[Three Words Challenge] Hayley E Magicado

Aaaah, bosan, bosan, bosan! Sudah tiga hari kerjaku hanya mengurung diri di kamar. Tugas-tugas memuakkan dari guru di sekolahku benar-benar sulit dan juga menguras waktu. Sekalipun liburan musim dingin sudah dimulai, tetap saja aku belum bisa bersantai-santai bermain ke luar rumah. Sial, padahal di luar hujan salju begitu indah.

Aku menatap buku tulisku yang baru berisikan jawaban untuk tiga puluh tujuh pertanyaan dasar, sedangkan masih ada enam puluh tiga pertanyaan sulit yang menanti untuk kujawab. Kujawab sekarang, atau nanti saja? Aaaaah, aku tak bisa berpikir, aku terlalu bosan! Baiklah, aku putuskan untuk keluar rumah. Malam ini saja. Aku ingin merasakan salju yang membasahi kepalaku. Mungkin akan memberi sedikit kesegaran pada pikiranku? Siapa yang tahu.

Aku segera beranjak dari kursi belajarku dan mengambil ponsel yang tergeletak di atas kasur. Sebelum aku mengambil mantel tebalku, mendadak pikiran tentang seorang gadis di sekolahku, Hayley, berkelebat di dalam kepalaku. Apa aku menghubunginya saja, ya? Maukah kamu menemaniku berjalan-jalan malam ini, saljunya lumayan lebat? Ah, tidak, tidak! Dia pasti akan langsung menolakku. Lagipula menghubunginya untuk mengajak keluar malam-malam begini apakah bukan kencan namanya?

Tanpa sadar jemariku mengetik sebuah pesan singkat.

Dear Hayley, cukup membosankan di dalam rumah. Hujan salju malam ini tidak selebat kemarin, dan aku memutuskan untuk keluar rumah demi penyegaran. Err, maukah kamu menemaniku?

Aku menekan tombol “send” sebelum aku menyadari apa yang telah kulakukan. Gawat! Aku sudah mengirimnya! Sial, gaya bahasanya kenapa mendadak resmi begini? Sial, sial, sial! Kalau begini mustahil Hayley akan membalas pesannya. Bagaimana ini, bagaimana ini?

Aku menggaruk-garuk kepala dengan kesal.

Mendadak ponselku berbunyi. Sebuah pesan singkat telah sampai kepadaku.

Hayley? Mustahil, masa iya dia mau membalasnya? Aku segera memeriksa kembali pesan masuk dan ternyata memang benar itu pesan balasan dari Hayley.

Ayo saja, sebentar lagi aku pulang ke rumah, tunggu aku di taman kota, ya! :D

Hayley membalas ajakanku dan dia setuju! Betapa kagetnya aku membaca pernyataan Hayley. Rasanya jantungku seperti melesak jatuh sampai ke perut. Benar-benar perasaan yang aneh. Baiklah, aku berangkat sekarang!

Aku berlari menuju tiang gantungan baju dan mengambil mantel tebal. Kukenakan dengan cepat dan sambil berlari menuju pintu keluar di rumah.

“Kau mau ke mana malam-malam begini, Richie?” ibuku mendapatkan diriku berlari-lari menuruni tangga.

“Ah, ada sedikit urusan, Bu. Tenang saja, tidak akan lama, aku akan kembali sebelum jam sebelas malam.”

“Hmm…” ibuku menatap dengan pandangan menyelidik, “baiklah, hati-hati, jalanan di luar sangat licin.”

“Baik, Bu!” aku tersenyum dan berlari menyambar pintu keluar. Kutarik daun pintunya dan tiba-tiba saja udara dingin menyeruak ke seluruh tubuhku. Benar-benar segar rasanya. Akhirnya, aku bisa merasakan salju ini. Butiran-butiran salju kecil jatuh membasahi kepala dan pipiku. Sensasi dingin dan hangat setelahnya menyejukkan jiwaku. Kurogoh saku mantelku dan mengambil sepasang sarung tangan bulu.

Oh ya, sebaiknya aku segera ke taman dan membeli minuman untukku dan juga Hayley. Ya, dia pasti akan senang. Baiklah! Berangkaaaaatt!!

Aku berlari menyusuri trotoar di pinggir jalan. Salju tebal mulai menutupi batas antara trotoar dengan jalan raya di sebelahnya. Aku harus hati-hati mengatur langkah agar tidak tergelincir. Setidaknya, aku tidak perlu mengkhawatirkan kendaraan yang berlalu-lalang, karena malam ini benar-benar sangat sepi. Eh, sebentar, apakah aku melihat orang-orang yang berlalu-lalang dari tadi? Aneh, sepertinya aku benar-benar sendirian di jalanan. Bahkan tak ada seekor kucing pun yang berkeliaran.

