BOR N2 Fourways Fight : versi Ten Gallon Tank

"A-aku tidak peduli, ndree! Pokoknya aku harus menang, ndree!"

===

Hening. Tabung hitam itu kebingungan. Dia menggerakan selangnya dan mengedarkan corong penyemprotnya untuk mengamati keadaan sekelilingnya.

Putih. Putih. Putih.

Seluruh tempat itu berwarna putih terang.

Kecuali sebuah kanvas lukisan yang melayang di depanya.

Dengan sedikit keraguan Galon memutar roda kecil pada keretanya menapaki jalur putih tak berbatas mendekati kanvas berwarna-warni itu.

Latar belakang lukisan itu sebagian besar berwarna jingga senja. Pada keempat sisinya membentang empat daratan yang masing-masing berisi miniatur planet, ranjang raksasa, kumpulan cermin, dan tumpukan kanvas. Tepat di tengahnya melayang rubik raksasa berwarna hitam putih.

Galon ingat. Beberapa detik yang lalu dia baru saja berada di tempat itu. Altar dimensi. Dia bersama kelimabelas peserta lainya yang lolos babak liga sedang menempel di keenam sisi kubus rubik raksasa. Ketika mereka semua kebingungan rubik itu mulai berputar cepat mengacak posisi mereka dan bersinar menyilaukan menjadi portal yang membawa mereka ke tempat pertandingan selanjutnya.

"Sial!"

"Kyaaa!"

"Tempat apa ini?"

Suara-suara itu mengejutkan Galon. Dia segera berbalik dan menemukan deretan kanvas putih kosong dalam formasi melengkung. Getaran cairan dalam tubuhnya bisa membedakan para pemilik suara-suara itu.

Teriakan dari kanvas paling kanan jelas milik Jeremy Wilder. Galon mengenal pria itu sebagai pembuat masalah di dalam kafe. Kedengaranya dia sedang kesulitan melawan seseorang. Sekilas seperti ada kilauan warna kuning di kanvas itu bersamaan dengan bunyi tembakan.

Jeritan gadis dalam kanvas kedua dari kanan semakin melengking menggetarkan Galon. Menurutnya suara seperti tokoh dalam film kartun itu mungkin milik Hoshina Kagetsuki. Percikan merah terang mewarnai kanvasnya. Galon takut membayangkan apa yang sedang terjadi pada gadis cosplayer itu.

Sedangkan kanvas kedua dari kiri mulai menghitam. Sahutan sinis dari dalamnya terdengar seperti suara gadis kecil. Setau Galon ada 3 gadis kecil dalam turnamen ini yaitu Hazel, Greed, dan ADA versi-P. Galon telah mengalahkan ADA saat ronde ketiga babak liga dan Hazel tidak lolos ke babak turnamen. Berarti gadis kecil dalam kanvas itu pasti adalah Greed.

Kanvas paling kiri sunyi. Entah kenapa Galon merasa kanvas itu adalah realitas kemenanganya. Tabung hitam itu kembali ragu. Firasat buruk telah menghantuinya sejak dia memenangkan ronde ketiga babak liga. Seolah dia akan segera kalah, mungkin ini akan jadi pertarungan terakhirnya. Namun Galon segera menepis perasaan itu. Bagaimana pun dia harus menang untuk mendapatkan kebenaran yang diinginkanya. Galon pun mempersiapkan hatinya menghadapi rintangan apa pun yang akan muncul di dalam kanvas terakhir itu.

===

Awalnya dunia dalam kanvas itu sama seperti dunia sebelumnya. Putih terang tak bercela. Tunggu dulu. Semuanya benar-benar putih. Bahkan seluruh tabung Galon juga berwarna putih. Selang dan corongnya putih. Kereta dan rodanya putih. Tanpa batas. Mungkin saja ada garis pembatas bentuk Galon, tapi warnanya juga putih. Semua warna putih itu melebur menyatu seolah Galon menghilang. Namun tabung pemadam kebakaran itu yakin dirinya ada, pikiranya ada, tubuhnya juga ada. Hanya tak terlihat.

Bisikan-bisikan samar dari kejauhan menambah kegelisahan Galon. Sampai..

"Itu dia!"

"Tangkap!"

"Jangan biarkan dia lolos!"

"Bunuh tabung itu!"

Galon panik.

Dia segera menggelindingkan rodanya ke sembarang arah. Melarikan diri dari seruan-seruan yang memburunya. Beberapa kali dia menabrak dinding putih tak kelihatan. Dia sering terjatuh karena rodanya tersandung batu putih tak kelihatan. Hingga beberapa tangan putih tak kelihatan berhasil menarik selangnya dan menjatuhkanya dengan kasar.

Galon sangat ketakutan.

