Kisah tentang Bidadari, Kejujuran, dan Segores Keajaiban Part 1

Matahari terlihat bersahabat hari ini selagi kakinya yang terbalut alas tipis membawanya berjalan membelah keramaian pasar di pagi hari. Udara dipenuhi suara tawa anak-anak yang berlarian dan suara para wanita yang ribut tawar-menawar dengan para penjual. Bangunan-bangunan rumah yang semakin kelabu itu membingkai langit biru di atas sana, namun dengan kelabu bijak yang menenangkan, bukan kelabu suram yang menggelisahkan. Semua berjalan begitu sederhana namun damai dan menyenangkan, tetapi itu tak berpengaruh padanya. Matanya menatap ke sana-ke mari, sedikit takjub, sedikit takut, sedikit putus asa, dan sedikit berharap. Seperti seorang anak kecil yang tersesat, berjalan berputar tanpa arah.

            Dia memang bukan seorang anak kecil, tapi ia memang tersesat. Namun tak ada yang menghiraukannya. Semua orang sibuk dengan kegiatan mereka sendiri. Ia pun berusaha untuk tak berkontak dengan siapa pun. Sebagian dirinya takut, seakan terdampar di negeri asing, namun sebagian juga merasa lega.

            Berusaha keras, ia pun akhirnya terbebas dari belitan orang-orang yang berkerumun di tengah pasar dan terdampar di penghujung rangkaian bangunan-bangunan berbata merah. Di salah satu sudut bangunan, seorang pemuda duduk di bangku kayu tinggi, menghadap kanvas besar dengan pallet di satu tangan dan kuas di tangan lainnya.

Tarian kuas itu terhenti saat si pemuda menatapnya. Jika dilihat sekilas, tak akan terlihat perubahan pada ekspresinya, namun gerakan kecil pada alisnya menunjukkan keterkejutan. Mereka hanya berpandangan selama beberapa detik, namun seakan dunia dilambatkan, semua berjalan begitu perlahan.

            Gadis itu terpaku, meneguk liur, dan mundur beberapa langkah sebelum akhirnya memacu kaki untuk pergi sejauh-jauhnya. Meninggalkan kuas, palet, dan lukisannya yang sudah setengah jadi, pemuda itu bergegas bangkit dan mengejar langkah sang gadis, membelah kerumunan tanpa mengindahkan seruan orang-orang.

            Napas si gadis memburu, tubuhnya dikuasai ketakutan selama ia berlari tak tentu arah hingga akhirnya dinding bangunan besar terbentang di hadapannya. Jalan buntu. Keringat dingin mengalir dari dahinya saat ia menyapukan pandangan panik dan mendapati sebuah gang kecil di antara bangunan-bangunan kelabu. Tanpa pikir panjang, ia berlari ke sana, menyusup di antara tumpukan peti-peti kayu dan bak sampah. Meringkuk seperti anak kucing tak berdaya yang merasa diancam dunia.

            Suara langkah sepatu boot yang dipacu cepat terdengar. Ia menutup mata rapat-rapat. Berdoa semoga tak ditemukan, namun doa itu tak dikabulkan. Suara langkah kaki itu kian melambat saat si pemuda melihatnya. Si gadis tersentak namun bergeming. Begitu juga si pemuda yang tak lagi melanjutkan langkahnya. Seperti sebelumnya, mereka saling pandang dalam keheningan yang janggal. Butuh beberapa waktu hingga mereka sadar harus mengatakan sesuatu itu dan si pemuda yang lebih dulu.

            “Kau…” Ia menggantung kata-katanya, tak yakin dengan apa yang harus diucapkan.

            Gadis itu berdiri dengan cepat, merentangkan kedua telapak tangannya ke depan. “Kau sudah melihatku. Aku harus membunuhmu.” Ia berusaha terdengar tenang dan kuat, namun getar di suaranya tak dapat ditutupi.

