengeluarkan semburan api yang panas, Yunuspun hanya bisa menghindarinya kadang sesekali mencoba menahannya tapi api milik Redina bukanlah sihir sehingga Yunus terasa sakit saat menahannya. Yunus mengambil inisiatif untuk memanjat menara Eiffel melalui tralis-tralis besi yang melintang. Yunus melompat ke salah satu sisi menara Eiffel lalu mulai memanjatnya dengan lincah. Redina yang melihat hal itu hanya terseyum lalu mengikuti Yunus memanjat menara Eiffel.

                “Tangguh juga wanita itu,” gumam Yunus dalam hati.

                Redina adalah seorang Parkour sehingga memanjat menara seperti itu hal yang cukup mudah baginya. Kecepatan memanjat Redina mampu menandingi kecepatan Yunus bahkan berhasil menyusulnya.

                “Ha... mau lari kemana loe,” ucap  Redina yang langsung menghalangi jalur memanjat Yunus.

                Tidak ada cara lain mau tidak mau Yunus harus kembali bertarung dengan Redina di ketinggian seperti itu. Redina kembali melakukan serangan apinya yang membara, Yunus segera membalut seluruh tubuhnya dengan tenaga dalam agar dirinya mampu menahan serangan Redina. Namun kali ini Yunus tidak tinggal diam, dirinya melakukan serangan balik tapi tidak menggunakan serangan tenaga dalamnya. Serangan tenaga dalam terlalu berbahaya bila digunakan pada ketinggian seperti ini. Tendangan api Redina ditahan dengan tendangan Yunus, kemudian Redina melakukan pukulan ke samping dan apinya membentuk seperti sebuah cambuk. Dengan cepat Yunus menangkisnya dengan menahan pergelangan tangan Redina dan melakukan serangan balik dengan pukulan ke samping pula.

                Untuk menjaga jarak serangannya Redina segera bersalto kebelakang sambil melepaskan serangan api berbentuk cakram. Yunus segera menangkis cakram-cakram api yang melesat ke arahnya, Redina mendarat dengan posisi horizontal di salah satu sisi tralis menara dan memfokuskan kekuatan apinya di tangan kanannya. Dengan menghentakan kedua kakinya Redina meluncur kearah Yunus dengan kepalan tangan kanannya yang membara, Yunuspun melakukan hal yang sama dan membungkus tangannya dengan tenaga dalam agar tidak terbakar.

               “HEEEEAAA...” keduanya berteriak bersamaan dan mempersiapkan serangannya masing-masing.

               “BOOOOMMM...” terjadi ledakan besar saat keduanya beradu pukulan.

                Redina dan Yunus terpental akibat serangan itu namun keduanya segera bersalto dan mendarat dengan mulus di tralis menara yang melintang. Terlihat ada yang berubah dengan penampilan Redina, kini rambut Redina menjadi lebih panjang dan tubuhnya menjadi sedikit pendek namun masih dalam gaya yang sama.

              “Tubuhku berubah,” gumam Redina sambil memperhatikan telapak tangan kanannya.

              “Sepertinya kau menjadi lebih muda, Red” ucap Yunus.

              “Ya, sepertinya begitu,” balas Redina sambil mengeluarkan api di telapak tangan kanannya.

               Anginpun berhembus kencang tapi angin ini tidak menguntungkan untuk Yunus karena arah angin berhembus kearah Yunus. Redina tersenyum lebar dengan bantuan angin yang berhembus kencang Redina kembali melancarkan serangan-serangan apinya. Serangan api Redina menjadi semakin cepat beberapa kali lipat. Yunus cukup kewalahan menahannya hingga akhirnya sebuah kecerobohan terjadi, tidak sengaja Redina melepaskan sebuah bom api kearah Yunus.

               Yunus yang melihat hal itu segera mengibaskan tanga kirinya kearah kiri dan bom api itu segera bergerak mengikuti arah gerakan tangan Yunus.

               “DUUUAAARRR...”

