Kisah tentang Bidadari, Kejujuran, dan Segores Keajaiban II

Sinar matahari menyela lelapnya dan menyita seluruh mimpinya. Addas membuka matanya perlahan sambil mengerang. Pandangannya perlahan menjelas saat nyawanya kembali terkumpul sedikit demi sedikit. Alih-alih jendela yang masih terbuka karena lupa ditutup pada malam hari seperti biasanya, yang pertama tertangkap matanya hari ini adalah meja kecilnya di mana cat minyak, kuas, bekas makanan, pakaian dan barang-barang lain yang bertebaran di atasnya. Butuh waktu cukup lama baginya untuk menyadari dirinya sedang berbaring di sofa.
Ia mengira-ngira apa yang membuatnya tidur di sana, bukan di ranjang kecilnya, namun sekonyong-konyong ingatannya kembali pulih. Tentu saja, gadis itu, bidadari itu. Datang ke mari membawa luka-luka parah yang mengkhawatirkan dan pingsan begitu saja dipelukannya kemarin malam. Mau tak mau ia harus membaringkannya di kasur sempitnya itu dan mengobati luka-luka itu.
Ia berusaha bangkit sambil mengerang mencengkeram kepalanya yang nyeri. Ini pasti karena ia hampir tidak tidur semalaman. Dengan langkah gontai seperti orang mabuk, ia beringsut ke kamarnya dan melihat Sweilya masih tertidur di sana. Beringsut didekatinya gadis itu.
Tertidur seperti malaikat. Kini ia tahu seperti apa perwujudan frase itu. Ia tak mengerti apa perbedaan malaikat dan bidadari, tapi apa pun itu, pastilah seindah Sweilya yang tertidur dengan wajah damainya dan menguarkan udara menenangkan ke sekitarnya. Tapi siapa pun yang melihat lilitan perban penutup lukanya di balik bentangan selimut itu pastilah tak akan lagi merasa tenang. Addas memeriksanya dan mendapati luka-luka itu belum sedikit pun memulih. Agak mengherankan karena antiseptik andalannya tak bekerja secara semestinya. Tapi setidaknya napas Sweilya telah lebih teratur. Ia hanya butuh istirahat selama beberapa hari.
Tunggu, beberapa hari?
Addas mengerang. Apa artinya ia harus melukis dua kali lipat lebih banyak daripada biasanya karena kini harus menghidupi satu orang lagi selain dirinya?
Setelah berpakaian, dengan langkah berat disambarnya peralatan melukisnya dan bergegas keluar dari penginapannya. Semenjak kakeknya meninggal lima tahun lalu, keadaan menjadi lebih sulit untuknya. Ia terpaksa meninggalkan tempat tinggal mungilnya yang disita oleh para penagih hutang kakeknya dan berkelana tak tentu arah sambil membawa keping-keping uang dan peralatan melukis peninggalan kakeknya.
Berhari-hari hidup tanpa rumah dan mengandalkan kemampuan melukisnya, ia bertemu dengan seorang wanita baik hati yang memiliki penginapan. Addas tak pernah mengemis dan tak pernah menampakkan wajah kesusahannya kepada siapa pun, tapi rupanya wanita itu telah mengerti apa yang pemuda itu perlukan hingga dipersilakannya Addas menempati satu tingkat penginapannya untuk dirinya sendiri dengan harga sewa yang murah.
Tingkat itu memang tak terlalu besar. Hanya ada satu kamar mandi, dua kamar yang disekat papan kayu tipis dan balkon di sudut ruangan, namun untuknya itu lebih dari cukup. Demi menghidupi dirinya sendiri, menjadi pelukis jalanan adalah salah satu yang dapat ia lakukan selain bekerja di pandai besi pada hari-hari tertentu.
Matahari menyambut langkahnya ketika ia keluar untuk menghadapi dunia. Addas menghela napas. “Aku tahu sekarang kau sedang tertawa, kakek.” Dengusnya pada sambil memicingkan mata menatap matahari.

-o0o-

Merasa seperti dibelenggu kegelapan setelah sekian lama, Sweilya mencoba menarik napas. Berat, sesak, menyakitkan. Butuh perjuangan besar untuk mengangkat kelopak matanya agar sinar dapat menyusup melewati korneanya lalu membiarkan lensanya berakomodasi memfokuskan bayangan. Yang sanggup ia lihat hanya penglihatan buram. Badannya terlalu berat untuk dapat digerakkan dan ketika mencoba untuk menoleh, ia menyadari kepalanya sakit bukan main. Keras kepala, dikerahkannya seluruh tenaga ke seluruh lengannya untuk menopang tubuhnya ke posisi duduk. Ketika itulah ia kehilangan keseimbangan dan merasa ada tangan-tangan yang menahan tubuhnya lalu membaringkannya kembali dengan lembut.
“Jangan bergerak dulu.” Suara dingin yang menenangkan itu terdengar di telinganya.
‘Addas?’ Panggilnya, namun tak ada suara yang dapat keluar dari tenggorokannya. Ia memicingkan mata, berusaha memperjelas siluet hitam yang bergerak di sampingnya. Kemudian sebuah kain dingin menyapu keningnya, meresapkan air melewati kulitnya dan membuatnya mendapat ketentraman dari sana.
“Suhu tubuhmu tidak terkendali.” Kata suara itu.
Sweilya diam, menyerahkan diri pada sapuan tangan-tangan tegas namun ramah itu dan kembali tertidur.

