BOR N2 Fourways Fight : Versi Keilantra Fael

Langit malam begitu cerah. Bintang-bintang puas menerangi kegelapan tanpa penghalang dari sang awan. Bulan purnama pun dengan angkuhnya memamerkan cahayanya, menyinari dua bocah yang sedang berbaring di atas rerumputan.

Sang bocah laki-laki memainkan sebuah belati perak di tangannya, membuat cahaya rembulan terpantul pada bilah belati itu.

"Vio," bocah bertudung di sampingnya bangkit tiba-tiba dan duduk. "Um ... kenapa aku belum boleh memiliki senjata sepertimu?"

Sang bocah laki-laki tersenyum kemudian bangkit dan duduk tepat di hadapan sang bocah bertudung.

"Pertanyaanmu salah, Kei."

"Salah bagaimana?" Bocah bertudung itu cemberut. "Kak Arion punya kipas beracun yang hebat, Kak Mec punya pedang hitam yang keren, dan kau ...," bocah bertudung itu menunjuk belati yang ada di genggaman Vio. "...punya belati cantik itu. Kenapa aku tidak punya?"

Vio tersenyum simpul seraya memasukkan kembali belati perak itu pada sarungnya.

"Ini hanya alat bantu, Kei."

"Itu senjata, Vio."

Vio mendengus geli. "Bukankah kau juga punya senjata?"

"Eh? Benarkah?"

Vio menatap Keilantra sejenak kemudian menghela napas. Diulurkannya tangannya di hadapan wajah bocah itu. Keilantra memekik kecil saat Vio menyentil keningnya.

"Vio! Sakit tahu!"

Vio tertawa sejenak dan segera mengusap-usap kening Keilantra yang memerah.

"Kau bisa mengendalikan angin. Itu juga senjata."

Keilantra memanyunkan bibirnya. "Itu bukan senjata. Kemampuan itu bahkan tidak berguna sama sekali." gerutu Keilantra. "Dan juga tidak keren."

Vio kembali tertawa. Gadis kecil yang benar-benar polos. Pikirnya.

"Tahu tidak, angin itu tercipta dari udara. Udara itu sangat penting—“

"Tentu saja aku tahu itu!" sela Keilantra cepat.

“—tapi, di saat bersamaan juga sangat mematikan."

Keilantra terdiam. Wajahnya terlihat bingung. "Kenapa bisa seperti itu?"

Vio bangkit untuk berdiri seraya menepuk-nepuk celananya. Ditepuknya kepala Keilantra dengan pelan.

"Soal itu kau harus mempelajarinya sendiri. Kau itu 'Putri' klan Fael. Kelak kau akan menjadi orang yang hebat, Keilantra."

Keilantra menyingkirkan tangan Vio dari kepalanya. Ia paling tidak suka jika ada yang menepuk atau mengusap kepalanya. Membuatnya seolah diperlakukan seperti anak kecil yang lemah. ...Dan juga hal itu selalu saja membuat wajahnya merona.

"Ucapanmu seperti orang tua saja." ujar Keilantra seraya bangkit berdiri.

"Aku memang lebih tua darimu, kan?" balas Vio seraya tersenyum mengejek.

"Huh! Ayo pulang!"

Vio tertawa melihat wajah Keilantra yang cemberut.

"Hei, hei. Jangan marah, Kei. Aku kan hanya ... ng?"

Vio heran melihat Keilantra yang terdiam di tempatnya sambil menatap sesuatu di kejauhan.

"Kei, ada apa?"

Vio mengikuti arah pandang Keilantra. Wajahnya segera memucat saat melihat asap membumbung tinggi dari arah desa.

"Vi-Vio, itu ... hanya sampah yang dibakar, kan ...?" ujar Keilantra seraya memaksakan senyum.

Vio tak menjawab. Raut wajahnya berubah serius. Ditariknya lengan Keilantra dan mereka pun segera berlari menuju desa.

 

---

 

"Vi … Vio …”

Napas Keilantra tertahan melihat pemandangan di hadapannya. Bulan yang tadinya tertutupi awan perlahan mulai tampak. Darah segar menetes dari ujung pedang yang menembus perut bocah di ujung sana. Pada bagian lain pedang itu nampak seorang berjubah hitam yang wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutupi tudung.

Sosok berjubah itu, sang pembunuh, mencabut pedangnya dengan mudah dari perut sang bocah laki-laki. Sesaat bocah itu memuntahkan darah segar lalu tubuhnya jatuh tak berdaya ke tanah dengan bersimbah darah.

Tubuh Keilantra gemetar. Ia begitu ingin menjerit dan berlari sejauh mungkin dari tempat itu. Tapi apa daya, tubuhnya seolah membeku.

Dalam sekejap pembunuh itu telah berada tepat di hadapannya, siap mengayunkan pedang. Keilantra refleks memejamkan mata erat-erat. Sebuah suara tubrukan yang cukup keras membuatnya membuka mata. Belum sempat ia mengetahui pasti apa yang telah terjadi, seseorang telah memeluk tubuh Keilantra dengan erat. Bisa ia rasakan orang itu berusaha keras untuk kabur dari tempat itu, membawa serta dirinya.

