Adik Sementara (part 1 of 2)

Hidupku rusak! Cowok kurang ajar! Ferra hanya bisa mengumpat dalam hati.

Desas-desus sudah menjalar ke seluruh sudut sekolah bahwa Yudha, pacar Ferra, kabur dari rumah. Yudha terlibat dalam tindak kriminal dan menjadi buronan polisi. Dalam sekejap, Ferra menjadi pusat perhatian di sekolah. Dalam sekejap pula, Ferra membenci Yudha.

Sudah kubilang, jangan pacaran sama Yudha, dia nggak beres. Dia anggota geng, suka mabuk-mabukan. Ferra teringat kata-kata temannya. Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Semoga kau menemukan orang lain yang lebih baik. Senang bisa mengenalmu. Kalau jodoh, mungkin kita akan bertemu lagi.

Begitulah kata-kata perpisahan dari Yudha yang tertulis di selembar kertas usang bekas bungkus gorengan.

Nggak sudi, ujar Ferra dalam hati saat membaca surat itu.

Ferra dongkol. Kepergian Yudha malah menimbulkan masalah yang lebih besar untuknya. Bukan hanya diinterogasi polisi, Ferra juga menjadi incaran anak-anak geng dan preman-preman yang merasa dirugikan oleh Yudha. Mereka yakin kalau Ferra pasti tahu di mana keberadaan Yudha.

Beberapa kali Ferra pernah dicegat saat pulang sekolah. Ferra mencoba menjelaskan kalau dia tidak tahu apa-apa, tapi mereka tidak percaya, untungnya Ferra berhasil lolos dari kejaran mereka. Sejak saat itu, Ferra selalu minta diantar jemput untuk menghindari cegatan anak-anak berandalan itu.

Bukan berarti saat berada di sekolah dia aman. Ferra tak lepas dari buah bibir anak-anak lain yang suka bergosip tentang kejelekan orang lain. Walau hanya sebatas kata-kata,tapi cukup untuk membuat Ferra kian tertekan yang berakibat pada perubahan sikapnya menjadi mudah marah dan tersinggung.

Sikap judes dan galaknya membuatnya semakin dijauhi teman-teman. Ferra merasa lebih baik seperti itu walaupun saat berada di rumah dia menangis. Lama-lama berita itu akan dilupakan, tapi luka di hati Ferra terus menganga.

Rasa bencinya, kesedihannya, kekhawatirannya seakan tak berakhir. Hingga suatu hari seseorang menawarkan untuk masuk ke hidupnya.

Namaku Vian. Aku ingin masuk dalam kehidupanmu, sebentar saja.

Seperti tawaran yang datang dari dunia lain, anak laki-laki itu muncul entah dari mana. Sekitar tiga tahun lebih muda darinya, wajah manisnya datar tanpa ekspresi. Suaranya tenang, tidak memaksa.

Kau Ferra kan? Kalau kau izinkan aku akan menjadi adikmu. Sekali lagi suara tenang itu tidak memaksa, tapi seakan ada kekuatan yang tak bisa dijelaskan dari tatapan mata Vian dan kata-katanya.

“Untuk apa? Kenapa?” tanya Ferra.

Vian mengangkat bahu. Karena kurasa kau butuh bantuan. Aku akan menjadi adik sekaligus temanmu untuk beberapa waktu.

Ferra merasa kesepian, itu tak bisa disangkal. Anak tunggal dengan orangtua yang jarang berkumpul bersama. Setiap hari dijemput oleh supir, teman-teman yang membicarakannya di belakang, tak ada lagi yang bisa dipercayainya. Jadi, mengapa dia harus percaya pada orang tak dikenal yang tak diketahui asal-usulnya?

Keraguanmu tak akan menghasilkan apapun. Aku bisa tinggal atau pergi itu tergantung padamu.

Ferra bisa merasakan kalau Vian bukan anak biasa. Penampilannya memang biasa, tapi ada yang tak biasa dengan caranya berbicara maupun ekspresi wajahnya. Walaupun begitu, anak usia SMP di depannya ini tak kelihatan berbahaya dibandingkan dengan anak-anak geng yang selalu mengawasinya di sudut jalan.

