Membebaskan Kunang-Kunang

Bagiku hari-hari menangkap kunang-kunang adalah hari-hari cinta.

Hari-hari di mana kita duduk di atas rerumputan hijau yang dipenuhi bunga dan rumput liar di tepi sungai, setiap malam yang cerah – malam Sintang yang bahagia. Hari-hari di mana aku akan menyelinap keluar, setelah jam kecil di sampingku berdetak-detak tak sabar dan merangkak ke jam sembilan. Aku akan menutup pintu kayu reyot itu, keluar dari kamar pengapku di rumah renta yang meneriakkan sepi dari setiap sisi bata merah yang membentuknya. Aku berlari ke tempat pertemuan kita di tepi kali itu, setiap malam.

Tahukah kau betapa bahagianya aku ketika melihat siluet punggungmu di sana? Lebih bahagia daripada mendengar kerincing bel sepeda baruku, yang dibeli dari toko loak di kota. Lebih bahagia daripada mencium bau masakan Ibu, lebih senang daripada bermain di bawah guyuran hujan, lebih bahagia dari memetik ilalang sambil mendendangkan lagu, lebih bahagia dari apapun juga.

Kau selalu tersenyum kala mendengar jinjit langkahku, dan nafasku yang terengah-engah. Kau tertawa ketika aku merengut saat kau bilang aku terlambat datang, dan kita berdua akan berbaring di atas padang rumput, dengan satu tanganmu di bawah kepalaku untuk mengalasinya.

Kita berdua memandangi langit biru gelap yang kian terang dengan semburat cahaya bulan sabit, ditemani bintang-bintang dan planet-planet yang kelihatan seperti debu dari jarak pandang kita. Kau akan selalu memulai dengan, “Malam yang indah.” Ya, aku akan selalu setuju, mengganggukan kepala dengan antuasiasme yang berlebihan. Namun hanya kau yang paham akan diriku.

Kunang-kunang kecil yang berseliweran dengan sayap-sayapnya yang bercahaya, bagaikan diamante yang ditempel pada kain beledu. Kunang-kunang malam bersahut-sahutan dengan jangkrik dan burung hantu. Kau akan menangkap satu kunang-kunang dalam telapak tanganmu dan menyerahkannya kepadaku.

“Bolehkah kusimpan dalam botol?” Aku bertanya kepadamu setiap malam. Malam ini aku khusus membawa botol kecil dalam sakuku, untuk menangkap kunang-kunang.

“Tidak boleh,” jawabmu tegas, tetapi ekspresi wajahmu melunak begitu melihat aku cemberut. “Kunang-kunang yang terperangkap dalam botol tanpa udara akan mati.”

Aku masih bersikukuh. Inilah sifatku sejak dulu. Hanya kau yang mampu mengerti. “Aku akan memberinya makan dan udara. Kunang-kunang akan hidup.”

“Kunang-kunang harus hidup bebas,” kau membantahku lagi. Aku benci kamu. Kita berdua terdiam dalam kegelapan malam. Botol kaca yang terbuka, kunang-kunang yang berterbangan bebas, dingin yang menggigit, aku dan kamu, sahabat umur tiga belas tahun. Lalu, kamu menggenggam tanganku. Begitu sampai subuh. Lalu aku tidak pernah melihatmu lagi.

**

Sekarang belasan tahun telah berlalu. Aku tersenyum kepadamu dari tempat berdiriku di ujung ruangan. Kau berdiri gagah dalam setelan jas, pandanganmu tidak lepas dari diriku barang sedetik pun. Inilah saat pertama aku melihatmu lagi setelah malam itu. Kau telah pindah ke Jakarta, dan hari ini kita harus bertemu lagi.

Apa yang berubah dari dirimu? Matamu masih sama, gelap dengan sorotan tegas. Senyummu masih sama, lembut dan membuat hatiku tergerak.

