Kilas Balik dan Antiklimaks

Sebuah koran, kamu letakkan penuh lelah diatas meja persegi. Kacamata yang membingkai wajah, kamu singkirkan, sembari memijit tulang lunak dari hidungmu. Malam itu, di sebuah kamar hotel kenamaan, kamu terpekur diam mendengarkan derungan garang dan kedap-kedip lampu kemerahan yang melintas menuju suatu kawasan. Ambulan. Mayat. Darah. Perseteruan yang sengit. Dan masa lalu yang tersingkap.

Kamu tidak akan pernah menyangka bahwa di suatu hari kamu—dengan tanganmu sendiri telah membunuh secara tidak langsung orang-orang yang pernah kamu kenal di masa lalu.

“Anna, belum tidur?”

“Hm.”

“Masih kepikiran soal kasus yang terlampir di koran?”

“…”

“Atau … kepikiran untuk berhenti bekerjasama denganku?”

Kamu mengadahkan wajahmu ke langit-langit. Berharap menemukan sesuatu disana.

.

.

.

.

Gadis gila.

Itulah sebutan yang kamu dapatkan di umurmu yang ke lima belas. Kamu bukanlah murid terpandai di sekolahmu dulu, tapi nilai sainsmu tidak pernah kurang dari seratus. Kamu sangat cinta dengan ilmu alam. Selalu bereksperimen dengan elektronik dan menciptakan karya-karya kecil yang orang lain lebih sering sebut sebagai sampah. Kamu tidak peduli jika orang-orang mengolokmu, atau menganggapmu kutu buku yang tidak gaul. Kamu hanya peduli pada hobimu dan mata pelajaran favoritmu itu.

Lalu, suatu hari, ada seorang teman sekelasmu, yang datang kepadamu untuk diajarkan sedikit ilmu sains yang selama ini menumpuk di kepalamu. Waktu itu, kelasmu diberi PR yang jawabannya tidak ada di buku. Jadi tergantung pada dirimu, mau berusaha mencari, atau berselancar di internet untuk menemukannya. Namun itu adalah pilihan yang berada pada tangan temanmu. Bagimu sendiri, jawabannya sudah ada pada otakmu, yang selama ini selalu di beri asupan nutrisi dari buku-buku setebal kitab suci. Kamu menyortirnya—buku-buku pengetahuan itu—dengan kedua matamu, seperti mesin scanner.  Tak heran jika temanmu yang satu ini meminta tolong untuk dibantu sedikit pekerjaan rumahnya.

Namun karena kamu begitu polos, kamu terlalu membantunya dan menuliskan semua yang ada di kepalamu secara cuma-cuma. Hingga akhirnya bukan hanya sekedar membantu, kamu bahkan mengerjakan PR-nya.  semuanya. Setelah itu, kamu pun segera menyalin jawaban yang sama pada buku PR-mu dan tertidur pada jam sepuluh malam.

Namun, entah kenapa, pada keesokkan harinya, kamu telat bangun sehingga lupa membawa buku PR yang sudah kamu kerjakan semalam. Waktu itu, di kelas tidak ada satupun murid yang bisa mengerjakan semua isinya karena susah. Tidak ada—kecuali satu orang. seseorang yang kemarin datang meminta bantuanmu. Ya, orang yang saat ini menggunakan kepintaranmu dan mengklaimnya sebagai miliknya. Dengan bangganya ia menjawab semua pertanyaan yang jawabannya berasal dari kepalamu. Semua. Karena itu, ia mendapat predikat A atas hasil pekerjaannya. guru sainsmu memujinya. Sementara kamu, berdiri di depan kelas bersama murid-murid yang tidak mengerjakan PR.

Dahimu berkerut. Tak pernah kamu rasakan denyut jantung sesakit ini. seharusnya pujian dan predikat A itu untukmu.

Untukmu.

Minggu kemudian, temanmu kembali datang kepadamu untuk meminta sedikit jawaban. Dan kamu, tentu saja bersikap pelit padanya karena merasa rugi. Akibatnya, perbuatanmu ini di laporkan olehnya ke wali kelas dan kamu di ceramahi karena dianggap tidak mau berbagi ilmu. Jengkel. Lagi-lagi  temanmu yang mendapat puja-puji. Kamu ingin menjelaskan bahwa temanmu itu telah merebut milikmu dan mengambil keuntungan dari hal itu. tapi mustahil. Lidahmu kelu, seperti ada gembok yang mengunci rahangmu agar tetap mengatup. Susah pula bagimu untuk menyusun kalimat dan mengklarifikasi kenyataan.