Terpaksa dia segera mengolah minyak dalam tubuhnya dan menyemburkan gas api jingga pada makhluk-makhluk putih tak kelihatan itu.

Terlihat!

Api kuning yang disemburkanya menampakan wujud makhluk-makhluk putih tak kelihatan yang menyerangnya. Mereka seperti kumpulan monster biru menyeramkan. Mengerang mengibaskan api jingga yang membakar mereka. Beberapa monster biru habis terbakar menjadi abu biru. Sedangkan sisanya melarikan diri dan kembali bersembunyi dalam warna putih yang tak kelihatan.

Galon masih kebingungan namun dia sedikit lega bisa lepas dari monster-monster biru itu. Dia mengangkat ujung corong semprotanya yang masih mengepulkan asap jingga. Sebuah ide melintas dalam pikiranya. Galon menyemprot dirinya sendiri dengan cairan cat. Warna biru gelap segera membentuk tubuhnya di antara lautan latar belakang warna putih. Tabung itu terus menyemburkan cat jingga ke sekitarnya sampai sejauh panjang selangnya. Warna catnya terus merambat menutupi semua sudut yang berwarna putih.

Dunia di sekitarnya kini semakin jelas. Dunia yang hanya terdiri dari warna jingga dan biru dan gradasinya. Langitnya jingga, tanahnya biru gelap, pohon-pohonya biru terang. Galon merasa mengenal tempat ini. Dia pun tersadar, meskipun warnanya berbeda, tempat ini adalah kampung halamanya. Desa Pulau Kecil Selatan!

Dengan perasaan gembira bercampur sedikit ketakutan Galon menjelajahi desa kecil dua warna itu. Tempat pertama yang ditujunya adalah rumahnya. Namun ternyata bangunan berdinding jingga beratap biru cerah itu kosong. Galon juga mengunjungi rumah Geana dan Kepala Sekolah. Rumah itu juga sepi. Galon terus berkeliling memeriksa semua rumah penduduk desa tetapi keadaanya tetap sama. Hingga akhirnya dia sampai di gedung sekolahnya.

Galon jadi waspada. Gedung sekolahnya dipenuhi para monster biru. Mata jingga mereka membara memancarkan kebencian. Galon menyamakan warna tubuhnya di balik rimbunan semak biru kusam. Namun sesuatu yang lain menarik perhatian tabung itu ke arah papan nama sekolah. Rangkaian huruf putih besar dalam bahasa Negara Kepulauan terukir pada papan sewarna biru laut itu.

...Selamat datang di Lost Canvas...
...Battle of Realms N2 Babak Turnamen...
Peraturan...
Peserta yang bertahan sampai akhir.. adalah pemenangnya..
Peserta yang menyerah atau terbunuh dalam dunia ini.. dianggap kalah..
Tidak ada batas waktu..

Tambahan...
Kumpulkan bola warna imajinasi.. agar bisa keluar dari dunia ini.. dan mendapatkan hadiah tambahan dariku..
...Hea [Kepala Manajer]...


Galon mulai mengerti. Rupanya pertandingan babak turnamen sudah dimulai. Dunia aneh ini adalah tempat pertandinganya di bawah pengawasan Kepala Manajer. Sebentar lagi dia mungkin akan bertemu dengan lawanya. Tapi saat ini Galon lebih penasaran pada bola warna imajinasi. Firasatnya mengatakan bola itu ada di dalam gedung sekolah. Tampaknya sebelum bertarung dengan lawanya, dia harus menghadapi monster-monster biru itu terlebih dahulu.

Tabung biru kelam itu pun berteriak membangkitkan semangat. Menerjang menerobos masuk ke gedung sekolah. Menabrak makhluk apapun yang menghalanginya. Menyemprotkan cairan, menembakan peluru cat, dan menyeburkan gas dan api jingga pada setiap monster yang menyerangnya. Sesekali Galon bersembunyi di beberapa ruang kelas sambil mencari bola warna imajinasi. Dia berhasil menemukan satu bola ungu di sudut ruang kelasnya saat masih bersekolah dulu. Bola berikutnya berwarna kuning ditemukanya di dalam laci meja kepala sekolah.

Sudah 2 bola warna imajinasi yang ditemukan Galon, dia tak tau masih tersisa berapa bola lagi. Kedua benda seukuran bola golf itu digenggamnya erat dalam gulungan simpul selangnya. Separuh cairan isi tubuhnya telah terpakai. Sekitar 5 monster biru masih mengejarnya. Galon berusaha menggelinding secepatnya menjauhi mereka. Dia berencana bersembunyi di lemari peralatan di ujung belokan koridor. Tepat saat dia membuka pintu lemari itu, cahaya terang menyinarinya.

