BOR N2 Fourway Fight: Versi Fransisco Ezequiel Luna Jr. (Still Uncompleted)

            Tersebutlah suatu masa,

 

            kala gundah memenuhi relung jiwamu,

            kala sengsara menghiasi setiap lekuk wajahmu

            kala rasa kepahitan beringsut diantara jejemarimu,

            namun kau menikmatinya.

 

            Senandung tembang bergema dari setiap senar biola yang tergesek. Iramanya mendayu-dayu dan mengharu-biru bersama gerak gemulai kaki-kaki kurus yang menari diantara batu nisan yang berbaris, menikmati alunan lagu.

            Mata yang tersemat diatas pipi tirusnya tertutup rapat, namun tak menghalanginya untuk bergerak bebas. Pria berpakaian jas tersebut sangat khidmat menikmati setiap bagian dari lagu yang ia mainkan.

            Kemudian ia duduk bersandar pada sebuah batu nisan, belum tersirat melalui wajahnya yang pucat bahwa lagu yang ia mainkan akan segera selesai.

            Nada dari biolanya sekonyong-konyong berhenti, lalu mulai kembali dalam tempo lambat. Sangat lambat dengan nada rendah. Alunannya menyayat hati, meracuni pikiran, melukai raga.

            Suara berisik timbul sesaat setelah alunan senandung tembang bertempo lambat yang pria berpakaian jas itu mainkan. Permukaan tanah sedikit bergetar, lalu sebuah tangan terjulur dari masing-masing tanah di dekat setiap batu nisan yang ada di pemakaman tersebut.

            Tangan mayat.

            Mayat-mayat itu bangkit dari kuburnya. Sebagian masih terbalut kulit, sebagian sudah telanjang, memperlihatkan tulang belulang yang rapuh digerus waktu.

            Mereka muncul ke permukaan bak anak ayam yang baru menetas dari cangkangnya, masih dengan alunan senandung tembang bertempo lambat yang pria berpakaian jas mainkan.

            Pria berpakaian jas itu tersenyum simpul nan pahit. Ia menggesek senar biolanya semakin cepat, mencipta nada berfrekuensi tinggi yang tetap sendu walau lebih cepat.

            Pria itu menari diantara batu nisan dan mayat yang telah bangkit dari kuburnya. Mayat-mayat tersebut ikut menari, mengikuti lagu.

            Mereka bersama-sama menikmati konser solo dari seorang maestro muda berbakat dari Kota Pinus. Pria berbaju jas, berpipi tirus dan berkulit pucat.

            Allan Fenestra Volucis nama sang maestro.

             Mahakaryanya diakhiri dengan sebuah gesekan kuat dari senar-senar biolanya. Seluruh pemakaman menjadi sepi secara tiba-tiba. Allan menarik nafas dalam-dalam, membuka kedua matanya, lalu sebuah senyum simpul nan pahit menghiasi wajahnya.

 

Read previous post:  
80
points
(5538 words) posted by Sam_Riilme 10 years 15 weeks ago
88.8889
Tags: Cerita | Cerita Pendek | lain - lain | Battle of Realms | N2 | Ronde Turnamen
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

Woi ayo lanjutin dong! Sumpah, bagian prolog pengenalan karakternya uda keren banget. Paling bagiannya Ezy aja yang terasa kepanjangan. Hehehe, mungkin karena Lazu kepengen biar Ezy lebih terekspos yah...
.
Sampai sejauh ini sih nilai dariku A! Makanya lanjutin dong dan selesaikan dengan ending yang keren!!!

100

perkenalan karakternya dah asik kak, knp g dlanjutin? x3

100

ayo semangat Ezy~~!! >.<