Titik

Ada betulnya apa yang dikatakan bapak guru. Penduduk muslim yang tinggal sepanjang daerah Surakarta sekitarnya sampai kota Yogyakarta adalah penganut Islam Abangan. Islam yang masih bercampur dengan budaya sebelumnya, yakni budaya Jawa Hindu. Pelaksanaan hukum-hukum agama kami masih tercampur dengan ritual terdahulu. Ajaran agama Hindu mengalami asimilasi oleh agama Islam, semisal ritual sejenis tahlilan kematian dan syukuran.

            Perjalanan spiritual masyarakat kami mengalami perbedaan satu sama lain, tak terkecuali keluargaku. Awalnya, aku dan saudara-saudaraku yang lain dibesarkan oleh kultur kejawen. Semua tahu, identitas Kartu Tanda Penduduk orang-orang dewasa dalam keluarga tertulis agama Islam. Tapi, kami masih mempercayai perkataan para dukun, menggunakan primbon sebagai panduan hidup, juga melakukan ritual lain yang ternyata tidak ada hubungannya dengan agama kami, seperti menanam keris di tengah-tengah ruang tengah dan mengintari rumah sambil membaca doa.

            Kejadian itu terjadi ketika aku masih kecil, Posisiku waktu itu hanya menjadi pengamat sekaligus pelaku dari aturan-aturan yang ditetapkan oleh orang-orang dewasa. Aku diam sembari memperhatikan dengan seksama. Satu persatu dari keluarga kami diramal oleh seorang dukun, termasuk aku. Dia bilang perjalanan hidupku akan berliku dan terjal. Siapa peduli. Waktu itu aku hanya mengangguk-angguk saja mengikuti anggota keluarga lain. Kemudian, aku ditunjuki sebuah buku tua bersampul hitam kusam dengan kertas berjenis buram. Setelahnya aku tahu buku itu bernama primbon. Isinya agak membingungkan. Ada angka-angka juga keterangan-keterangan yang sepertinya dapat menentukan nasib hidup seseorng.

            Buku primbon itu kemudian menjadi panduan keluarga kami. Kata bapak keberuntunganku berada di angka 16. Dia bangga. Tapi itu tidak berlangsung lama. Karena setelahnya ada saudara perempuanku lain – setelah dihitung ternyata memiliki angka lebih tinggi, 17. Dia adalah kakak perempuanku.

            Semenjak penghitungan itu, perlakuan bapak pada anak-anaknya mulai berubah. Terlihat sekali bapak lebih memanjakan Kak Nur. Bapak berpikir, Kak Nur adalah faktor terbesar pembawa berkah keluarga kami. Apa-apa yang diinginkan dia selalu dituruti bapak. Berbeda dengan kami. Kami harus merengek dan meyakinkan bapak bahwa permintaan kami memang pantas dipenuhi. Sedangkan Kak Nur, sesepele apapun keinginnya tak pernah dikecewakan oleh bapak.

            Semakin anak memiliki angka keberuntungan rendah, semakin pula ia jauh dari jangkauan bapak. Ada saudaraku yang lain memiliki angka keberuntungan 9. Kasihan, dia jarang diperhatikan bapak. Malahan, ada selentingan pembicaraan bahwa kakak perempuan pertamaku itu adalah pembawa sial. Sempat aku diceritakan, kakakku dulu pernah mau diberikan ke orang sewaktu dia masih kecil. Entah mengapa sampai sekarang hubungan  dia dengan bapak-ibu merenggang. Dia seperti hidup di dunianya sendiri. Pendiam dan suka menyendiri. Namun begitu dia pandai dan sehat. Dia masih waras.

            Kisah masa kecil itu berlangsung cukup lama. Setelah dewasa, satu persatu anak-anak dari keluarga ini pergi merantau. Mencari pengalaman dan penghidupan jauh di luar sana.

             “Mumpung masih muda, carilah ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya. Jangan lupa sholat tepat waktu, jujur, dan berbuat baiklah pada setiap orang yang kamu temui,” pesan ibu pada setiap anak-anaknya ketika menjelang pergi.

            “Njih, bue,” setelah sungkeman dan cium tangan kepada kedua orang tua, lantas kami semua menjabat tangan dia dan saling berpelukan. Selanjutnya, semua dari kami mengantarkannya sampai ke pinggir jalan raya. Menunggu bus yang lewat.

            Ingat sekali aku pada ritual perpisahan itu. Sampai semua kakak-kakaku lulus sekolah dan mereka pergi semua. Tinggal aku, bapak dan ibu. Aku anak terakhir dari tujuh bersaudara.

            Menurutku, perpisahan ini terlalu cepat. Seingatku, kemarin sore kami masih lengkap dan saling bercanda. Tiba-tiba rumah menjadi sepi. Aku merasa kesepian dan sendirian. Kalau sudah begini, aku sering berpikir. Kapan aku tumbuh dewasa? Aku juga ingin pergi.

            Namun disisi lain aku tidak tega meninggalkan bapak-ibu. Tinggal aku anak satu-satunya yang tersisa. Aku, si anak kolokan ini amat sayang pada mereka. Bagaimanapun, kami selalu bersama. Kasih sayang diantara kami telah mengakar kuat.

            Bersambung…

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer SR_2127
SR_2127 at Titik (9 years 5 weeks ago)
80

Ditunggu lanjutannya ^^
Jadi kasian sama kakak pertamanya...

Writer muras
muras at Titik (9 years 5 weeks ago)

makasih udah baca^^

Writer danove
danove at Titik (9 years 5 weeks ago)

Kalau bisa diolah.. Orang banyak nih yang mau baca..

Writer muras
muras at Titik (9 years 5 weeks ago)

takut salah bumbu dan rasanya nanti nggak enak :( mau g mau harus nyoba! makasih :)

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Titik (9 years 5 weeks ago)
70

yah... belum dapet maksudnya jadi harus tahu kelanjutannya gimana... yang jelas udah berhasil bikin penasaran nih, terutama gimana akibat kepercayaan abangan orangtuanya itu :)

Writer muras
muras at Titik (9 years 5 weeks ago)

hehe, kepercayaan itu udah dimusiumin. makasih :)

Writer pratama_fariz
pratama_fariz at Titik (9 years 5 weeks ago)
80

Sangat ditunggu kelanjutannya :)

Writer muras
muras at Titik (9 years 5 weeks ago)

hehe, makasih :)

Writer 14insa
14insa at Titik (9 years 5 weeks ago)
2550

yah...
tapi udah baca 2 kali, masih belum mengerti dengan maksud judulnya. ada apa ya?

Writer muras
muras at Titik (9 years 5 weeks ago)

permulaan

Writer idserge
idserge at Titik (9 years 5 weeks ago)
90

wah masih bersambung ya gan :)

Writer muras
muras at Titik (9 years 5 weeks ago)

iya :)