0.5 AU

Perjalanan dari bumi ke mars membutuhkan waktu sekitar lima sampai delapan bulan, tergantung pada jadwal keberangkatan yang secara tidak langsung juga menentukan di mana posisi kedua planet saat itu. Tapi itu sudah termasuk cepat dibandingkan beberapa abad yang lalu saat proyek kolonialisasi mars baru saja dimulai dan setidaknya saat ini kondisi di sana juga sudah jauh lebih baik meski tetap sama buruknya dengan tempat-tempat lain yang ditinggali manusia.

Dan sama seperti di masa lalu, sekali seseorang menjejakkan kakinya di Mars, dengan beragam alasan, akan sulit baginya untuk kembali lagi ke Bumi. Pun demikian, dengan beragam alasan pula orang-orang berlomba-lomba pergi meninggalkan bumi.

***

"Melamun lagi bung?"

Edward mengangkat kepalanya lalu tersenyum. "Tertidur," jawabnya, "dengan mata terbuka."

"Tch, tch, tch, Kau masih terlalu muda untuk kehilangan harapan, Nak. Berapa usiamu? tiga lima? empat puluh?"

Edward mengangkat bahu. Sang lelaki tua terkekeh lalu duduk di sampingnya.

"Sudah tiga hari aku melihatmu. Kau datang pagi-pagi sekali, lalu pergi sebelum petang. Kau tak bekerja?"

Lagi-lagi Edward mengangkat bahu. Sang lelaki tua sepintas melirik bokong Edward lalu menyeringai(1).

"Dari bumi eh? itu menjelaskan banyak hal. Sangat-sangat klasik, kerinduan, nostalgia, ironi, apa yang membuatmu ingin kembali ke sana?"

"Aku hanya ingin..." Edward menatap hologram raksasa di tengah ruangan, yang menampilkan citra bumi seperti yang tertangkap oleh beberapa satelit observasi. Sesekali citra tersebut berkedip, bergetar, menyesuaikan diri dengan data baru yang diterima.

"Aku hanya ingin pulang," katanya, "itu saja."

"Terdengar seperti melarikan diri untukku," kembali sang lelaki tua terkekeh, "Coba lihat sekelilingmu nak..."

"Tempat ini tak pernah ramai; Kecuali pada hari libur saat para orang tua mengajak anak-anaknya melihat planet tempat mereka dilahirkan, atau pada akhir pekan, malam hari, saat pasangan muda-mudi mencari tempat yang romantis untuk kencan konyol mereka."

"Tapi kau kemari setiap hari bukan?"

Kali ini giliran sang lelaki tua mengangkat bahu, "Begitu juga mereka, Si Tua Jenkins (83 tahun), Janda Wilson (74 tahun), Tuan dan Nyonya Arthur (77 dan 66 tahun), juga yang lainnya. Tapi itu hal yang wajar, karena mereka sudah tua. Dan kebanyakan orang tua, kalau kau mau tahu, hidup di masa lalu, tenggalam dalam kenangan yang mereka miliki, yang seringkali tak lebih dari ilusi yang mereka ciptakan sendiri... Tapi kau masih muda."

"Bagaimana dengan orang yang duduk di pojok itu? Mengapa kau tak berbicara dengannya?"

"Maksudmu Angus eh?" Sang lelaki tua menghela napas, "Aku khawatir sudah terlambat untuknya..."

"Kukira kau akan mengatakan 'Selalu ada harapan selama seseorang masih hidup'"

"Yep dan kau akan terkejut mengetahui betapa banyak orang yang mati sebelum ajalnya tiba."

"Apa yang terjadi padanya?"

"Cinta dan pengkhianatan... Hal yang bisa terjadi pada siapa saja. Klasik sebenarnya."

"Kurasa aku bisa sedikit mengerti perasaannya..." gumam Edward.

"Karena hal yang mirip juga terjadi padamu eh?"

Wajah Edward seketika memerah, "I-itu bukan urusanmu."

"Tentu saja bukan. Tapi bukankah tidak manusiawi, jika kita diam saja saat melihat seseorang berjalan dalam kesendiriannya menuju jurang keputusasaan?"

"..."

Sang lelaki terkekeh, "Aku hanya bercanda. Tentu saja hal semacam itu manusiawi. Paling-paling yang bisa kita lakukan hanya berteriak dari kejauhan, atau mengulurkan tangan jika kita kebetulan berada dekat dengan orang itu, tapi pada akhirnya toh semuanya kembali pada orang itu sendiri."

Edward melirik jam tangannya. Sudah saatnya ia pergi.

Sang lelaki tua, tampaknya menyadari hal itu, berdiri lalu membersihkan debu yang menempel di celananya.

"Aku hanya ingin pulang," keluh Edward lalu ikut berdiri.

"Tak ada yang melarangmu pulang," kata sang lelaki tua, "tapi kalau aku jadi kau, aku akan lebih memilih pulang dengan kepala tegak dan senyum penuh kebanggan daripada melarikan diri dengan kepala tertunduk muram terbebani kesedihan."

"Mudah untukmu mengatakannya, Pak Tua"

"Itu karena aku sudah tua, Nak."

Edward tertawa. "Tiga tujuh," katanya.

"Heh?"

"Umurku."

Sang lelaki tua mengangkat alis, "sejujurnya Wajahmu kelihatan lebih tua."

"Oh ya? bagaimana denganmu sendri Pak Tua? Tujuh puluh? Delapan puluh?"

"Aku terlihat semuda itu eh?" jawabnya sambil terkekeh.

***

(1) Cara termudah mengetahui apakah seseorang lahir di Bumi atau di Mars adalah dengan melihat apakah yang bersangkutan memiliki ekor atau tidak. Konon, gaya gravitasi Mars yang lebih rendah dari Bumi  mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungan terutama pada ruas tulang belakang yang menyebabkan orang-orang yang lahir di Mars pada umumnya lebih tinggi dari mereka yang lahir di Bumi dan memiliki ekor... tentu saja hal ini sama sekali tak ada kaitannya dengan teori evolusi.

***

Post Script:

Niat awalnya membuat semacam slice of life dengan sedikit bumbu-bumbu SF(science fiction), hmm tapi kurasa settingnya belum banyak tereksplor... Ya sudahlah...

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer sempena
sempena at 0.5 AU (9 years 49 weeks ago)
80

i like this, mudah - mudah aq juga bisa menulis dialog2 segar gitu :)

Writer neysa
neysa at 0.5 AU (9 years 50 weeks ago)
70

Ih menurut aku sih keren =) hahah aku suka sama Science fiction apalagi film-filmnya :) dan aku juga pengen banget buat bisa nulis cerpen model SF hahah

Writer anggra_t
anggra_t at 0.5 AU (9 years 50 weeks ago)
100

dari dialog saja, aku lumayan bisa bayangkan settingnya. Walau emang kurang keeksplor sih. Tapi untuk ukuran flash fiction, good job.

Nilai 8/10

Writer Luca
Luca at 0.5 AU (9 years 50 weeks ago)
50

menarik.. tentang dunia luar bumi gitu..
ayo lanjutkan XD