Jadi kamu hanya tertunduk lesu, keluar dari kelas pada sore hari dengan kaki yang melangkah berat.

Pada hari kelulusan, temanmu lulus dengan nilai terbaik seangkatan. Dan kamu? Kamu pun sama baiknya, punya nilai yang gemilang pada bidang studi favoritmu. Tertinggi, seratus pada nilai Fisika, Kimia dan Biologi. Saat itu kamu sudah tak terlalu peduli jika dulu temanmu pernah merengut pujian yang seharusnya menjadi milikmu. Tidak masalah. Toh, pendendam bukanlah dirimu. Kamu ingin meninggalkan kesan yang baik setelah kelulusan. Jadi, kamu hanya akan berjalan menemuinya, dan berjabat tangan. saling bertukar kalimat lalu berpisah. Normal. Hanya saja—

Yang tidak akan kamu sangka adalah, bahwa hari itu, bukanlah perjumpaan terakhirmu dengannya.

Kamu kembali berpapasan dengannya ketika kamu telah menghadapi dunia kerja. Kamu dan dia lulus tes bersama-sama. Sama-sama direkomendasikan oleh rektor untuk bekerja pada sebuah perusahaan elektronik ternama. memiliki cita-cita yang sama. Dan tujuan yang sama. Aneh, kalian telah memiliki banyak kesamaan.

Kamu mengerutkan alis.

Namun sayang, perusahaan hanya membutuhkan satu ilmuwan. Maka dari itu, kamu dan dia kembali diadu, untuk membuat sesuatu yang bermanfaat, efisien dan hemat energi selama tiga bulan. Kamu mengangguk mantap dan siap dengan rancangan yang tengah berputar di kepalamu.

Seperti orang gila, kamu mengurung diri di kosan selama tiga bulan penuh. kamu hanya keluar jika ada perlu untuk mengisi perutmu yang keroncongan, atau menerima surat yang dikirim oleh kedua orangtuamu. Kamu sudah menorehkan sketsa dari benda yang akan kamu ciptakan ke dalam selembar kertas A3 dan kini benda itu siap untuk di realisasikan wujudnya.

Kamu akan membuat sebuah mesin penyedot debu berbentuk anjing kecil. Mesin itu menggunakan energi biogas dan sangat efisien. Selain untuk membersihkan debu, mesin ini juga berfungsi sebagai teman bagi anak-anak yang ingin memiliki anjing kecil atau manula yang hidup sendirian. dilengkapi dengan detektor debu, dan tidak berbahaya bagi anak-anak.

Dengan wajah yang berseri-seri, kamu bersihkan segala macam kotoran yang menempel pada mesin yang saat ini tengah berdiri gagah di atas mejamu. Setelah dicek, di tes, dan menerka bahwa segalanya telah sempurna, kamu berpikir untuk pergi keluar kosan sejenak, mencari udara segar dan sake beras sebelum tertidur lelap. Dan—ketika pagi datang,

Sketsa penyedot debumu hilang, entah kemana. Kamu tidak terlalu ingat karena pengaruh sake. Tapi yang jelas, kamu pasti bisa menemukannya kalau hilang di dalam kosan yang sempit ini.

Namun kesialan, tetaplah sebuah kesialan. Laksana Dewi fortuna yang tengah berjalan menjauhimu, kamu hanya bisa pasrah. Hari ini adalah deadline. Tepat dimana tenggat waktu tiga bulan yang diberikan oleh orang perusahaan itu telah habis. Kamu sedang berpikir, apakah menemui mereka tanpa rancangan akan berhasil? Kamu terhenyak, berpikir. Paling tidak, benda riil-nya masih tersisa di genggamanmu.

Kamu terus berdoa dan berdoa. Berharap ciptaan teman semasa SMA-mu tidak begitu baik.

“Baiklah, selamat bergabung pada perusahaan kami, nona Marinette.”

Lututmu lemas, dadamu sakit, mendengar hiruk pikuk dan senyum kembang yang ditujukan semuanya untuk lawanmu. Dia … dan segala keberuntungan supernya.

“Saya senang dengan ide mesin penyedot debu anda. Walaupun saya sempat ragu saat nona Anna menuduh anda plagiat karena ciptaan kalian sama, tapi sekarang saya tahu siapa pembuat aslinya. Maafkan saya untuk prasangka buruk saya sejenak.”

