BOR N2 Fourways Fight : versi Mahija Nandi (Status: 100%)

 

 

 

(Kanistara)

Gelap!

 

Semuanya gelap!

 

Aku tertidur tampaknya.

 

Tapi di mana ini?

 

Mimpi?

 

Oh yah! Ini mimpi! Mimpi buruk, seperti biasa.

 

Tapi tunggu! Ini bukan sekedar mimpi!

 

Rajata tidak bermimpi! Rajata tidur layaknya batu! Tidak ada mimpi yang diciptakan bagi Rajata kecuali mimpi ini sebuah pesan!

 

Pesan? Oh ya pesan! Siapa yang berpesan kepadaku? Nandi? Tidak! Ia bahkan tidak bisa memasuki mimpiku. Salaya? Tidak! Salaya sedang tidak ada kepentingan denganku.

 

“Siapa di sana?” kutanyakan maksud kehadiran siapapun yang memasuki alam pikiranku ini.

 

“Kami, Kanistara!” terdengar suara dua orang pria dewasa dari arah belakangku, “Apa kau sudah lupa?”

 

Oh, tidak! Setelah Salaya kini datang si kembar pengganggu yang sudah aku hindari selama setidaknya 10 abad ini. Tidaaaaakkkk!!!!!!

 

“Uh-uhm … tentu saja aku tidak lupa. Ada apa … Anak-Anak Kehancuran? Phobos dan Deimos?” aku mencoba bersikap tenang menghadapi dua Rajata yang cukup berbahaya ini.[1]

 

“Kau terlalu lama bermain-main dengan anak itu, Kanistara! Tuan kami sudah tidak sabar!” ujar seorang dari mereka yang berpakaian hitam-hitam – Phobos.

 

“Bermain-main? Turnamen ini memang berlangsung cukup lama! Kalian kira aku di sini bermain-main? Tidak! Tidak sama sekali! Aku di sini dalam rangka tugas!”

 

“Tapi waktunya sudah semakin sempit Kanistara, Arvanda tak akan bertahan lebih dari satu tahun. Mahija Nandi harus segera merebut ‘kunci’ dari Athir Kathana Agara dalam waktu 2 bulan ke depan,” kali ini giliran saudaranya yang berjubah merah yang berbicara – Deimos.

 

“Uh … oke … tenanglah … akan kupastikan anak ini siap.”

 

“Jangan kecewakan kami  atau …,” Deimos hanya membuat gerakan mengiris leher yang disertai seringai licik yang lebih menyebalkan daripada segerombolan hyena yang menyeringai pada seekor anak gajah.

 

“Oke-oke! Aku tahu! Aku tahu!” lalu kedua sosok itu pun menghilang … dan aku pun kembali pada kesadaranku.

 

“Heh?” Tiba-tiba aku menyadari ruangan kafe sudah berganti dengan sebuah ruangan dengan labirin-labirin yang tersusun atas kaca yang saling bergandengan satu sama lain. Ada yang bergandengan secara lurus dan ada pula yang membentuk sudut tertentu.

 

“Babak berikutnya sudah dimulai sementara kau tidur tadi, Kanistara,” ujar Salaya.

 

“Nandi?” aku berpaling pada Nandi yang tampak masih tertidur dengan damai.

 

“Biar aku yang bangunkan dia,” ujar Salaya.

 

(Nandi)

Erangan, bisikan, helaan nafas, semuanya kudengar hanya sayup-sayup belaka. Penat telah menghimpit jiwa dan ragaku, membuatku serasa ingin lepas sesaat dari dunia. Tapi itu tidak mungkin … jiwa tak akan berpisah dengan raga selama raga masih hidup. Maka satu-satunya yang bisa kulakukan adalah tidur untuk melepaskan segala penat.

 

Tidur? Ya, aku tidur tampaknya sudah cukup lama. Langit sudah gelap dan … tunggu! Itu bukan langit!

 

“Nandi!” suara keras Salaya membuat kesadaranku langsung melonjak ke level 100 %.

 

“Wuaa!” serasa jantungku hendak copot karena dibangunkan secara kasar, “Ada apa?”

