Resident Evil : Memories of The Lost City (Chapter2)

#2 Meet by The Broken Fate

Leon bernafas terengah-engah, menatap ngeri pada sekelilingnya. Empat pria dengan lubang di dahi tergolek di jalanan, menebarkan aroma anyir darah di udara. Kepulan asap tipis keluar dari ujung pistol M92F milik Leon.

Leon terdiam, hanya helaan nafas keluar dari mulutnya. Selama ini ia hanya latihan menembak objek. Ia bahkan tidak pernah sekalipun membunuh hewan. Tapi hari ini, di hari pertamanya bekerja, ia menembak empat orang tepat di kepalanya. 'Aku menembak mereka... Manusia? Bukan, mereka bukan manusia. Mereka...'

Bunyi ledakan yang keras membuyarkan lamunannya. Bunyi itu sangat dekat, mungkin hanya beberapa blok dari tempat ia berdiri. Suara itu? Mungkinkah masih ada yang selamat?

Leon meninggalkan empat tubuh tak berdaya itu, berlari menuju sumber suara ledakan.

- - -

Rasa nyeri di kepala dan lecet di siku adalah yang pertama menyambut kesadarannya. Claire mengangkat kepala, untung saja ia melompat dari motornya, jika tidak ia sudah habis terlumat oleh truk itu.

"Sial, motorku.." Ucapnya sambil bangkit. Bagus sekali, sekarang bagaimana aku harus pergi dari sini?

Matanya kini beralih ke arah truk yang di lalap api. Si jago merah nampak menari-nari memancarkan cahaya orange - kekuningan. Panasnya api terasa menusuk kulitnya, kontras dengan nuansa dingin di dalam kafe tadi.

Eh? Apa itu?

Matanya seperti menangkap siluet manusia dari sela-sela api tersebut. Mustahil? Ada orang di dalam truk tersebut? Terbakar hidup-hidup.

Benar saja, bayangan itu kian menjelas, menampakkan sesosok pria dengan tubuh terbakar. Bau daging hangus menusuk hidung, seperti bau daging sapi yang dipanggang hingga hangus. Claire tak percaya, dengan keadaan begitu harusnya pria itu berteriak kesakitan. Tapi ini tidak, pria hangus itu berjalan ke arahnya dengan sangat pelan, bukan pelan karena tenang, tapi seperti dipaksakan.

Claire menoleh ke sisi lain truk. Astaga! Dua, bukan, tiga orang. Mereka terbakar hidup-hidup? Mereka berjalan ke arahku. Apa yang harus kulakukan?

Bunyi letusan senjata tiba-tiba mengejutkannya. Sebuah peluru melesat tepat mengarah ke arah kepala pria pertama. Disusul bunyi letusan kedua, sekali lagi mengenai kepala pria kedua. Semua berlangsung dengan sangat cepat, Claire berbalik untuk mengetahui sumber tembakan itu, ketika didapatinya pria berseragam polisi mengacungkan senjata ke arahnya.

Claire refleks mengangkat tangannya
"Tunggu, jangan tembak!!l" ucapnya.

"Merunduk!!" Ucap pria berseragam itu.

Claire menuruti ucapan pria itu, merunduk, dan tepat setelah ia melakukannya, sebuah peluru melesat kearah pria terbakar yang menerjang ke arah Claire. Namun peluru tersebut hanya mengenai bahunya. Pria itu tetap berlari sempoyongan, tak terhentikan, siap menerkam Claire.

"Awas!!"

Claire menoleh, mendapati pria yang terbakar itu nyaris menerkamnya. Dengan tangkas ia merenggut tangan pria itu, kemudian menariknya dan membanting tubuhnya. Bunyi tulang patah yang menyakitkan telinga terdengar dari leher pria itu. Kemudian tubuhnya hanya terkapar, tak lagi bergerak.

"Awas!!" Kini giliran Claire yang berucap

Claire mencabut pisau dari bahunya, kemudian dengan gerakan sangat tangkas bagai pelempar pisau ulung, memainkan pisau itu di tangannya dan melemparkannya ke arah pria berseragam itu.

Pria berseragam itu hanya terpaku di tempatnya berdiri, memperhatikan sebuah pisau berputar dan berputar, melewati samping kepalanya, kemudian menancap tepat di dada seorang mayat berjalan di belakangnya. Tepat saat pisau itu menancap, tubuh itu terjatuh dan mati sebelum sempat menyentuhnya.

Pria berseragam polisi itu sedikit banyak harus mengakui, terpesona dengan aksi lempar pisau gadis di hadapannya.