                Bom api itu meledak saat menyentuh salah satu sisi kiri menara dan ledakannya membuat tempat Yunus dan Redina berdiri bergetar seperti gempa. Redina dan Yunus mulai kehilangan keseimbangannya dan mencoba menggapai apa saja untuk mempertahankan diri agar tidak jatuh. Tapi sayang Redina gagal menggapai tralis besi menara dan akhirnya jatuh.

                “Ya Tuhan, Red.” Yunus terkejut melihat lawannya meluncur bebas kebawah dengan cepat.

                 Dengan bantuan telekinetiknya dan ilmu meringankan tubuh Yunus segera melompat turun menyusul Redina yang jatuh. Redina dalam keadaan panik mencoba melepaskan kekuatan apinya untuk mendorong tubuhnya agar tidak jatuh. Namun sia-sia karena gravitasi menariknya dengan cepat dan segera memadamkan api yang dibuatnya. Redina menutup mata dirinya pasrah karena tidak ada yang dapat dia lakukan.

                 “REEEEDDDD....” terdengar Yunus berteriak.

                  Perlahan Redina membuka matanya dan dari jauh terlihat Yunus sedang berusaha menyusul dirinya yang jatuh semakin cepat. Yunus mengarahkan telapak tangan kanannya untuk menarik tubuh Redina sedangkan tangan kirinya mengumpulkan energi tenaga dalam. Perlahan tubuh Yunus bergerak mendekati tubuh Redina dan akhirnya Yunus bisa menangkap tubuh Redina. Setelah berhasil menangkap tubuh Redina yang tiba-tiba menjadi lebih kecil Yunus segera melepaskan sebuah pukulan tenaga dalam ke lantai 2 menara dengan tangan kirinya.

                Pukulan Yunus mengenai lantai menara Eiffel hingga lantai itu jebol dan ledakannya membuat tubuh mereka berdua terpental kembali ke udara. Yunus segera memutar tubuhnya ke kiri sehingga mereka berdua berputar-putar di udara dan jatuh berguling-guling dilantai. Saat berhenti berguling-guling Redina yang telah diselamatkan segera berdiri sedangkan Yunus tidak.

                Redina yang bingung menoleh kearah Yunus yang masih berbaring dan perhitungan sudah dimulai.

               “1...2...3...4...5...”

               “Yunus, Yunus, Yunus,” Redina menepuk-nepuk pipi Yunus yang tidak sadarkan diri.

               “6...7...8...9...10...”

               “Perhitungan selesai, pemenangnya adalah...”

               “Tunggu...” Redina menyela ucapan Kepala Maid.

               Kepala Maid menoleh kearah Redina dan menghentikan ucapannya.

               “Aku akan memberikan kemenangan ini pada Yunus,” ucap Redina.

               “Apa? Apa kau serius?” kepala Maid sedikit terkejut dengan ucapan Redina.

               “Ya, aku serius...” ucap Redina sambil berjalan kembali kearah Yunus yang sepertinya sudah mulai sadar kembali.

               “Selamat loe udah menang di pertandingan ini,” ucap Redina kepada Yunus.

                Yunus bingung dengan apa yang diucapkan oleh Redina, bagaimana dirinya bisa menang sedangkan dirinya yang berbaring dan Yunus yakin dirinya sudah berbaring lebih dari 10 detik.

               “Anggap aja ini hadiah dari gue karena loe udah nyelametin hidup gue” ucap Redina sambil tersenyum manis.

                Yunus hanya bisa terseyum mendengar hal itu dari Redina. Dan tidak bisa dipungkiri oleh Yunus bahwa Redina terlihat lebih manis saat usianya berubah menjadi 16 tahun.

              “Baiklah, karena Redina memberikan kemenangannya pada Yunus jadi Yunuslah pemenang pertandingan ini” ucap kepala Maid.

               Juri Maid menjentikan jarinya dan semua bentuk kerusakan serta perisai pelindung menghilang. Semuanya kembali seperti semula seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Para penonton yang sedari tadi berada disekitar menara Eiffel bersorak meneriaki Redina yang berhati besar.

               Sebuah pilar cahaya kembali muncul dari langit membawa Yunus, Redina dan kepala Maid pergi dari menara bersejarah itu. Cahaya itu membawa mereka semua kembali ke dimensi Battle Of Realms dan Yunus segera disambut oleh tim medis untuk penyembuhan. Redina hanya bisa terseyum dan pergi ke kamarnya.

