Medium

The Birth of New Group [Chapter 1.1]

 

“Lho, Vid? Kamu beneran indi... AACKK!!!” aku menginjak kaki Adam yang sedang duduk di sebelahku dengan kencang sambil menatapnya dalam-dalam. Ia mendengus kesal dan mengelus-elus kaki yang baru saja kuinjak.

“Ada masalah, Widya, Adam?” tanya Mrs. Suci, guru konseling kami berdua. Dengan komopak aku dan Adam menggeleng pelan sambil tersenyum.

“Um... Ma’am, sepertinya masalah ini sudah selesai. Dan saya kira semua akan baik-baik saja. Jadi, yaahh... kita berdua mohon pamit ya, Ma’m.” Aku mendorong punggung Adam pelan dan berusaha membujuknya untuk keluar dari ruangan BK. Adam yang sudah terlanjur ngambek hanya menyilangkan tangannya dan kakinya tak digerakkan sama sekali. Semua itu membuatnya makin berat.

“Kalian yakin enggak kenapa-kenapa? Soalnya yang terkena kesurupan mayoritas dari kelas kalian berdua, lho...” ucap Mrs. Suci sambil memukul-mukul bukunya pelan ke meja—entah apa tujuannya melakukan itu.

Sialnya, karena terlalu serius mendengar pertanyaan sekaligus penyataan dari Mrs. Suci, aku mengabaikan Adam dan membuatnya terjatuh di kolam kecil yang terletak di depan ruang BK. Adam menatapku degan pandangan tak senang karena tepat di atas kepalanya pancuran air mencur mengalir dengan derasnya—beserta ikan-ikan kecil tentunya. Aku mengangkat bahuku sebentar dan mengulurkan tangan untuk membatu Adam yang hampir basah kuyup.

Tidak, dia tidak hampir basah kuyup. Ia benar-benar basah kuyup dan benar-benar marah terhadapku.

 

***

 

Aku sekarang berada di depan kamar mandi.

Menunggu Adam.

Oke, jangan berpikiran negatif terlebih dahulu! Aku menunggu Adam dengan baju olahraganya berada di tanganku karena aku orang yang cukup bertanggung jawab atas perbuatanku. Yah, begitulah kurang lebih yang sedang kulakukan di sini. Seperti orang bodoh dengan membawa pakaian olahraga anak cowok.

“Vid! Bajuku!” terdengar teriakannya dari dalam, aku segera memberinya baju yang kupegang tanpa menghadap belakang sama sekali.

“Jangan ngintip!”

“Cih, siapa juga yang mau ngelihat kamu? Malahan nanti aku sakit mata lagi.” Cibirku pelan. Aku sudah capek menunggunya berganti baju. “Adam, aku tinggalin yaaa...”

Tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka, dan keluarlah Adam dengan rambutnya yang masih basah. Wajahnya agak pucat, hampir seperti mayat berjalan yang menghampiriku. Ada banyak kemungkinan dia seperti ini. Pertama, karena kedinginan. Kedua, karena bertemu ‘sesuatu’ di kamar mandi. Ketiga, ia menjadi zombie.

Baiklah, dua kemungkinan pertama masih bisa masuk diakal. Yang kemungkinan terakhir sebaiknya lupakan saja. Dan memang kuberi sugesti untuk melupakan semua yang telah kukatakan selama ini—dan mungkin kalian tak akan berpengaruh.

“Dam? Kamu baik-baik saja, kan?” tanyaku sambil menggoyangkan lengannya yang panjang itu. Ia hanya menoleh kepadaku, aku perlahan menatapnya.

“Hahaha... lucu, ha... kamu enggak mungkin ketemu kan?” aku tertawa dengan penuh paksaan.

“Sepertinya aku enggak perlu lagi jelasin panjang lebar. Lagipula kau bisa membaca pikiran kan? Kau ini masuk golongan apa? Indigo? Cenayang? Paranormal? Medium? Mediator? Atau istilah lainnya?”  tanyanya pelan.

Aku tersentak kaget saat ia tiba-tiba bertanya seperti itu. Rasanya semua anggota tubuhku tak berfungsi dengan baik, yang bisa kulakukan hanya bernapas walau agak sulit. Baiklah Widya, kau bisa mengatasi ini tanpa masalah. Seperti sebelumnya, berbalik, memasang wajah datar dan berkata ‘apa itu?’ tanpa cacat. Kau bisa, kau pasti bisa!