            Alis pemuda itu mengerut, hanya sedikit, namun cukup besar perubahan itu bagi wajahnya yang senantiasa datar. Meski telah berusaha terlihat mengancam, baginya, gadis di hadapannya terlihat lemah, rapuh, dan butuh perlindungan hingga si pemuda tetap tak mengubah posisi tubuhnya.

            Telapak tangan si gadis kian berkeringat, ia mengigit bibirnya putus asa melihat tak adanya tanda-tanda si pemuda akan pergi. Ia tidak bisa melakukannya, tidak bisa…

            Menyerah, gadis itu berpaling dan kembali memacu langkahnya pergi dari sana. Menyusuri ke mana gang sempit itu membawanya. Kali ini, si pemuda tak lagi bergerak untuk mengejarnya. Ia terpaku bersama keheningan aneh yang ditinggalkan gadis itu.

            Si gadis bersayap itu.

           

-o0o-

 

            “Sudah menemukannya?”

            Seorang pria bertuksedo putih dengan deretan lencana di dada dan lengan bagian atasnya menggeleng pelan dengan ekspresi menyesal. “Belum, tapi kami akan terus mencari. Kami sudah mengerahkan pasukan ke seluruh sudut Angelheim dan memperketat pengawasan.”

Hagradian menggeleng, putus harapan

“Aku berharap dapat memilih, tapi rupanya aku tak punya pilihan…”

“Kau punya,” sela pria bertuksedo tadi, “hanya… mungkin bukan pilihan yang kau inginkan…”

“Yah…” Hagradian menyahut dengan mata yang datar menatap keluar jendela dan menembus langit dengan bayangan keunguan yang mulai meresap merebakkan warna biru cerahnya. Atap-atap berwarna-warni dengan tinggi berbeda yang terlihat dari balik jendela seakan ditumpahi permainan warna yang siap berubah tiap saat. Selalu ada gradasi suram untuk tiap warna ceria.

“Kalau begitu tak ada artinya. Mati di sini atau mati di sana, sesederhana itu, kan? Di mana pun, pada akhirnya kematianlah yang akan kita hadapi. ”

Pria bertuksedo itu hendak menjawab, namun ditutup kembali mulutnya yang telah terbuka untuk berbicara. Ia menghela napas panjang, membiarkan obrolan mereka terjeda dengan hembusan udara berat yang membawa napas kecemasan dan keputusasaan.

“Tapi yang dapat kita lakukan adalah memilih cara kematian yang terbaik…”

Gumaman itu menarik pandangan Hagradian yang tengah menerawang ke luar jendela. Matanya kembali mendapatkan sinar kehidupannya, seakan menyadari sesuatu yang begitu penting.

“Benar…” Gumamnya.

 

-o0o-

 

            “Ethrelda…”

            Sebuah panggilan tertahan menarik perhatian seorang gadis kecil berambut keperakan yang tengah berbicara dengan kesebelas bonekanya. Gadis kecil itu mendongak. Wajahnya berseri-seri mendapati seorang gadis bersayap melayang rendah di samping balkon tempat ia bermain yang dibanjiri cahaya bulan purnama

            “Kak Sweilya!!” Serunya bersemangat.

            Tanpa suara, gadis bersayap itu menapakkan kaki di balkon dan segera menempelkan jari telunjuk pada bibir adiknya yang menyambut dengan kesenangan yang begitu jelas terlihat.

            “Jangan berisik, nanti yang lain dengar!” Bisiknya sambil tersenyum lebar.

            “Memang kenapa kalau ada yang dengar? Ayah kan cari Kak Sweilya. Ethrelda mau panggil ayah!” Pipi Ethrelda kecil bersemu merah muda karena begitu bersemangat dan bibir lucunya begitu menggemaskan tiap ia bicara.

            “Jangan, jangan. Aku ke sini hanya untuk bertemu denganmu, ini pertemuan rahasia.” Jawab Sweilya dengan suara rendah dan senyum yang tak lepas dari wajahnya saat menghadapi gadis kecil di hadapannya.

