Desember

Aku bukan laki-laki romantis. Sosok pria yang selama ini kau khayalkan samasekali tak nampak padaku. Aku kaku, dingin, dan kurang ekspresif. Apa yang kurasakan bisa saja kupendam sendiri, juga bisa saja tiba-tiba termuntahkan semua. Mengatakan apa adanya tanpa ada basa-basi yang mendahului. Pada suatu sore sepulang kerja kau terkaget-kaget ketika pertama kali aku mengatakan tiga kata itu “aku cinta padamu”. Ingat sekali aku, kejadian itu tepat awal Desember saat hujan gerimis. Bisa dibilang, momen itu merupakan kejadian paling romantis seumur hidupku, gerimis – Desember – nyatakan cinta di pinggir jalan, setelah menjemputmu di tempat bimbingan belajar. Ah, mungkin bagimu – si pecinta film-film klise romantis menganggap itu adalah hal biasa. Atau bahkan terlalu memalukan, tak tahu waktu dan aturan. Tapi inilah aku, modalku hanya jujur, mengatakan apa adanya.  

            Mmm, ngomong-ngomong mengapa waktu itu kau menerimaku. Aku malah curiga sendiri. Aku yang lagi bermimpi atau otakmu yang lagi korslet, menerima seorang laki-laki urban dengan wajah dan kehidupan pas-pasan.

            Seiring berjalannya waktu, aku membiasakan diri dengan hubungan ini. Aku yang awalnya mengalami cultural shock  akibat  mengikuti gaya hidupmu yang bertolak belakang dari kehidupanku lambat laun terasa biasa. Apakah pertemuan pertama kali di bengkel itu hingga terjalinlah hubungan ini merupakan sebuah perjalanan yang memang telah digariskan. Anggap saja begitu. Praktis, begitulah aku. Sampai acapkali lalai terhadap peristiwa kecil yang apabila kita peka akan menyadarinya.

            Hari ini adalah hari ulang tahunmu. Aku meminta ijin pulang lebih awal pada bosku. Khusus hari ini aku ingin menjadi apa yang kau inginkan. Laki-laki romantis lebih manis dari boneka kucing yang tiap malam kau peluk menemani tidurmu. Mungkin lagi, upayaku ini cenderung biasa untukmu, tapi menurutku tidak. Selama ini aku telah berupaya keras untuk berubah. Hanya saja aku terlalu malu untuk menampakannya. Banyak sekali perubahan yang kulakukan dan itu masih kusembunyikan. Aku sudah jarang lagi merokok, mengurangi jam keluar malam, mulai belajar mengatur pengeluaran, dan paling menarik yang belum pernah kulakukan sebelumnya adalah mulai membeli buku-buku tentang dirimu, menyelami hidupmu, mendekati apa-apa saja yang menjadi kegemaranmu, menulis, menggambar, bermusik. Sepertinya perlahan waktu telah mengantarkanku pada gerbang cinta yang bermuara pada dirimu. Lamat-lamat terdengar petikan syair yang sialnya aku lupa siapa pengarangnya.

            Aku telah menjadi dirimu

            Matamu telah menjadi mataku

            Apa yang kau dengar turut aku dengar

            Yang kau rasakan menjadi tamu istimewa dalam hatiku

            Tak sabar cepat-cepat kakiku melangkah menyusuri trotoar agar cepat sampai kontrakan. Bergegas ke kamar mandi, gosok gigi sampai bersih. Cukup lima belas menit aktivitas ini kulakukan. Berdandan dan memakai pakaian yang paling pantas, kemeja licin masih hangat bau setrika dan celana jeans panjang terbagus yang aku punya. Agak risih sih berdandan rapi seperti ini, jangan-jangan malah lebih mirip sales?

            Tak jauh dari tempatku tinggal berdiri sebuah toko bunga minimalis yang menjual beraneka ragam bunga segar. Lalu aku teringat kamu, bidadari yang tengah terdampar dalam taman hatiku. Seikat bunga mawar putih menandakan betapa tulusnya cintaku. Cinta pertama setelah seumur hidup aku vakum dalam dunia cinta. Memalukan memang, umur sebanyak ini baru merasakan yang namanya jatuh cinta. Terbelakang. Bisa dibilang akulah si katak yang keluar dari tempurung kegelapan. Dan langsung takjub kala melihat satu-satunya bidadari pembawa cinta yaitu kamu.

            Aku berjalan tak pedulikan mendung yang membayang. Pertanda hujan akan segera turun. Awan di atas sana terlihat gelap sekali. Langit seakan akan runtuh hendak menjatuhkan beban yang telah dipikulnya. Suara-suara guntur terdengar membahana bersamaan dengan derasnya buliran hujan yang berjatuhan. Suasana langit cerah ketika sebelum aku berangkat ternyata menipu. Aku tak membawa persiapan apapun selain pakaian yang menempel di tubuh. Kebasahan sudah pasti, kecepatan jalanku mengalami peningkatan dua kali lipat. Agar cepat sampai ke tempatmu. Saking tak sabarnya kemudian aku berlari sambil tetap melindungi seikat bunga yang kubawa agar terhindar dari jarahan derasnya hujan yang mengganas disertai tiupan angin yang lumayan kencang.

