Suatu Hari Hujan di Emperan

 

“PEMBOHONG!”

Aku terkejut ketika gadis di sampingku tiba-tiba menjerit. Aku spontan menoleh. Kulihat dia mencabut strap ponselnya dan melemparnya ke kubangan air hujan. Tadinya aku tidak terlalu peduli dengan gadis itu. Duduk di emperan minimarket sambil menunggui hujan dengan gadis manis tak dikenal bukan kejadian aneh, kan?

Ralat. Gadis itu sebenarnya biasa saja. Bukannya aku tertarik dengannya atau apa.

Tapi tiba-tiba gadis itu menjerit seperti tadi. Dan sekarang dia menangis.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak pernah berada dalam kondisi seperti ini, berdua dengan seorang gadis dewasa—maksudku bukan bayi atau balita—yang sedang menangis keras-keras. Apa aku harus mengatakan sesuatu? Menghiburnya? Menyuruhnya diam?

Sial. Kenapa aku harus peduli? Aku bahkan tidak kenal dengan gadis itu Dan dia tidak manis. Sama sekali tidak manis.

“Dasar pembohong…”

Gadis itu bicara lagi di sela-sela tangisnya, kali ini tidak sampai menjerit, hanya bisikan lirih. Aku tidak tahan untuk tidak melirik ke arahnya. Kulilhat tangannya yang gemetar menggenggam ponselnya erat-erat, matanya yang sembab memandangi kubangan tempat dia melempar strap ponselnya tadi. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Kenapa dia sampai menjerit dan menangis seperti itu? Siapa yang membohonginya? Pacarnya? Apa pacarnya yang memberi strap ponsel yang dia lempar tadi?

Aku mulai ngeri dengan arah pikiranku yang mulai melayang ke mana-mana. Gadis itu Cuma orang asing, bukan siapa-siapa! Tidak ada urusannya denganku!

ARGH!

“A-apa itu?” suaranya terdengar lemah. Dia masih belum berhenti menangis, “…Untukku?”

Aku tidak berani melihat wajahnya langsung, tapi tanganku terulur, menyodorkan cokelat yang baru kubeli dari minimarket tadi.

“I-iya. Untukmu.”

“Terima kasih…”

Gadis itu mengambil cokelat itu dari tanganku.

Barulah aku sadar kebodohan apa yang baru saja kulakukan. Bisa saja dia mengira aku semacam stalker yang ingin mengganggunya dan menjerit memanggil polisi.

Tapi dia tidak melakukannya. Dia bahkan menerima cokelatku!

Lagi-lagi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menoleh ke arahnya. Sialnya, kali ini dia juga sedang melihat ke arahku.

Sial!

Pipiku terasa panas, padahal gadis itu bahkan tidak manis sama sekali!

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer banin
banin at Suatu Hari Hujan di Emperan (8 years 25 weeks ago)

Salam kenal, saya penghuni baru...

Writer Riesling
Riesling at Suatu Hari Hujan di Emperan (8 years 25 weeks ago)

salam kenal juga :D

Writer amusuk
amusuk at Suatu Hari Hujan di Emperan (8 years 40 weeks ago)
70

awwwwwwww ^w^

Writer ratihcahaya
ratihcahaya at Suatu Hari Hujan di Emperan (9 years 41 weeks ago)
60

tidak harus berwajah manis untuk membuat pipi terasa panas yaa??
sweet story... :)

Writer idserge
idserge at Suatu Hari Hujan di Emperan (9 years 41 weeks ago)
80

err tentang gadis pemberi coklat ya gan?

Writer 14insa
14insa at Suatu Hari Hujan di Emperan (9 years 42 weeks ago)
80

tsundere ><

Writer Chiely
Chiely at Suatu Hari Hujan di Emperan (9 years 42 weeks ago)
80

cute story :)

Writer hewan
hewan at Suatu Hari Hujan di Emperan (9 years 42 weeks ago)
80

dia menderita krisis kepercayaan diri :v

Writer midhadfarosi
midhadfarosi at Suatu Hari Hujan di Emperan (9 years 43 weeks ago)
80

hahahaha, ini manis, ralat. hahahaha

Writer smith61
smith61 at Suatu Hari Hujan di Emperan (9 years 43 weeks ago)
100

*sok dingin*

Tidak Paham :P

*kabur*

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Suatu Hari Hujan di Emperan (9 years 43 weeks ago)
90

Somehow, pipi saia ikutan panas setelah baca ini.
.
>//<

Writer fitria evadeni
fitria evadeni at Suatu Hari Hujan di Emperan (9 years 43 weeks ago)
80

tokoh utama yang menarik. ah dia menggemaskan >.< #abaikan

Writer dede
dede at Suatu Hari Hujan di Emperan (9 years 43 weeks ago)
100

ah sial!
Ini manis