            “Pertemuan rahasia?” Ethrelda menelengkan kepalanya namun tak urung, seperti anak kecil lainnya, merasa begitu penting dan bersemangat saat mendengar kata ‘rahasia’.

            Sweilya mengeluarkan tangan kanannya yang sejak tadi disembunyikan di punggung. Sebuah cermin kecil berbentuk oval dengan tangkai dan bingkai perak penuh ukiran rumit digenggamnya di sana.

            “Untukmu, sayang. Ini milik ibu.”

“Punya ibu?” Mata kehijauan besar Ethrelda mengerjap takjub.

Sweilya mengangguk. Diserahkannya benda itu ke tangan-tangan mungil adiknya yang manis. “Ini benda yang berharga untuk kita. Namanya cermin kejujuran. Apa pun yang terjadi, berjanjilah untuk menjaga cermin ini, ya?”

Ethrelda mengangguk semangat. “Janji! Akan Ethrelda jaga seperti harta karun!”

Sweilya tergelak pelan. Dipandangnya mata besar adiknya yang sewarna dengan matanya sendiri, dulu, sebelum warnanya menjadi lebih kelam akhir-akhir ini. Dielusnya lembut kepala Ethrelda, dikecup keningnya dengan hangat, dan dipandangnya gadis kecil itu lagi, seakan ia tak pernah puas. Ada rasa kehilangan memukul dadanya keras seperti godam, begitu menyakitkan, menyekat tenggorokannya. Tapi ia sudah bertekad akan kuat. Ia harus kuat. Maka ia berpaling dan berkata tegas, “Aku harus pergi.”

Ethrelda mendesah kecewa, “Kenapa kakak harus pergi?”

“Karena aku tidak mau kau terluka, Ethrelda…”

“Terluka kenapa?

Sweilya terdiam, menggigit bibirnya. Menarik napas dalam-dalam untuk mengisi paru-parunya yang mulai miskin oksigen karena bernapas menjadi begitu sulit baginya. Dipandang adiknya sambil tersenyum. “Suatu hari saat kau besar nanti, kau akan mengerti.”

“Tapi Ethrelda sudah besar!” Pipinya menggembung menggemaskan.

“Ya, tapi masih harus sebesar ini!” Ia merentangkan tangan setinggi kepalanya sendiri. Mata Ethrelda mengerjap penuh kecewa menyadari betapa mungil dirinya, namun dikepakkan sayap-sayap kecilnya untuk melayang setinggi rentangan tangan kakaknya.

Sweilya tertawa kecil dan merengkuh bidadari kecil itu dalam pelukannya kemudian menurunkannya dengan lembut. Ia lalu berpaling, menghadap langit malam yang cerah dengan cahaya bulan namun terlihat begitu suram di matanya saat ini. Tetapi, seakan teringat sesuatu, ia kembali membalikkan badan menghadap adiknya.

“Sebelum itu, maukah kau berjanji satu lagi hal padaku, manis?”

            “Janji? Janji apa lagi?”

            “Jangan katakan pada siapa pun bahwa kau bertemu aku malam ini, jangan pernah.” Katanya tegas. Diulurkannya jari kelingking pada adik kecilnya. “Janji?”

            Mata besar berkilauan gadis kecil itu mengerjap. Ia menelengkan kepala dan mengerutkan alisnya seolah keheranan, tapi tak urung mengangguk patuh. “Janji!” Jawabnya bersemangat menyambut jari kelingking kakaknya, mengaitkan janji yang disaksikan bulan purnama.

            Sweilya tersenyum, melambaikan tangan dan mulai mengepakkan sayapnya hingga kakinya melayang rendah dari lantai balkon.

“Kak Sweilya!” Panggil Ethrelda dengan suara tertahan.

Gadis itu kembali menoleh dan mendapati adiknya menghambur memeluknya.

“Ethrelda sayang kakak.”