Jadi? Aku mendapat izin atau tidak?

“Ya, aku mengizinkan,” ujar Ferra, hampir tak tahu apakah yang diperbuatnya ini benar.

Bulu kuduk Ferra tiba-tiba meremang, disusul angin dingin yang berhembus, mengacak rambutnya, padahal sore itu sangat cerah tanpa awan gelap. Seakan tanda bahwa saat itu juga Vian telah menjadi bagian dari hidupnya.

Senyum tipis tersungging di wajah Vian.

“Ayo kita pulang, Kak.”

“Kamu akan tinggal di rumahku?” tanya Ferra.

“Tentu, aku kan adikmu,” jawab Vian.

“Begitu saja?”

“Apa maksudmu begitu saja?”

“Aku tidak punya adik sebelumnya.”

“Sekarang kau punya.”

 

~~~

 

Ferra bermimpi aneh semalam. Dia yang sebelumnya tidak punya adik, tiba-tiba saja punya seorang adik laki-laki. Atau dia yang punya seorang adik, tapi bermimpi tidak punya?

“Mana Vian, belum bangun?” mamanya bertanya sebelum berangkat kerja. “Nanti kalian terlambat.”

Ferra melongo beberapa saat. “Tadi masih ganti baju.”

“Oke, baik-baik di sekolah. Mama dan Papa pulang malam, ada tugas di luar kota, minta Bi Sri masak untuk kalian berdua saja.”

Suara klakson menandakan kalau Papa sudah tak sabar menunggu.

“Hati-hati, Ma,” ujar Ferra mengiringi mamanya yang keluar dari rumah dengan buru-buru.

Ferra menghabiskan sarapannya. Di meja makan masih tersedia satu piring yang belum disentuh, milik Vian.

Vian. Nama itu terdengar sangat akrab. Seakan memang sudah lama nama itu ada dalam keluarganya.

Tak lama kemudian, Vian bergabung di meja makan. Dia mengenakan seragam SMP, tas ransel tersanding di punggungnya.

“Pagi,” sapa Vian, datar.

“Pagi,” balas Ferra.

Ferra merasa akrab dengan kehadiran Vian, tapi juga aneh. Seperti ada ingatan kalau Vian itu seakan benar-benar adiknya, walau dia tahu sebenarnya bukan.

“Kenapa melamun? Ayo berangkat.”

Vian ternyata sudah selesai sarapan. Mereka berangkat bersama dengan mobil. Pak Deni, supir keluarga, mengantar mereka.

“Nanti Mas Vian mau dijemput?” tanya Pak Deni saat sudah sampai di depan sekolah Vian.

“Nggak usah, Pak. Nanti aku ke sekolah Kak Ferra, kan mau nonton pertandingan basket bareng.”

Ferra mengernyit. Kapan dia bilang kalau mau nonton basket?

“Jadi Mbak Ferra juga gak dijemput?”

Ferra baru membuka mulut untuk menjawab, tapi sudah diserobot Vian. “Nggak usah, nanti pulang naik angkot aja.”

Ferra melotot pada Vian, yang sepertinya tidak mempan.

“Tapi—”

“Sampai nanti ya, Kak.” Vian menutup pintu mobil.

“Gimana, Mbak Ferra?” tanya Pak Deni sambil mengemudikan mobil menuju sekolah Ferra.

“Terserah Vian deh.”

Hari itu sekolah Ferra memang dijadwalkan untuk pertandingan persahabatan. Tapi Ferra tak ada rencana untuk nonton. Tanpa persetujuannya, Vian bicara seenaknya. Namun, entah kenapa Ferra tidak marah, justru ikut antusias seperti teman-teman sekelasnya yang tak sabar untuk menonton pertandingan.

“Nanti Ferra nonton?” tanya Desi, teman sebangku Ferra. Pacar Desi anak basket, jadi dia sangat bersemangat untuk menanti jam pulang sekolah.

“Ferra kan biasanya langsung pulang. Gak usah ditanya,” ujar Heni.