 

“Ronde berikutnya sudah mulai bodoh!” bentak Salaya.

 

Aku segera berdiri dan memandangi sekelilingku memyadari bahwa aku kini berada di sebuah dimensi yang penuh dengan cermin. Labirin cermin tepatnya. Aku penasaran apa yang dipikirkan oleh petugas pembasmi hama konyol itu[2]. Pertarungan di rumah kaca supaya ada efek serem dan pesertanya jadi bingung gitu? Jujur saja … seleranya agak … rendah.”

 

“Selamat datang di realitas arena, Mahija Nandi,” terdengar suara Clo.

 

“Nona  Clo? Di mana anda?” aku mencoba memanggilnya tapi pemandu itu tak tampak juga.

 

“Aku ada di sini Nandi, aku ada di sekitarmu.”

 

“Uh … maksudmu dalam kaca?”

 

“Kalian ada di dalam diriku. Inilah manifestasi diriku.”

 

“Kalian? Tunggu! Peserta lainnya sudah masuk kemari?”

 

“Benar, bersiaplah menghadapi mereka.”

 

“Apa aturannya kali ini?”

 

“Yang terakhir bertahan yang menang,” lalu suara itu lenyap.

 

Ketika kupalingkan badanku ke arah belakang kudapati di sana sudah berdiri Ligaya, masih menunggangi Khellbow tentunya.

 

Nandi vs. Ligaya

“Itu Ligaya dan kerbau baunya Nandi, siapa yang akan kau pilih?” Salaya bertanya kepadaku dengan suaranya yang dingin namun bengis. Jujur saja aku sama sekali tidak menyukai sifatnya ini, tapi mau bagaimana lagi … entah kenapa pria berzirah yang memberiku Rajata ini tiba-tiba saja menghilang[3] saat aku hendak mengembalikan pedang berisik ini.

 

“Bangun … Kanistara!” aku menarik Kanistara dari sarungnya, membiarkan Salaya tetap menggantung di pinggangku.

 

“Ow, aku sarankan kau memilihku saja Nandi. Pedang pemalas macam dia tidak akan terlalu berguna menghadapi lawan macam itu,” kembali Salaya berceloteh[4].

 

“Aku punya pertimbanganku sendiri, Salaya.”

 

“Baiklaaaahh!!!” ia mendengus sesaat sebelum akhirnya diam sepenuhnya.

 

Di hadapanku ada seorang (atau seekor?) makhluk paling aneh bin ajaib sepanjang masa yang pernah aku temui. Setahuku kerbau itu kalau tidak digunakan untuk bajak sawah yang disembelih untuk pesta perayaan. Tapi sekarang … melihat kerbau dijadikan tunggangan (sekaligus senjata) oleh makhluk kecil yang ukurannya persis tuyul hutan ini … aku kok … jadi kasihan sama kerbaunya.

 

“Hei! Kenapa kau diam saja, Nak? Takut?” makhluk kecil itu mengacung-acungkan tombaknya ke udara (yang cukup gelap karena latarnya hitam) seolah tidak takut (atau memang tidak takut?) padaku.

 

“Umm … Tuan Ligaya. Kenapa kau sebegitu teganya menjadikan hewan pembajak ini sebagai budakmu?”

 

“Ha?” mata buntalan kapas bernama Ligaya itu melotot – tidak mengerti apa yang aku maksud.

 

“Kerbau seharusnya kan bekerja membajak sawah? Kenapa dia malah dijadikan tunggangan?”

 

“HMOOOOOHHH!!!!” kerbau itu melenguh keras-keras seolah tersinggung.

 

“Enak saja kau bilang dia ini hewan pembajak sawah!”

 

“Uh … jika mereka tidak kalian pakai untuk membajak sawah … apa mereka kalian pakai untuk membuat keju?”

 

“Keju? Apa pula itu?”

 

“Sejenis makanan dari susu kerbau.”

 

“Hah? Tidak! Khelbow ini kerbau jantan! JANTAN! JANTAN! Dia tidak bisa menghasilkan susu!”

