Lomba Qi Xi : Jembatan Murai

 

 

 

Jembatan Murai

 

Desa Cuju Di Xia, 1377

 

Saat ini perekonomian di negeriku begitu maju. Die1  mengatakan kalau semua ini karena Kaisar Hang Wu yang begitu hebat. Sang Putra langit memerintah dengan baik, sehingga masyarakat dapat merasakan kehidupan yang nyaman. Bahkan termasuk kami yang berasal dari masyarakat kelas bawah.

 

“Zhi Xing!” Teriakan Die terdengar, itu artinya aku harus segera menyelamatkan diri. Kakiku melompati petak-petak ladang jagung sebelum tangan Die  sempat meraih. Tapi rok yang menutupi hingga tapak kaki dengan lengan baju lebar panjang sangat menghambat pergerakkan. Tubuhku berhenti mendadak sekitar beberapa langkah sebelum menabrak Niang2  yang berdiri dengan kedua belah tangan direntangkan lebar. Aku berusaha memberikan senyuman terbaik.

 

“Sudah berapa kali Niang katakan untuk tidak mengacau di ladang.” Niang berkata dengan suara pelan dan tenang. Itu menunjukkan tingkat kemarahannya belum mencapai puncak. Dan sama artinya, kesempatan untuk lolos dari hukuman masih terbuka lebar.

“Niang, cau an3,” sapaku manis.

“Bukankah seharusnya saat ini kamu sudah berada di rumah Rung Ayi4?” Niang malah melemparkan pertanyaan yang enggan kujawab.

 

Mata Niang menegaskan kembali perkataannya. “Haruskah?” aku memelas.

“Apakah perlu kamu tanyakan hal itu lagi, Zhi Xing?” jawaban Niang membuatku terdiam. Terlihat celah, ketika kewaspadaannya mulai menurun. Kuangkat sedikit rok berwarna hijau pilihan Niang, dengan cepat menyelinap dan melarikan diri.

“Kembali, jangan mencoba kabur lagi!” teriakkan Niang kujawab dengan cengiran lebar. Suara Niang bahkan dapat menyaingi bunyi genta di kuil desa tetangga.

“Aku tidak ingin mempelajari hal tidak penting itu, Niang!” jawabku sambil menuruni petak ladang yang membentuk tingkatan seperti tangga kuil. Bentuk ini disebabkan desa dan lahan pertanian yang terletak di lereng  gunung.

 

Baru saja aku akan bernafas lega, ketika lengan Die dengan cepat melingkar di pinggangku. “Dengarkan ucapan Niang. Dia telah mengeluarkan begitu banyak keping tembaga, agar  Rung Ayi mau mengajarimu lagi. ” bisik Die.

  “Die, aku memilih membantumu menanam jagung dan padi.”

“Tapi Die tidak ingin anak perempuan Die tidak menemukan jodoh.” Kutatap mata Die, akhirnya aku mengangguk pasrah.

 

Aku tidak pernah bisa berkutik pada permintaan Die. Sebenarnya aku lebih dekat dengan Die, berbeda dengan Zhi Hao – adik laki-lakiku yang dekat dengan Niang. Mungkin dikarenakan Zhi Hao masih berumur sepuluh tahun, kami terpaut hampir dua belas tahun. Karena Die-lah saat ini aku terpaksa duduk di depan Rung Ayi bersama lima gadis belia lainnya. Dan aku adalah yang tertua, bisa dikatakan sudah masuk usia perawan tua.

 

“Zhi Xing! Sulamlah burung hong yang indah, bukan itik buruk rupa!” lagi-lagi Rung Ayi berteriak, sudah ke sepuluh kalinya – bahkan setengah dupa waktu pun belum berlalu.

Ayi, ini adalah burung hong,” ucapku sambil menyodorkan kain sutra berwarna merah.

“Matamu sudah buta?” dia menepuk dadanya.

“Bagaimana kamu bisa menikah? Bahkan sulaman gaun pengantinmu belum lagi jadi. Sudah tiga kali Qi Xi, belum juga kamu mendapatkan jodoh.” Rung Ayi mengeleng dan mendesah pelan.

 

 

==

 

Tangan Niang memegang erat, memaksa aku melangkah menuruni tangga batu yang merupakan jalan satu-satunya di desa kami. Desa unik yang berada di lereng gunung. Puncak gunungnya berbentuk tiga hewan, kelelawar, kura-kura dan macan. Hanya saja penduduk tidak pernah tahu asal usul dari ketiga bentuk hewan tersebut. Letak desa kami berada di pinggiran Beijing. Rumah-rumah terbuat dari batu dan kayu yang kokoh. Aku suka dengan desaku, tapi benci dengan tradisi yang mengharuskan setiap gadis terampil dalam menyulam serta memasak.

 

Dan keterampilan itu diuji pada perayaan Qi Xi5. Itu sebabnya aku tidak suka dengan perayaan yang diadakan setiap bulan tujuh tanggal tujuh ini. Bagiku hari itu adalah semacam hari di mana aku diikat di atas tiang kayu dan menunggu hukuman mati.

