BOR N2 Fourway Fight: Versi Fransisco Ezequiel Luna Jr. (Still Uncompleted)

 

           Lantai kayu tua yang sudah kusam warnanya itu berdecit dan bergemerincing. Perlahan namun teratur, suara berdecit dan bergemerincing itu berasal dari sepasang kaki terbalut sepatu bot cokelat yang sudah kusam juga warnanya bergesekan dengan permukaan lantai.

            Puas berdecit dan bergemerincing, sepasang kaki tersebut sempat berhenti sesaat, sebelum kemudian si pemilik duduk pada sebuah kursi kecil tanpa sandaran. Si pemilik memantapkan bokongnya dengan mencari posisi yang pas diatas kursi sembari merenggangkan tangannya diatas sebuah meja memanjang, persis didepan kursi tanpa sandaran tadi.

            Bar ini entah kenapa menjadi sunyi setelah kedatangan pemilik sepasang kaki yang terbalut sepatu bot cokelat yang sudah kusam warnanya dan sedang duduk pada sebuah kursi di dekat meja memanjang tersebut.

            Seorang bartender berperawakan gemuk dan botak tanggung mendekati si pemilik sepasang kaki tadi sambil terkencing-kencing. Si pemilik sepasang kaki tadi dengan santai tanpa beban memesan roti isi dengan segelas susu. Bartender gemetar mengiyakan.

            “Begitukah kalian menyambut orang baru di daerah ini?” sahut si pemilik sepasang kaki membuka pembicaraan. Bulu kuduk sang bartender meremang hebat begitu mendengarnya. Ia tak sanggup mengucap barang satu kata sekalipun. “Menyenangkan sekali, bukan?” tambah si pemilik sepasang kaki. Bartender lalu menyajikan pesanan si pemilik kaki dengan mulut terbungkam.

            “Aku cemas terhadap pria-pria aktor utama penyambutanku tadi, ,mereka mungkin sedang tidak baik-baik saja,” ujar si pemilik kaki sambil mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan ujung telunjuknya lalu kemudian menenggak susu pesanannya sampai kandas.

            Si pemilik kaki tidak menyadari kalau bartender yang melayaninya tadi sekonyong-konyong menghilang. Ia terbengong penuh tanda tanya.

            Terang saja bartender yang terkencing-kencing tadi lenyap, ia baru saja melayani pesanan seorang pembunuh. Ini juga alasan mengapa bar ini sepi ditinggalkan.

            Pemilik kaki yang terbalut sepatu bot cokelat berdecit dan bergemerincing diatas lantai bar yang sudah kusam warnanya dan sedang duduk pada sebuah kursi di dekat meja memanjang serta memesan roti isi dan segelas susu itu baru saja membunuh tiga orang polisi setempat.

            Kota ini memang tak sebesar kota biasanya. Hanya ada beberapa rumah berbaris memanjang membentuk pola huruf “U”. Kehidupan yang berkecukupan dan damai sentosa adalah ciri dari kota ini, sebelumnya.

            Ketiga polisi di kota ini adalah pembela kebenaran yang hebat dan disegani karena pengalaman bertugasnya. Mereka biasa dipanggil Sheriff dan Deputi. Kejahatan dan perilaku kriminal hampir mendekati titik nol di kota ini, sebelumnya.

            Namun semua berubah ketika seseorang bertopi koboi dengan kaki terbalut sepatu bot cokelat nan kusam mengacung-acungkan pistol keatas sambil menunggangi seekor kuda datang entah dari mana.

            Melihat si penunggang kuda datang dengan pistol teracung, ketiga polisi itu lantas mengikuti instingnya. Mereka menembakkan sekali tembakan peringatan pada si penunggang kuda berharap dia berhenti dan setidaknya berhenti melakukan aksi berbahayanya mengacungkan pistol sembarangan.

           Merespon tembakan peringatan, kuda yang ditunggangi itupun menjadi tidak terkendali. Kuda tersebut heboh meringkik dan berlari, si penunggang hanya bisa memegang tali kekang sekuat-kuatnya agar tidak terpental ke tanah berbatu. Kuda itu menendang tiang penyangga sebuah rumah sehingga membuatnya rusak parah, menendang beberapa orang yang berusaha mendekat dan yang paling membuat ketiga polisi tadi naik pitam adalah, kuda itu menabrak sebuah gudang cadangan makanan, meruntuhkannya, lalu meratakannya dengan tanah.

           Si penunggang kuda pun terjatuh akibat tabrakan itu. Sementara sang kuda gila kejang-kejang diatas tanah. Ketiga polisi tadi—dengan pistol teracung—berusaha mendekati penunggang kuda yang sudah tidak menunggangi kudanya untuk berusaha menangkapnya agar diberi hukuman setimpal.

           Panik karena mengetahui tiga pucuk pistol teracung padanya, refleks penunggang kuda yang sudah tidak menunggangi kudanya tadi mencabut pistol dari sarungnya, tembakan tak terhindarkan lagi.

           Ketiga polisi tadipun roboh ke tanah tanpa sempat melakukan apa-apa lagi. Mereka tewas dengan timah panas yang menembus kulit.

           Penunggang kuda yang sudah tidak menunggangi kudanya hanya terdiam dengan tatapan polos dan tidak tahu malu. Fransisco Ezequiel Luna Jr, dengan Ezequiel saja ia biasa dipanggil bingung, lalu kemudian meminta maaf ditempat sebelum beranjak menuju bar terdekat untuk beristirahat sambil beranggapan bodoh kalau peristiwa yang telah memakan korban jiwa tiga orang, melukai lima orang dan sebuah rumah serta sebuah gudang cadangan makanan rusak parah adalah aksi penyambutan spesial untuknya dari kota ini

 

Read previous post:  
80
points
(5538 words) posted by Sam_Riilme 10 years 15 weeks ago
88.8889
Tags: Cerita | Cerita Pendek | lain - lain | Battle of Realms | N2 | Ronde Turnamen
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

Woi ayo lanjutin dong! Sumpah, bagian prolog pengenalan karakternya uda keren banget. Paling bagiannya Ezy aja yang terasa kepanjangan. Hehehe, mungkin karena Lazu kepengen biar Ezy lebih terekspos yah...
.
Sampai sejauh ini sih nilai dariku A! Makanya lanjutin dong dan selesaikan dengan ending yang keren!!!

100

perkenalan karakternya dah asik kak, knp g dlanjutin? x3

100

ayo semangat Ezy~~!! >.<