Dua Cangkir Kopi dan Hujan yang Tak Kunjung Berhenti

Dua gelas kopi panas, satu dengan susu, yang lain pekat bagaikan malam tanpa bintang, dihidangkan di atas meja, dihadapan kami berdua: Aku dan sahabat baikku Jo. Atau setidaknya dulu kami bersahabat baik, sampai kurang lebih lima tahun yang lalu saat kami berdua saling kehilangan satu sama lainnya.

Jo, setahuku, pergi ke luar negeri untuk melanjutkan studinya, sementara aku... aku melakukan apapun yang bisa kulakukan untuk sekedar bertahan hidup. Kami berdua memang mirip. Di luar hujan turun makin deras.

"Aku tak mengira hal-hal semacam ini bisa terjadi di dunia nyata," katanya dengan sedikit sarkasme. "Kau masih menulis kan?"

Aku hanya mengangkat bahu, sambil bertanya-tanya dalam hati kapan kira-kira hujan akan berhenti. Jujur saja, sampai beberapa saat yang lalu, aku sendiri hampir melupakan Jo sama sekali. Sosoknya yang jangkung, rambutnya yang selalu tersisir rapi, tahi lalat di pelipis kirinya, kulitnya yang gelap... sungguh menakjubkan bagaimana seseorang bisa tak berubah sama sekali setelah sekian lama.

"Aku hampir tak mengenalimu tadi..."

Sial itu berarti jambang dan kumis ini tidak benar-benar berhasil menjalankan fungsinya dengan baik. Dan aku bahkan sampai mengubah potongan rambutku.

"Tapi tak peduli bagaimana penampilanmu, matamu tetap sama seperti dulu..." dan sambil mengatakan hal itu, Jo memejamkan kedua matanya, sesaat melompati batas ruang dan waktu, berkelana dalam relung-relung memori  masa lalu. "... tajam, angkuh, namun di saat yang sama juga dipenuhi kemarahan, kebencian, ketakutan..., curiga."

Dan kau masih sama jeleknya seperti dulu.

Jo tersenyum, mungkin karena tahu apa yang ada dalam pikiranku. Dengan tangan kirinya, ia mengangkat cangkir kopi di hadapannya, mendekatkannya ke bibirnya yang kehitaman, lalu dengan penuh gaya  meletakkannya kembali ke atas meja. Sialan.

Dan pandanganku jatuh ke arah jari manisnya, tempat sebentuk cincin perak melingkar anggun seolah mengejekku.

"Seorang istri, satu orang anak laki-laki, dua setengah tahun yang lalu," jawabnya sebelum aku bertanya, "Maaf, tapi aku tak berhasil menemukan alamatmu."

Ha ha, apa yang membuatmu mengira aku akan datang huh?

Kali ini ganti Jo yang mengangkat bahu. Lalu dari saku bajunya, ia mengeluarkan sebuah kartu nama kemudian meletakkannya tertutup di hadapanku.

"Kuharap kau tak keberatan mengundangku, jika saatmu tiba nanti."

Pertanyaannya adalah: Beranikah aku? Mungkin tidak. Lebih baik tidak ambil resiko. Hujan cepatlah berhenti !!!

Jo menarik napas panjang. Ia melepaskan kacamatanya, lalu dengan sapu tangan, mengusap kedua lensanya beberapa kali. Aku terkesiap. Tak kusangka ia sama gugupnya denganku.

"Aku..."

Seekor pelayan datang, dengan topeng senyuman bertanya, apa ada lagi yang hendak kami pesan setelah lebih dari dua puluh menit duduk sementara banyak pengunjung lain yang terpaksa berdiri.

Tapi sebelum aku melontarkan satu dua kata mutiara yang akan memicu konflik dalam cerita pendek ini, Jo cepat-cepat menyela, juga sambil tersenyum, mengatakan pada sang pelayan bahwa ia ingin mencicipi satu dua porsi kue lezat yang ditawarkan di kafe ini.

Aku sih hanya menyeringai saja. Yah selama ia tak memintaku membayar sendiri.

"Selama ini aku terus mencarimu," gumamnya, "kawan-kawan yang lain bilang kau menghilang begitu saja..."

Dan aku terkejut justru kau lah yang berhasil menemukanku pertama kali. Jika ini kebetulan, maka ini adalah kebetulan yang sangat mengerikan. Demi Tuhan tak bisakah kalian membiarkanku membunuh diriku sendiri?

"Aku tak tahu apa yang membuatmu melakukan hal ini," lanjutnya setelah pesanan kedua kami tiba, "tapi jika itu disebabkan oleh apa yang kukatakan malam itu..."

SIal. Sial. Sial.

"..."

Tidak. Kumohon. Jangan menangis. Serius. Itu tak cocok dilakukan seorang laki-laki berusia dua puluh tujuh tahun. Lagipula, apa kau tak peduli pada apa yang akan dikatakan orang-orang padamu? Lebih-lebih padaku? Sekarang kau membuatku terlihat seperti tokoh antagonis dalam cerita ini.

Ya. Ya. Baiklah. Kuakui. Itu salah satunya... tapi bukan satu-satunya.  Ah sial. Sekarang kupikir lagi, aku jadi tak yakin apa yang sebenarnya menyebabkanku ingin membunuh diriku sendiri.

Cukup. Sudah. Meski hujan belum berhenti...

Aku berdiri.

Kau mengulurkan tanganmu.

Sama seperti malam itu, di hadapan kawan-kawan kita yang lain.

Kau bilang:

"Aku (masih tetap) mencintaimu!"

***

Post Script:
Another weird story... feel free to puke...

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
30

no comment soalnya ane gak suka homo heheh btw salam kenal XD

80

terlepas dari mereka homo ata hetero, mataku lebih tertarik pada satu frase ini "seekor pelayan" :p

70

Terlepas dari gay atau tidak. Gunakan tombol enter dengan bijak. Gunakan tanda petik biar percakapan dengan lawan bicara atau dengan diri sendiri dapat dibaca dengan baik dan benar.

Mampir2 ketempatku yakkk..

80

Ah masih cinta ya? Hemmmm *nocomment*

100

hmmm

60

Kok saya nggak nangkep ceritanya, ya?

90

ini jadi beneran homo ? dunia dunia, betapa menyedihkan. hehe

90

haaa. mereka homo? O.O
ah! saya sudah menemukan 2 cerita berbau maho dalam dua hari terakhir! wkwkwk!
tapi keceriaan saya ini langsung berubah saat si penulis mengatakan "Apapun tafsiran pembaca, pasti salah :p"
JADI YANG BENAR APAA???!!! <<

haaa. mereka homo? O.O ~> Nah salah kan...
-
Nyahaha take it easy.

aahhh. apa itu cuman bercandaan aja? ish! kasih tau doooonngg >.<

100

hemm.. aku menikmati alurnya, jd penasaran. hehehehe.
salam :)

"hehehe"-nya kok serem gitu -_-
-
haha damai.