 

Desa kami rata-rata didiami penduduk bermarga Han. Karena itu pada saat perayaan Qi Xi masyarakat akan berkumpul di alun-alun desa yang berada di kaki gunung. Begitu juga masyarakat dari desa lain di sekitar kami. Semuanya akan berkumpul di alun-alun bintang. Menikmati perayaan Qi Xi yang merupakan perayaan untuk anak-anak gadis memohon keterampilan juga untuk bertemunya para pasangan kekasih. Nah hal yang terakhir itu yang membuat alun-alun bintang begitu penuh.

 

Pria dan para ibu dari desa tetangga akan datang untuk mencari jodoh serta calon menantu. Gadis-gadis dari desa Cuju Di Xia  terkenal dengan kecantikan yang menawan serta keterampilannya sebagai calon istri yang baik – kalian boleh hapus namaku dari daftar itu, karena hingga saat ini masih belum kuselesaikan pakaian pengantin itu. Lagi pula kata orang-orang, wajahku tidaklah cantik.

 

Perayaan dimulai dengan para gadis muda mempersembahkan buah juga piring dari keramik terbaik yang berisi tiga buah jiao Zhi6   , sebuah jarum, sekantung koin emas, dan jujube7 merah. Ketiga hal tersebut mewakili kemahiran dalam menjahit, keberuntungan dan pernikahan atau kemudahan mendapatkan jodoh. Kami para gadis berdiri di depan meja persembahan, membakar dupa serta memanjatkan permohonan kepada bidadari Zhi Nu yang kini telah menjadi Ce Nu Xing8. Memohon agar dapat memiliki keahliannya dalam menjahit, menenun, menyulam serta bisa menjadi istri yang baik juga segera menemukan jodoh.

 

Ce Nu Xing, semua orang memohon agar mendapatkan berkah darimu. Tapi dirimu sendiri hanya dapat bertemu dengan suami yang telah menjadi Niu Lang Xing9 setahun sekali. Bukankah hal itu sangat aneh. Tapi sudahlah, setidaknya setahun sekali kalian bisa menyeberangi Yin He10 melalui Que Qiao11 dan saling melepas rindu. Sedangkan aku, menderita sekali. Aku bahkan tidak memiliki pria yang benar-benar mencintaiku sepenuh hati.

 

Aku menyusup di antara kerumunan setelah memanjatkan doa. Menjauh dengan perlahan, berharap Niang, Die dan Didi tidak menyadari. Perlahan  menaiki tangga, kemudian berjalan menuju puncak gunung. Aku berdiri sambil mendekap ke dua belah tangan, menatap luasnya langit malam. Memang langit malam ini lebih bercahaya. Serta kedua gugusan bintang yang selalu dikisahkan sebagai gadis penenun dan pengembala itu terlihat mendekat. Atau aku hanya terbawa perasaan perayaan Qi Xi.

 

“Biasanya di ujung malam menjadi pagi, saat bintang digantikan matahari akan turun hujan lebat. Dan tahukah kamu,  itu adalah airmata Zhi Nu yang menangisi perpisahan dengan suami dan anak-anaknya lagi.” Aku tersentak ketika suara seorang pria terdengar jelas di belakangku. Seingatku tidak ada seorangpun di atas puncak gunung.

“Benarkah itu?” tanyaku sambil memperhatikan penampilan pria yang entah memiliki maksud jahat atau tidak.

“Sungguh menyedihkan penantian selama setahun, hanya untuk satu hari,” ucapnya.

 

Dia berbalik kemudian menatap dengan tatapan yang selalu Die lakukan kepada Niang. Tubuhnya tinggi dibalut dengan pakaian berbahan halus berwarna gelap. Rambutnya diikat kebelakang dengan kain hitam. Yang membuatku terdiam adalah wajah dengan garis keras namun terlihat mempesona.

 

“Nona, mengapa kamu keluar dari perayaan dan menyendiri di tempat seperti ini?” Tanya pria itu dengan seulas senyum di wajahnya.

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah jujur kukatakan kalau aku tidak ingin menjadi satu-satunya anak perawan yang tidak menemukan jodoh lagi di tahun ini. Mungkin karena tubuh ini  terlalu kurus, pinggul kecil, dada yang tidak menarik serta wajah pas-pasan. Atau karena jiao zhi yang kubuat rasanya seperti ramuan pencuci perut.

 

“Aku tidak suka perayaan Qi Xi,” ucapku akhirnya.

“Bukankah perayaan Qi Xi sangat menarik?” dia kembali bertanya.

“Apakah kamu akan suka ketika ternyata hanya kamu satu-satunya gadis yang tidak mendapatkan kain merah tanda lamaran.” Kembali aku menumpahkan kekesalan pada pria yang bahkan belum meperkenalkan namanya.

 

“Aku juga tidak suka perayaan Qi Xi.” Pria itu menatap langit.

“Mengapa?” rasa penasaran mengelitikku.

“Karena aku kehilangan kekasihku pada perayaan Qi Xi.” Pria itu terlihat sendu.