Aku menatap ke lampu jalan yang ada di atasku. Lampu itu menyala dengan baik dan sangat terang. Aku melompat ke jalan raya dan menatap ke sekelilingku. Rumah-rumah yang ada di sekitar jalan pun terlihat sangat hening. Tak ada sedikitpun suara yang terdengar olehku. Apa mungkin semua penghuni di kota ini sudah tertidur? Kurasa belum, ini baru jam sembilan malam.

Mendadak semua lampu jalan yang ada di sekitarku berkerlap-kerlip seperti mengalami korslet.

Mengagetkan saja. Apa yang terjadi?

Sebuah udara aneh yang bertiup dengan lembut di belakangku mengelus bulu kudukku. Perasaan macam apa ini? Kenapa mendadak jadi seperti ini? Lampu-lampu jalan berkerlap-kerlip dengan lebih cepat hingga akhirnya mati. Mati total. Aku berdiri di tengah-tengah kegelapan, seorang diri.

Aku mulai bernafas dengan cepat. Kurasakan detak jantungku yang berdegup lebih cepat. Ya, aku tegang! Tentu saja aku tegang melihat keadaan seperti ini. Aku butuh secercah cahaya.

Aku segera merogoh saku mantelku dan mengambil ponsel. Kutekan sembarang tombol dan kuacungkan layar ponselku ke atas, mencoba menerangi sedikit saja jalan yang ada di hadapanku. Sebuah suara yang sangat halus terdengar dari kejauhan. Seperti angin yang berhembus, namun lebih konsisten. Perlahan-lahan suara itu semakin mendekat.

Aku menoleh ke arah kanan dan yang kutemukan hanyalah kegelapan. Tak ada tanda-tanda kehadiran seseorang atau apa pun itu. Semoga saja bukan hantu.

Bunyi angin tersebut semakin mendekat. Aku menelan ludahku. Kuarahkan sinar ponselku menuju sumber suara. Aku menantikan segala sesuatu yang mungkin saja muncul di hadapanku tak lama lagi.

Ayo, keluarlah!

Mendadak segaris sinar berkelebat dari arah kiri dengan sangat cepat. Refleks aku mengikuti arah sinar itu hingga kurasakan sebuah efek slow motion ketika cahaya itu tepat melesat di hadapanku.

Aku bisa melihatnya, seorang perempuan yang memakai gaun tebal aneh dengan sebuah topi di kepalanya sedang terduduk di atas benda yang terlihat seperti tongkat. Tongkat itu melayang, tongkat itulah yang melesat cepat membawa perempuan yang duduk di atasnya. Penyihir? Bukan! Tidak ada penyihir di dunia ini! Tapi, bila memperhatikannya dengan baik?

Aku melihat tatapan kaget perempuan itu sebelum akhirnya sosok tersebut melesat jauh meninggalkan tempatku berada. Sejenak jantungku terasa seperti berhenti berdetak. Bukan karena rasa takut karena melihat keanehan yang baru saja terjadi, tapi karena tatapan mata perempuan itu, tatapan mata yang dari seorang perempuan yang selama ini kukenal. Hayley.

“Hayley!” aku berteriak memanggilnya. Namun, kelebatan cahaya sudah benar-benar menghilang dari jangkauan pandanganku. Mendadak lampu-lampu jalan di sekitarku kembali menyala dengan baik. Aku berusaha menutupi sebagian mataku karena silau yang menderu.

Ponsel di tanganku bergetar. Sebuah pesan singkat muncul dan dengan segera aku membacanya.

Richie, jangan di jalanan! Kembalilah sekarang! Kita undur kencan kita besok, oke?

He? Apa maksudnya? Hayley menyuruhku untuk kembali setelah aku berhasil sampai di sini? Tidak, tidak mau!

Kau di mana? Aku tadi melihat seseorang yang mirip dengan dirimu melintas di hadapanku. Kuharap kau baik-baik saja.

Cukup lama Hayley tidak membalas kembali pesan yang kukirimkan tersebut. Aku pun memutuskan untuk melanjutkan perjalananku hingga taman kota. Berharap Hayley menyadari bahwa aku menunggunya di sana.

Ponselku kembali bergetar.

Aku masih ada sedikit urusan. Lebih baik kau pulang saja ya.