“Ah, jangan berkata demikian.”

Bibirmu bergetar. Hebat. Matamu panas. Harapanmu luluh lantak. Lagi-lagi kamu merasa berjalan dengan kaki yang terseok-seok saking beratnya. Hanya saja kali ini, kepergianmu disertai dengan guncingan dan cacimaki tidak suka.

“…Kenapa?”

Padahal kamu sudah berusaha siang dan malam untuk membuatnya.

“—Kenapa?”

Dan entah, secara ajaib, mesinmu rusak, ketika hendak di demonstrasikan di depan mata orang-orang penting yang sangat kamu harapkan pendapatnya.

“Ada apa ini?”

“Anda bahkan tidak menyelesaikannya dengan benar?”

“Apakah ini bisa disebut sebagai sebuah karya?”

Lemah. Kamu lemah dengan segala tombak yang menusuk langsung pada jantungmu. Sejak hari itu, kamu sangat terpuruk. Amat sangat terpuruk. Lebih-lebih, ketika kamu tahu, alasan dibalik kesialan yang selalu menimpamu selama ini.

Marinette.

Prestigius muda yang harta moyangnya bisa membeli sebuah Negara. Jadi, bukanlah perkara sulit untuk menyewa satu atau dua orang yang bertugas untuk memantau aktivitasmu di setiap hari, dan menunggu saat yang tepat untuk mengintip ide sketsamu. Kemudian mencurinya pada waktu sehari sebelum hari H dan membongkar sedikit mesin yang telah kamu buat dengan memeras darah.

Ah … sial.

Begitu gumammu di sudut kamar. Kamu berhenti untuk percaya pada yang namanya keajaiban. Tiga tahun kamu vakum dari dunia luar. Terus mengurung diri, menciptakan robot demi robot yang berfungsi sebagai pembunuh di waktu senggang dan teman dikala sepi.

Namun sialnya—

‘Revolusi telah terjadi. Prestigius muda, cerdas dan penuh bakat, Marinette telah mendongkrak popularitas Excalibur dengan mesin terbaru’

Marinette, Marinette, dan Marinette.

Namanya terus bergulir disepanjang halaman koran X-tra Times. Excalibur corporation yang berdiri bersamanya kini berkembang sangat pesat. Melihatnya yang tumbuh gemilang, kamu mengkerut, bagai kacang siup yang dijual di pinggir jalanan. Terpuruk. Apa-apaan, pikirmu. Disekolah, seharusnya kamulah sosok nomor satu yang menguasai mapel ilmu alam, namun kenapa, orang yang berdiri penuh kemilau justru Marinette. Dan bukanlah kamu. Bukan. Bukan kamu. Bukan sosok yang saat ini tengah terasing di pojok ruang dengan kegelapan.

Wajahmu kusut. Satu malam setelah membaca koran yang memberitakan Marinette, kamu tidak menyentuh kasurmu samasekali dan semakin gila membuat robot demi robot yang kini populasinya tengah memenuhi kamarmu. Dan keesokkan harinya, kamu di tendang keluar dari kosan karena belum membayar tunggakan selama lima bulan. Dan tentu saja, kali ini adalah salahmu sepenuhnya karena uang yang telah dikirimkan oleh orangtuamu untuk kosan malah kamu gunakan untuk membeli alat-alat penemuan.

Sungguh gila. Kamu pergi dengan menjinjing sebuah koper besar dan ransel yang hanya diisi oleh alat-alat penemuanmu, dan bukanlah sehelai pakaian.

.

.

.

.

oOo

.

.

.

.

Dan, disinilah titik ledak dari kehidupanmu yang sesungguhnya, dimulai. Kamu sedang beristirahat di pinggir taman umum, mengeluarkan robot minimu dari ransel untuk mengambil air di pancuran. Haus telah meradangi kerongkonganmu. Dan tanpa diundang, tiba-tiba saja sebuah BMW silver berhenti di depan tempat kamu duduk. Pintunya terbuka, keluarlah seorang wanita berambut lurus panjang, kecokelatan, dengan jas putih, rok putih, dasi dan kacamata hitam yang bertengger di wajahnya.

Kamu tertegun melihat seberapa halus kulit yang ia punya.

Wanita itu tersenyum. Ia lepas kacamatanya. Dan alangkah terkejutnya kamu ketika menyadari bahwa ia bukanlah seorang wanita, melainkan gadis muda.

Dalam benak, kamu mulai bertanya-tanya berapakah umurnya.