"Lumayan.." Ucapnya sambil tersenyum, kemudian mendekati mayat itu.

"Aku tidak mengira kemampuan begini, yang dia ajarkan bisa berguna", Claire mendekati pria itu.

Lambang bintang dan tulisan S.T.A.R.S di tangkai pisau menggelitik keingintahuannya. Ia agaknya mengetahui tentang pisau yang hanya dimiliki segelintir orang itu. "S.T.A.R.S?? Kamu anggota tim khusus?"

"Bukan aku, Kakakku." Ucap Claire, pertanyaan pria itu seketika mengingatkannya pada tujuan ia berada di kota ini. "Itulah tujuanku kemari, untuk menemuinya"

Claire melihat pria itu bangkit. Tulisan R.P.D terpampang di rompi yang ia gunakan. Pria dengan rambut pirang lurus, dan harus ia akui, berwajah cukup tampan.

"Namaku Claire Redfield" ucap Claire, memperkenalkan diri

Pria itu memainkan pisau di tangannya, sebelum akhirnya meletakkan di tangan Claire.

"Hei, Leon Kennedy"

* * *

Seorang anak kecil berlari dengan panik di tepi jalan. Berambut pirang pendek dengan baju sekolah putih. Gadis itu nampak berusia 12 - 13 tahun. Langkahnya sangat tergesa-gesa, dan raut wajahnya yang cemas seolah-olah berkata 'Harus cepat sampai rumah, harus cepat sampai rumah'.

Ia sangat heran, hari ini kota tempat tinggalnya mendadak nampak seperti kota mati. Kacau balau. Kecelakaan di mana-mana, semua nampak sangat berantakan. Namun anehnya, tak ada seorangpun bisa ia temui. Semua kawannya dan gurunya di sekolah hanya berkata 'mengungsi' atau 'pergi'. Tapi mengungsi kemana? Pergi kemana?

"Tuhan, Semoga Mom dan Dad ada di rumah" Ucapnya sambil memejamkan mata sejenak. Setelahnya, ia kembali menghadap jalan, terus berlari tanpa memperhatikan sekelilingnya lagi.

- - -

Claire dan Leon berdiri di hadapan api yang membara. Melihat satu sama lain dengan tatapan penuh tanya.

"Apa yang terjadi di kota ini?" Claire akhirnya membuka percakapan.

Leon mengangkat bahu. "Entahlah, aku baru sampai disini."

"Ok, mungkin aku tak bisa berharap banyak padamu."

Leon pun tak memiliki jawaban, saat ini yang ada di pikirannya hanyalah dimana harus mencari perlindungan, dan menemukan penduduk yang masih hidup. Ia mencoba menghubungi lagi markasnya lewat HT, tetap tak ada suara balasan.

"Sial, bahkan benda ini pun tak berfungsi" Ucapnya sambil mengetuk Handy Talkie di tangannya. Sementara Claire mengedarkan pandangan ke sekeliling mereka.

"Sebaiknya kita pergi dari sini". Claire melihat truk di hadapannya.

"Kau benar, truk ini bisa meledak kapan saja" Leon nampak berpikir. "Sebaiknya kita ke Police Departement, di sana mungkin lebih aman."

"Ide bagus."

Leon dan Claire berbalik, menyusuri jalan yang sangat sepi.

"Siapa nama kakakmu?" Tanya Leon

"Chris. Chris Redfield."

"Jika dia anggota S.T.A.R.S, kita pasti bisa menemukannya di R.P.D"

"R.P.D?"

"Racoon Police Departement, markas kami."

Baru saja Claire membuka mulut, ia mendengar suara erangan makhluk itu lagi. Suara erangan yang sama. Ia menoleh dan melihat mayat hidup di sekeliling mereka.

"Leon!!"

Leon bersiaga. Dari arah suara itu muncul segerombolan mayat hidup yang berjalan terseok-seok. Mulut pistol Leon mulai menembakkan peluru. Satu per satu dari makhluk itu bertumbangan. Namun mereka terus berdatangan dari setiap sisi jalan. Mencoba mengepung Claire dan Leon.

"Mereka di mana-mana!" Claire mulai terlihat panik.

Leon menarik Claire. "Ayo! Tetap di belakangku", ucapnya sambil terus berlari.

Leon mencoba menghindari jalan utama. Ia berbelok pada sebuah gang kecil antar gedung. Kosong. Semoga ini jalan yang aman.

Hanya beberapa meter kemudian. Gang tersebut berakhir pada sebuah pintu. Ia mencoba memutarnya, terkunci.