“Kekasihmu sudah meninggal?” aku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Apakah harus menunjukkan rasa bela sungkawa atau …

“Belum kekasihku belum meninggal. Tapi …” jawabannya yang mengantung membuat penasaran. Apakah kekasihnya tengah berjuang dengan penyakitnya ataukah kekasihnya menghadapi hukuman berat?

 

“Ini, terimalah.” Pria itu tiba-tiba menyerahkan sebuah giok berbentuk burung.

“Untuk apa?” aku menatap dia.

“Aku berharap aku dapat terus menjagamu, tapi ternyata takdir tidaklah memberikan keringanan. Jadi semoga saja giok burung murai jantan ini dapat mengantikan aku.”

“Jangan mempermainkanku!” bentakku kesal.

“Sepertinya perayaan telah usai. Aku yakin kedua orang tuamu sedang mengkhawatirkan hilangnya kamu.” Pria itu menjauh dan lenyap di balik tangga batu.

 

Sementara itu aku masih mengenggam giok pemberiannya. Aku tidak berani menunjukkan giok itu kepada kedua orang tuaku. Hal itu disebabkan aku juga tidak tahu persis apa maksudnya memberikan aku giok ini. Lagipula Die pasti akan melarang ke puncak bukit ini lagi. Sedangkan jauh di dalam hati, aku begitu ingin bertemu dengan dia.

 

==

 

Seharusnya siang ini aku sedang berada di rumah Rung Ayi untuk menyelesaikan sulaman untuk nantinya dijahit menjadi pakaian pernikahan. Tapi pagi-pagi tadi Rung Ayi telah datang ke rumah, berbicara dengan Niang.  Awalnya Niang bergitu gembira dengan kedatangan Rung Ayi, namun saat Rung Ayi  menyodorkan sebuah kantung berwarna merah dan berkata, “Nyonya Han, mohon diterima.”

“Apa ini?” Tanya Niang penasaran.

“Ini adalah pembayaran selama empat kali Qi Xi,” Rung Ayi terdiam sejenak.

“Semuanya berjumlah empat puluh koin tembaga, mohon diterima.”

“Maksudnya?” kembali Niang bertanya dengan wajah sedih.

“Aku merasa tidak berhasil mengajari Zhi Xing. Sudah empat kali Qi Xi namun dia belum juga menyelesaikan pakaiannya serta mendapatkan jodoh. Mungkin aku guru yang tidak becus. Aku merasa tidak mampu lagi meneruskannya.” Rung Ayi  tidak memberikan kesempatan untuk Niang memohon. Dia segera berdiri dan berpamitan.

 

Seharian ini Niang menangis terus. Berulang kali aku berusaha membujuknya namun gagal. Dia  sesekali menatap wajahku lalu mengeleng pelan. Tidak mampu lagi menghadapi wajah terlukanya, jadi kuputuskan untuk menyendiri di atas puncak gunung.  Setidaknya langit penuh bintang bisa membuat lupa sejenak akan semua persoalan.

 

“Kamu suka menatap bintang?” suara pria itu lagi, dan kami selalu bertemu di puncak gunung ini. “Yah, aku sangat suka memandangi bintang yang bertebaran di langit tanpa batas,” ucapku tanpa mengalihkan pandangan.

“Lalu mengapa kamu masih tidak menyukai perayaan Qi Xi? Bukankah pada setiap malam perayaan Qi Xi, gugusan bintang terlihat lebih indah dan bercahaya?” tanyanya lagi.

“Memang benar adanya. Dan aku menyukai langit kala perayaan tersebut. Tapi setiap kali aku juga merasa iri pada Zhi Nu karena memiliki Niu Lang yang teramat sangat mencintainya. Bahkan rela mengarungi lautan bintang dan bertahan dalam rindu serta kesetiaan yang besar kepada istrinya.” Aku mencoba mencari gugusan Zhi Nu Xing dan Niu Lang Xing.

 

“Tahukah kamu dalam perayaan mereka selalu menceritakan tentang Zhi Nu dan Niu Lang. Tapi manusia melupakan jasa burung murai yang menjadi penghubung kedua pasangan kekasih tersebut.” Pria itu menatapku lembut.

“Jembatan Murai?” aku memastikan pendengaranku.

“Yah, jembatan murai. Tanpa jembatan itu, Zhi Nu dan Niu lang tidak dapat bertemu. Bukan hanya manusia yang bisa setia, burung murai pun selalu setia kepada pasangannya. Mereka tidak segan-segan mematuk burung lain yang hendak masuk ke dalam sangkar mereka.” Aku tertarik dengan ceritanya.

“Lalu,”

Pria itu kembali mengenakan pakaian berwarna gelap malam ini, dia menatap langit sejenak lalu kembali bercerita. “Ada kisah yang tidak pernah diceritakan dan dianggap tidak perlu oleh masyarakat, yaitu kisah si sepasang murai yang menjadi bagian awal dan akhir jembatan penghubung Niu Lang dan Zhi Nu.”