“Halo.” Sapanya ramah.

Kamu hanya mengangguk, dan bertanya, “—siapa?”

Sudah terbayang dalam pikirmu bahwa ia akan menyerahkan sebuah kartu nama—layaknya eksekutif-eksekutif pada umumnya. Namun nihil, gadis itu justru berjalan perlahan mendekatimu dan berbisik pelan.

“Mau ikut denganku?”

Dan bukannya menjawab pertanyaanmu, ia justru menawarkan sesuatu yang menarik minat.

Hari itu, kamu dibawa pergi olehnya dengan BMW silver, menuju sebuah pondok villa yang jauh dari bisingnya perkotaan. Tentu, kamu tidak keberatan. Toh, menjadi budak dari gadis ini, atau tunawisma, tidak ada pilihan yang lebih baik dari keduanya.

Pertama, kamu tidak mengerti apa-apa. Gadis itu hanya mendorongmu untuk terus menuruni tangga ketika kalian berdua—tidak berdua sebenarnya. beberapa bodyguard gadis itu mengikuti di belakang—setelah sampai di villa. Kamu terus bertanya ‘kemana’, dan gadis itu hanya bersiul aneh. Hingga akhirnya kamu tiba di depan pintu besi yang dapat diakses dengan scanning bola mata. Terpampanglah sebuah ruang raksasa, yang sangat luas dan dipenuhi dengan alat-alat canggih yang selama ini selalu kamu idamkan. Kamu bersiul, mengikuti gadis itu.

“Wow.”

“Apa kau suka?” gadis itu bertanya padamu.

Kamu—tentu saja mengangguk semangat. Setelah menyaksikan antusiasmu, barulah gadis itu mengatakan alasan yang sesungguhnya. Pekerjaan. Untuk. Kamu. Seorang.

Ia meminta robot-robotmu, semuanya dan membelinya dengan harga yang diluar jangkauan. Kamu bahkan bisa membeli kosan yang baru saja kamu tinggalkan dengan uang yang ditawarkan oleh gadis itu.

“Boleh?

“T-Tentu saja! Silahkan! Ambil sesukamu.” Dengan semangat kamu sodorkan koper dan tas yang telah kamu bawa. Tidak hanya sampai disitu saja, ia juga memberimu tempat tinggal yang nyaman, dan pekerjaan tetap.

“Namaku Martha. Mulai hari ini, kau bekerja untukku, dan ruangan ini milikmu.”

Kamu tersenyum, lebar sekali, kepada gadis yang jelmaannya bagaikan reinkarnasi Dewi itu.

“Baiklah, nona Martha! Terimakasih!”

Napasmu menggebu-gebu.

Sebulan berada di tempatnya, kamu sudah menciptakan robot-robot yang kompleks dan canggih. Semua ini karena Martha. ruang pemberiannya benar-benar dipenuhi oleh kesenangan, yang dapat menghapus rasa hausmu akan pengetahuan dan segala eksperimen. Chip berukuran nano, dan kabel-kabel tipis. Kamu merasa dunia ada di genggaman tangan. indah. Begitu indah hingga rasanya ingin sekali kamu gosokkan kemenangan ini di depan hidung Marinette. Ia pasti akan cemburu, pikirmu.

Kamu sedang duduk di kursi kerjamu dengan sebatang rokok yang terselip pada bibirmu yang pucat, Matamu tak berkedip, memandang penemuanmu yang sedang dalam tahap percobaan. Dan, tiba-tiba saja Martha datang menemuimu. Ia bilang terimakasih, dan sebangsanya. Kamu hanya menggosok tengkuk, berkata ini bukanlah apa-apa. Lalu gadis itu melirik penemuanmu yang selanjutnya. Kamu sudah memasang wajah penuh suka cita dan hendak berbicara panjang lebar mengenai robot baru yang mungkin saja bisa beredar di tiap-tiap toko mainan, sesuai harapanmu. Namun tidak, gestur tegas dan intonasi rendah suara Martha membuatmu geming.

Gadis kharismatik itu melipat tangannya di dada.

“Sebenarnya, Anna … aku ingin kau berhenti membuat mainan. Karena, sejak awal, aku memintamu bekerja bukan untuk membuat itu.”

Ludah diteguk,

“L-lalu—“

Belum sempat kamu tuntaskan kalimatmu, Martha mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah gambar yang berlokasi di pulau luas. Terdapat sesuatu yang di tembakkan dari pulau itu.