Tanpa dapat ditahan, air mata mengaburkan pandangan Sweilya. Untuk terakhir kalinya, dipeluk adiknya dengan erat seakan tidak ingin melepaskannya sebelum akhirnya megepakkan sayap dengan kuat untuk segera pergi dari sana tanpa menoleh lagi.

 

-o0o-

 

            Hari ini pun tak ada yang berubah. Keadaannya sama persis dengan saat terakhir kali ia menginjakkan kaki di sana. Sweilya berjalan membelah kerumunan pasar yang sama dengan pada waktu yang sama namun dengan langkah lebih mantap kali ini. Langkah itu berayun membawanya ke barisan bangunan berbata merah yang sama seperti sebelumnya dan menemukan pemuda itu dengan pose yang sama seperti sebelumnya, palet di satu tangan dan kuas yang tengah menari di tangannya lainnya.

            Mata tajamnya kembali menangkap sosok Sweilya yang berdiri dalam diam sambil memandangnya. Tak ada reaksi berarti di antara keduanya, keheningan mengisi jeda panjang di tengah mereka.

            “Aku….” gumam Sweilya pelan setelah detik-detik berlalu dalam keterdiaman canggung, “tidak akan lari lagi.”

            Ekspresi pemuda itu tak dapat ditebak. Tetap datar, tentu saja. Namun di balik itu, sorot matanya seakan menyimpan berbagai hal yang tak ia katakan. Ditatapnya mata Sweilya dalam-dalam dan dialihkan pandangannya pada kanvas di hadapannya, seakan berusaha menumpahkan seluruh kata-katanya lewat pandangan pada lembar yang kini hampir seluruhnya dipenuhi warna itu.

            Ragu namun penuh tekad, dipacunya langkah mendekati pemuda itu. Ia tetap menghadapkan wajahnya pada kanvas namun dirinya seakan tak ada di sana, pandangannya terbang, menerawang jauh menembus lembar-lembar itu.

Sweilya mencoba melihat apa yang sedang ia lukis. Langit, kelabu, dengan atap-atap suram mengalasi tepi bawah kanvas dan awan-awan hitam membingkai ketiga sisi lainnya. Tak urung ditatapnya langit yang menaungi mereka dan mendapatinya warnanya lebih cerah membiru dibanding lukisan itu.

“Jadi, kau salah satu dari mereka, huh?”

Suara pemuda itu menyentaknya. Menyadari bahwa inilah pertama kali ia mendengar suaranya dalam satu kalimat utuh. Suara yang dalam, dingin, namun entah bagaimana dapat memberinya rasa aman.

            “Mereka?”

            Pemuda itu terdiam selama beberapa saat, seakan segan mengatakan apa yang harus ia katakan. “Bidadari.” Gumamnya.

            Diam-diam Sweilya melirik dirinya sendiri. Gaun putih hingga ke betis, rambut keemasan panjang yang tersampir di pundak, dan yang paling jelas menunjukkan identitasnya, tentu saja, sayap besar yang terbentang di punggungnya.

            “Seperti yang kau lihat…”

            Pemuda itu menarik napas dalam. Mengumpulkan fokus untuk menatap lukisannya—benar-benar menatap—dan kembali menggerakkan kuasnya, menggoreskan warna putih di atas salah satu atap kelabu itu dengan jemari terampil. “Aku bertanya-tanya, apa yang membuat seorang bidadari rela turun ke bumi?”

            Sweilya mendesah, menggigit bibirnya sendiri dan menggeleng. “Sebelum itu, aku bertanya-tanya mengapa hanya dirimu yang dapat melihatku?”

            Gerakan kuas itu terhenti. “Aku terbiasa berpikir kakekku adalah tukang dongeng yang hebat. Tapi kini aku menyadari bahwa semua yang ia katakan adalah kebenaran.” Pemuda itu mendengus namun tak urung kembali menatap kanvas dengan pandangan menerawang seperti sebelumnya. “Ia berkata bahwa nenekku adalah seorang bidadari.”