“Iya, nanti aku nonton kok,” jawab Ferra cepat.

“Tumben,” balas Heni. “Sejak, ehm, kamu nggak pernah nonton pertandingan lagi.”

Heni sering sekali mengungkit-ungkit masalah yang tidak ingin dibahas Ferra. Kadang membuat Ferra jengkel. Tapi kali ini Ferra coba bersabar.

“Vian juga mau nonton,” kata Ferra lagi, hampir tanpa sadar.

“Wah, Vian mau ke sini? Sudah lama gak ketemu Vian,” ujar Desi.

“Kamu pernah ketemu Vian?” tanya Ferra.

“Pernah dong,” kata Desi. “Dulu aku pernah ke rumahmu kan? Pinjam catatan. Vian yang bukakan pintu.”

Ferra tidak tahu dari mana asal semua ingatan itu. Vian bukan hanya masuk dalam keluarganya, tapi dalam setiap sudut kehidupannya. Jelas dia bukan anak biasa. Atau mungkin dia malah bukan manusia.

Ferra hampir lupa kalau saat pertandingan persahabatan, siapapun bisa masuk ke sekolah. Itulah sebabnya dia tidak pernah nonton pertandingan apapun karena mantan teman geng Yudha bisa saja datang dan mengincarnya. Apalagi kalau pulangnya naik angkot seperti kata Vian. Setelah dipikir-pikir lagi, sepulang sekolah Ferra berniat pinjam telepon sekolah untuk minta jemput Pak Deni. Peduli amat apa kata Vian.

“Kak Ferra, mau ke mana?”

Bel pulang baru saja berbunyi. Ferra sedang berjalan menuju kantor TU ketika Vian mencegatnya.

“Kamu kok sudah di sini?”

“Anak SMP kan pulang lebih awal,” jawab Vian. Ekspresi wajahnya tak bisa ditebak.

“Bagaimana bisa masuk?”

“Satpam kan kenal aku. Lagian nanti juga ada pertandingan basket.”

“Aku mau telepon Pak Deni, minta jemput.”

Ferra hendak berjalan melewati Vian, tapi Vian menggamit tangannya.

“Nonton saja dulu, pasti seru.”

“Nanti kalau ada Jodi dan gengnya, habis deh aku.”

“Tenang saja, pasti aman. Kalau ada apa-apa tinggal teriak panggil pak satpam, guru-guru juga ada.”

Ferra pasrah berjalan di belakang Vian. Tangan Vian kencang memegang pergelangan tangannya dan menariknya ke lapangan basket.

Anggota tim basket sekolahnya sudah mulai pemanasan. Lawan tandingnya baru saja tiba di lapangan, diikuti para pendukung yang sangat bersemangat.

Ferra was-was mengamati keramaian di sekitarnya. Beberapa guru tampak ikut menonton di antara murid-murid. Ferra menjadi sedikit lebih tenang.

“Hai, Vian. Ikut nonton juga? Dukung supaya menang ya,” sapa Sonny, teman sekelas Ferra yang termasuk anggota tim inti sekolah.

“Siap, Kak!” balas Vian riang. Ekspresi wajahnya seketika berubah.

Banyak teman Ferra yang menyapa Vian. Semuanya ditanggapi Vian dengan jawaban ringan yang sangat bersahabat seakan sudah seharusnya seperti itu, mereka juga menyapa Ferra. Untuk pertama kalinya, Ferra merasakan kembali kehangatan persahabatan.

“Apakah akan terus seperti ini?” tanya Ferra pelan saat pertandingan sedang berlangsung.

“Hanya selama ada aku di sampingmu,” jawab Vian. Saat menatap Ferra, tatapan matanya sama seperti saat pertama kali mereka bertemu, memancarkan kekuatan yang misterius. Ekspresi wajahnya datar, sangat berbeda dengan ekspresi riang yang diperlihatkannya tadi.