Tabung itu merasa tersedot seperti melewati portal. Lalu dia terlempar ke ruangan luas serba putih. Sekilas bunyi letusan dan teriakan dan jeritan gadis kecil menyambutnya. Pikiran Galon berputar lagi membuatnya pusing. Hingga akhirnya dia mendarat di sebuah tempat asing yang sunyi. Dunia itu dipenuhi warna hitam dan warna nila dan gradasinya. Tempat itu..

"A-aku berhasil, ndre?"

===

"Jadi sekarang kau berpindah ke dalam tabung tak berguna itu?" tanya seorang pria berkacamata ungu yang memakai jaket kuning dan celana panjang ungu gelap. Warna tubuh pria itu membuatnya kelihatan aneh, seperti gambar digital model manusia berbentuk tiga dimensi.

Benda di hadapanya tak menjawab, namun Jeremy Wilder seolah merasakan makhluk di dalamnya sedang menyeringai.

"Berapa kalipun kau berpindah tubuh, aku pasti akan membunuhmu," lanjut pria berkulit kuning pucat itu sambil menodongkan pistol kecil ungu. Tak jauh darinya terbaring makhluk seperti coretan krayon sederhana seorang gadis kecil berkulit hitam yang memakai jubah nila cerah. Rupanya makhluk krayon itu adalah Charlotte yang mayatnya telah ditinggalkan oleh Greed.

"To-tolong jangan bunuh aku, ndree. Aku bukan Greed, ndree! Aku Galon, ndre!" pinta tabung biru gelap itu dengan suara bergetar.

"Apa? Jadi.. dia tidak berpindah ke tubuhmu? Dia sudah mati.. ndree?" Dalam keterkejutan dan keheranan Wilder menoleh menatap mayat gadis kecil di belakangnya.

"I-iya, ndree.. Jadi jangan tembak aku, ndree.." ulang benda itu memohon.

Wilder berpikir sejenak, kemudian perlahan menurunkan senjatanya. "Apa yang kau pegang itu, ndree?"

"Oh, ini.." Galon membuka gulungan simpul selangnya, "..bola warna imajinasi yang kutemukan, ndree. Untukmu saja, ndree. Aku tidak membutuhkanya, ndree."

Tanpa ragu Wilder melangkah mendekati Galon untuk mengambil bola warna imajinasi miliknya. Tepat saat itu Galon menyemprotkan gas jingga beracun ke wajah sang jurnalis!

Wilder melompat mundur sambil menarik selang lawanya. Galon berkelit menggerakan selangnya membelit leher pria yang sedang menahan napasnya itu. Dengan kaki iridiumnya Wilder menendang sisi bawah tabung Galon sampai bergetar. Dia berhasil melepaskan diri dari jeratan tabung itu. Galon melanjutkan menembakan ratusan peluru kecil melalui corongnya, namun Wilder bisa bergerak lincah menghindari semuanya.

Wilder berguling meraih pistolnya di bawah asap jingga beracun. Tebalnya asap itu membuatnya kesulitan membidik lawanya. Dia harus sepenuhnya menggunakan indera pendengaranya untuk menebak posisi Galon sekaligus menghindari serangan pelurunya. Pria itu melihat bagian bawah kereta Galon dan langsung menebak salah satu rodanya hingga terlepas. Pergerakan tabung itu menjadi tidak stabil dan akhirnya terjatuh. Wilder terus melepaskan tembakan meskipun pelurunya hanya terpental di tabung metal Galon. Untungnya beberapa tembakan berhasil membocorkan selang Galon, membuat benda itu tak bisa lagi memuntahkan peluru karena tak ada lagi perbedaan tekanan.

Perlahan gas jingga beracun memudar melebur bersama warna putih tempat itu. Jeremy Wilder bangkit sambil mengatur napasnya. Lawanya terbaring tak bergerak. Juga tak bersuara.

"Kehabisan cairan..? Apakah dia sudah.. mati, ndree?" tanya Wilder pada dirinya sendiri.

Dia masih belum bisa bernapas lega sekarang, mungkin saja benda itu berpura-pura mati dan akan menyerangnya lagi kalau dia mendekat. Dia juga belum menepiskan gagasan bahwa Greed telah merasuk dalam tabung itu. Pemuda itu pun segera membuka ranselnya dan mengeluarkan beberapa batang peledak. Dia berencana meledakan mayat Charlotte dan Galon untuk menutup kemungkinan Greed bangkit lagi.

Tapi langkahnya terhenti.

Sesuatu mencengkeram pergelangan kakinya.

Asap samar berwarna nila merambat dari robekan selang Galon, terus naik menyelumuti seluruh tubuh pemuda itu.

Jeremy Wilder malah menyeringai saat ujung runcing asap itu mengarah padanya, siap mengoyak jantungnya.

"Sial, aku lupa kalau di dunia ini.. warna bayanganya.. berbeda.."