            “Kau… keturunan bidadari?” Sweilya mengerutkan dahinya.

            Pemuda itu mendengus lagi lalu menggedikkan bahu dan kembali menggerakan tangannya melukis di atas kanvas.

Sweilya menyipitkan matanya. “Tapi kau tidak punya sayap.”

            “Maaf membuatmu kecewa.” Balas si pemuda terdengar sarkastis.

            Tak yakin dengan apa yang harus dikatakan, gadis itu terdiam dan memilih menatap lukisan di hadapan pemuda itu yang kini terlihat semakin utuh. Cat putih yang digoreskan pada gambar atap itu kini mulai terurai indah, segera saja siluet puth bersayap besar telah berdiri di atas atap kelabu suram itu. Bidadari.

            Bagaikan sebuah portal datar, mata Sweilya terpancang pada kanvas itu sementara pikirannya dibawa terbang, hanyut entah ke mana. Seakan delusi, tiba-tiba ia menghadapi sebuah langit yang terbentang kuat namun menguarkan keputuasaan pada tiap makhluk yang berlindung di bawahnya. Seolah kekuatan dalam tubuhnya dihisap, dadanya sesak dan pandangannya mengabur. Namun ada kekuatan lain yang menariknya dari delusi itu. Segera saja penglihatannya menunjukkan keadaan yang sebenarnya. Langit masih biru di atas sana dan hanya ada pemuda itu di dekatnya, tak ada siapa pun lagi.

            Terengah, Sweilya memandang telapak tangannya dan menggeleng pelan dengan putus asa. Ditariknya napas dalam untuk menenangkan diri dan menyadari hal itu begitu sulit.

            ‘Tidak, tidak, jangan sekarang…’ Mohonnya pada dirinya sendiri.

            Dipicingkannya mata untuk meraih kembali fokus dan kesadaran penuhnya. Dilihatnya si pemuda tengah membubuhkan huruf-huruf di bagian pojok bawah kanvas dengan cat hitam. Membubuhkan namanya, tentu saja.

            “Aku harus pergi…” Gumam gadis itu  pelan namun dapat ditangkap jelas oleh telinga si Pemuda. Ia melangkah sekuat sisa kesadarannya dapat melakukannya namun berbalik kembali di langkah ketiga. “Senang bertemu denganmu, Addas…” Katanya pelan. “Panggil aku Sweilya.” Ia tersenyum dan kembali melanjutkan langkahnya.

           

-o0o-

 

            “Sweilya….” Tanpa disadarinya, Addas bergumam seraya menatap langit dari jendela kamarnya yang gelap. Penerangan yang hanya berasal dari sinar bulan membuatnya terlihat dramatis, namun Addas terlalu segan untuk meraih kuas dan palet demi mengabadikannya malam ini. Berbaring di ranjang dan berpikir terlihat lebih menarik untuknya.

            Tak bisa menyangkal, sejak ia melihat gadis itu di depan matanya untuk pertama kali, bukan wajah eloknya, bukan aromanya yang menyegarkan, bukan suaranya yang mengalun merdu, dan bukan pula sayap putih yang membentang lebar dari punggungnya. Yang ia lihat hanya kerapuhan. Ya, kerapuhan.

            Namun yang tak berhenti dipikirkannya adalah, mengapa harus ia yang melihatnya?

            Kakeknya selalu hal menceritakan hal itu, dongeng itu—menurut Addas. Namun, tak seperti dongeng lain yang kadang memaksa diri mereka untuk dipercayai, dongeng kakeknya mengalir tanpa jeda namun jujur dan apa adanya, tak peduli ia butuh dipercayai atau tidak.

            ‘Nenek seorang bidadari’, ia mendengus, ‘maka aku adalah seorang pangeran berkuda putih.’ Katanya pada dirinya sendiri saat kakeknya sudah mulai menerawang dan cerita-cerita itu mengalir bak air bah dari mulutnya.