-o0o-

“Kenapa aku ada di sini?” adalah kata pertama yang diucapkannya segera setelah tenggorokannya sanggup mengeluarkan suara. Pandangannya masih berbayang, namun cukup untuk dapat mereguk keadaannya sekitarnya.
Addas terbangun, rupanya tertidur dengan kepala terkulai di sisi kasur setelah berhari-hari berusaha menyembuhkan gadis itu. Butuh kerja keras karena ia bukan tabib dan pengetahuannya tentang obat-obatan hanya terbatas pada yang mendiang kakeknya ajarkan.
Ditatapnya gadis itu dengan mata menajam kesal. “Merusuh di pintu balkonku tengah malam dengan tubuh luka-luka dan keadaan kritis lalu pingsan tepat di depanku, menurut mengapa?”
Alis Sweilya bertaut, bingung. Dilihatnya baskom air dengan kain putih lembut tersampir di sisinya dan sekotak penuh botol berisi cairan aneh bergulung-gulung kain perban berserakan di meja samping ranjangnya.
“Sudah berapa lama aku di sini?”
“Lima hari.” Jawab Addas datar.
Sweilya tertegun, menatap dirinya sendiri dan menyadari bahwa selama itu tangan-tangan Addas-lah yang merawatnya. Sedikit terkesima, dipandangnya Addas yang balik menatapnya datar dengan kantung mata menebal, rambut berantakan dan pakaian kusut tak keruan. Ia pasti tidak tidur berhari-hari.
Kemudian Sweilya tersentak dan wajah yang telah pucat itu kini bertambah putih. “Seharusnya aku tidak ke mari…” Gumamnya. Sekuat tenaga ditopangnya tubuh lemah itu dengan kedua lengan yang tak kalah lemah dan berusaha bangkit dari pembaringan hingga membuat pemuda itu kaget bukan kepalang.
“Mau ke mana kau dengan tubuh seperti itu?” Gumamnya dengan nada tajam seorang ayah yang memergoki anak gadisnya pulang terlalu larut di malam sabtu.
“Aku harus pergi!”
“Tetap berbaring di sana.” Perintahnya dengan nada datar namun tekanan yang kuat dan tegas. Sweilya tertegun, hanya sebentar, sebelum dengan keras kepala disibakkannya selimut dan berusaha menurunkan kakinya ke lantai. Namun pijakkanya goyah dan dengan tungkainya masih terlalu lemah untuk berdiri. Dengan sigap Addas menyambarnya dan kembali membaringkannya di tempat semula.
“Bisakah kau berhenti menyusahkanku.” Desahnya.
“Aku sedang mencoba!” Sweilya mengerahkan seluruh tenaga di tenggorokannya untuk membalasnya dengan suara keras.
“Bukan begitu caranya!” Hardik pemuda itu tak sabar. “Aku tidak tahu berapa nyawa bidadari atau kekuatan magis macam apa yang kalian miliki, tapi kalau kau bisa menyembuhkan dirimu sendiri, aku tak akan ambil pusing.”
Sweilya terdiam, dipandangnya telapak tangannya sendiri yang seluruhnya terbebat perban. “Nyawa kami hanya satu, dan kami memiliki kekuatan untuk menyembuhkan.” Dikepalnya tangan itu sambil menggigit bibir getir. “Tapi aku tidak boleh melakukannya…”
Addas menatapnya dengan pandangan bingung, namun tak membuka mulut untuk bertanya. Ditariknya kursi di sudut ruangan diletakkannya terbalik dengan punggung kursi menghadap ke depan tempat kedua lengannya bertumpu. Ditatapnya mata kehijauan Sweilya lurus-lurus.
“Selepas dari kenyataan bahwa kau adalah bidadari, siapa kau sebenarnya?”
Gadis itu membeku, ditatapnya Addas dan mendapati pandangan pemuda itu kepadanya sungguh-sungguh. Haruskah ia menjawabnya? Tidak, ia tak ingin menjawabnya. Tapi pernyataan yang tegas dan tanpa basa-basa itu bukan main-main. Susah payah diteguknya air liur, memilih dengan kalut apa yang harus dikatakan. ”Aku hanya seseorang,” gumamnya pelan, “pemilik sesuatu yang seharusnya tak dimiliki dan pelaku apa yang seharusnya tidak dilakukan.”
Mata Addas memicing. Bukan jawaban yang ia inginkan, tapi tak ada gunanya menuntut lebih. “Siapa yang melukaimu?”
“Diriku sendiri.”
Tanpa dapat ditutupi lagi, pemuda itu menatap Sweilya dengan kening berkerut sejadi-jadinya. Tak tahu apa yang harus dikatakan.
“Kau….”
“Aku seharusnya tidak di sini, tidak di mana pun. Aku tak ingin membahayakan siapa pun, tapi aku tidak tahu ke mana aku harus pergi,”
“Sebetulnya kau ini apa? Mesin pembunuh?”
Sweilya tersenyum pahit. “Semacam itu.”
Addas terdiam, kali ini benar-benar kehabisan kata. Keheningan panjang menjeda pembicaraan mereka. Angin yang menerobos masuk lewat kisi-kisi jendela kamar seakan terdengar begitu keras, namun tak cukup keras untuk memecah keheningan.
“Addas, aku benar-benar harus pergi…” Desah Sweilya pada akhirnya. Sadar tak ada gunanya bersikap keras kepala dan kini mencoba jalan memohon, tetapi hampir tanpa jeda Addas menyahut, “Sudah waktunya makan siang.” Seolah ia tak mendengar perkataan Sweilya sebelumnya.
Ia bangkit, meraih pakaian yang telah terlipat rapi di atas meja kecil di samping ranjang dan menyodorkannya pada Sweilya.
“Sementara aku mengambil makanan, ganti pakaianmu.” Gumamnya datar.
Sweilya melirik dirinya sendiri dan mendapati tubuhnya dibalut gaun putihnya dengan bercak-bercak kecokelatan darah mengering maka dengan gerakan perlahan, Sweilya meraih pakaian di depan hidungnya.
Addas bergegas beranjak dan menoleh untuk terakhir kali sebelum keluar kamar. “Saat aku kembali nanti kau harus tetap ada di sana, mengerti?” Ucapannya terdengar seperti perintah seorang panglima kepada pasukannya. Begitu tegas dan mampu membuat siapa pun yang mendengar menurutinya. Gadis itu tak dapat melakukan apa-apa selain terpaksa mengangguk patuh.

