kasta

Aku pikir cerita ini hanya akan kutemukan dalam cerita-cerita masa lampau, cerita saudara perempuanku yang tinggal di seberang pulau sana. Atau cerita yang sekilas seringkali kulihat di televisi, sinema elektronik tontonan kegemaran ibuku.

            Sampai suatu ketika aku mengenal kamu.

            Barangkali cinta pada pandangan pertama membuatku buta. Sampai melupakan bahwa kamu dan keberadaanmu tidak dimiliki oleh dirimu sendiri. Kamu milik orang tuamu. Berbeda dengan aku, sejak kecil aku telah terbiasa mengelana dan terpisah dari orang tua. Aku tinggal dengan orang-orang baik hati yang mau memungutku untuk disekolahkan oleh mereka. Saat aku menginjak Sekolah Menengah Atas, aku terpilih oleh sebuah yayasan dan memiliki pilihan : apakah aku mau disekolahkan oleh mereka dan itu berarti nanti harus menjadi kader yayasan atau aku tidak akan mampu melanjutkan sekolahku sama sekali. Mengingat keluargaku terbilang kurang mampu, lagipula aku masih memiliki adik-adik dan mereka lebih membutuhkan pendidikan dan kebutuhan pokok lain dibanding aku.

            Tanpa pikir panjang aku menyetujui pilihan pertama. Aku sadar, berbuat di bawah tekanan orang lain memang tak nyaman. Mau bagaimana lagi, tidak ada pilihan lain selain ini. Modalku hanya tekad dan semangat. Aku sangat gila terhadap ilmu pengetahuan dan belajar. Maka dari itu tidak heran mereka memilihku, mereka tahu tiap prestasi akademik dan ekstrakulikuler yang telah kucapai. Yah, anggap saja ini sebuah beasiswa. Menghibur diri saja.

            Aku ingat, suatu ketika di pertengahan perjalanan masa belajar tak sengaja aku melihatmu keluar dari kelas 8A. Aku yang kala itu sedang duduk-duduk bersama temanku di taman sekolah tak sengaja menangkap sosokmu.

            Ya. Aku yang kutu buku ini memang jarang memperhatikan sekeliling. Jarang memperhatikan bahwa di sekolah ini terdapat banyak sekali gadis-gadis cantik. Padahal sebelumnya teman-temanku sering memperbincangkanmu. Sampai kemudian aku membuktikan dan melihat  sendiri. Kau lebih dari apa yang teman-temanku katakan.

            Kata ‘lebih’ adalah tambahan dari diriku sendiri. Aku yakin teman-temanku belum sampai pada taraf ini. Mereka baru pada taraf kagum. Dan aku, benarkah telah sampai pada taraf jatuh cinta padamu?

            Entah kegilaan apa lantas aku berani memvonis bahwa kaulah cinta pertamaku. Meskipun aku pernah menyukai temanku di Sekolah Menengah Pertama, tapi aku yakin cintaku yang dulu berbeda dengan cintaku padamu. Cinta monyet berbeda dengan cinta pertama. Aku yakin. Perasaan ini sungguh berbeda dari yang sudah-sudah.

            ***

            Salah satu peraturan asrama kami ialah melarang murid-muridnya menjalin cinta kasih. Peraturan mana yang tidak akan lolos dari pelanggaran. Sudah sering mendengar kisah anak-anak asrama menjalin cinta secara sembunyi-sembunyi? Akulah salah satu orangnya.

            Disamping itu, peraturan juga tidak membolehkan kami membawa barang elektronik ataupun telepon genggam. Maka, aku gunakan jurus terakhir dalam berkomunikasi : berkirim surat padamu. Sekuat tenaga ku keluarkan kata-kata romantisku agar dapat memikat kamu. Begadang semalaman akhirnya membuahkan sepucuk surat dan puisi pernyataan.

            Terimakasih, rasa yang terpendam ini akhirnya berlabuh sudah

            Aku lega, membalas apapun aku terima

            Jangan sungkan-sungkan katakan apa yang kau rasakan sebenarnya

            Aku siap!

            Begitulah penggalan terakhir kalimat dalam suratku. Meski dalam lubuk hati kecilku yang terdalam aku belum siap bila engkau menolakku. Namun aku harus katakan itu. Aku seorang lelaki sejati, pantang terlihat lemah di hadapan seorang wanita.

            Masa penantian adalah masa yang paling mendebarkan dan menyiksa bagiku. Bagaimana tidak, waktu yang bergulir seperti memiliki eksekusinya sendiri. Sewaktu-waktu aku bisa saja patah apabila kedatangan surat balasanmu untuk menolakku. Atau bisa jadi waktu mengantarkan aku memasuki taman-taman bunga, taman orang-orang yang sedang dilanda cinta kala surat merah jambu itu datang pertanda kau menerimaku.