“Aku cenayang.” Jawabku kalem. Sial, apa yang keluar dari mulutku ini? Adam bisa-bisa mengira aku aneh seperti anak-anak yang lainnya. Ck, aku hanya bisa berharap ia tak percaya, lalu tertawa dan meninggalkanku di tengah kebodohanku yang amat menjengkelkan ini.

“Cenayang? Tidak, kau bukan cenayang. Aku cenayang.” Ucapnya dengan mantap. Aku hanya melongo mendengar pernyataan darinya.

“Kau... cenayang? Maksudku, ah, ya. Aku ini mefet cenayang.” Aku berusaha bisa mengganti topik pembicaraan ini secepat mungkin. Tapi Adam sepertinya menanggapi ini terlalu serius. Ia serius melebihi apapun yang sedang mengganggu pikirannya saat ini. Kabar baiknya, aku bisa mengalihkan perhatiannya dengan masalahnya. Aku hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya.

“Ya. Aku ini cenayang. Dan... seperti yang kau tahu, jasa cenayang tak begitu dibutuhkan di sini. Dan untuk tambahan, mantan teman sekelasmu pernah cerita kalau kamu bisa melihat ‘sesuatu’, yah... mereka juga enggak bilang sih kalau kamu juga bisa baca pikiran orang.” Sialan, kenapa berita seperti ini cepat sekali menyebarnya?

“Jangan dengarkan mereka, oke? Itu mitos. Aku bisa membaca pikiran orang itu mitos, atau mungkin legenda.”

“Apanya yang legenda? Legenda bahwa arwah penunggu sekolah ini mencari tubuh di tiap tahunnya? Itu fakta, Vid. Fakta!” ucap Adam bersikeras.

Aku membelakkan mataku dan menurunkan bahuku sedikit, “serius? Kau tak tahu yang lebih mengerikan daripada itu? Masih ada banyak yang perlu kau ketahui, bung.” Ujarku sambil meninggalkannya.

“Dan satu lagi, namaku Widya, bukan Vidya...”

 

***

 

Dan akhirnya aku di sini lagi, ruang seni musik yang katanya punya kekuatan paling besar di sekolah ini. Entah kekuatan apa, mari kita coba buktikan dengan sedikit meditasi di sini.

Aku mengeluarkan buku catatan kecil berwarna oranye yang biasa kubawa ke mana-mana. perlahan demi perlahan kubuka lembaran halaman yang sudah dicoret dengan berbagai macam tulisan. Mulai pelajaran sampai, yah... mantra yang mungkin sedikit berguna untuk bermeditasi di sini.

“Baiklah, coba kulihat... hubungan antara kelas IX A dan IX B, sama-sama memiliki taman. Ah, bodoh! Semua kelas memang memiliki taman. Anak laki-lakinya lebih banyak dari pada anak perempuan? Ah, tak ada kesamaan elemen yang ada di sini...” gumamku pelan.

Selang memikirkan persamaan antara kelasku dengan kelas Adam, tiba-tiba aku mendengar suara pintu diketuk. Karena sedang tak ingin diganggu oleh siapapun, maka kuputuskan untuk membiarkan suara ketukan yang tak penting itu. Makin kubiarkan bukannya orang yang mengetuk itu pergi atau apalah, melainkan makin mengencangkan ketukan pintunya. Sial, makin tak bisa konsentrasi kalau begini caranya.

“SIAPAPUN ITU, MASUK SEBELUM AKU BERUBAH PIKIRAN!” teriakku sekeras mungkin. Dan tebak siapa yang masuk beberapa detik yang lalu.

Adam.

Baiklah, bukan saat yang tepat untuk beragumen dengan Adam. Lebih baik membiarkannya mematung di depan pintu yang sudah ditutup itu dan mulai meditasi dengan tenang.

“Kau sedang apa?” tanyanya lambat-lambat.

Kulirik dengan tatapan yang menurutku cukup tak menyenangkan, “meditasi.”

“Untuk apa? Ada yang bisa kubantu? Yah... mungkin bantuanku tak maksimal, sih. Tapi tak ada salahnya membantu teman, ‘kan?”