Tanpa sadar air mata Keilantra merebak. Ia membalas pelukan orang yang berusaha menyelamatkannya itu. Ia sadar, kematian ada di hadapan mereka, merentangkan sayap, siap menyambut mereka.

Sang bocah laki-laki menghentikan larinya. Ia telah sampai pada batasnya. Lututnya melemas, tapi tetap saja ia memaksakan diri untuk berlari.

Pada akhirnya tekad saja tidak akan cukup. Bocah itu tersungkur beserta Keilantra. Tubuhnya yang bersimbah darah semakin tidak berdaya, namun ia masih tetap memeluk tubuh mungil Keilantra dengan erat.

“Kei, dengarkan aku … Apapun yang terjadi … kau … harus selamat … A-aku yakin kau pasti akan tetap hidup … Kematianmu … tidak ditakdirkan saat ini, Kei …”

“Apa … yang Vio bicarakan …?”

Vio mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Digenggamkannya kedua tangan Keilantra pada benda itu.

“Ini dari Mec … Semua yang kau butuhkan sudah ada di dalamnya—ugh! Sekarang pergilah!”

“Ta … tapi …”

“Kubilang cepat pergi!!”

Keilantra merasakan pusaran angin menyelubungi tubuhnya. Air mata mengalir semakin deras membasahi kedua pipinya.

“Vio! Kei mau pergi bersama Vio! Kei tidak mau sendiri! Vio harus ikut! Vio! Vio!!”

.
.
.
.
.
.
.
.

"Kau sendirian?"

"...?!"

"Jangan khawatir, aku tidak akan menyakitimu. Siapa namamu gadis kecil?"

"Ke ... Keilantra ..."

"'Putri Kegelapan', ya? Nama yang indah."

"...?"

"Namaku Galen. Apa kau ingin ikut denganku, Keilantra?"

 

---

 

"Tempat apa ini? Aku tidak tahu ada tempat seperti ini sebelumnya."

"Tentu saja, hanya pemimpin klan dan para tetua saja yang mengetahui tempat ini."

"Lalu, bagaimana kau bisa tahu, Galen?"

"...Penjelasan itu bisa menunggu. Kemarilah, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."

 

 

"Ap-apa ini ?"

"..."

"Lukisan di dinding itu ... Lilith?"

"Benar. Dia adalah Lilith, Iblis yg telah memberkati sekaligus mengutukmu.

 

---

Read previous post:  
80
points
(5538 kata) dikirim Sam_Riilme 9 years 14 weeks yg lalu
88.8889
Tags: Cerita | Cerita Pendek | lain - lain | Battle of Realms | N2 | Ronde Turnamen
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
100

Begini, di sini saya lebih menikmati adegan ceritanya ketimbang adegan battlenya. Waktu bagian battle awal saya agak kesulitan mengikuti. Setelah Lilith keluar dan banyak ngomongnya udah asyikan, tapi trus ketiga lawannya kalah secepat gitu, kurang asoy. ^^
.
B !

suka sama konsepnya, dan beneran suka sama lilith :D
tp kei galau terus, trus peserta yg lain jg krasa kurang menonjol kak x3
jadi skor B

80

Saya seneng dengan pbagian akhir di mana yang mati jadi kasur tersendiri, hahaha~ Idenya boleh juga
Cuma rada ga sreg karena begitu Lilith muncul semua rasanya jadi kegampangan. Tiga lawannya seolah ga ada artinya keberadaannya di pertandingan ini. Tapi humor Lilith-Satan itu menghibur sih
.
Saya kasih A deh buat modal awal (karena ini bakal dikurangi juga nantinya). Btw, ini berarti saya udah ngasih A ke semua peserta Unlimited Beds kecuali Ezy

100

UYEEEEE, selamat telah berhasil menyelesaikan FWF !!! ^o^
*kasi pop mie (?)*
.
tapi...
.
hweeee, sy kecewaa.. TT______TT
.
interaksi antar karakternya kurang, matinya lawan2nya gitu doang, Ezy sama Yunus juga kurang ditonjolin.. fokus sma canon Keilantra aja ya ._.
.
battle nya asik sih, Allan nya juga XDDD
kayaknya sy mesti minta maap sama kak Ivan (?) ._. Allan gak bisa manggil Satan, cuma budak2 iblis ajah tapi kalo gak ada Satan gak ada adegan suami istri itu wkwk XDDD
.
tapi sy bener2 seneng sama Keilantra-Lilith di sini!! nari2 kayak film india wkwk
Lilith nya unyu banget >.<
.
canonnya Keilantra sy juga seneng bgt, sumpah pas yang ngomong "emosi, perasaan, jati diri.." itu sy merinding
.
sy gk mao kasi skor krn gk bisa ngasi nilai A..