===

"Apa yang kau lakukan, ndree?" tanya Galon pada gadis kecil berambut hijau yang sedang duduk membelakanginya.

"Hwaa!" Gadis kecil itu terkejut melihat Galon, namun kemudian dia kembali tak mempedulikan tabung itu dan meneruskan kegiatanya.

"Kau.. Greed kan, ndree?" Akhirnya Galon mengenali gadis kecil itu tanpa jubah hitamnya.

"Bukan, aku Charlotte! Ini temanku, Tuan Gluttony!" Gadis kecil bergaun hitam itu memperkenalkan dirinya dan kelinci kelabu yang duduk di sampingnya.

"Kekekeke, salam kenal." Galon cukup terkejut saat mendengar kelinci kelabu itu juga bisa berbicara.

"Sa-salam kenal, ndree.." Untuk sesaat Galon merasa canggung. "Kenapa tempat ini berwarna hitam dan nila, ndree? Apakah aku masih berada di dunia Lost Canvas, ndree? Tapi kenapa kalian tidak berwarna hitam dan nila, ndree? Apakah kalian lawanku, ndree? Tapi aku belum pernah melihat Tuan Kelinci.. Tuan Gluttony di kafe, ndree. Apakah dia partner, atau wujud, atau kekuatan barumu, ndree?"

"Tuan Galon benar-benar berisik.. Jangan ganggu Charlotte!" sahut gadis kecil itu dengan wajah cemberut.

"Ma-maaf, ndree!" seru Galon merasa bersalah. Tapi kemudian dia penasaran dan mengintip apa yang sedang dilakukan Charlotte. Rupanya gadis kecil itu sedang menggambar menggunakan krayon berwarna. "Apa yang kau gambar, ndree?"

"Ini.." Charlotte menunjuk salah satu coretan krayonya yang berwarna hitam-nila. "Ini Charlotte." Lalu dia menujuk coretan berbentuk manusia berwarna kuning-ungu. "Kalau ini Tuan Wilder." Selanjutnya dia menunjuk coretan sosok lain berwarna biru gelap yang memancarkan semburan berwarna jingga. "Sedangkan ini Tuan Greed!"

"Ta-tapi itu kan aku, ndree!"  

"Benar! Tubuh Charlotte sudah meninggal, jadi sekarang Tuan Greed meminjam badan Tuan Galon!" kata gadis kecil itu ceria. "Tuan Galon telah menjadi teman kami."

"Eeeeeeh!? Ta-tapi.. Tapi.. Kenapa.. Berarti sekarang kita berada dalam pikiranya Greed, ndree?"

Charlotte mengangguk senang. Kelinci Gluttony terkekeh.

"Lihat, mereka sudah mulai bertarung. Sebentar lagi Tuan Greed pasti menang!"
Galon sudah tak mendengarkan lagi komentar Charlotte yang sedang asik menonton gambar krayonya bergerak bersama kelincinya.

Tabung hitam itu galau. Dia tak pernah membayangkan akan jadi seperti ini. Galon tak rela tubuhnya dipakai oleh makhluk kejam seperti Greed. Dia harus melawanya untuk merebut kembali tubuhnya. Dia harus menang!

"Eh? Tuan Galon ke mana?" Charlotte keheranan mencari Galon yang sudah menghilang.

"Kekekeke, entahlah. Mungkin dia pergi mencari Greed? Kekekeke," jawab Gluttony di sela tawanya.

"Tuan Galon pergi ke Hall of Darkness? Kenapa dia tak bertanya pada kita dulu? Tuan Galon bisa saja tersesat.."

"Kekekeke, biarkan saja."

"Benar. Tuan Wilder sudah kalah. Sekarang Charlotte mau menggambar pertarungan Tuan Galon dan Tuan Greed!" seru gadis kecil itu bersemangat.

===

Akhirnya dia menemukanya! Galon melihat tabung pemadam kebakaran berwarna biru gelap serupa dirinya di dasar lembah nila.

"Greed!! Ke-kembalikan tabungku, ndree!!" seru Galon menantangnya.

"Oh, kau. Sudah terlambat, ragamu telah sepenuhnya berada dalam kekuasaanku." Suara berat Greed bergaung dalam wujud tabung itu.

"To-tolong kembalikan, ndree. Kenapa kau harus memakai tabungku, ndree? Kenapa kau tidak masuk ke dalam tubuh Jeremy Wilder saja, ndree?"

"Tch! Sebenarnya aku juga tak mau merasuki benda tak berguna ini. Tubuhmu sangat berat dan sulit dikendalikan. Satu roda saja yang lepas dan kau jadi tak berdaya. Tekad Wilder terlalu kuat untuk kutembus, jadi terpaksa aku merasukimu. Harus kuakui kemampuanmu cukup menarik. Tapi tetap saja.. Bila gadis kartun itu datang, aku akan pindah ke tubuhnya. Sebelum itu mungkin aku akan membunuhmu di sini." Greed mengangkat selangnya dan menyemburkan asap nila ke arah Galon.

