BOR N2 Fourway Fight: Versi Fransisco Ezequiel Luna Jr. (Still Uncompleted)

 

           “Aku sedang asik bersantai dibawah pohon apel waktu itu saat tiba-tiba seorang kurir datang terengah-engah padahal ia menunggangi seekor kuda,”

            “Aku pikir orang itu brengsek sekali mengganggu acara santaiku di sore yang sejuk ini sebelum teriakan terompet besar yang biasa digunakan sebagai sinyal bahaya waktu itu dibunyikan dengan nyaring, nyaring sekali,”

            “Kamu tahu, kan. Aku sudah sangat bosan sekali, bahkan memasuki tahap memuakkan dengan latihan yang hampir setiap hari dilakukan dan aku selalu keluar dengan nilai terbaik,”

            “Iya, aku tahu kamu berpikir aku luar biasa,”

            “Bagiku biasa saja, itu karena aku sudah bosan,”

            “Namun sore itu barak sangat ramai tidak seperti biasanya, belum pernah kulihat sepanjang sejarah hidupku ratusan kuda dikeluarkan secara bersamaan dari dalam kandang dan para prajurit-prajurit yang tentu saja nilainya dibawahku menaiki kuda-kuda tersebut,”

            “Lalu kulihat diujung sana, di dekat horizon, berdirilah Letnan Jose, mereka memanggilnya begitu. Asal kau tahu saja, kumisnya sangat lebat bagai bulu kaki kuda-kuda itu, aku membencinya, sangat,”

            “Memang benar aku ini pemilik si nilai terbaik, tapi itu rasanya tidak berarti apa-apa kalau si kumis kaki kuda ini datang dan berdiri tegak disana. Biasanya, sih dia cuma muncul di hari-hari penting saja, Dia pasti makan gaji buta,”

            “Kupegang erat-erat pelana dari salah satu kuda yang bergerombol keluar dari kandangnya itu, lalu aku duduk diatasnya dan aku bisa lebih tinggi daripada si kumis kaki kuda tadi,”

            “Si letnan kumis kaki kuda itu mengambil kuda putihnya yang warnanya sangat putih, bahkan lebih putih daripada gigi-gigi kami para prajurit disini yang makanannya hanya ransum,”

            “Lalu dengan cepat kami semua sesama prajurit telah mengambil kuda masing-masing dan bergerak secepatnya, yang lain yang tidak kebagian kuda dan memang prajurit infanteri berjalan tergopoh gopoh karena si letnan kumis kaki kuda itu menghancurkan sore indahnya,”

            “Kupacu kudaku kedepan, mendekati si kumis kaki kuda itu, kau tahu. Lalu kudengar ia lantang berbicara, memang si kumis kaki kuda ini kaum-kaum yang dianugerahi gairah militer yang bagus, ya, setidaknya seperti itu,”

            “Meski terdengar seperti berkumur karena kumisnya yang aku pastikan memberatkan bibir atasnya itu, aku sedikit mengerti inti dari apa yang dibicarakan olehnya, dan aku langsung terpaku dan terdiam,”

            “Sevilla, ibukota, pusat harapan para manusia yang tersesat di dataran iberia, menurut kabar intelijen akan diserang besok pagi,”

            “Bukan karena apa-apa, ya. Kau seharusnya tahu kedua orang tua tercintaku berada disana, dan itu kampung halamanku,”

            “Aku mencemaskan mereka,”

            “Aku hampir tertidur di perjalanan, namun tekadku untuk membela mereka begitu kuat, lebih kuat daripada pengaruh kumis kaki kuda tadi,”

            “Ku hantarkan beribu doa pada tuhan untuk mereka, berharap mereka baik-baik saja,”

           

            “Esok hari telah tiba, kami telah sampai di gerbang kota Sevilla, kota yang indah, sudah berapa orang hebat lahir disini,”

            “Tibanya pasukan kami diiringi oleh tibanya pasukan musuh yang dikabarkan oleh intelijen, mereka bukan berkuda, mereka bukan mengepung dengan artileri, mereka bukan datang dari daratan, mereka pelaut, bajak laut yang lebih mirip dengan pasukan maritim,”

            “Pasukan kamipun bergerak cepat, menyusuri jalanan kota yang mulai ramai dengan orang-orang yang ingin mencari keselamatan, mereka pasti sengaja diberi tahu sejak awal agar tidak terjadi kebocoran data intelijen, naif sekali kataku, kau tahu!”