Aku masih memandangimu hingga seorang wanita cantik menyentuh kerah kemeja putihmu, membetulkan dasimu, dan tersenyum mengecup pipimu. Aku pun menunduk, membiarkan suamiku menarik tanganku untuk duduk. Aku malu tertangkap sedang memperhatikanmu. Aku malu karena rona merah wajahku tertangkap oleh wanita itu, dan isi hatiku terbaca jelas oleh dia yang telah meninggalkan aku.

“Ayo sayang, pesta pernikahannya akan dimulai.”

Aku mengangguk pelan. Aku sudah mengerti sekarang. Aku akan membebaskanmu, seperti malam terakhir kita. Karena bagimu, membebaskan kunang-kunang adalah hari-hari cinta. Maka aku juga akan menganggapnya begitu.

**

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer niska
niska at Membebaskan Kunang-Kunang (14 years 18 weeks ago)
90

hiks... menyentuh...

betul komen vivaldi, hawa negeri kulit orang putih terasa, tapi yang jelas, cerpen ini indah

Writer FrenZy
FrenZy at Membebaskan Kunang-Kunang (14 years 19 weeks ago)

Thanks ya buat komennya.. kayaknya gaya tulisanku slalu brubah2 dehhh hehehehe emang bgitu adanya. Hmmm anyway aku mau blg ke witch, aku lom sempet nulis untuk Pink or Black lg, lagipula lom ada ide baru. Feel free to resume first, OK? :) thanks buat saran kritik jg.
Vivaldi, malam Sintang maksudnya Sintang itu nama kampung di Kalimantan.. Beledu itu kain velvet.. beludru gt? trus Diamante itu berlian2 kecil yang biasa dijadiin hiasan di baju. Hehehehe.

Writer w1tch
w1tch at Membebaskan Kunang-Kunang (14 years 19 weeks ago)
70

V1vald1 komennya panjang aaamat yak? Detail banget tuh orang, sumpah deh...jadi ngeliput semua komen yang bakalan muncul belakangan!Bahasa Indonesianya cepet banget improve, Zy, banyak baca ya? Semua yang objektif udah ada di situ tuh... (V1vald1's), but personally--terus terang aja gw bakal bilang ni cerpen INDAH DAN MENYAKITKAN (hiks..., kata KUNANG-KUNANG itu perumpamaan sesuatu yang terus bercahaya, walaupun kecil, tapi terus bercahaya, terus, sampai dia mati kan?--duh, sedihnya) Take this as a compliment, OK. Kamu emang NYENTUH kok....

Writer splinters
splinters at Membebaskan Kunang-Kunang (14 years 19 weeks ago)
90

Hi, dear, seperti biasa ... aku jatuh cinta sama tulisan-tulisanmu. Untuk yang satu ini aku harus setuju sama vivaldi mengenai kebingungan singkat antara si aku, suami, pengantin, dan lainnya ... tapi i just love this one as much as I love the rest of your stories!

Writer KD
KD at Membebaskan Kunang-Kunang (14 years 19 weeks ago)
100

Kalo malam kan, rumput tidak lagi nampak hijau. Sedikit tidak logis.

Writer heripurwoko
heripurwoko at Membebaskan Kunang-Kunang (14 years 19 weeks ago)
70

Bila aku jatuh cinta... aku melihat tulisanmu yang penuh dengan 'rasa'. Salahkah jika aku benar-benar jatuh cinta?