"Tidak mau terbuka! Sial!! Mundur Claire!!" Teriak Leon saat menyadari pintu di depannya terkunci rapat.

"Kau bercanda??"

Claire berbalik, tepat pada saat ia berbalik sesosok mayat hidup berusaha menerkamnya. Beruntung tembakan Leon tepat mengenai kepala makhluk itu.

"Makhluk menjijikkan.." Desisnya. Berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.

"Lewat sini!" Ucap Leon sambil berlari ke sisi jalan yang lain.

"Kau yakin kali ini?" Claire terlihat ragu

"Sudahlah, Lari saja!!"

Claire pasrah. Tak ada pilihan, mereka berusaha menerobos lewat jalan utama. Tak ada jalan lain selain berhadapan dan menghindari mayat-mayat hidup yang berkeliaran itu.

"Ya Tuhan, Makhluk apa itu??" Ucapnya sambil berlari. Kini Claire benar-benar bingung. "Mengapa mereka begitu tertarik dengan kita?"

"Aku tak tahu." Leon menjawab sekenanya, dengan tetap berusaha menembaki mayat hidup yang menghalangi mereka.

"Apa kita satu-satunya yang selamat di sini??"

"Aku harap tidak"

Pada sisi jalan yang sepi dan aman dari kepungan mayat hidup itu. Mereka berhenti sebentar untuk mengatur nafas. Namun saat tenang itu tak lama, sampai dua kali suara senapan memecah keheningan.

"Suara senapan?" Desis Claire bertanya.

Tak lama suara itu disusul bunyi pecahan kaca dan jeritan keras seorang pria. Claire dan Leon saling pandang.

"Dari mana suara itu?" Tanya Claire

"Suara itu dari dalam sana. Ayo!!" Leon menunjuk sebuah toko dengan dinding kaca yang pecah. Toko bertuliskan 'Kendo Gun Shop' di atasnya.

Dengan cepat Leon membuka pintu. Kemudian bergidik ngeri dengan pemandangan yang ia lihat.

Seorang mayat hidup tengah memakan daging manusia. Daging itu milik pria gemuk dengan wajah tuanya yang terkapar tak berdaya di lantai. Tubuhnya bersimbah darah dan terkoyak-koyak. Pria itu mati dengan mulut menganga. Mengeluarkan darah di sela air liurnya.

"Astaga! Dia memakan pria itu!!" Pekik Claire.

Tanpa pikir panjang Leon menembak kepala mayat hidup itu. Membuatnya terkapar di lantai bersama pria yang menjadi santapannya.

Leon berlari menghampiri pria gemuk itu. Naas, ia sudah mati. Tapi kini ia tahu, siapa pelaku keji atas mayat yang ia temukan di jalanan. Tak salah lagi. Mayat hidup itu tak hanya merangkak dan menggeliat mengejar mereka, tetapi juga memakan daging manusia. Kanibalisme. Tak salah lagi. Penduduk kota ini sudah menjadi zombie.

Samar-samar suara radio dari sisi meja terdengar. Leon menghampiri radio tersebut.

".. Siaran lanjutan mengenai bencana yang menimpa Kota Racoon akan disiarkan pukul 8. Penduduk setempat diharapkan mengungsi.." Ucap penyiar radio dari balik speaker.

Bencana, mungkinkah ini ada hubungannya dengan mayat-mayat hidup ini? Apa yang terjadi? Lantas bagaimana dengan penduduk yang lain? Bagaimana dengan rekan kerjanya di R.P.D? Apa tindakan kepolisian?

"Bagaimana mungkin mereka bisa bergerak jika mereka sudah mati??" Ucapan Claire membuyarkan lamunannya.

Leon tampak berfikir, terlalu banyak pertanyaan saat ini. Tapi ada hal yang sudah pasti, "Tak salah lagi, penduduk kota ini menjadi zombie" Jawabnya. Ia jadi terfikir, mungkinkah ia akan menjadi salah satu dari mereka bila tergigit? Seperti dalam film-film tentang zombie. Apakah itu menginfeksi? "Apapun yang terjadi, kita tidak boleh membiarkan mereka menggigit kita"

"Tapi.. Bagaimana mungkin? Apa penyebabnya?"

Leon menggeleng. Satu lagi pertanyaan tambahan itu pasti menghasilkan lebih banyak pertanyaan lain daripada jawaban. "Bukan waktunya memikirkan itu sekarang". Leon melihat sekeliling, "Yang pasti, jangan biarkan mereka menyentuhmu."

