Pertemuan Tengah Malam

Aku melihat jam ditangan kiriku waktu sudah menunjukkan tiga puluh menit sebelum tengah malam. Aku celingukkan, sepi padahal biasanya di gang ini banyak tukang ojek yang mangkal.

"Ugh..! Kalau lagi dibutuhin aja pada gak ada satu ekorpun yang mangkal. Terpaksa deh jalan", kata hatiku sambil mempercepat langkah kakiku ini.

"Kok cuma aku sendiri? Biasanya didaerah ini banyak orang yang lalu lalang sampai diatas jam satu-an. Ada apaan ya kok bisa jadi sepi begini. Warung Bang Sabri juga dah tutup padahal biasanya dua puluh empat jam warungnya buka. Ini kampung apa kuburan sih?" kata bathinku sambil bergidik.

Aku masih terus jelalatan siapa tahu ada tukang ojek yang datang. Tapi sepertinya harapanku lenyap seketika, sudah lima menit berlalu aku tak mendengar suara motorpun yang melintas.

"Aduh, gelap banget. Seharusnya dulu Ibu mau menyicil BTN seperti yang dianjurkan bapak kan enak. Katanya hidup di jakarta tapi kenapa masih dikampung juga, mana sepi banget lagi."
Aku masih saja berkomat-kamit dalam hati. Aku melirik kesana kemari samar-samar rerumpunan pohon bambu membuat bulu tengkukku meremang. Suaranya seperti menangis pada Sang kelam.

Dingin makin menjerat malam dengan ditemani suara Sang burung malam yang bersahutan dengan suara lolongan anjing yang entah darimana asalnya.
Aku makin mempercepat langkah kakiku mungkin hampir seperti berlari.

Nafasku mulai senin kemis, ternyata tanpa sadar dari tadi aku berlari. Aku hentikan pelarianku untuk sementara sampai nafasku agak teratur kembali.

Krosak..krosak..krosak..

Aku menoleh kearah rerimbunan pohon perdu, ada sesuatu disana. Pohon perdu itu bergoyang-goyang walau tak ada angin.

"Iiiiihhhhh.." teriakku lirih dan aku tak jadi mengatur nafas. Aku melanjutkan pelarianku dan meninggalkan tempat ini secepatnya.

"Gak kuat..gak kuat.."kataku lirih sambil memperlambat kakiku. Aku berusaha mengatur nafasku. Keringat mulai membasahi tubuhku. Ku rasakan rambutku sudah terurai. Ikat rambutku pasti jatuh saat berlari tadi. Aku merapihkan rambutku yang panjangnya hampir melewati pinggang.

"Hm, ada bulan lumayan tidak terlalu gelap", kata hatiku sambil menatap keatas.

Tiba-tiba angin berhembus melewati tubuhku yang masih terdiam memandang rembulan. Tubuhku membeku dan bulu kudukku meremang. Suara lolongan anjing malam makin membahana. Sesaat aku hanya bisa terpaku.
Aku mencoba berjalan perlahan karena didepan sana aku harus berbelok ke kanan agar sampai kerumah.

Aku masih celingukan melihat situasi. Burung malam terus berkumandang bersama nyanyian sunyi para pohon bambu yang mengiris hati.
Aku terus melangkah menyusuri jalan setapak demi setapak perlahan tapi pasti menuju pertigaan.

Terlihat disebelah kiri tepat berhadapan dengan gang adalah gardu pos kamling yang kosong melompong tanpa ada yang menjaga. Aku makin lemas. Aku terus berjalan sambil menundukkan kepalaku berusaha menenangkan diriku hingga tanpa kusadari aku sudah berbelok dan kulihat ada bayangan didepanku. Aku bergetar, bulu kudukku makin tegak berdiri. Dengan perlahan-lahan kutegakkan kepalaku dan..

"Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..!!! HANTUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU... DEEEMMMIIITTTTTT....!"

Aku kaget dan menjerit tanpa bisa menggerakkan seluruh tubuhku.
"SETAAAAAAAAAAAAAAAAAAAANNNNNN....!!!!!"

"Hannnnnnnntttttttttttuuuuuuuuu.... Demittttt.......!!!"

"Seeetannnn.." teriakku makin pelan.

Dengan takut aku membuka mataku dan kulihat ternyata seorang laki-laki yang bersarung hingga menutupi kepala dan sedang berlari ditempat dengan kepalanya yang menunduk kebawah. Seluruh tubuhnya gemetaran.

Aku dekati orang itu.