Writer v1vald1
v1vald1 at Membebaskan Kunang-Kunang (14 years 19 weeks ago)
80

Malam Sintang itu apa Frenzy?
Diamante apa Frenz?
Kain beledu apa lagi tuh Fren?
wah byk tambahan vocab gw nih!:D)
---
Kali ini gw menikmati indahnya dirimu melantunkan lagu dalam tulisanmu. Bener deh! (Moga2 gak ada hubungannya dengan keakraban kita di forum)
---
Dan gak tau kenapa, setiap baca tulisan kamu gw mencium bau "luar negeri"nya (negeri orang kulit putih tepatnya). Seolah kau sedang bawa kami -pembaca- berkelana ke negeri di luar wilayah nusantara. Gw gak heran, kalo kamu ngaku, kamu banyak terinspirasi dari tulisan2 penulis luar.
Emang, ada beberapa yang membedakan dari penulis luar yang terbiasa berkelana keliling dunia ketika membuat tulisannya dengan sastrawan lokal yang tulisannya bernafaskan kental budaya rakyat. Mungkin juga begini. Penulis2 di negeri non kulit putih, terbiasa berkutat pada penderitaan, kemiskinan, penindasan, sehingga meski pengelanaan telah dilakukan -Nawal el Sadawy- gw ambil sebagai contoh, tetap saja tidak bisa menanggalkan rasa geram menahunnya terhadap unsur2 itu yang kental ia kumandangkan untuk dibela di novel2nya. Kita yang hidup di negera ke-3, tidak kenal kedamaian yang spt ini(spt situasi yang kau gambarkan di tulisanmu). Yang kita tahu di desa2 pun, meski pegunungan menaungi, air terjun melukis diri, sawah-sawah menghampar rapi, tetap yang diocehkan sehari2 hanya kelaparan. Anak2 hilang lugunya, ibu2 hilang sentosanya, bapak2 hilang bijaknya. Suara semua cuma satu: kami lapar! Kami sengsara!
(tapi ini bukan berarti situasi kayak begini -di tulisanmu- gak eksis ya. Gw cuma mo ngeliatin alasan kenapa penulis lokal kental dengan unsur2 tulisan yang membumi spt itu)
--
Membaca tulisan spt punyamu, menyejukkan sekali. Kita dibawa pada dongeng indah membayangkan rerumputan dan kunang2. Pada bersinarnya malam oleh bintang gemintang. Yep. Kita jadi tertidur nyenyak dengan impian seperti ini.
---
TETAPI
---
Ada yang gw mo komen.
Di akhir bagian satu. Kamu men-cut perbincangan, langsung mengarah pada perpisahan, sptnya tergesa2.
"Begitu sampai subuh. Lalu aku tidak pernah melihatmu lagi."
Mungkin, akan lebih baik kalo kamu tidak ingin menambahinya, setidaknya 2 kalimat itu pun terpisah.
**
Lalu, di bagian berikutnya. Setelah 2 kali aku baca pun, aku tetap tdk menangkap suasana jelasnya. Sedang apa si "aku". Dari posisi mana dia melihat pria cintanya.
Maksud gw begini. Kamu menulis:
"Aku tersenyum kepadamu dari tempat berdiriku di ujung ruangan"--> di sini yang tergambar olehku, posisi "aku" berjauhan dari pria itu. Tetapi di paragraf berikutnya:
"Aku malu karena rona merah wajahku tertangkap oleh wanita itu"--> di sini seolah jarak itu cukup dekat, sehingga rona "aku" dengan mudah tertangkap oleh wanita yang berdiri di samping pria itu.
**
Lalu yang ini:
"Aku pun menunduk, membiarkan suamiku menarik tanganku untuk duduk"--> yang terbayang, si "aku" sedang berada di pelaminan sebagai pengantin. Bukan ternyata. Setelah kubaca lagi, baru aku ngeh kalo yang dimaksud prianya lah yang menikah.
Seperti yang kemudian kamu gambarkan:
"Ayo sayang, pesta pernikahannya akan dimulai." Cuma lagi2 aku gak nangkep situasinya. Jadi si "aku" tiba di pesta pernikahan "pria itu", duduk; tuk kemudian ditarik suaminya karena pestanya baru akan mulai? Seperti apa situasi yang ingin kau gambarkan sebenarnya Frenzy?

---------------------------
btw, tulisan dengan "bahasa" mu improving euy! hebat!