            Aku mohon, apapun yang terjadi balaslah suratku. Menunggu dan mengambang ternyata lebih menyiksa dari sebuah penolakan. Dia bisa perlahan menggerogoti apa-apa yang kumiliki, waktu, kesempatan, dan keceriaan yang tiba-tiba meredup. Kau tahu, dalam rentang dua minggu berat badanku menurun. Ohh… aku enggan begini terus.

            Dua minggu berlalu kutemukan balasan suratmu terselip di bawah pintu masuk kamarku. Entahlah, aku tidak tahu bagaimana kamu bisa melakukan ini. Lewat temankah, atau kau berjalan mengendap-endap sendiri. Aku tidak mau berpikir panjang soal itu. Cepat-cepat aku membuka pintu dan mengambil surat darimu. Segera aku baca dan…

            Terimakasih, kau telah bersedia membalas untuk menyukaiku…:)

            Aku tertawa sambil memeluk guling, satu-satunya benda terdekat yang cocok dijadikan pelampiasan rasa bahagiaku. Perasaan lega ini sungguh tak bisa kusembunyikan. Sampai larut malam mataku sulit terpejam. Ya. Aku merasakan perasaan yang telah lama tidak aku rasakan pada wanita manapun selain kamu. Aku mencatat, malam itu adalah malam dimana aku merasakan rindu terhebat padamu. Menangis terharu, tersenyum sendiri, serta membayangkan prospek ke depan hubungan kita. Akankah kau merasakan dan memikirkan hal yang sama?

            Sampai esok pagi datang, sisa bahagiaku masih tersimpan banyak. Aku sering tersenyum dan merenung sendiri. Sesekali kuarahkan pandanganku ke arah kelasmu. Menantikan kesempatan untuk bisa memandangmu secara langsung. Cinta ini membuatku semangat dan sehat.

            Sejak  saat itu, aku mulai menggemari apa-apa yang kau suka. Drama-drama Korea yang kau pinjam dari rental kemudian kau lihat saat kau pulang ke rumah seminggu sekali. Aku menyimak segala yang kau tuturkan. Gilanya, aku seperti menjadi dirimu. Mulai turut menyukai hal-hal berbau Korea. Tak tanggung-tanggung, aku berani menyisihkan uang jajanku demi untuk membeli kamus berbahasa Korea dan buku-buku lain tentang mereka. Disela-sela kesibukanku untuk menjadi kamu, kamu memberi nama yang lucu untuk kita berdua : Dozen sayang Oppa. Pertama kali mendengar kata itu, telingaku agak aneh. Aku baru tahu setelah membuka kamus, bahwa kedua kata itu berarti  adik kakak. Entahlah, apakah ini julukan sayang atau memang dia pada akhirnya menganggap aku seperti kakaknya saja. Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri panggilan tersebut adalah panggilan cinta darinya.

            ***

            Sampai aku lupa, ternyata kau bukan milikku saja. Ada orang-orng yang terlebih dahulu memilikimu. Merekalah orang tua dan orang-orang terdekatmu. Dan kepemilikanku ternyata tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Aku si sebatang kara anak kemarin sore berusaha memiliki gadis berada dan masih manja.

            Sadar.

            Mulai kurasakan saat tatapan ayahmu tertuju padaku ketika dia berkunjung menjengukmu. Walau dari jarak cukup jauh, aku tahu maksud tatapan itu. Tatapan seorang lelaki yang menelanjangi harga diri juga status hidupnya. Barangkali sosokku telah kau ceritakan pada mereka. Tak mengapa, itu lebih baik karena setelah itu aku dan kamu akan tahu pandangan orangtuamu.

            Ayahmu adalah seorang dokter. Ibumu bekerja di sebuah departemen milik pemerintah. Dan, salah satu tantemu menjadi pengajar di sekolahku. Setelah kejadian tatapan itu pikiranku menjadi jernih. Kemudian mulai merumuskan satu-persatu kejanggalan-kejanggalan ini.

            Ternyata, tantemu turut menjadi mata-mata hubungan kita. Pantas saja aku pernah dipanggil dan diberi peringatan. Apabila aku berani melanggar peraturan lagi beasiswaku akan dicabut. Apakah kau pernah bercerita pada tantemu perihal surat kita? Aku juga baru menyadari sikap dingin dan ketusnya selama ini ketika melihatku. Rasa ketidaksukaan itu ada kaitannya dengan hubungan kita. Dia tidak setuju kamu berdekatan denganku.

            Juga, aku baru mengerti panggilan adik kakak itu adalah bagian dari pertanda yang kau berikan. Terlebih dahulu kau tahu kemana arah hubungan kita akan berlabuh. Mungkinkah kandas menghantam karang? Kau curang, kau telah siap duluan sedang aku tidak. Aku benar-benar belum siap dan kaget pada kenyataan-kenyataan mendadak yang kuhadapi kini.