Aku mencibir dan kemudian menghela napas.

Tidak mau, aku akan tetap menunggumu di taman kota, sekarang.

Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam mantel dan melanjutkan perjalanan hingga ke taman kota. Berbeda dari biasanya, taman kota yang selalu terlihat ramai kini terlihat sepi. Tak ada seorang pun yang sedang menghabiskan waktunya bersama teman-temannya di sana. Kosong.

Aku menghampiri sebuah mesin minuman tidak jauh dari sana dan mengambil beberapa koin untuk membeli dua kaleng minuman soda. Kurasa Hayley akan menyukai Orange Splash Soda. Sekejap kemudian dua buah kaleng minuman keluar dari dalam mesin. Kuambil dan kemudian berjalan perlahan meninggalkan tempat itu menuju kursi taman yang terbuat dari kayu.

Belum sempat aku duduk, mendadak sebuah cahaya melesat dengan cepat dan menabrak mesin minuman hingga menimbulkan bunyi berdebam yang sangat keras. Hampir saja aku melemparkan minuman kaleng yang ada di kedua tanganku.

Aku berlari kembali menuju mesin minuman untuk melihat penyebab benturan keras itu. Kulihat sepasang kaki semampai seorang perempuan di balik mesin minuman yang hancur itu. Kuperhatikan baju yang dikenakannya, sangat mirip dengan perempuan yang berada di atas tongkat terbang itu. Lalu kupandangi wajahnya yang terluka parah. Oh tidak, tidak mungkin!

“Hayley!” aku segera mengangkat tubuh Hayley yang terluka dan memeluknya, “kau kenapa, Hayley?”

“Ri-Richie bodoh!”

“Hayley! Bagaimana kau bisa begini? Jadi, benar yang kulihat itu adalah kau…” aku memeluk Hayley dengan erat. Rasa kesal menyelimutiku terhadap apa pun yang tega melukai Hayley hingga seperti itu.

“Ja-jangan, Richie… Kau pergilah… A-aku memaksakan diri kemari untuk memaksamu… pulang…”

“Tidak akan! Mana bisa aku meninggalkanmu sendirian seperti ini?”

“Ti-tidak apa-apa… aku sudah biasa mengalami ini?”

“Sudah biasa katamu? Mana bisa aku percaya padamu?”

“Pergilah, Richie… Di-dia sudah dekat…”

“Dia? Siapa? Aku akan melindungimu, Hayley, kau tenang saja. Katakan di mana dia!”

“Tidak… tidak… kau tidak bisa melawannya…”

“Kenapa? Kenapa aku tidak bisa melawannya? Memangnya dia bukan manusia, hah?”

“Benar… Dia bukan manusia… di-dia bukan berasal dari dunia… ini, Ri-Richie…”

“Eh? Kau bercanda?”

“Ti-tidak… aku… aku adalah Magicado, salah satu orang yang… bertugas menjaga keseimbangan antara bumi dengan makhluk-makhluk lain yang mencoba menginvasinya…”

“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, Hayley! Jadi, apa yang baru saja menyerangmu?”

Hayley terbatuk karena tersedak oleh darahnya sendiri. “Di-dia disebut sebagai… Haterelic… makhluk yang… memangsa manusia…”

“Me-memangsa manusia? Ja-jangan bilang kalau alasan sepinya mala mini karena makhluk itu memakan mereka?”

“Be-begitulah… Tapi, masih ada kemungkinan di selamatkan… ka-kalau saja aku bisa membunuh Haterelic itu…”

“Ta-ta-tapi kondisimu?” Aku mulai panik. Kulihat darah yang mengalir semakin banyak dari tubuh Hayley. Sial, apa yang harus kulakukan dalam keadaan seperti ini? Sudah tentu aku tidak bisa meninggalkan Hayley begitu saja, aku harus melindunginya. “Hayley, bertahanlah… aku akan mengalahkan Haterelic itu.”

Ya, bukan saatnya bagiku untuk gemetar ketakutan. Nyawa Hayley lebih berarti, begitu juga dengan nyawa orang-orang di kota ini. “Katakan padaku bagaimana cara mengalahkannya, Hayley…”

Sebuah suara menggeram keras terdengar dari salah satu sudut gelap kota. Seperti apa pun bentuknya, Haterelic itu sudah sangat dekat dari tempat ini.

“Kau… jangan membahayakan… dirimu sendiri… Richie…”

“SUDAH CEPAT KATAKAN!”

Aku merasakan kebingungan Hayley, kurasa dia memang tidak bisa mempercayaiku dalam menangani masalah ini.