            “Tapi akhirnya aku benar-benar bertemu dengan seorang bidadari. Kau menang, semua itu benar…” Gumamnya sambil menatap langit-langit. “Kau pasti sedang tertawa di atas sana, pria tua…” Ia mendesah sambil menutup matanya.

            Dibiarkan lelap merebut kesadarannya perlahan saat semilir angin yang lolos dari jendela yang terbuka itu membelainya halus. Namun ketika penglihatannya mulai mengabur dan berganti potongan siluet alam mimpi, sebuah suara dentuman keras membuatnya refleks terduduk dengan mata terbuka lebar. Beberapa detik berselang sebelum ketukan di pintu balkon kamar penginapannya terdengar beberapa kali. Lemah namun memaksa.

            Addas melompat keluar dari tempat tidurnya secepat yang ia bisa. Disambarnya kayu penyangga lukisannya, tak ingin mengambil resiko saat menghadapi seseorang yang mengetuk pintu balkonnya di tengah malam, siapa pun itu.

Suara ketukan tak terdengar lagi ketika ia tiba, namun ada suara napas di balik pintu. Ada orang di sana. Dengan gerakan cepat dan senjata siaga di tangan, dijeblakkannya pintu hingga terbuka. Namun bukan perampok, pula bukan pria mabuk yang tersesat dan tak menemukan tangga turun balkon.

Di sana, dengan napas terputus-putus, pandangan yang tak lagi fokus, wajah pucat yang nyaris putih sempurna, sayap terkulai lemah, tubuh penuh luka seperti cabikan, dan noda darah di sekujur gaun putihnya, berdiri Sweilya dengan tangan terentang di bingkai pintu untuk menahan tubuh agar tak rubuh.

Tepat saat pintu terbuka dan Addas belum sempat mencerna pemandangan di depannya, pegangan Sweilya di pintu melemas dan ambruk saat itu juga. Refleks, Addas menangkap gadis itu sebelum ia jatuh membentur lantai. Tubuhnya yang dingin dan bergetar hebat tak urung membuat pemuda itu panik.

“Kau—apa yang…”

            “Aku…aku tak tahu harus ke mana lagi…” Sela Sweilya dengan mengerahkan seluruh sisa kekuatan untuk menjawab dan kehilangan kesadaran tepat setelahnya.

Read previous post:  
Read next post:  
70

Salam kenal. Wah, ceritanya sepertinya menarik. Ada apakah dengan Sweilya? :D

Sedikit komen soal ceritamu; alur dibagian ini terasa melompat-lompat dan belum cukup kuat. Kejadian demi kejadian berlangsung sekilas dengan seringnya perpindahan fokus karakter. Mungkin kalau udah ada lanjutannya cerita ini jadi lebih enak.

Itu aja dulu. Semangat!

melompat-lompat?
well mungkin juga... karena saya takut bikin cerita ini kepanjangan jadi sebisa mungkin saya ringkaskan. tapi mungkin saya melakukannya terlalu drastis ya?

makasih banyak buat komennya dan salam kenal ^^

2550

Kyuu-chan, demen sama ceritamu ini~! ^^

adakah lanjutannya?

menurutku, lebih baik dilanjutkan, karena ending-nya agak menggantung...

*dateng-dateng langsung sujud ampun*
maaaaaapppppp!
ini judulnya pun saya typo! harusnya:
"Kisah tentang Bidadari, Kejujuran, dan Segores Keajaiban PART 1"

ya, ini belom berakhir dan doakan saya semoga masih bisa melanjutkannya.
Makasih kak erik masih setia membaca tulisan saya >o<

80

Narasinya nyaris sempurna dan mengajak pembaca berada di dalam cerita

saya justru merasa narasi saya kurang mengalir. Udah lama nggak nulis karena urusan akademis dan begitu menghadapi keyboard kepalanya rasanya beku. hehe..

btw makasih sudah sudi membaca dan berkomen ^^