            Akhir semester pun tiba. Sebentar lagi aku lulus.

            Dengan terang-terangan orang tuamu menyatakan tidak menyukai aku. Aku miskin. Memang aku miskin! lantas apa urusan anda? Aku tak memiliki masa depan? Siapa yang akan percaya, anda bukan Tuhan! Dia juga mengatakan akan menjauhkan kamu dari aku. Agar hilang kontak selamanya. Selepas lulus, kau akan dibawa pulang ke Magelang untuk melanjutkan sekolah di daerah asalmu.

            Saat itu, sebetulnya aku ingin berbalik memaki ayahmu. Aku mencoba menahan dan mengurungkan keinginan itu. Hanya demi kamu, mengingat dia adalah orang tua kandungmu. Darahnya adalah darahmu. Memakinya berarti memaki kamu.

            ***

            Aku terima.

            Adakah sakit kasat mata yang lebih parah melebihi sakit karena putus cinta? Aku bilang tidak. Bahkan, penderitaan yang kualami semasa hidupku sebelum berjumpa dengan kamu tidak ada bandingannya sama sekali. Sakit ini benar-benar terasa sampai ulu hati yang terdalam. Dia – hatiku seperti habis dianiaya dan ditusuk-tusuk, sakit sekali.

            Mau tidak mau hidup harus bangkit!

            Setelah lulus dan kejadian perpisahan itu, kuputuskan untuk merantau ke kota lain. Aku kembali digilakan lagi oleh kebiasaanku sebelumnya. Mati-matian aku mengejar beasiswa. Setelah teraih, kembali aku bergelut pada materi-materi pengetahuan yang kurindukan. Semenjak terabaikan dan mulai lagi menempuh Perguruan Tinggi, kegilaankaku pada ilmu pengetahuan semakin menjadi-jadi. Siang malam kuhabiskan mengerjakan tugas-tugas dan beraktivitas.    

Sampai aku berhasil lulus dan melupakan kamu.

            Empat tahun,

            Lewat sebuah jejaring sosial aku kembali menemukan kamu. Gadis itu memang kamu, tidak salah lagi. Hanya saja kau sedikit berubah, lebih modis dan tidak selugu dulu. Masihkah kau menyukai drama-drama Korea? Masihkah kau ingat Oppa mu ini? Tanyaku dalam hati sembari tersenyum. Aku menahan, semoga luka itu tak terbuka lagi.

            Disana, aku menemukan kau bercanda dengan seseorang. Statusmu juga telah berubah. Sejak kapan? Sejak pemutusan itukah? Meski kutahan, pikiran-pikiranku tak mau berhenti dan terus menyusuri kamu.

            Tenang saja, sekarang aku tak serapuh dulu. Jatuh cintaku juga tak semenggebu masa lalu. Aku berbeda. Dan satu pelajaran yang akan kutanamkan pada diriku, aku hanya akan jatuh cinta lagi pada wanita-wanita yang mau menerimaku apa adanya. Aku akan memperhitungkan kembali apabila ada wanita lain seperti dirimu mendekatiku. Sepertinya, aku enggan mengulangi kesakitan yang sama…

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer idserge
idserge at kasta (7 years 30 weeks ago)
30

maaf belum bisa menyimpulkan

Writer muras
muras at kasta (7 years 30 weeks ago)

nggak apa2

Writer pratama_fariz
pratama_fariz at kasta (7 years 30 weeks ago)
80

Biasanya suatu cerita tanpa dialog akan membosankan, tapi ini aku menikmati hehe :) Ah tapi endingnya kurang nendang hem.

Writer muras
muras at kasta (7 years 30 weeks ago)

asik! :) iya, ga tau kenapa jadi kehilangan kemampuan buat bikin dialog. lagipula udah keenakan nulis jadi lupa. gali gali...! :D

Writer irayukii
irayukii at kasta (7 years 30 weeks ago)
80

Mungkin kalo ada dialog langsung antar tokoh akan jadi lebih bagus Nit :)

Writer muras
muras at kasta (7 years 30 weeks ago)

hehe, makasih masukannya Ir :)

Writer 14insa
14insa at kasta (7 years 30 weeks ago)
90

temanya simpel, kalau mau jujur malah kayak sinetron :D. tapi, kamu bisa bikin alur ceritanya jadi lebih realistis, lebih humanis. poin utamanya disana sih. untuk masalah teknis dll sementara skip dulu. hohoho...

Writer muras
muras at kasta (7 years 30 weeks ago)

maksih :) sinetron ya? :D, hehe... setuju! kapan-kapan, balik lagi buat ngomentarin teknis ya??

Writer 14insa
14insa at kasta (7 years 30 weeks ago)

sip.. mampir juga ya.. :D

Writer muras
muras at kasta (7 years 30 weeks ago)

sudaah :D