 

“Ngomong-ngomong kerbaumu ini dari spesies apa Tuan Ligaya? Apakah dari spesies B. bubalis bubalis (Kerbau sungai ), B. bubalis carabanesis (Kerbau rawa)  atau B. bubalis arnee (Kerbau liar)?

 

“Ha?” kembali domba buluk kapas  itu melongo seperti orang idiot, “Aaahh!!! Kau menghinaku ya? Khelbow!!!”

 

Kerbau itu melenguh, seolah menjawab ‘siap’ pada tuannya. Kaki depannya menggaruk-garuk bidang lantai, bersiap untuk maju.  Rencana yang tidak buruk kalau aku boleh bilang, tapi juga tidak cerdas. Jalan yang mempertemukan aku dengan penunggang kerbau itu sempit dan dipenuhi cermin yang saling bergandengan satu sama lain membentuk lintasan yang berlekuk-lekuk.

 

“Kerbau gendut 1 ton ini … kira-kira bisa dimakan berapa orang ya?” Kanistara kembali nyeletuk sembarangan.

 

“Kira-kira … bisa dimakan 30 orang nih,” jawabku sembari memegang gagang Rajata itu dengan kedua tanganku.

 

“Kalau kau ke Sambala dan Jara[5] kau akan menemukan festival Idul Adha yang jadiin kerbau macam gitu santapan massal. Ngomong-ngomong … enaknya kerbau itu dijadikan sop atau gule ya?” kembali Kanistara berceloteh.

 

“Arrrghhh!!! Khellbow!!! Hantam dia!!!” Ligaya dengan gusar memukul leher kerbau sawah itu sehingga kerbau itu langsung menghambur ke arahku.

 

Aku menghantamkan Kanistara ke permukaan tanah, mencoba membuat retakan di lintasan lari kerbau itu tapi … tidak terjadi apa-apa.

 

“Nandi! ini bukan dataran bumi! Aku tidak bisa membuat retakan!” Kanistara menjelaskan.

 

“Hah? Kenapa kau baru bilang?” aku mulai panik karena kerbau itu makin mendekat, tanpa pikir panjang aku menarik keluar revolver P3 dari saku kananku dan menembaki kepala kerbau itu hingga enam kali.

 

“HMOOOHHH!!!!” kerbau itu melenguh panjang – mungkin kesakitan – tapi sama sekali tidak memperlambat laju larinya.

 

Kerbau itu nyaris menabarakku, kulempar pistol P3 itu entah ke mana dan kutangkis tandukan hewan sial ini dengan Kanistara. Sempat aku terseret mundur sejauh beberapa meter namun akhirnya bisa kuhentikan juga meski harus kubayar dengan tanganku yang kram dan nyaris tidak bisa ayunkan senjata.

 

“Hup!” Ligaya dengan lincah menusukkan tombaknya ke arah mataku. Aku berhasil menghindar dengan berguling ke belakang tapi itu juga berarti aku terpaksa melepaskan tanduk Khellbow dari Kanistara sehingga kerbau itu kini bersiap untuk mengamuk sekali lagi.

 

“Jadi apa rencanamu, Nandi?” tanya Kanistara.

 

“Uhm … lari?”

 

“Bukan ide bagus! Bagaimana kalau ‘menyelam’?”

 

“Kotor!”

 

“Memang cara yang kotor!”

 

“Bukan caranya! Bajuku nanti kotor!”

 

“Buset? Memangnya kenapa? Memangnya kau hendak kencan sama Om-Om Senang atau Tante Girang di hotel?”

 

“Bukaaan!!!”

 

“HABISLAH KAU NANDI!!!” Ligaya berteriak seru dari atas tunggangannya. Tombaknya telah teracung – siap menyabet diriku kapan saja, sementara Khellbow makin mendengus-dengus marah. Gila! Seolah enam peluru yang bersarang di kepalanya tidak cukup dalam untuk menyakitinya! Apa itu karena ia punya lapisan lemak yang sangat elastis bagai karet?

 

“YAAAA!!!” Ligaya kembali berseru sembari memacu Khellbow ke arahku. Oke … tak ada pilihan lain selain … LARI!!!