            Tepat pukul lima sore. Tepat pula aku melihat kamu. Sengaja kedatangan tanpa kabar ini kubuat agar kamu terkejut. Telah kususun pula rangkaian kata pertanda keseriusan upaya pengakuan  atas perubahan serta perasaanku selama ini yang banyak aku tutup-tutupi. Perasaan ini ternyata bagai gunung es, dia berlipat kali lebih besar dari yang kau tahu. Dan sore ini anggap saja kesempatan terakhirku dalam menyatakan keseriusanku, berniat menjadikan kamu sebagai pendamping hidupku. Atau tidak, selamanya aku tak akan memiliki kesempatan sama sekali.

            *

            Tubuhku memanas. Mataku perih. Tak dapat kututupi kesakitan maha dahsyat  ini setelah melihatmu berciuman dengan lelaki brengsek itu. Amarah, sakit, kesal semua bercampur menjadi satu. Aku bagai lelaki tolol sedunia yang telah dipecundangi oleh si munafik bernama kamu.  

            Apakah alam turut memberikan pertanda?

            Hujan deras seharusya aku tak pergi ke tempatmu. Kemudian aku juga tak akan melihat adegan menjijikan antara kamu dan lelaki brengsek itu di beranda rumahmu. Kemudian selamanya aku akan terbohongi? Menyakitkan.

            Biarkan! Begini lebih baik, meski awalnya teramat sakit.

            Suara teriakanmu mengejarku hilang bersama hujan seiring semakin menjauhnya aku dari rumahmu.

            Kejutan yang hebat. Bahkan, setelah apa yang kupersiapkan ternyata tidak ada apa-apanya. Kamu lebih hebat, sama brengsek dan hebatnya dengan lelaki itu. Terus saja bersandiwara sampai kalian mati aku tak akan peduli. Mulai sekarang, urusi urusanmu sendiri.

            *

            Pulang. Kututup semua pintu dan jendela. Aku berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Bayangan itu terekam dengan jelas bagai adegan film. Tubuhku kembali mengecil melihat memori-memori yang sebetulnya ingin aku buang. Aku benci menjadi pesakitan lagi.

            Ketidakharmonisan, pertengkaran itu datang lagi. Aku bisa melihat dengan nyata. Bagaimana berada diantara dua kubu yang saling menjatuhkan. Siapa bilang pernikahan akan menghasilkan suatu kedamaian. Bisa membayangkan, kamu atau saudaramu terlahir dari hubungan-hubungan yang tidak diinginkan. Perselingkuhan. Dan akhirnya, kamu dibenci oleh ayahmu sendiri lantaran kau memang pantas dibenci karena tak sepantasnya terlahir ke duania. Aku, si kecil yang tak tahu apa-apa tiba-tiba mendapat perlakuan yang menyakitkan. Terlebih warna kulitmu, postur, dan wajahmu tak mirip dengan saudara-saudaramu.

            Ibu berdalih karena ayah tak becus menjadi kepala keluarga. Sedang ayah berkata ibu adalah wanita tak tahu terimakasih. Dua-duanya pergi mencari orang lain yang mereka anggap lebih pantas. Lalu, mereka anggap kami apa? Patung tolol yang hanya bisa melihat tanpa mampu berpikir? Mereka salah. Kesalahan ini melahirkan kebencianku pada kalian berdua.

            Kehancuran mereka akibat perselingkuhan. Merembet pada kehancuran hubungan kita. Aku benci pengkhianat. Aku benci peselingkuh. Kamu anggap ini adalah kecemburuan biasa? Kamu salah. Ini bukan cemburu, melainkan kebencian masa lalu yang tumbuh kembali. Si brengsek siapa yang berani mengatakan selingkuh itu indah. Menjalin hubungan tanpa mempedulikan komitmen orang lain. Egois. Aku bilang peselingkuh adalah makhluk-makhluk egois yang tak pantas menjadi pendamping sejati. Tak pantas ditangisi.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer idserge
idserge at Desember (9 years 5 weeks ago)
70

kasus perselingkuhan ya hehehe

Writer KieROCKERS
KieROCKERS at Desember (9 years 5 weeks ago)

"Aku telah menjadi dirimu
Matamu telah menjadi mataku
Apa yang kau dengar turut aku dengar
Yang kau rasakan menjadi tamu istimewa dalam hatiku"

wow !!

Writer Titikecil
Titikecil at Desember (9 years 6 weeks ago)
80

Wuidich gado gado rasanya hehe...

Writer muras
muras at Desember (9 years 6 weeks ago)

gado-gado hambar, hehe