Leon berjalan menuju etalase dan mengambil sebuah senapan. Beruntung, mereka berlari ke arah yang tepat. "Ayo. Ambil apapun yang kita butuhkan". Ucapnya

"Apa?"

"Kita butuh senjata"

Claire melihat sekeliling dan sadar. Etalase toko dipenuhi berbagai jenis senjata api dan senapan. Longsongan peluru tergeletak di dekat meja kasir. Tak salah lagi, toko yang mereka masuki adalah toko senjata api. Ia mengernyit. Walaupun anggota genk motor, ia tak pernah menjarah toko sebelumnya. Tapi kali ini, ia tak punya pilihan.

"Baiklah, Aku tidak akan melaporkan kepolisian bahwa aku menemukan ada anggotanya yang mencuri." Ucapnya sambil mengambil senapan di lemari kaca.

Leon tersentil, "Ha.. Ha.. Usaha bagus di situasi begini." Sungguh bukan waktu yang tepat untuk melawak.

Leon dan Claire mengambil amunisi dan senjata api yang bisa mereka temukan di toko itu. Mereka tak punya pilihan lain.

Leon mendengar suara erangan zombie-zombie itu di depan pintu. Dan dari langkahnya, jumlah mereka bukan tiga empat orang.

"Leon, mereka datang lagi."

"Cukup menjarahnya. Ayo, kita keluar lewat pintu belakang"

* * *

Seorang wanita berjalan di sebuah hall yang sangat megah. Baju merah terusan yang ia kenakan masih memperlihatkan lekuk tubuhnya. Wanita itu berwajah oriental dengan postur tubuh yang proporsional bagaikan model. Bibir indahnya tak tersenyum. Ia berjalan dengan tenang dan anggun, walaupun setiap langkahnya penuh kehati-hatian. Lirikan matanya diwarnai kewaspadaan. Ia tak boleh lengah, karena lengah berarti nyawanya akan melayang.

Sebuah dering telepon mengejutkannya, dengan sigap ia mengangkat ponselnya tanpa melihat display nama.

"Ya?" Ucap wanita itu dengan tenang.

Cukup lama ia diam dan hanya menyimak lawan bicaranya di telepon.

"Baiklah", Ucap wanita itu. "T-Virus, akan kupastikan jatuh di tangan kita". Pandangan mata itu menajam. Jari lentiknya menekan tombol merah di ponsel. Panggilan berakhir.

* * *

"Baiklah, sekarang apa?" Tanya Claire. Sungguh ia benar-benar tak membayangkan apa yang ia alami kali ini. Ia mengharapkan cuti kuliahnya bisa ia lewati di kota Racoon dengan tenang bersama Chris, namun yang ia dapatkan justru mimpi buruk. Suasana kota yang hancur berantakan bagai kota mati, disertai mayat-mayat berjalan yang menghuninya benar-benar di luar bayangannya.

Samar-samar Leon mendengar suara orang, suaranya seperti keluar dari speaker. "Ssst. Dengarkan.."

Leon dan Claire memasang telinga, berusaha mendengar suara tersebut.

"... Mua penduduk yang selamat, harap mengungsi ke Kantor Kepolisian Kota Racoon.. Kami ulangi, Semua penduduk yang.."

"Kau dengar itu?" Leon merasakan ada sedikit harapan untuk menemukan perlindungan.

"Ya, senang mengetahui kita bukan satu-satunya yang masih hidup" Claire tak bisa menyembunyikan sedikit ketenangan yang diberikan suara itu.

"Kita ke Kepolisian Racoon. Berlindung dan mencari kakakmu disana". Tanya Leon, lebih menyerupai ajakan daripada pertanyaan.

Claire mengangguk, "Deal". Ia membuka pintu kawat, sebelum akhirnya sesosok zombie menerjang buas ke arahnya.

"Goddamnit..!!! Claire!!!"

- - -
To Be Continued
(Badau, 23 Oktober 2012)
- - -

Read previous post:  
46
points
(1109 words) posted by phantom27 9 years 14 weeks ago
92
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fanfic | Adaptasi Game | horror | petualangan
Read next post:  
Be the first person to continue this post
90

Ahahahaha,
Nice story. Ayo berburu zombie an.
Btw si jill nongol ngga ntar??

90

kok kalian bisa sering2 nulis, sementara aku kehilangan feel-ku..

WB, hahaha.

wah jadi pengin main RE nih! coba aja zombie di CF diadu ama RE, siapa yang menang ya!?
diplencongin sedikit aja bro persenjataanya, semua orang pake Shotgun otomatis AA12 (hahahahahahahha.......tembak membabi buta)