Chroma ~ Trailer

Malam itu malam yang dingin. Dari lelapnya seorang gadis terbangun. Giginya bergemeletuk tak berhenti. Sementara badannya terus gemetar menggigil.

Gadis itu memutuskan ada yang salah dengan temperatur kamarnya. Maka sembari berbaring di bawah selimut, jemarinya menggapai-gapai ke atas meja kecil di samping tempat tidur, mencari remote air conditioner. Tak kunjung ketemu, sang gadis yang sudah tak tahan lagi itu pun membuka mata dan menyibak kain tebal yang menyelimutinya.

Gelap. Hanya ada seberkas sinar rembulan, menciptakan bayangan gelap tiap benda di lantai dan di dinding. Tidak biasanya segelap ini. Lampu indikator di mesin pendingin ruangan juga tak menyala. Listrik padam sepertinya.

Sang gadis mendesah. Ia masih mengantuk, tapi tak mungkin dapat tidur lelap bila suhunya sedingin ini.

Berfirasat ada yang salah, kedua mata gadis itu pun menyisir ruangan.. Ia kemudian berhenti, ketika menyadari kedua daun jendela membuka lebar. Ia sempat bertanya-tanya siapa yang membiarkan jendela kamarnya terbuka seperti itu, tapi rasa penasaran berubah menjadi keterkejutan, karena ia baru menyadari adanya titik-titik merah mengarah dari jendela kamarnya menuju pintu. Pintu yang juga menjeblak terbuka.

Mulai ketakutan karena mengira titik-titik tersebut ceceran darah, sang gadis melompat berdiri, mengambil ponsel yang diletakannya di samping bantal dan berlari keluar kamar. Ia memikirkan keluarganya. Bisa saja sesuatu yang buruk sedang terjadi pada adik-adik dan orang tuanya. Bisa saja saat ini seorang penjahat sedang menyusup masuk ke rumah mereka.

Ternyata koridor sama gelap dan dinginnya seperti kamar sang gadis. Berbekal penerangan dari layar ponsel, ia berlari, menuju kamar terdekat. Kamar orang tuanya. Karena takut, sang gadis hanya mengintip dari lubang kunci. Rupanya ayah dan ibunya masih terlelap. Anehnya, lampu di kamar mereka menyala.

Sang gadis mengernyitkan alis. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Ia berlari lagi menuju pintu kamar adik pertamanya. Mencuri lihat lagi. Sama saja. Ia berlari lagi menuju sakelar ruang keluarga, menekan-nekan tombolnya agar menyala, namun nihil. Tetap gelap. Aneh. Ini aneh. Terlalu tak masuk akal bila semua lampu-lampu tersebut korslet bersamaan kan?

Tenggelam dalam kebingungan, gadis itu mentyorotkan layar telepon genggamnya ke lantai. Ia terbelalak.

Tanpa sadar ia telah mengarah ke arah yang sama dengan yang dituju cipratan-cipratan darah. Setengah ketakutan setengah lagi penasaran, ia pun mengikuti titik-titik merah di lantai. Sementara itu jantungnya berdetak kencang. Keringat dingin mengalir melintasi pelipisnya.

Dan sampailah ia di depan sebuah pintu lagi yang menjeblak terbuka. Ia berdiri di ambang pintu kamar Nesya, adik bungsunya. Di seberang ruangan jendela pun menjeblak terbuka, membiarkan berkas-berkas cahaya bulan menerangi kamar tidur yang gelap tersebut.

Yang dilihatnya membuatnya membeku. Sampai-sampai ponsel yang digenggamnya berkelotak terjatuh.

Melihat korden yang menari di tiup angim malam gelap-gelap begini memang sudah cukup menegangkan. Namun sang gadis takkan seterkejut ini bila, di kusen jendela tidak berdiri sesosok makhluk kecil bercahaya ungu kehitaman yang mencicit ke sesuatu di luar sana. Ia takkan semerinding ini bila, sosok yang ternyata memiliki rupa seperti manusia itu lalu tak menoleh dan memandang keji dengan mata yang berkilat-kilat merah. Sang gadis ingin berteriak dan lari, akan tetapi tubuhnya kaku. Lidahnya kelu. Ia hanya sanggup menatap dalam kengerian ketika sosok kecil itu mendesis marah menyadari keberadaannya.

"Lihat apa?" Tiba-tiba sang gadis merasakan sesuatu di bahunya. Sontak ia berbalik sembari menjerit sekuat tak keruan.

Terang. Lampu menyala. Sejak kapan? Satu tangan diletakkan di bahu sang gadis, seorang anak yang lebih muda darinya menguap di hadapannya. Adik pertamanya, ternyata. Sang gadis menarik nafas lega. "Kak, kutanya, ngapain di situ malam-malam begini? Memangnya Nesya kenapa?"

Sang gadis melirik sekilas ke kamar adik bungsunya. Terang seperti ruang keluarga. Sepertinya jendela juga tertutup rapat di belakang tirai bermotif bintang-bintang itu. Terdengar dengkuran lembut, tampaknya di bawah buntalan selimut adik kecilnya tengah tertidur lelap. Sungguh sulit dipercaya. Apa tadi itu hanya halusinasinya saja?

"Kak?"

"Eh? Enggak, nggak apa-apa.. Cuma kaget aja lihat ada merah-merah di lantai.." Sang gadis menunjuk lantai. Pandangan adik pertamanya menyusul mengikuti. "Kupikir apa.. Kayaknya Nesya tadi main cat lagi---"

Ucapan gadis itu terhenti bicara karena melihat wajah terkejut adiknya. Sesaat kemudian sang adik kembali tersadar dan buru-buru menuju ke dapur mengambil dua gelas susu.

"Kak, nih buat kakak," ucap adik sang gadis menyerahkan salah satu gelas, "a.. aku balik tidur lagi ya." Sebelum kakaknya sempat berterima kasih adik pertamanya tersebut sudah menghilang di balik pintu kamar sebelah.

Maka sang gadis menghela nafas. Pikirannya pasti sedang lelah sampai ia bisa berhalusinasi seperti itu. Ia pun menarik daun pintu kamar adik bungsunya menutup dan kembali membelalak.

Suara mencicit pelan.. Tidak, lebih mirip cekikik culas.

..terdengar dari balik pintu kamar Nesya.

Sang gadis cepat-cepat meneguk susu lalu berlari ke kamarnya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer L. Filan
L. Filan at Chroma ~ Trailer (9 years 12 weeks ago)
70

Penceritaan yang bagus.

Writer AL_paper
AL_paper at Chroma ~ Trailer (9 years 12 weeks ago)
90

Ah, kereeenn..
Penjabaranny menegangkn..
:)

Writer kim zhu rin
kim zhu rin at Chroma ~ Trailer (9 years 12 weeks ago)
100

keren

Writer Erick
Erick at Chroma ~ Trailer (9 years 12 weeks ago)
80

gak kelam...

menurutku ini kelam, terlihat jelas pada adegannya... =_=

Writer hirumi
hirumi at Chroma ~ Trailer (9 years 12 weeks ago)

Wah ada yang ikutan nanowrimo... Penceritaan satu scene yang hebat!
***
Ga tau mo komen apa lagi...