“To... tongkat Magica… tongkat itu mengandung kekuatan yang bisa… kau gunakan untuk melukai… Haterelic…”

Aku segera mencari-cari tongkat yang dimaksud Hayley. Ah, ini dia. Tidak seperti dugaanku, ternyata tongkat itu jauh lebih berat daripada kelihatannya.

“Richie… k-kau yakin? K-kau bisa pergi kapan saja…”

“Tentu saja aku yakin… sudah seperti ini, tidak mungkin kan aku kabur meninggalkanmu?”

Aku menggenggam tongkat Magica seperti menggenggam tongkat pemukul baseball. Aku siap! Aku siap menghajar siapa pun yang hendak menyerang Hayley.

“GROOOAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRR!!!”

Ugh, suaranya benar-benar memekikkan telinga. Tiba-tiba kurasakan sebuah hantaman keras yang mendarat di perut dan membuatku terpental hingga menabrak batang pohon.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaargh!”

“Ri-Richie!” Hayley meneriakkan namaku. Sial, aku tidak bisa begini. Aku harus melakukan sesuatu.

Aku memaksakan diri berlari menerjang sesuatu yang tak terlihat itu. Aku berdiri di depan Hayley yang terbaring dan dengan kekuatan penuh, aku mengayunkan tongkat Magica di tanganku menghantam kekosongan yang ada di hadapanku.

Sebuah bunyi pukulan keras terdengar.

Eh? Aku mengenainya! Aku mengenai makhluk itu!

“A-awas Richie… Di belakangmu!”

“Eh?” aku kembali menerima sebuah serangan telak tepat di bagian sisi kanan tubuhku. Aku kembali terpental dan terjatuh di atas jalan yang licin. Aku terbatuk dan mengeluarkan secercah darah dari mulutku.

Bagaimana caraku mengalahkannya? Bahkan aku tak bisa melihat sosoknya.

“Hayley! Apakah semua Haterelic tidak bisa dilihat begini?”

“Ti-tidak, setiap Haterelic memiliki… kekuatan… yang berbeda-beda…”

“Oh, kalau begitu aku sedang tidak beruntung sepertinya…” ujarku. Aku segera bangkit dan mengacungkan tongkat Magica ke depan. Aku berusaha menemukan titik kelemahan dari makhluk aneh itu.

Salju turun semakin deras. Tapi ada area yang sama sekali tidak tersentuh oleh salju yang jatuh. Salju yang terjatuh mendadak terhenti dan menghilang pada ketinggian tiga meter di area itu. Beberapa tumpukan salju juga terlihat menumpuk di udara. Aneh.

“RICHIE!”

Aku tahu! Aku tahu! Itu kelemahannya!

Sosok itu berlari dan menerjang cepat ke arahku. Aku bersiap untuk mengayunkan tongkat Magica di tanganku. Aku tidak bisa mundur lagi. Aku akan menyelamatkan Hayley. Itu pasti.

“RICHIE! AWAAAAAAAAASS!!”

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrgghh!!!”

Si-sialan… apa memang tidak bisa? Aku terjatuh tak jauh dari tempat Hayley terbaring. Kulihat Hayley sudah kehilangan banyak darah. Dia akan bertahan. Aku yakin.

Hayley kehilangan kesadarannya.

Aku berusaha untuk bisa kembali bangkit. Makhluk itu sudah kembali melompat ke angkasa dan bersiap menerjangku. Habis…. Habislah aku…

***

Read previous post:  
9
points
(1313 words) posted by field.cat 9 years 4 weeks ago
45
Tags: Cerita | Cerita Pendek | cinta | drama | romance | Tragedy | TWC-Field Cat
Read next post:  
80

^^

Mesti baca ulang

Setuju ma yang dikatakan Lenee

pas awal sih aul udah nyaman bacanya, makin kebawah makin berasa kesan 'terburu-buru' & tokohnya aul jga kurang bisa menjiwai.

Tapi untuk nulis 47 menit dgn hasil spt ini... Aul bener2 salut!

Dua jempol untuk om glen d@@b

Ayo tulis hal yang sama dengan 47 menit! :D
.
Hmm, setuju sih sama penghilangan imbuhan -ku itu, tapi kalo sampe semuanya dihilangin juga rasanya malah bakalan makin kaku dan ada kesan kalimat yg mengawang-awang... :D
.
Humm, pasti efek nulis cepet nih... >.<
Belom sempet revisi, dan ternyata tulisan saya banyak errornya yak kalo nulisnya spontan and instant... ffufufu~