 

Aku berlari melalui cermin demi cermin yang seolah tidak ada habisnya ini. Sementara di belakangku Ligaya dan Khellbow menabrak satu demi satu cermin yang ada sampai pecah berhamburan di lantai. Namun anehnya setiap cermin yang pecah pasti akan kembali utuh. Aku semakin mempercepat lariku, aku yakin jalan yang berkelok-kelok akan memudahkan diriku lolos untuk sementara waktu dari kerbau gila itu. Ya, itulah pikirku saat itu, tapi ternyata aku salah!

 

Khellbow berlari lebih cepat daripada perkiraanku, baru sebentar saja aku sudah merasakan dengusan nafas sesuatu yang ‘bukan manusia’ datang dari belakangku. Sial! Nafasku sudah habis! Otot perutku sudah mengeras dan tungkaiku serasa mati rasa! Tapi aku tetap memaksa kakiku ini berlari lebih cepat.

 

“HEYAAA!!!” Ligaya melemparkan tombaknya ke arahku dan sialnya ia mengenai diriku secara telak! Tertembus sudah bahu kananku oleh tombak seekor domba! Bagus! Aku dikalahkan seekor domba yang berkomplot dengan seekor kerbau!

 

Aku jatuh di atas permukaan lantai yang dingin sementara kaki Khellbow bersiap untuk menginjakku. Kutangkis kaki itu dengan Kanistara, tapi kuku kerbau yang tajam dan tebal terkadang memang menjadi lawan yang ‘pas’ bagi bilah senjata tajam sekalipun.

 

“Sudahlah! Menyerah sajalah Nandi! Kalau kau menyerah, aku tidak akan membunuhmu!”

 

“Ha? Membunuh? Herbivora macam kalian mau membunuh?” kali ini Kanistara semakin emosi.

 

KREK! Terdengar suara benda yang patah, segera setelah itu aku sentakkan Kanistara sehingga kaki Khellbow terangkat untuk sesaat, membuatku dapat meloloskan diri. Kaki Khellbow akhirnya kembali menghantam tanah dengan kerasnya. Matanya mendelik marah ke arahku yang (apesnya) baru kusadari sedang terpojok di sudut sebuah cermin.

 

Tapi … tunggu! Tombak Ligaya hanya satu! Dan dia dengan cerobohnya melemparkan satu-satunya senjatanya yang kini menancap di bahu kananku. Ho! Aku menang! Kucabut paksa tombak itu dari bahu kananku, kulempar tombak itu jauh-jauh lalu kuciptakan nyala api Antinencidio dan kubakar bahuku sendiri agar luka itu menutup. Sakit? Tentu saja! Tapi tak kuhiraukan.

 

“Khellbow serang!” Ligaya memberi perintah dan kerbau itu dengan ganas segera menghantamkan kepalanya ke arahku, tapi aku dengan cepat segera merunduk dan memasuki rongga antara kakinya sambil menciptakan nyala api biru Antinencidio di tanganku.

 

“HMOOOWWHH!!!!” kerbau itu melenguh keras-keras ketika kuhantamkan nyala api itu ke abdomennya (bagian perutnya). Belum selesai dengan itu, aku berguling keluar dari bagian bawah kerbau itu. Kugenggam Kanistara dengan kedua tanganku lalu kubelah perut kerbau itu dengan Kanistara sehingga tumpahlah segala darah dan isi perutnya ke lantai. Khellbow pun rubuh ke lantai dan tak lagi mampu berdiri.

 

“Khel- Khellbow?” mata Ligaya berkaca-kaca ketika menyadari tunggangannya sudah tak mampu berdiri lagi.

 

“Sebentar lagi dia mati,” ujarku.[6]

 

“Tidak! Tidak! Khellbow … Khellbow … tidak boleh mati!”

 

“Dia mati karena ulahmu sendiri, Tuan Ligaya,” aku berkata tanpa blak-blakan.

 

“Khellbow!!” Ligaya menangis sesenggukan di samping kerbau itu.

 

“Coba kalau kerbau itu bisa kita potong-potong dan kita bawa pulang, yang lain pasti akan masak enak buat kita,” ujar Kanistara.