Aku memasang tampang serius dan mengharapkan dia melanjutkan cerita tanpa perlu terus menerus menatap langit dan wajahku.

 

“Pada saat Zhi Nu dan Niu Lang dipisahkan oleh Yin He, sepasang murai yang tinggal di pekarangan rumah Niu Lang mengetahui hal tersebut. Kemudian karena mereka merasa kasihan dan berhutang budi kepada pasangan suami istri serta berpikir mengapa harus ada penghalang antara cinta yang murni. Maka keduanya mengajak teman-teman mereka semua untuk membantu. Awalnya burung-burung murai yang lain tidak berani.”

“Mengapa?” tanyaku menyela ceritanya.

“Tentu saja mereka takut akan murka  Raja langit.” Sahut pria itu.

“Namun sepasang murai itu nekat menempuh ribuan jarak cahaya dan berbagai halangan untuk tiba di langit. Selama perjalanan, mereka terus menerus meyakinkan teman-teman mereka untuk membantu Zhi Nu yang baik hati serta Niu Lang dalam mendapatkan keadilan untuk cinta.”

 

Pria itu mengambil kelopak bunga dan meniupkannya ke udara. “Akhirnya perjuangan sepasang murai itu membuahkan hasil. Mereka berhasil mengerakkan ribuan murai lainnya untuk terbang ke langit. Murai jantan mengambil posisi di sebelah Niu lang, sedangkan Murai betina di tempat Zhi Nu. Lalu ribuan murai lainnya terbang perlahan dan membentuk barisan, sehingga terciptalah jembatan.”  Dia mengambar jembatan dengan jemarinya pada langit yang tak tersentuh.

 

“Sayang sekali kegembiraan mereka tidak berlangsung lama. Raja langit murka karena kelancangan pasangan murai pertama. Keduanya dianggap telah menghasut agar ribuan murai lainnya menentang putusan Sang Raja Langit. Tapi Ratu langit yang tersentuh oleh perjuangan murai serta mulai luluh dengan perasaan cinta Zhi Nu dan Niu Lang, memohon agar jembatan murai itu tidak dilenyapkan. Raja langit menyetujuinya, tetapi supaya mahluk lain di dunia ini tidak berani menentang lagi maka sepasang murai pertama dijatuhi hukuman.”

 

“Tidak adil!” teriakku yang disambut dengan senyum di wajah pria itu.

“Memang, tapi sepasang murai itu sudah memperhitungkan hal tersebut saat  mereka memutuskan untuk menolong Zhi Nu dan Niu Lang. sebagai hukuman, murai betina akan direinkarnasikan puluhan kali dengan ingatan yang telah dihapus dengan bercangkir-cangkir teh Laojun14. Sedangkan murai jantan harus bertapa, hidup dalam tubuh manusia yang abadi. Merasakan sakit dan susahnya hidup sebagai manusia, namun tidak dapat meninggal. ”

 

“Kejam! Sungguh tidak bisa diterima! Bagaimana mungkin mereka menerima hukuman hanya karena ingin membantu? Langit tak punya hati.” aku mengeram kesal.

“Kehidupan di dunia ini memang kadang tidak berjalan sesuai keinginan kita. Italah yang kualami dan rasakan.” Melihat pria itu mendesah panjang, aku jadi ingin tahu apa keresahan hatinya.

“Apa yang terjadi pada dirimu?”

“Takdir mempermainkan. Tali jodoh yang seharusnya terikat antara aku dan kekasihku telah terlepas. Melayang-layang di udara tanpa dapat kuraih.” Pria itu memberikan bunga-bunga rumput kepadaku.

 

 “Kalau aku bilang kamu adalah pasanganku dan juga merupakan burung murai betina yang dihukum itu, apakah kamu percaya?” tanyanya.

Aku tertawa terbahak-bahak. Menahan perutku sambil terus tersenyum. “Jika kamu mencoba merayuku dengan cerita tidak jelas itu, kamu tidak akan berhasil.”

“Bukan, ini bukan rayuan. Aku tahu ini terdengar gila, tapi semua ini nyata adanya. Tanyakanlah kepada Yue Xia Lao Ren12 mengenai benang merah kita. Aku telah berusaha mendapatkannya, namun benang merahmu hanya kamu yang dapat mengambilnya sendiri.” Wajahnya tidak sedang bercanda, membuat aku menghentikan tawa.

 

“Jangan mempermainkan aku,” ucapku kesal.

“Tidak, ini kenyataannya. Puluhan kali aku dan kamu mencoba melawan semua ini, namun selalu gagal. Pada akhirnya aku harus terus melihat kamu hilang menjadi abu pada malam perayaan Qi Xi ke dua puluh tigamu. Begitu menyakitkan, hingga aku pun mencoba mengakhiri nyawaku pada saat yang bersamaan juga.”

“Penipu!” teriakku marah.

 

“Pergilah ke Yue Xia Lao Ren , tanyakan kepadanya mengenai tali perjodohanmu. Benang merahmu tidak akan pernah terpasang pada siapapun, itulah sebabnya kamu tidak pernah menemukan pasangan hidup. Karena kita berdua telah dihukum untuk saling merindu tanpa dapat bersatu.” Dia terlihat putus asa.