Dengan panik Galon mengedarkan selangnya dan menyemprotkan cairan asam ke sembarang arah. Karena dibatasi corong penyemprot, pandangan mata airnya tak seluas dulu saat dia masih berupa plastik transparan. Samar terdengar tawa Greed di sekelilingnya.

"Hey, bagaimana kalau kau bergabung dengan kami saja?"

"Dengan begitu mungkin kemampuanmu masih bisa dipakai meskipun kita berpindah ke tubuh gadis kartun itu."

"Lagipula tak ada gunanya lagi kau meneruskan bertanding dalam turnamen ini."

"I-itu tidak benar, ndree! Aku harus menang agar bisa mendapatkan kebenaranku, ndree! Aku juga ingin jadi lebih kuat, ndree!" teriak Galon membantahnya.

"Bila kekuatan yang kau inginkan, kau akan lebih mudah mendapatkanya kalau bersama denganku. Bila kebenaran yang kau inginkan, kita bisa mencarinya bersama-sama. Bukankah kau juga masih ragu tentang membunuh orang lain? Tenang saja, kau bisa menyerahkan urusan balas dendam itu padaku. Kau tinggal bersembunyi saja dalam pikiranku bersama Charlotte dan Gluttony. Kau hanya perlu meminjamkan kemampuanmu padaku."

"Ja-jangan campuri urusanku, ndree!! Aku akan menjadi kuat dan menemukan kebenaran dengan kemampuanku sendiri, ndree! Aku tak butuh bantuanku, ndree! Aku akan menang dengan caraku sendiri, ndree! Setelah itu.. mungkin Sakaki bisa menghidupkan kembali Geana, ndree!" Galon menyuarakan harapan terbesarnya.

"Jadi sumber kekuatan tekadmu adalah gadis itu?" Greed tertawa mengejeknya. "Aku sudah membaca pikiran, pengetahuan, dan masa lalumu. Rupanya kau sengaja menutup ingatan masa lalumu tentang 'gadis' bernama Geana itu."

"A-apa maksudmu, ndree?"

"Sebenarnya, gadis bernama Geana itu tidak pernah ada! Dia hanya ada dalam khayalanmu! Gadis itu adalah pacar imajinasimu!" Greed terbahak penuh kemenangan.

"Ti-tidak mungkin, ndree! Kau berbohong, ndree! Geana bukan gadis khayalan, ndree! Kau pembohong, ndree!" jerit Galon di tengah lautan asap nila.

"Oh, atau kau mau melihatnya sendiri? Akan kutunjukan ingatan masa lalu yang sengaja kau lupakan!"

"Hentikan, ndree!! Itu semua tidak benar, ndree!! Geana pernah hidup dan nyata, ndree!!"

Galon bertahan sekuat tenaga menutup pikiranya dari semua serangan kebohongan Greed. Namun tetap saja ada beberapa pecahan ingatan menusuk isi tabungnya. Galon mendengar bentakan seorang wanita yang memaki dan menghinanya. Dia juga mendengar teriakan seorang pria yang memarahinya karena berhenti mengatakan 'ndree'. Seruan-seruan lain berasal dari anak-anak yang mengolok-olok namanya dan penampilanya.   

"Kau lemah!"

"A-aku tidak lemah, ndree!" Galon menyangkalnya.

"Kau sangat lemah!"

"Aku akan menjadi kuat, ndree! Aku ingin jadi lebih kuat lagi, ndree!!" Galon terus membalas.

"Kau benar-benar lemah!!"

Sudah cukup!

Galon sudah tak tahan lagi!

Dia tak mau terus ditindas!

Tabung hitam itu tak mau lagi disebut lemah!

Semua ajaran kepala sekolah tentang kebenaran, pengampunan, kasih sayang. Semua itu tak ada artinya lagi.

Hanya ada satu cara membalas semua kekejaman yang diterimanya selama ini..

Dia harus menjadi kejam juga!

"A-aku tidak peduli, ndree! Aku pasti akan menjadi kuat, ndree! Pokoknya aku harus menang, ndree!" seruan Galon menghempaskan asap nila yang mengurungnya.

"Tch, keras kepala! Terserah padamu kalau kau ingin tetap membohongi dirimu sendiri."

Greed memperbanyak dirinya menjadi ratusan tabung pemadam kebakaran biru gelap, sedangkan dia sendiri berubah menjadi kucing hitam, wujud aslinya. Secara serempak tiruan Greed menembakan ribuan peluru berisi cairan asam yang meledak membakar tabung Galon. Namun Galon sama sekali tak merasakan sakit. Semua serangan itu tak melukainya sedikit pun. Kekuatan tekad Galon sudah tak bisa dikalahkan.