“Sampai kapan? Lalu setelah itu?” Perasaan sedih yang menyakitkan muncul di dada Ferra. Rasa sakit yang coba dilupakannya, yang coba ditutupinya.

“Sampai kau tidak membutuhkanku lagi. Saat itulah aku akan pergi. Berharaplah kehidupanmu sudah jadi lebih baik.”

“Apa kamu malaikat penolong?”

Vian tertawa. Tawa getir. “Malaikat penolong. Mungkin saja. Ya. Mungkin saja.”

Manusiakah yang sedang berada di sampingnya ini? pikir Ferra. Saat dia merasa kehidupannya hancur, tiba-tiba saja Vian muncul.

Suara riuh membahana. Sonny baru saja mencetak tiga angka di akhir kuarter keempat, tim mereka memenangkan pertandingan.

“Kalian menang. Itu bagus,” ujar Vian. “Mau merayakannya?”

“Merayakan? Biasanya hanya anak-anak basket dan cheerleader.”

“Tadi Sonny hebat ya? Three point shoot-nya masuk terus,” kata Desi. Entah bagaimana dia bisa muncul di samping Ferra, padahal beberapa saat lalu ada di seberang lapangan.

“Rendi juga hebat. Dia sering curi bola dari lawan,” kata Ferra.

“Iya kaaaan,” ujar Desi senang karena pacarnya dipuji. Dia melambai pada Rendi yang ada di tengah lapangan. “Aku ke sana dulu ya,” pamitnya. “Oh ya, Vian, sering-sering mampir, minggu depan ada pertandingan lagi.”

“Oke,” jawab Vian, tersenyum lebar.

“Ayo pulang,” kata Ferra. Pertandingan sudah selesai, tak ada lagi yang bisa ditonton.

“Kau bawa uang?” tanya Vian.

“Bawa. Kenapa?”

“Mampir dulu ke Game Fantasia.”

“Ngapain?”

“Merayakan kemenangan.”

Ferra menuruti ajakan Vian. Mereka bersenang-senang. Tepatnya, Ferra merasa sangat senang. Vian menemaninya memainkan hampir semua wahana yang ada di sana. Seperti bermain bersama seorang adik sekaligus teman baik.

Sampai kapan?  pertanyaan itu terlintas lagi di pikiran Ferra. Di awal pertemuan mereka, Vian bilang sebentar saja. Apakah dalam hitungan hari, minggu, bulan, tahun?

“Sampai kapan, Vian?” tanya Ferra lagi. “Apa yang harus aku berikan sebagai ganti semua ini?”

“Ganti untuk apa?” Vian balik bertanya sambil menyedot teh botolnya saat mereka sedang duduk di food court.

“Ganti karena kamu sudah mau menjadi adikku.”

“Kau yang mau aku menjadi adikmu. Tak perlu mengganti apapun. Oya, nanti bayar juga makananku.”

“Aku serius, Vian. Sampai kapan?”

“Sampai kau merasa hidupmu tidak lagi hancur. Aku akan pergi dan kau akan melupakanku. Tak ada lagi Vian.”

“Pergi lagi? Sama seperti—”

“Tidak. Tidak. Cowok brengsek itu jangan kau ingat-ingat lagi. Jalan hidupnya dan jalan hidupmu berbeda. Dan aku, hanya mampir sebentar dalam hidupmu. Jika saatnya tiba nanti untukku pergi, kau bahkan tak akan menyadarinya. Kau tak akan ingat aku pernah ada saat ini. Tak perlu khawatir.”

“Kamu bukan manusia, Vian,” ujar Ferra. Entah bertanya, entah mengungkapkan ketidaktahuannya.

Anak laki-laki di depannya, yang menunjukkan ekspresi ceria saat ada orang lain, hanya berwajah tanpa ekspresi saat mereka sedang berhadapan. Tapi Ferra tak sedikit pun merasa canggung. Vian—saat itu—adalah adiknya.

“Kenyang. Ayo pulang.”