-o0o-

“Milik ibu…”
Gadis kecil itu bergumam sambil memandang cermin bergagang yang digenggamnya. Tak ada yang istimewa dari cermin itu kecuali penampilannya yang cantik, benda itu terlihat seperti cermin biasa. Dipandangnya refleksi dirinya pada cermin itu.
“Ethrelda rindu ibu…” Desahnya pelan. “Ethrelda rindu kakak…”
Pandangannya beralih pada langit yang terhampar luas di atas kepalanya saat matanya mulai berkaca-kaca.
“Ethrelda! Ayah memanggilmu dari tadi, kau tidak dengar?” Sebuah suara menginterupsi lamunan gadis kecil itu. “Sedang apa, manis?”
Ia menoleh dan melihat Hagradian melangkah masuk ke balkon depan kamarnya, tempatnya berdiri saat ini. Mata berkilauan ayahnya menyapanya dengan lembut namun tertegun begitu mendapati gadis kecilnya balik menatap denganpandangan berkaca-kaca.
“Ada apa?” Tanyanya lembut. Diangkatnya gadis kecil itu dan dirangkulnya erat lalu terkesiap ketika menyadari apa yang sedang digenggam Ethrelda.
“Dari mana kau dapatkan ini, Ethrelda?” Suaranya
Ethrelda terdiam, menatap ayahnya dengan kalut. Tak ingin mengingkari janji pada kakaknya namun di sisi lain terdesak dengan ajaran untuk menjawab pertanyaan dengan jujur. Digigitnya bibir erat-erat dengan teguh dan disembunyikannya cermin itu di balik punggung bersayap mungilnya.
“Ethrelda, jawab ayah.”
Ethrelda bergeming.
Kening Hagradian berkerut menatap gadis kecil itu namun tercekat begitu menyadari kemungkinan yang membersit di benaknya.
“Apakah Sweilya ke mari?”
Pertanyaan ayahnya yang tepat sasaran membuat Ethrelda yang malang merasa terpojok. Ia telah diajarkan bahwa berbohong adalah hal yang pantang bagi mereka, bangsa mereka. Namun pemikiran kekanakannya pun dapat mengerti, jika Sweilya sudah memintanya berjanji di hadapan wajah bulan seperti itu artinya hal itu memang harus dilakukan, apa pun alasannya.
Tak didapatinya sepatah kata atau respon pun dari gadis kecil dalam lengannya, namun Hagradian tak perlu bertanya lebih lanjut. Sudah jelas, mata anak kecil tak pernah berbohong. Lensa cemerlang mereka selalu merefleksikan kejujuran, tak peduli sekuat apa pun mereka berusaha menutupinya.
Ia mendesah berat, seolah beban yang hinggap di pundaknya kini beranak-pinak menjadi beban yang lebih banyak lagi. Diturunkannya Ethrelda dan menjejakkan kaki pergi dengan begitu bergegas.
Aula Guardian terasa begitu jauh kini, dan ia tak menyangka akan merasa begitu membutuhkan Ferose seperti saat ini.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

Hmm, pemotongan adegannya dari saat Addas terbangun dan Sweilnya sadar masih sedikit kurang halus. Tadinya kupikir bagian Sewilnya terjaga itu flashback, ternyata fast forward 5 hari.

Spasi antar paragrafnya belum diedit, ya? Juga, sepertinya ada satu kata yang tertinggal.

50

ini situs apaan sih?

90

salam kenal kakak :D