Read previous post:  
154
points
(2233 words) posted by Sam_Riilme 9 years 25 weeks ago
90.5882
Tags: Cerita | Cerita Pendek | lain - lain | Battle of Realms | N2
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

Wuow, nilai positif yang bisa saya ambil dari sini salah satunya yang paling menonjol itu Dialog gaulnya, keren! Tapi, saya masih kurang sreg sama deskripsi pertarungannya, bisa ngetrigger boredom pembaca menurut saya.
.
Skor B buat Om

80

LOL, menangnya dikasih sama lawan...
Flow bagus, gue suka percakapan antara Yunus yg resmi sama Redina yang begajul... XD

Gue kasih ini

Score B

80

flow cerita ini lebih halus daripada cerita yang sebelumnya :D
.
hwhwhww nanya dikit ya:
kok itu telekinetik dipake buat jebol lantai? padahal kalo pake force push yang mental balik seharusnya ga ada jebol2an. dan telekinetik itu juga imba loh. at least dia bisa digunain untuk mukul angin.
dalam kasus barusan, IMO lebih bagus Yunus nyadarin adanya possibilitas keluarnya jurus baru.
.
gw kurang ngerti juga ya. gw rasa lu pengen ngasih unjuk momen kesulitannya Yunus. tapi kenapa itu ga sampe ke gw? ga ada tensi tegang atau apapun yang masuk... sori mungkin emang gwnya yang dablek nih... atau mungkin karena masih pagi2...
.
tapi endingnya bagus sih. ada kesan yang tertinggal walau ga ada konflik mendalam banget.
.
Skor B

80

awalnya udah keren, tp kenapa endingnya begitu >w<
maap kak, kasi B aja ya :)

100

Sepertinya hanya saya yang berbeda...
.
Pertama, mungkin ini masih bisa diedit lagi.
.
Kedua. Mm... beneran deh, walaupun saya jadi Redina, rasanya saya nggak akan nyerahin kemenangan saya walaupun si Yunus udah nolongin hidup saya (yeee, ini sih author-nya yang nggak tahu terimakasih XD).
.
Ketiga, sepertinya saya bukan penikmat battle yang 'padet' banget, jadi saya rada gimanaaa gitu #maafkan lah ocehan anak kecil ini...
.
Keempat, mana humornyaaaa?! #heee, saya sendiri aja nggak ada humornya...
.
Kelima, saya kurang sreg sama judulnya yang pakai kapital semua #apaan sih saya.... XD
.
Tapi setelah saya pikir-pikir lagi,saya lebih suka ini daripada ronde pertama, jadi B untuk Yunus~

90

setuju dengan Ann. akan lebih keren kalo Yunus digambarkan sedang berdiri dengan tenang di puncak eifel dengan background langit senja, angin berembus pelan, dan menyibak rambut panjang serta baju putihnya. (abaikan saja yang ini!)

bai the wai, aku SUKA caramu menggambarkan kemunculan portal di bagian awal itu. kesannya 'wah' banget.

battlenya oke, ada kontak fisiknya seperti yang kuharapkan. bagian akhirnya klise juga sih. kalo dari menara tinggiiii, ato gedung tinggi, pasti akhir-akhirnya jatuh bareng-bareng ato semacamnya.

keseluruhannya, aku menikmati battle scene yang kau berikan. terutama bagian lompat-lompatnya itu.

B

80

keren ini, kebalikan dari versi Redina yang pace nya slow dan hampir gak ada berantemnya, versi Yunus pertarungannya cepat dan ternyata Yunus tetap sakti!

skor A

100

Btw penilaian akhirnya jadi skor A yak. (Aslinya A minus, jadi dibulatkan saja ketimbang diberi skor B).
.
Alasannya, riset yang penulis lakukan ttg karakter Redina hampir sempurna klo saja bisa mengenal dia lebih dalam lagi. :)