“Yang satu menyanyikan lagu penantian tanpa akhir pada langit sendu, sedangkan yang lainnya menuliskan puisi pengembaraan tak berujung.”

 

Aku melepaskan pegangan tangannya yang entah sejak kapan dia lakukan. Berlari menjauh, begitu bingung dan takut akan tingkahnya yang aneh. Pria aneh yang tiba-tiba muncul lalu mengaku-aku sebagai burung murai serta jodoh hidupku. Hal bodoh bila aku mempercayainya.

 

==

 

Yah sepertinya otakku tidak sejalan dengan hati. Aku terus menerus memikirkan pria aneh itu. Apalagi kami selalu bertemu di puncak bukit, berbagi langit malam bersama. Aku menyebutnya sebagai Murai jantan. Wajah pria itu entah mengapa tiba-tiba saja sering muncul di mimpiku. Aku seakan terseret dalam kenangan yang ingin kulupakan. Potongan-potongan cerita yang berhubungan satu sama lain dan ada dia di dalam setiap kisah itu. Niang selalu mengomeli aku yang terlihat termenung. “Tidak baik, anak gadis merenung seperti itu.” Aku tidak mempedulikan omelan Niang, karena di dalam otakku terus memikirkan pria misterius itu.

 

Setelah aku menolak percaya pada perkataannya mengenai hubungan jodoh kami, Yun Feng – begitu dia memperkenalkan dirinya padaku -  sama sekali tidak pernah menyinggung lagi. Dia hanya menemaniku bercerita. Memuji hasil masakanku yang tidak juga membaik rasanya.

Sesekali dia menyanyikan lagu-lagu indah dengan diselingi alunan nada dari selembar daun yang ditiupnya. Aku ingat ketika dia mengatakan bahwa semua lagu ini dia nyanyikan hanya untukku.

Yun Feng kadang merajuk saat aku tidak datang ke tempat kami biasa bertemu. "Niang memergoki aku hendak keluar tadi malam. Jadi aku tidak bisa menyelinap pergi." Aku memberi alasan.  Tapi wajahnya masih seperti bocah kecil yang dilupakan oleh sobat-sobat kecilnya. "Aku menunggu hingga pagi menjelang." Seakan kata-katanya ditujukan untuk membuatku semakin bersalah.  

"Ayolah, jangan membuatku serba salah," dia masih enggan tersenyum, "baiklah, aku bersedia dihukum karena telah ingkar janji."

Yun Feng langsung tersenyum lebar, dengan mata berkilat jahil. "Oh, tidak! Kamu sengaja." Teriakku kesal.  "Kamu sudah berjanji," godanya.  Aku tahu dia pasti akan menyuruhku bernyanyi. Padahal dia tahu betapa aku benci melakukan itu.


Semua orang tahu suaraku sangat jelek. Bahkan Die mengatakan kalau aku bernyanyi mungkin akan membuat Wang Yeye15 menutup kuping, sedangkan Wang Yeye sebenarnya tuli. Separah itulah nyanyianku.

Yun Feng menahan tawa - aku tahu dari gerakan pipi dan bibirnya - selagi aku menyanyi. Karena dia sengaja mengerjai aku, maka sebaiknya dia merasakan penyiksaan. Aku akan menyanyi selama mungkin, hingga dia memohon agar aku berhenti bersuara.

Ternyata Yun Feng tidak melakukannya. Dia malah ikut bernyanyi denganku. Menuntunku perlahan mengenali nada-nada. Dan gilanya, aku jadi ingin terus berdendang.

 

 

Kadang kala aku mencoba bertanya mengenai perkataanya yang lalu, tentang janji jodoh masa lalu kami. Hanya saja Yun Feng terlihat enggan menjawab. Karena tidak mendapatkan jawaban darinya dan rasa penasaran yang makin menumpuk aku akhirnya mendatangi Kuil Dewa Jodoh. Niang gembira saat mengetahui aku mendatangi kuil jodoh setiap hari. Dia senang akhirnya aku mau berusaha memikirkan statusku yang masih sendiri.

 

Aku membakar hio13 lalu mengucapkan doa. Menurut kepercayaan masyarakat desa, kita bisa mempersembahkan segulung benang merah yang telah didoakan lima purnama. Bila beruntung ketika mempersembahkannya kepada Yue Xia lao Ren  kita dapat bertemu dan menanyakan tentang jodoh.

 

Aku berdoa dengan khusyuk, berharap Dewa jodoh itu mau berbaik hati menjawab pertanyaanku. Apakah benar aku tidak akan pernah mendapatkan pasangan hidup.

“Yah, benang merah jodohmu telah terputus. Tidak bisa diikatkan kembali” aku terkejut saat tiba-tiba saja ada sosok Kakek tua yang muncul di hadapan. Dia terlihat sama seperti patung dewa yang sedang kusembah.