~~~

*bersambung

Read previous post:  
Read next post:  
Penulis aphrodite
aphrodite at Adik Sementara (part 1 of 2) (7 years 49 weeks ago)
80

Cerita fantasi yg keren :)
Penasaran dg identitas Vian, baca lanjutannya dulu~

Penulis d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Adik Sementara (part 1 of 2) (8 years 36 weeks ago)
80

waha... ceritanya aneh sekaligus menarik. misterius gitu ya, jadi inget the twilight zone. lancar bacanya :D apalagi penulisannya juga rapi ^^
.
salam kenal!

Penulis sabbath
sabbath at Adik Sementara (part 1 of 2) (8 years 36 weeks ago)

hm.. the twilight zone kyk gimana? baru tahu ini. tahunya twilight saga.. hehe...
makasih uda mampir.. ^ ^

Penulis KD
KD at Adik Sementara (part 1 of 2) (9 years 10 weeks ago)
100

hmmm

Penulis sabbath
sabbath at Adik Sementara (part 1 of 2) (9 years 10 weeks ago)

iyaa... judulnya emang gak menarik...
(= =')

Penulis L. Filan
L. Filan at Adik Sementara (part 1 of 2) (9 years 10 weeks ago)
80

ditunggu part 2-nya. salam kenal.

Penulis sabbath
sabbath at Adik Sementara (part 1 of 2) (9 years 10 weeks ago)

salam kenal juga.. ^ ^

Penulis smith61
smith61 at Adik Sementara (part 1 of 2) (9 years 10 weeks ago)
100

Dikasih foreshadow apa kek gitu biar pembaca bisa lebih jauh nebak-nebaka apakah dan siapakah Vian hehe.

Berharap Yudha di Part 2, muncul menjadi unsur plot yang penting.

Ini keren. Ringan dibaca.

Penulis sabbath
sabbath at Adik Sementara (part 1 of 2) (9 years 10 weeks ago)

foreshadow... saia juga lagi mikirin itu sih...
tapi.. apa dibiarin tetap misterius aja yah..?? he..
wah.. yudha.. hm.. kabulkan harapan bung smith gak yaa... :3
makasih uda berkenan mampir :D

makkie at Adik Sementara (part 1 of 2) (9 years 10 weeks ago)
80

suka.bagian.ini:
Ferra bermimpi aneh semalam. Dia yang sebelumnya tidak punya adik, tiba-tiba saja punya seorang adik laki-laki. Atau dia yang punya seorang adik, tapi bermimpi tidak punya?

saya pikir jadi twist menarik, tapi setelah dibaca alurnya jelas kalo Vian bukan adik.

hampir mirip dengan Yuki no Oni yang aku garap, hanya hanya punya aku "kakak" bukan "adik"

overall, cerita jelas, lugas. tapi menurut porsi saya terlalu ringan sebagai sebuah misteri. saya harap ada bumbu menarik setelah ini.

btw, sayang kalo cuman dua part..kenapa ga dikembangkan aja?

Penulis sabbath
sabbath at Adik Sementara (part 1 of 2) (9 years 10 weeks ago)

ada lagi yang mirip...
.
saia emang gak berpikir untuk bikin yang berat sih...
bumbu menarik? hmm.. *lirik draft part 2
karna ini bikinnya sambil ngerjain proyek nanowrimo n tugas lain, jadi agak ngirit.. hehe...
nanti saia coba kembangin karna saia juga lom puas dg draft part 2...
arigatou makkie san~ ^ ^

Penulis herjuno
herjuno at Adik Sementara (part 1 of 2) (9 years 10 weeks ago)
70

Gra, ini mirip kayak ImoRobo saya :v
.
anyway, Mbak Sabbath suka paragraf tipis, ya?Kayaknya setahu saya dulu lebih tebel...
.
premis konfliknya menjanjikan. Meski begitu, saya belum bisa bilang banyak karena ini masih awal; entah apakah mau dibawa ke drama atau fantasi (atau bahkan romance). Terus, kalau saya bandingkan dengan punya saya, kebingungan/kegamangannya si prota kurang, tapi well....
.
Karakterisasi masih belum kebuka (jelas), masih samar2. :3

Penulis sabbath
sabbath at Adik Sementara (part 1 of 2) (9 years 10 weeks ago)

waw.. mirip? saia jadi pingin baca punya Juno...
.
kalo ada banyak dialog saia jadi terlalu fokus ke dialognya...
hehe...
.
drama, fantasi, atau romance?... hemm...
.
karakterisasi ya...
oke oke..
jadi nambah nih PR saia... xp
makasih sudah mampir juno... :D