"AKU.. HARUS.. MENANG.. UNTUK.. GEANA!!!"

Galon menembakan peluru berisi campuran bahan peledak, bahan kimia berbahaya, dan cairan Galliquid ke udara.

Peluru itu melambung tinggi kemudian meletus di tengah langit hitam.

Percikanya bagaikan kilauan kembang api, namun segera berubah jadi kilatan halilintar.

Jutaan petir menyambar melenyapkan semua tabung tiruan Greed.

Greed asli yang berwujud kucing hitam pun tak luput dari kobaran ledakanya.

Bahkan Charlotte dan Gluttony yang sedang menonton pertandingan itu lewat buku gambar juga turut menjadi korban sambaran kilat yang menembus kertas bergambar krayon.

Hingga semuanya musnah menjadi debu.

Menyisakan Galon yang masih membara dalam tekadnya untuk menang..

dengan cara..

apapun!

===

"Menurutmu sudah tak apa-apa, Nick?"

"Ya, sepertinya sudah aman."

Tiba-tiba seorang gadis berambut hijau berantakan dan berkulit merah pucat muncul dari balik warna putih latar belakangnya. Gadis yang kelihatan seperti gambar tokoh anime itu adalah Hoshina Kagetsuki. Corak darah berwarna hijau gelap membasahi punggungnya. Salah satu gelang alat cosplaynya rusak, headphonenya sedikit retak. Dia melangkah perlahan mendekati dua mayat manusia dan sebuah tabung biru gelap yang tergeletak diam.

"Idemu untuk berubah menjadi Hea sangat brilian! Ternyata cuma gadis pemandu itu yang tidak terpengaruh keanehan warna dalam dunia kanvas ini. Dengan cara itu kita berhasil bersembunyi di latar belakang tanpa terdeteksi sedikit pun," sahut Nick, asisten virtual gadis itu dari layar digital yang berkelip di sebelah matanya.  

"Dengan ini kita berhasil mengumpulkan kedelapan bola warna imajinasi. Merah hijau, Kuning Ungu, Hitam Nila, Biru Jingga. Imajinasi, lukisan, cosplay, tiruan, semua itu adalah kebohongan. Semua warna adalah kebohongan manis yang dipakai manusia untuk menutupi kenyataan yang buruk rupa. Mereka lupa ada satu lagi jenis kebohongan yang seakan tak terlihat, White Lie," bisik Shina seolah untuk dirinya sendiri.

[Code: Breaker]-[Rei Ogami]-[Flame Away]

Tubuh gadis itu berubah menjadi lebih tinggi. Seragam sekolahnya berganti jadi model seragam untuk murid pria berwarna merah gelap bersama celana panjangnya. Dilengkapi kobaran sihir api hijau terang yang mampu menghanguskan dan meluluhkan benda apapun pada tangan kirinya yang ditutupi sarung tangan merah tua.

"Apa yang kau lakukan!? Jangan berubah lagi, tubuhmu sudah terluka banyak akibat pertarungan melawan para tokoh antagonis dalam dunia gambar anime itu! Kau bahkan sudah kehilangan ketiga inderamu!" seru Nick mencemaskan keadaan gadis cosplayer itu.

"Tidak apa-apa, ini untuk yang terakhir. Hea dan yang lainya bisa menyembuhkanku kembali di kafe nanti. Aku harus membakar mayat Greed dan Wilder, dan melumerkan tabung Galon. Bukankah tadi kau juga melihat bayangan pucat yang membunuh Jeremy Wilder? Aku tak mau mengambil resiko Greed bangkit lagi lewat ketiga mayat ini. Setelah ini semuanya selesai. Kita akan jadi pemena.."

Belum sempat Shina menyelesaikan kalimatnya, sebuah sulur biru gelap telah menjerat tubuhnya!

Selang itu membelit kaki, perut, lengan, leher, sampai kepala, semakin erat mencekik korbanya.

Dari setiap lubang pada selang itu merembes cairan asam yang mengiris membakar kulit, daging, dan tulang.

Jeritan Nick menghilang seiring remuknya semua alat cosplay Shina.

Hoshina Kagetsuki tewas dengan beberapa bagian tubuh terpenggal.

===

...Pemenang Battle of Realms N2 Babak Turnamen adalah Ten Galon Tank...
...Selamat..


Tulisan hitam itu muncul di langit-langit putih segera setelah Galon membunuh Shina.

"Aku sudah mendapatkan semua bola warna imajinasinya!" teriak Galon pada tulisan itu.

...Kumpulkan semua bola warna imajinasi itu pada satu tempat...

Deretan huruf baru muncul di bawah tulisan ucapan selamat.  