 

Aku memohon padanya untuk ditunjukkan cara agar benang merahku dapat terikat kembali. “Sejujurnya, benang merah kalian telah dicabut,” ucap Yue Lao.

“Maksudnya?” aku berharap pikiranku salah.

“Itu sama artinya kalian berdua tidak pernah akan menemukan jodoh. Kalian ditakdirkan untuk menjadi tua dalam kesepian tanpa cinta.” Jawaban Yue Xia Lao ren bagaikan tali pencekik di tiang gantungan.

 

“Tidak adakah cara?” tanyaku dalam perasaan cemas.

“Sebenarnya aku tidak ingin boleh mengatakan ini. Rahasia langit. Karena setiap kalinya kalian berdua juga tidak pernah berhasil melalui.”

“Aku pasti bisa.” Ucapku meyakinkan Yue Xia Lao Ren.

 

“Kamu harus menenun kapas jodoh menjadi benang merah,” Yue Xia Lao Ren menghentikan ucapannya.

“Aku pasti bisa. Aku akan belajar menenun kapas jodoh.” Berkali-kali aku mengangguk penuh semangat.

“Masalahnya adalah, kapas jodoh ini berwarna putih. Sebenarnya kapas ini akan perlahan-lahan menjadi merah ketika manusia beranjak dewasa dan menemukan jodohnya. Saat itulah aku akan mengikat benang merah perjodohan mereka. Namun untuk kasus kalian berdua, sedikit berbeda. Kapas jodoh kalian hanya dapat dimerahkan dengan darah kalian.” Yue Xia Lao Ren mengeleng sedih. Begitu juga aku.

 

“Pada akhirnya aku harus melihat kalian berdua tidak berhasil memerahkan benang kalian dan kembali lenyap menjadi roh. Lalu melalui jalan yang sama terus menerus.”

 

==

 

Aku berdiri di puncak gunung, menanti Yun Feng yang merupakan jodohku datang. Biasanya dia selalu hadir setiap malam. Menemaniku berbicara, bercanda atau sekedar membacakan puisi yang dia tulis. Baru saja dia muncul dari ujung tangga aku sudah berlari menghampiri. “Aku sudah tahu.”

Dia hanya tersenyum. Tanpa berkata apapun. “Mengapa tidak kau katakan caranya untuk menyatukan kembali benang merah perjodohan kita?” tanyaku.

“Karena aku tidak bisa mengatakan kalau kamu harus meneteskan darahmu untuk benang merah yang tidak ada gunanya.” Sahutnya.

“Jadi bagimu semua ini tidak berguna? Lalu mengapa kamu sampaikan padaku mengenai  cerita masa lalu kita?” aku menguncang tubuhnya yang semakin hari semakin kurus.

“Karena aku kadang berharap bisa bersamamu lagi. Dan aku tidak bisa membiarkan kamu lenyap menjadi abu tanpa mencoba. Lagipula kau telah membuatku berjanji di kehidupan yang lalu, akan menceritakan kebenaran ini padamu”

“Benar! Tidak ada salahnya kita mencoba, toh pada akhirnya ketika aku bertemu dengan perayaan Qi Xi ke dua puluh tigaku, maka aku akan lenyap menjadi abu.” Aku merasakan pelukan hangatnya. “Tidak akan kubiarkan kamu menghilang lagi. Aku bersumpah, akan kutemukan caranya.” Dia mengeratkan pelukan.

 

.

"Berjanjilah padaku, kau tidak akan mencoba menenun kapas menjadi benang merah. Sebab aku bersumpah, tidak akan membiarkan kamu merasakan kepahitan lagi." Yun Feng menatap mataku, dia terlihat serius.  

"Lalu aku harus duduk dan menanti saja hingga saatnya nanti aku menjadi abu serta menghilang, tanpa ada usaha?"

“Kamu cukup menjadi Han Zhi Xing. Tertawa lepas, menikmati hidupmu tanpa harus mengkhawatirkan semua itu. Anggaplah kau tidak pernah mendengar kenyataan ini." Yun Feng mendekatkan wajahnya, begitu dekat hingga bisa kurasakan nafasnya.
 


"Aku yang akan mencari cara. Aku berjanji padamu, akan kutemukan jalan keluarnya. Kamu tidak akan menghilang dan terbang dihembus angin. Karena kamu akan hidup dan bahagia pada kehidupan ini, nanti dan selamanya. Itu janjiku padamu." Ucap Yun Feng. Wajah kami bertemu, saling menatap dan akhirnya aku hanya bisa mengangguk pelan. Menyetujui permintaan Yun Feng.

Tapi dia tidak perlu tahu isi hatiku yang sebenarnya. Aku tidak akan membiarkan dia berusaha seorang diri. Mulai besok aku akan mulai menenun kapas jodoh dan mewarnainya menjadi benang merah. Aku telah menetapkan hati dan akan melaksanakannya. Apapun resikonya.