"Ammmpun.. ampun... Hantuuu.. Demit.. jangan ganggu aye. Ampun.. aye punye anak tige masing kecil-kecil.Demit.. hantu.. jin.. kuntilanak..jangan ganggu aye" ratap orang itu sambil terus berlari ditempat.

Aku cekikkin melihat orang itu dan ternyata..

"Bang Somad... Bang Somad.. Oi..!" kataku sambil berteriak.

"Ampun demit.. jin nape loe tahu name aye. Kalo aye salah tulung dimaapin ye. Aye kagak bakal minte nomer togel lagi dah. Tapi jangan cekek aye ampe koit ye..?" kata Bang Somad ketakutan.

Aku masih menahan tawaku melihat Bang Somad. Dengan senyum simpul aku tinggalkan Bang Somad yang gemeteran dan masih asyik berlari ditempat. Aku melanjutkan perjalananku dengan menahan sakit diperutku.

"Kenapa Bang Somad sampai ketakutan begitu ya?" pikirku sambil melihat barang kali ada yang aneh diwajahku. Aku terdiam dan kemudian tersenyum aku lupa hari ini aku pakai kemeja putih lengan panjang dan celan jeans warna putih.

Bang Somad..Bang Somad.." kataku geleng-geleng kepala tidak habis fikir.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer echanalukman
echanalukman at Pertemuan Tengah Malam (13 years 8 weeks ago)
70

nice...nyeremin awale tapi akhirnya jadi ngakak dech.. :))

Writer niska
niska at Pertemuan Tengah Malam (14 years 20 weeks ago)
70

lucu ceritanya.. nice story rien :))

Writer KD
KD at Pertemuan Tengah Malam (14 years 23 weeks ago)
100

peace...

Writer cibo
cibo at Pertemuan Tengah Malam (14 years 23 weeks ago)
80

Kreatif
Expresif
Lucu
Good Ide..

Writer arien arda
arien arda at Pertemuan Tengah Malam (14 years 23 weeks ago)
80

thanx for the comments from my friends and my hun.

for my hun i miss u.. makasih juga dah bantuin Dd.

wait for me

Writer my bro
my bro at Pertemuan Tengah Malam (14 years 23 weeks ago)
90

arien arda - arien arda...

*my bro geleng2 sambil nyengir

Writer estehpanas
estehpanas at Pertemuan Tengah Malam (14 years 23 weeks ago)
80

ya ampun mba....kirainn

Writer keke_hidup
keke_hidup at Pertemuan Tengah Malam (14 years 23 weeks ago)
70

awal nya serem ampe ikutan merinding g bacanya..eh tapi akhirnya kocak banget...hehehehehe

Writer abdi_babat
abdi_babat at Pertemuan Tengah Malam (14 years 23 weeks ago)
60

1. aRIEN, nice story.
2. Kritik dikit boleh kan? ^_^ Banyak kalimat yang dibuat sebagai perkataan batin/hati dan menurut saya tak perlu dibuat seperti itu.
contoh: ---- "Ugh..! Kalau lagi dibutuhin aja pada gak ada satu ekorpun yang mangkal. Terpaksa deh jalan", kata hatiku sambil mempercepat langkah kakiku ini. ----
bisa dibuat: ---- Tukang ojek memang sering begitu, lagi butuh ga ada seekorpun yang nangkring. Kalo lagi ga butuh, orang lagi duduk santai ngemilpun ditawarin buat dibonceng. Sial, kalo udah gini gue terpaksa jalan. ----
3. Di bagian ketika si AKU membuka matanya setelah ketakutan setengah mati, agak janggal jadinya ketika tanpa ketakutan ia mendekati sumber ketakutannya itu.
4. Keep Writing and PEACE ^^

Writer redshox
redshox at Pertemuan Tengah Malam (14 years 23 weeks ago)
100

lucu juga..

Writer ArSeLa
ArSeLa at Pertemuan Tengah Malam (14 years 23 weeks ago)
100

Ha ha ha,somad,somad ngapain juga lu nyari no togel kalo masih takut demit mah he he he,nice story hun,miss u much..

Writer FrenZy
FrenZy at Pertemuan Tengah Malam (14 years 23 weeks ago)
60

ada-ada aja idenya :) tapi masa bisa sampe dikira setan..?

Writer Chatarou
Chatarou at Pertemuan Tengah Malam (14 years 23 weeks ago)
100

mustinya ditambah pakai kerudung putih...
biar Ardha persis seperti hantu "guling terbang"
hi...hi....

chatarou
keponakan Bang Somad