 

“Biarkan saja. Lagipula nanti kerbau itu akan dihidupkan lagi setelah kembali ke kafe,” aku berjalan meninggalkan Ligaya sendirian sebelum akhirnya Salaya berujar, “Kenapa tidak kau bunuh saja si domba kapas itu?”

 

“Bukan tabiatku membunuh yang sudah tidak berdaya.”

 

“Ah, tabiatmu itu suatu saat akan membunuhmu, Nandi.”

*****

 

[1] Aku pun berbahaya! Tentu! Salaya pun berbahaya! Tentu! Tapi jika kau bandingkan aku dengan dua Rajata ini maka kau seperti membandingkan antara kucing Persia dengan singa jantan (alpha male pula!). Adapun Salaya … uhuk … dia itu seberbahaya induk macan tutul yang sedang beranak lima.

[2] Benar! Yang kumaksud adalah Sakaki Ko

[3] Entah ia memang menghilang atau aku yang tiba-tiba ngacir dan lupa mengembalikan ya? Yang jelas Kanistara dan Salaya sama-sama diam saja tiap kali aku bertanya mengenai orang itu. Oh Great! Sekarang senjataku berkomplot untuk diam! Dua-duanya lagi!

[4] Aku selalu heran kenapa setiap kali Salaya berceloteh, Kanistara selalu saja memilih untuk diam?

[5] Alam semesta 2 Contra Mundi lainnya

[6] Aku tidak bohong! Sebagai Nirvataka aku pernah menyaksikan seekor kerbau yang mengamuk dibelah perutnya oleh para Kadhara (calon pendeta) seperti yang kulakukan saat ini dan kerbau itu pun tewas dalam waktu 5 menit.

 

Read previous post:  
80
points
(5538 words) posted by Sam_Riilme 9 years 14 weeks ago
88.8889
Tags: Cerita | Cerita Pendek | lain - lain | Battle of Realms | N2 | Ronde Turnamen
Read next post:  
Be the first person to continue this post
90

nandi dkuasai kanistara sama salaya kak? o.o
suka sama perdebatan nandi-link (lbh berpihak ke link sih) xD
ngg, battlenya lumayan cepat selesai sih kak
tp kasi A krn penasaran gmn jadinya nandi nanti

2550

Yosh Hadir Kak Manik -^-^/

aku selesai membacanya.

Ceritanya seru

Nandi terkesan Dark di akhir cerita.

Meski gak ada cerita duel 2 vs 1

Dari segi cerita emosi setiap peserta terlihat. Meski sangat di sayang Ligaya cepat kalah, Link pun juga.
~
Skor -^-^/~ 'B'

90

iya nih, kurang di 4 arahnya :(
tapi cukup koplak juga, bener kata Ligaya...eh, Sun.
seriusnya kebingungan saya kemananya, huahuahuah~
B~

100

aaaaa... dari battle ini sy suka perang ideologinya!! ohohohoho
.
Nandi jadi gila!! dia juga bikin Link, Ligaya, sama T-1n jadi gila jugak!! awkawkak
.
A!

Wkwkwkwk koplak.
.
Terlalu koplak malah sampe saya ga bisa ngebedain kapan saat becanda ma serius.
.
Pas bagian nandi jd jahat itu saya masi terbawa candaan di awal jd rasany nandi kyk masi becanda, krg vilain gt. Hahaha.
.
Btw sy g ngasi skor tkt subjektif.

90

Saya kok menangkapnya justru karena ada Kanistara dan Salaya keberadaan Nandi sebagai the actual character who participate in the tournament jadi kurang berasa ya?
Poin plusnya, ceritamu seperti biasa punya gaya bahasa yang enak dibaca, dan ga berkesan berantakan ataupun diburu-buru.
Poin minusnya, mungkin senada dengan Ivan, saya agak menyayangkan ketiadaan momen di mana 4 peserta itu berhadapan. Mungkin ga harus bertarung 4 arah, tapi seenggaknya mereka ga kepisah semua dan berakhir jadi 1v1 for the sake of convenience
.
Skor : B (+)

90

ah benean terlalu singkat...
udah gitu gak ada battle lebih dari 1 lawan 1 lagi...
.
saya gak kasih nilai, karena takut subyektif.
Ciao