 

==


Niang begitu gembira saat aku memohon kepada Rung Ayi untuk mengajariku menenun. Berkali-kali aku mendatangi rumahnya, berlutut dan mengiba. Niang juga menjanjikan lebih banyak keping tembaga untuk Rung Ayi agar dia mau mengajariku lagi.

Niang tidak pernah tahu alasanku sebenarnya. Dan aku tidak tega mengatakan kalau anak gadisnya mungkin akan hilang pada Qi Xi tahun ini. Setidaknya aku membuatnya tersenyum bahagia saat kutunjukkan kain merah yang berhasil kujahit menjadi pakaian pengantin indah.  “Niang, Die jika nanti aku keluar dari rumah dan pergi jauh, janganlah merindukanku. Dan maafkan kalau Zhi Xing tidak dapat berbakti pada Niang dan Die.” Aku bersujud di hadapan mereka, karena kusadari hari-hariku sudah tidak lama lagi.

 

Die sama sekali tidak menyadari arti ucapanku yang sebenarnya. Dia hanya mengira aku akan menikah dan ikut dengan suamiku. Semua wanita yang menikah memang akan ikut dengan suaminya dan akan sangat sulit pulang mengunjungi orang tuanya lagi. Mereka telah menjadi bagian keluarga baru, dan harus berbakti pada suami.

 

Perayaan Qi Xi ke dua puluh tigaku semakin dekat. Tapi jangankan untuk mencapai satu meter, seperempatnya saja benang yang kutenun belum sampai. Tidak kuketahui juga berapa panjang benang yang harus kutenun dengan kapas pemberian dari Yue Xia Lao Ren.

 

Aku menjerit kesal. Satu hari lagi lagi Qi Xi ke dua puluh tiga. Bagaimana mungkin aku bisa menyelesaikannya? Aku telah berusaha, namun kapas jodoh sangat sulit ditenun menjadi benang. Jemari tanganku terluka begitu hebatnya. Puluhan pengulung tidak dapat bertahan. Bahkan setiap paginya ketika aku selesai menenun, benang itu akan hilang separuhnya. Ternyata langit begitu tega, menghalangi semua usahaku.

==

 

Hari ini perayaan Qi Xi kembali digelar, perayaan terakhirku. Aku kembali memberikan persembahan dan memasang hio, memanjatkan doa kepada Zhi Nu, Niu Lang dan Raja langit. Permohonanku sederhana. Aku hanya ingin Yun Feng bahagia. Bila saatnya aku harus menghilang, aku terima semua itu. Biarlah semua hukuman aku yang terima.

Setelah membakar hio dan berdoa, aku segera menyelinap pergi dari keramaian. Aku yakin kekasihku telah menunggu di tempat yang kami janjikan.

 

Aku menatap Yun Feng yang berdiri di tempat biasa kami bertemu, menatapku penuh cinta. Entah mengapa kurasakan setiap harinya Yun Feng semakin kurus dan pucat.

 

“Hari terakhirku.” Ucapku pelan. “Maaf, aku tidak bisa menyelesaikan benang merah sesuai janjiku kepadamu.” Belum selesai ucapanku Yun Feng telah mengecup bibirku.

“Aku akan menghilang menjadi abu, tapi berjanjilah padaku kau tidak akan menyia-nyiakan nyawamu dengan mencoba mengakhiri hidup.” Kembali kurasakan pelukan Yun Feng mengerat.

 

“Aku tidak akan membiarkan kamu menjadi abu lagi. Kamu tahu aku telah menemukan cara agar kamu dapat hidup bahagia.” Yun Feng menatap wajahku.

“Aku akan bahagia bila hidup bersamamu, di manapun itu.” Sahutku.

“Jembatan Murai, setelah berkali-kali akhirnya aku baru mengerti arti perkataan Zhi Nu dan Niu Lang. Aku hanya perlu menjadi jembatan murai untuk hidup indahmu.” Perkataan Yun Feng tidak kumengerti.

 

Dia menarik jemari tanganku, kemudian mengeluarkan sebuah benang merah berkilauan dari dalam lengan bajunya. Benang merah itu diikatkan pada jari manisku. “Kamu harus memiliki benang merah jodoh sebelum Qi Xi ke dua puluh tigamu. Dengan begitu kamu tidak akan menghilang menjadi abu dan mengalami kepahitan lagi.” Kurasakan air mata mengalir di pipiku saat mendengar ucapan Yun Feng. Aku tahu artinya, itu berarti dia berkorban agar aku dapat terus hidup dan menemukan pasangan baru. Tapi aku tidak mau. Aku tidak butuh.

 

“Pada benang merah ini ada air mata serta darahmu, tidak mungkin aku dapat mengunakannya untuk mengikat perjodohan dengan pria lain. Bagiku kamu adalah satu-satunya pasangan hidupku. Dulu, sekarang dan selamanya.”

 

Ternyata Niang menyadari kepergianku, dia dan Die membuntuti. Dia berteriak, terkejut saat melihat tubuh Yun Feng berubah sedikit demi sedikit. “Apa yang kamu lakukan di sini Zhi Xing? Siapa dia?” Tanya Niang. Aku dan Yun Feng menoleh, terdiam, tak tahu harus berkata apa. Kami hanya dapat menatap tubuh Yun Feng semakin menghilang. Angin meniup dirinya. Pada saat itu juga aku melepaskan benang merah di jari manisku. Berharap aku juga lenyap, menjadi abu bersama Yun Feng.