Galon pun berusaha bangkit memakai selangnya. Dia merekatkan kembali roda keretanya dengan api las. Kemudian dia menggelinding mengambil bola berwarna hijau-merah dari balik jubah Greed, mengeluarkan bola berwarna jingga-biru dari dalam ransel Wilder, meraih bola berwarna nila-hitam dari saku rok Shina, dan mengumpulkanya bersama kedua bolanya sendiri yang berwarna ungu-kuning.

Kedelapan bola warna-warni itu bercahaya. Setiap warnanya melompat menembus memasuki tabung Galon, melengkapi semua warna tubuhnya sehingga akhirnya gambaran tabung itu di dalam kanvas terlihat 'nyata' dan menampilkan sosoknya yang sebenarnya.

"Itu saja? Cuma ini hadiahnya!?" seru Galon lagi pada tulisan di langit.

Seolah menjawab pertanyaan Galon, rangkaian kalimat baru muncul di bawah tulisan sebelumnya.

...Setelah semua warna imajinasi berkumpul dalam tubuhmu, kau boleh mulai melukis apapun yang kau inginkan...
...Aku akan mengubah lukisan itu menjadi nyata...


Galon sangat gembira membaca pemberitauan itu. Dengan perasaan riang dia segera melukis Geana memakai selangnya. Tabung itu tak mau percaya gadis pujaanya hanyalah khayalan. Dia bisa mengingat semua detil tentang Geana. Rambut hitamnya yang dikepang rapi. Kulit kuning langsatnya yang halus. Gadis itu sangat suka mengenakan baju berwarna merah jambu. Suaranya merdu. Senyumnya manis. Pandangan matanya indah..

Hasilnya, lukisan buatan Galon sangat jelek. Bahkan lebih jelek daripada coretan krayon Charlotte. Gambar buatan tabung itu bagaikan lukisan abstrak. Bagian kepalanya seperti telur retak bergerigi. Panjang kedua tangan dan kakinya tak seimbang. Matanya bulat melotot menyeramkan. Warna bajunya dicoret sembarangan melewati garis pembatasnya, begitu juga dengan warna coklat pada roknya.

Namun Galon tak peduli.

Dia tak sabar menanti gadis itu jadi kenyataan.

Lukisanya berpendar indah.

Sepasang kaki jenjang mewujud dari lukisan abstrak itu.

Kilauan warna keajaiban terus naik ke pinggul dan badanya.

Mencapai kedua lenganya sampai ke jari-jarinya yang lentik.

Hingga akhirnya melingkupi seluruh wajah, kepala, dan rambutnya.

"Halo, Ndree Ndree.." suara merdu terdengar dari bibir tipisnya.

Cairan dalam tabung Galon seolah bergemuruh.

Sosok di hadapanya tak seperti apa yang diharapkanya.

Manusia itu sangat berbeda.

Wanita itu bukan Geana!

=====

"Rie sudahselesai! Rie sudahselesai!" Seorang gadis berjaket hitam bergaris melaju secepat mungkin sambil membawa sebuah kanvas lukisan.

"Ini!" Gadis bernama Rieva itu segera menyerahkan lukisanya pada gadis berambut putih.

"Lama sekali... Sebentar lagi batas waktunya habis..." Hea menerima lukisan itu dan menempatkanya bersama ketiga lukisan lainya.

"Ehhe, maap." Rieva menjitak kepalanya sendiri sebagai tanda penyesalan. Lalu gadis itu berkeliling mengamati lukisan para peserta babak turnamen di Lost Canvas.

Lukisan pertama milik Fieldcat si ahli kucing. Tampak keren dan rapi karena digambar dengan program komputer. Latar belakangnya berwarna putih terang, ada tiga sosok manusia yang sudah terbaring menjadi mayat, sedikit di bawahnya ada serpihan logam hitam yang hangus, dan di tengah tumpukan mayat itu ada Hea si gadis pemandu.

Lukisan kedua buatan Kagetsuki Arai si tukang kebun. Lukisan itu juga dibuat secara digital namun dengan gaya gambar anime. Terlihat keempat peserta babak turnamen Lost Canvas berdiri tegang di lembah hijau pedesaan. Rieva sangat suka dengan latar belakang pedesaan itu.

Lukisan ketiga hasil karya Keith sang ksatria bertopeng loli. Dia hanya membuat sketsa sederhana dari pensil warna. Latar belakangnya juga putih, keempat peserta digambar dengan arsiran seadanya, namun ekspresi terkejut mereka sangat nyata. Pada sudut kanvas digambar tiga lapisan warna merah-biru-kuning seperti tumpahan cat yang melimpah.

Lukisan terakhir yang baru saja diselesaikan Rieva adalah gambar sebuah tabung pemadam kebakaran berwarna hitam berhadapan dengan seorang wanita dewasa yang berkilauan pelangi. Gadis berjaket hitam bergaris itu juga memakai latar belakang putih. Warna catnya dicoret sembarangan dan tampak terburu-buru. Hea menatap lukisan itu tanpa ekspresi.