           “Tentara kerajaan sudah siap bersiaga, balai tentara bantuan dari berbagai wilayah datang membantu termasuk kami,”

           “Aku tak sabar sekali ingin cepat-cepat bergegas ke pelabuhan, memukul mundur mereka dan menang, aku berpisah dari pasukan, kutembus jalan pintas agar cepat sampai disana, setidaknya menyelamatkan orang tuaku,”

           “Kuhiraukan saja apa saja tentang si kumis kaki kuda itu, toh, orang tuaku lebih penting daripada karir militerku,”

           “Hei! Kau masih mendengarkanku, kan. Kuharap kau tidak bosan, karena aku telah sampai di pelabuhan,”

           “Hatiku terenyuh melihat armada spanyol karam seperti kapal kertas diterjang air pasang,”

           “Lebih terenyuh lagi melihat jumlah armada musuh, mereka memenuhi pantai, lalu dengan cepat kapal-kapal itu bersandar di pelabuhan, ada yang menggunakan kapal kecil, ada yang berenang, Kapal kapal besar mereka membombardir pelabuhan dengan kanon-kanon berkekuatan besar,”

           “Kupacu kudaku ke tempat orang tuaku tinggal, diatara hujan tembakan kanon, dikejar waktu sebelum musuh-musuh itu bergerak cepat menyapu pelabuhan,”

           “Sebuah kedai cabai impor berdiri gagah dihadapanku, kedai sekaligus rumahku di masa kecil, aku rindu… Sudahlah! Kenapa harus cerita sedih ini!”

           “Lalu sebuah ledakan dari tembakan kanon itu menghancurkan kedai itu, tepat didepan mataku, lalu terdengar olehku teriakan kecil, lemah dan tak berdaya,”

           “Aku turun dari kuda, mencari teriakan tersebut diatara puing-puing bangunan yang tersisa,”

           “Kutemukan seseorang, oh tidak, dua orang, satu sepertinya diam tak bergerak, dan satunya tertimpa puing,”

“Jangan bilang itu mereka!”
“Tapi ternyata itu benar mereka,”

“Itu ayah… dan ibu…”

“Itu benar mereka…”

“Kenapa mereka tak pergi dari sini?”

           “Kupercepat langkahku, kuhampiri mereka dan kulihat ibu melihatku, tatapannya pahit dan terbalut kesedihan,”

           “Sementara musuh sudah mulai merapat ke pelabuhan dan pantai di sekitarnya, kutatap sekali lagi ibu yang sebagian tubuhnya tertimpa puing, dan ayah yang terbaring pucat tak bergerak diatas sebuah ranjang, ranjang yang dahulu kami pakai bersama,”

           “Aku marah, marah pada diriku sendiri dan realita ini,”

           “Mereka mendekat, dengan tombak dan pedang tergenggam, mereka barbar dan jahat,”

           “Kucabut pistol dari sarung di tali pinggangku, kutembaki mereka membabi buta, aku tak peduli,”

           “Kali ini ayah mengijinkan aku bermain dengan pistol sungguhan didekatnya, buktinya, dia hanya diam, dia pasti mengijinkan,”

           “Sebuah ledakan tembakan kanon meledak didekatku, entah di sebelah kiri atau kanan, aku jatuh dan merasa pusing,”

           “Aku berusaha berdiri lagi, kutembaki para barbar itu lagi sampai peluruku habis, kuisi lagi, sampai cadangan peluruku kandas,”

           “Tombak yang entah darimana melesat kearahku, menembus bahu kiri, dan aku jatuh, bumi jatuh cinta denganku sehingga aku jatuh lagi padanya,”

           “Pandanganku tiba-tiba gelap pada saat itu,”

           “Kudengar beberapa ledakan kecil dibelakangku, lalu seseorang menyeretku menjauh, menjauh dari kedai, rumah, ranjang, dan kedua orang tuaku yang seharusnya aku pertahankan,”

           “Orang-orang dibelakang itu menarikku, mataku kadang terkatup dan terbuka,”

           “Mereka berkata bahwa aku harus bertahan hidup, aku tahu suara itu, suara yang terdengar seperti berkumur, si kumis kaki kuda, Letnan Jose, mencabut tombak yang menancap di bahuku dengan cepat, dan aku berteriak kesakitan, penuh didalam teriakan itu rasa sakit kehilangan kedua orang tua, rumah, dan mungkin nyawa sendiri.”

           “Aku bukan Ezequiel yang seperti aku ketahui sendiri waktu itu, aku pecundang,”

 

Read previous post:  
80
points
(5538 words) posted by Sam_Riilme 10 years 15 weeks ago
88.8889
Tags: Cerita | Cerita Pendek | lain - lain | Battle of Realms | N2 | Ronde Turnamen
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

Woi ayo lanjutin dong! Sumpah, bagian prolog pengenalan karakternya uda keren banget. Paling bagiannya Ezy aja yang terasa kepanjangan. Hehehe, mungkin karena Lazu kepengen biar Ezy lebih terekspos yah...
.
Sampai sejauh ini sih nilai dariku A! Makanya lanjutin dong dan selesaikan dengan ending yang keren!!!

100

perkenalan karakternya dah asik kak, knp g dlanjutin? x3

100

ayo semangat Ezy~~!! >.<