 

Yue Xia Lao Ren muncul di hadapan kami. Niang dan Die segera berlutut ketika mengetahui orang tua itu adalah dewa jodoh. “Kembali kalian membuat langit begitu tersentuh pada cinta tulus kalian. Berpuluh kali perpisahan serta cobaan tidak membuat cinta kalian menjadi pudar. Zhi Nu dan Niu Lang juga telah memohon kepada Raja langit. Raja langit berbaik hati, kalian telah dibebaskan dari hukuman.”

 

Aku menatap Yun Feng dan memeluknya erat.

“Raja Langit menitahkan bahwa kalian boleh memilih, menjadi manusia atau …” Yue Xia Lao Ren menghentikan ucapan seketika, saat aku berkata, “kami memilih tetap menjadi burung murai.” Kedua orantuaku hanya meneteskan airmata, sepertinya mereka sadar ada janji masa lalu yang harus kubayar.

 

Kurasakan tubuhku dan Yun Feng berubah. Bukan menjadi abu dan lenyap. Namun kami kembali menjadi burung murai. Berdampingan, kami terbang ke langit. Melengkapi kembali jembatan murai.

 

Aku dan Yun Feng tidak pernah segembira ini sebelumnya. Pada langit dan bumi, kami berharap dapat menjadi jembatan murai yang menghubungkan kisah cinta sepasang kekasih lagi. Karena kami berdua telah merasakan bahwa cinta sejati akan menemukan jalan pada akhirnya.

 

 

 

 

 

 

Foot Note : catatan kaki :

1                            Die         :               Ayah

2                            Niang    :               Ibu

3                            Cau an  :               selamat pagi.

4                            Ayi          :               bibi/tante. Panggilan untuk wanita yang lebih tua usianya daripada kita.

5                            Qi Xi       :               perayaan yang diadakan pada tgl 7 bulan 7, untuk memperingati hari di mana Zhi Nu dan Nu Lang dapat bertemu setahun sekali di atas jembatan murai.

6                            Jiao Zhi :               salah satu jenis dimsum, berisi daging atau udang serta sayuran yang dicincang kemudian dibungkus dengan kulit pangsit lalu dikukus. Bada tiga macam Jiao Zhi yang cukup terkenal. Shuijiao (rebus) ZhenJiao(kukus) Guotie (goreng).

7                            Jujube  :               Kurma cina, ada yang hitam ada pula yang merah. Yang merah bentuknya lebih besar dan lembut.

8                            Ce Nu Xing          :               Bintang Vega – penjelmaan dari Zhi Nu (gadis penenun)

9                            Niu Lang Xing     :               Bintang Alstair-penjelmaan dari Niu lang (pengembala) dan kedua anak mereka yang dibawa dalam keranjang yang dipikul Nu Lang.

10                         Yin He                   :               Silver river / Bima sakti / Milky way

11                         Que Qiao             :               Jembatan murai (penghubung bintang Vega dan alstair)

12                         Yu Xia Lao ren    :               Dewa Jodoh yang berwujud kakek tua yang baik hati. Tugasnya mengikat benang merah perjodohan.

13                         Hio                         :               dupa/setanggi. Untuk sembahyang.

14                         teh Laojun          :               teh yang diminum oleh roh saat akan direinkarnasikan ke dunia. Dan membuat manusia lupa akan kenangan di masa lalu.

15                         yeye                      :               kakek

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer citapraaa
citapraaa at Lomba Qi Xi : Jembatan Murai (7 years 5 weeks ago)

bagussss

kirain benang merah itu kiasan

Writer hirumi
hirumi at Lomba Qi Xi : Jembatan Murai (8 years 36 weeks ago)

Wah yang bikin orang china! Kereeen. (Sekali lagi gaya bahasa itu apa?)

Writer deathly_hymn
deathly_hymn at Lomba Qi Xi : Jembatan Murai (8 years 36 weeks ago)

Gaya penulisan... Misalnya menggunakan kalimat2 baku atau tidak, dsb.
Misalnya gaya bahasa:
"Andi, loe apaan sih!"
bandingkan dengan:
"Apa yang telah kau lakukan Andi?!"
dengan:
"Akhlak apa yang membuat mu begini Andi?"

Writer hirumi
hirumi at Lomba Qi Xi : Jembatan Murai (8 years 36 weeks ago)

Trus penentuan bagus tidaknya?

Writer deathly_hymn
deathly_hymn at Lomba Qi Xi : Jembatan Murai (8 years 36 weeks ago)

gaya bahasanya juga tepat.

Writer deathly_hymn
deathly_hymn at Lomba Qi Xi : Jembatan Murai (8 years 36 weeks ago)
100

tema cerita yg sangat keren!
kenapa aku tidak memberikan 10?