"Boleh aku tanya...? Siapa gadis.. dalam lukisanmu itu...?"

"Itu.. Rahasia~" Rie malah mengembangkan senyuman konyol.

"Ehhe, maap. Wanita itu akan Rie jelaskan dipertandinganselanjutnya. Tapi lukisan Rie bagus, kan? Iyakan? Iyakan?" tanya gadis asisten detektif itu mendesak [Kepala Manajer].

"Bukan aku.. yang akan menilai pertandingan ini.. Semua keputusan.. akan diserahkan pada para pembaca.. Berdoa saja.. semoga mereka menyukai lukisanmu.. dan kau bisa menjelaskan rahasiamu itu..." Hea mengedikan bahunya lalu berlalu pergi.

"Eeeehh!? Ta-tapi Kak Hea jugapembaca, kan? Tolong dukung Galon, ya!"

 

 

 

Read previous post:  
80
points
(5538 kata) dikirim Sam_Riilme 9 years 14 weeks yg lalu
88.8889
Tags: Cerita | Cerita Pendek | lain - lain | Battle of Realms | N2 | Ronde Turnamen
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.

Idenya keren. Suka banget konsepnya. Tapi battlenya kurang greget.

B

emang buatnya pas dedlen sih kak, makasih skornya :)

90

saya ga gitu ngikutin postingan atau perkembangan tentang galon sih. Ten Galon Tank itu kayak Ten comandemen ya? *plak!
.
satu komentar saya, bertobatlah nak selagi masih muda *uhuk!*
.
B ya~

bukan kak xD
nama ten gallon itu terinspirasi dari topinya koboy yg biasa dsebut ten gallon hat, skalian krn skrg isi tubuhnya bertambah kapasitasnya jd anggap aja isi tubuh galon skrg sama dgn 10 galon :3
hmm, entah knp makin banyak yg minta galon tobat, penulis malah makin pengen bikin dia tambah jahat #pletak xD

2550

Gambar abstrak tiap peserta keren <3
~
Wilder be Cool dengan hitam
~
cerita Galon di susupi Greed keren.

Tapi, kemenangan galon atas Shina cepet banget ya?
~
Skor 'B'

galon, kembali ke jalanmu ndree

emang dbuat cepet kak soalnya karakternya galon dah jd kejam gitu x3
makasih skornya kak :)

100

. . .
.
sy mesti bilang apa ya..
.
entah kenapa baca cerita ini kayak noel2 (?) jelly yang di dalamnya ada banyak warna n ada sesuatu yg berubah2 #halahungkapanapaini
.
Galon, kenapa emangnya kalo kamu gak ngomong ndree~?
siapa wanita itu??
.
rasanya kalo ketemu Greed itu jadi ada inner battle (?) ya, mesti tahan mental ohoho
.
semua chara jadi naif di sini! khasnya Red banget >.<
.
mao kasi B+ soalnya kurang bikin greget (??) mungkin krn buru2 ya~?

sensasinya aneh ya kak? xD
iya kak emang lumayan buru2, makasih skornya :)

. . . . . . . .
.
. . . . . . . .
.
. . . . . . . .
.
Adegan battleny dikit.
.
Tapi ga bisa bohong, saya suka tipe cerita kyk gini.
.
Dan geana itu teman imajinasi. . . .
.
A !

makasih banyak skornya kak :D

100

Shina jadi Wise dan dibantai T.T
woaaha~ Galon jadi EMO dan galau. ntar kalau dia lolos dia baal jadi lebih dark dong ya?

saya heran kenapa Rie masih bisa nulis pendek meski pake 4 lawan -,-a

Skor : A

hwee, maap kak klo shina jd OOC >.<
sebelumnya pengen kasi penjelasan whitelie ke hea tp krn shina sempet cosu jd hea jd dbuat dia ngerti ttg konsep kebohongan dan imajinasi kak *seenaknya* #plok x3
makasih atas skornya kak :D

90

Whoa, Galon jadi berasa dark. Apa ini yang kau maksud dengan Galon bakal jadi villainous?
Saya suka kalau kau beneran berani ngambil twist kayak gitu, karena pastinya berpengaruh ke depannya. Galon yang tadinya timid dan lebih senang damai, berubah menjadi ga peduli lagi dengan apa yang harus ia tempuh demi tujuannya. Konflik karakter yang bagus, menurut saya. Rasanya saya jadi inget pas ngebut semua karakter saya berubah dari easygoing jadi emo semua di BoR pertama, hahaha~
.
Skor : A

iya kak, ntar masa lalu galon jg menjelaskan perubahan sikapnya itu :3
makasih banyak atas skornya kak sam :D