100

sukaaaaaaa... XDDDDD
.
uwoooh, Dimdim udah ultimatum ada romensnya kupikir bakal kayak apa, ternyata oh ternyata !! pelukan (sambil jatoh) di menara eiffel ! ouwooo.. XDDD #plak
.
cabenya ni penulisan cerita lebih mirip drama daripada narasi..
yah, kayak skenario drama gitu, mungkin bisa di ganti 'Yunus' nya jadi pria berwajah polos dengan rambut panjang berkibar-kibar?? #digiles kak Yuda
yah, pokoknya gitu, jgn terlalu kaku lah.. XDD
.
skor A !

makasih2 aku simpan sarannya

80

Skor B
.
"Wah, bang. Redina mah bukannya gaul, bang. Kirainnya si Abang Yunus tahu ini gaya Betawi, bang. Duh, bang. Aye gue bukannya sama aja tuh, bang.."

Thanks scorenya.
aku pikir Redina itu anak gaul karena pake baju punk hehheheh

100

B
.
kamu salah langkah. kalau ini cerita endingnya diganti sedikit agar yunus menang, dengan sedikit lebih benar. Kamu dapat A dari saya...
.
A minus sih soalnya gak ada surprisenya!

makasih scornya. nanti pada pertandingan ke tiga nyoba bikin surprise

80

nitip poin. ternyata dari hp ga masuk

100

gilak, ngakak banget baca kalimat2nya redina pas awal2. gaul bet gan!
.
adegan battlenya uda lebih mantap daripada waktu yunus Vs Rune.
.
B !

"Orang ini, sudah dua kali seperti ini, ya?"
.
"...dua kali? Apa maksudmu?"
.
"Kalau kau melihat pertandingannya di ronde pertama, ia menang hanya karena cukup beruntung, hampir bisa dibilang diaharusnya justru kalah dalam [versi]nya sendiri. Tapi karena pertandingan itu adalah [versi]nya, dia tetap keluar sebagai pemenang tak peduli bagaimanapun cara menangnya."
.
"Lalu?"
.
"Untukku sendiri pertandingan ini berasa sama dengan yang sebelumnya. Dia menang bukan karena dia 'menang'. Bisa dibilang dia hanya sekedar beruntung. Tapi itu bagus. Keberuntungan biasanya akan membawa hal tak terduga pada seseorang, dan itu menarik untuk diamati."
.
"Aku tak mengerti maksudmu."
.
Score : B

makasih kak Sam ^_^

100

wao, lngsng berantem, sbenarnya agak ga sreg seh, tp krn deskripsi battle na apik 'n intense, ga mslh dah ^^b
Dan akhirna boku ngerti mksd na "Kemenangan dari Redina"
.
gaya ngomong na Redina ap mank gaol geto di kafe? Ak gak pernah mampir ke kafe seh, lol Xp
.
Oh ya bagian ini...

Quote:
“Apa yang kau lakukan?” tanya Yunus.

Itu si Yunus na memang kalem jd ga kaget stelah diserang tiba2?
Krn klo misal na kaget, ga brasa kaget na krn kurang "!"
Quote:
“Apa yang kau lakukan?!” tanya Yunus.

gitu mksd boku.
.
btw dsini ad adegan klasik "head on collision" tuh. Adu pukulan api ma pukulan tenaga dalam, lol. Teringat adegan "Narto" #UHUK# ma "Kakuse" #UHUK#
.
Kasih nilai ap ya? Ad battle asik ma sdikit drama, hmmm.....
HMMMMHHHHH!!
B aj deh kek na, mgkn klo dgarap sehari penuh lagi bisa digali lg d bbrp bagian terutama drama na ^^b
*Ato klo bisa tambah komedi =P

Emang pikiran kesitu hahahahaha...

100

huohuhohuo...ada romensnya noh Ann! XDD
dialog antar karakternya ada dan lumayan menurut saya.
terus battlenya full bener, mungkin cabenya pada pengulangan beberapa kata saja misal di 'ucap' atau si Yunus yang 'menangkis', dst, karena seenggaknya, pemilihan diksi perlu supaya ngga bosenin, mungkin bisa diganti 'ujar' atau 'menahan', dst.
dan untuk aturan yang, hmmm, ngasih kemenangan ke pihak lain....saya serahkan pada panitia aja deh! XD
.
Saya kasih B