“Memangnya kau temanku?” tanyaku langsung setelah ia mengakhiri kalimatnya, namun ia memberikan respon di luar perkiraan. Ia hanya diam membisu. “Oh, oke, oke. Aku minta maaf. Dan apa yang bisa membuatmu berguna di sini?”

Adam mengambil buku catatan kecilku itu dan menunjuk salah satu di antara gambar-gambar elemen. “Apa maksudnya ini? Bagaimana membaca dan cara bekerjanya?”

“Sebenarnya, yang kau perlukan hanyalah mencari elemen yang sama atau mungkin berhubungan antara tempat atau kejadian satu dan yang lainnya. Lalu, setelah kau tahu elemen apa itu, baru baca mantranya. Ngomong-ngomong, di kelasmu banyak apa?”

“Banyak apa? Banyak murid.”

“Bodoh! Bukan itu yang kumaksud! Maksudku, bagaimana dengan tanaman, tanah, angin, air, atau yang lainnya?”

“Di kelasku dingin. Dan tanah di tamanku cukup banyak. Apa itu sedikit membantu?”

“Tanah! Ya ampun, kenapa dari tadi itu tak kupikirkan? Terima kasih, cenayang!” ucapku buru-buru dan segera mencari elemen tanah di bukuku itu.

Une terrasse neuf pays à forte histoires commence par un tas de terre, a terrace nine stories high begins with a pile of earth.” Ucapku seperti biasanya, dengan cara bicara, nada, dan suara yang sama, namun tak terjadi kejadian yang sama. Aku menurunkan bahuku, lalu menghela napas panjang. Dan aku melirik ke arah Adam yang duduk dengan tenang.

Ia tersenyum.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Hikaru Xifos
Hikaru Xifos at Medium (7 years 29 weeks ago)
80

Wah, lama gak ketemu~~ XD

Writer L. Filan
L. Filan at Medium (7 years 30 weeks ago)
70

Awalnya agak membingungkan buat saya. Terlalu tiba-tiba jadi ga bisa bayangin mrk lagi ada di mana. Trus tiba-tiba ada kolam. Beneran ini chapter 1?
-
Saya bayangin itu ada di ruang bk tapi kemudian Wiedya menarik Adam keluar dari ruangan bk (nggak jelas berhasil di tarik atau nggak) Melihat Adam menyilangkan kaki dan tangannya dan tak bergerak mungkin nggak sampai keluar ya.
Apalagi guru BK-nya mengetuk-ngetuk buku ke meja. Mrk msh di ruang BK.
Saya ga mengerti knp tiba-tiba Adam tercebur. Kolamnya di samping ruang BK? bukannya mereka sedang ada di ruangan? Kalo nggak, kenapa guru BK-nya masih bicara dengan mereka?
-
Itu aja, Wied awalnya benar2 kurang penjelasan jadi susah membayangkan. Begitu juga dg adegan selanjutnya.
-
tp ttp nulis yo!

Writer wiedya_sweed
wiedya_sweed at Medium (7 years 30 weeks ago)

ah ya.. ini yang kurang, fyi aja, kebetulan kolamnya itu terletak tepat di depan ruang bk, makanya si Adam sempet kecebur di sana. makasih buat baca~

Writer idserge
idserge at Medium (7 years 30 weeks ago)
60

err menarik ...

Writer wiedya_sweed
wiedya_sweed at Medium (7 years 30 weeks ago)

makasih..

Writer cumaYudha
cumaYudha at Medium (7 years 30 weeks ago)
100

degan, air mencur apaan tuh....? hal itu membuat kamu kehilangan 1 poin dari 10 poin yang ingin kuberi
-
-
tapi setelah dipikir-pikir, aku tambah 1 lagi buat adegan keceburnya Adam
-
-
mau tanya nih! celananya Adam gimana? tadi baju doank kan?
-
-
buat judulnya aku berikan saran 'Paranormal Activity at School' (^_^)

Writer wiedya_sweed
wiedya_sweed at Medium (7 years 30 weeks ago)

ya ampun-_- keluar deh mata enggak jeliku-_- makasih buat diingetin yaah~
.
.
celananya... celananya... dicolong sama mak unyu~