“LGM-30Minuteman. Ini berasal dari robot pengambil airmu, yang telah di modifikasi sedemikian rupa hingga seperti ini.”

Misil balistik.

Demi Tuhan, bisikmu dalam benak.

“Kau memintaku untuk membuat rudal?” wajahmu berkeringat.

“Tidak,” gadis itu tersenyum, refleks, “Aku ingin kau membuat rudal, anti-rudal, sniper, rifle, shotgun, airsoft gun dan lain-lain.”

Napasmu tertahan.

“Kenapa?” tanyamu ambigu, “Kenapa kau memintaku untuk membuat benda-benda seperti itu?”

Gadis di depanmu, berjalan, mendekat. Ia cengkeram bahumu pelan, mengangkat tangan halusnya untuk menyingkirkan sebatang rokok yang terselip di bibirmu dan membuangnya ke lantai.

“Apa yang—“ kamu ingin protes dengan aksi spontannya, namun gadis itu menjawab,

“Kenapa kau bilang? Itu karena … menciptakan senjata adalah pekerjaanku.”

“Ma-maksudnya, k-kau—”

Gadis itu tersenyum, lebar penuh arti.

Lutut keringmu bergetar, lemas. Kamu tidak percaya bahwa remaja seperti Martha adalah sosok yang memiliki latar belakang dan profile yang begitu kuat. Berjalan masuk kemudian, dua orang bodyguard-nya yang berdiri bagaikan sayap di kanan-kirinya. Kamu tersudutkan.

“Aku sudah menyelidikkimu. Dari catatan kecil, hingga penghargaan apa saja yang pernah kau dapatkan. Dan secara keseluruhan, aku menilaimu sebagai sosok yang berbakat. Dan aku menyukaimu, jujur saja.” Ia tepuk bahumu, beberapa kali, layaknya orangtua yang sedang menasehati anaknya, “Tapi sayang, dunia tidak sepertiku. Mereka membencimu. Entah kenapa karirmu tersendat, berkat wanita jalang. kehidupanmu tidak begitu baik. sayang sekali jika kemampuanmu tidak dilirik dan mati di pemakaman.”

Kamu tepis tangannya dengan wajah bersungut, kesal. Kedua orang yang berada di belakang Martha dengan sigap membidik rifle-nya tepat di jantung dan kepalamu. Kecip, kamu rasakan.

 

“Turunkan senjatamu, Werther, Daisy. Aku tidak ingin menyakitinya,” bola mata kebiruan itu mengarah padamu, lagi, “Nah, aku hanya ingin memberi sedikit saran. Pilihan lebih tepatnya. Aku rasa dunia tidak lagi berpihak padamu. Jadi, maksudku, jika sisi terang dunia telah menolak dirimu dan menjatuhkanmu dalam kesialan, kenapa tidak coba untuk hidup di sisi gelap? Kau mungkin bisa terkenal, seperti Marinette. Dalam sisi yang berbeda tapi. Namun aku yakin, kejeniusanmu pasti bisa melebihinya. Karena kau, jenius sejati, tidak seperti Marinette yang imitasi.”

“Tidak…” suaramu sumbang. Mulai terselip keraguan dalam benakmu.

“Hm—“ gadis itu bergumam, “Kalau kau pergi dariku, apa yang bisa kau lakukan? Disini, aku hanya ingin menolongmu. Kuberikan segala fasilitas untuk mengembangkan kemampuanmu. Bukankah kau senang? Kalau kau bosan, kau bisa ikut denganku berkeliling dunia. Karena lahan bisnisku luas, melebihi apa yang kau pikirkan.”

“…”

“Bagaimana, Anna? Bukankah kau ingin menggosokkan maha karyamu di depan wajah Marinette dan berteriak ‘aku menaaaang!’ padanya?”

Dia mulai menggodamu. Kamu terpikat.

“…”

“Aku tidak akan membuatmu sulit. Ikut denganku, fasilitas terjamin, hidupmu aman, atau pergi, dan kau akan kembali dengan masa depan yang semu?”

“Tapi … Aku—akan jadi pembunuh karena hal ini. aku—membuat senjata, dan menghilangkan nyawa—” kamu utarakan ganjalan di dalam benakmu, saat itu.

“Hidup ini penuh resiko, Anna. Bahkan Marinette yang bekerja di tempat terhormat sekalipun telah membunuh hidupmu. Kau tahu? Kalau kau tidak mau diinjak, maka kau harus menginjak. Keji memang. Tapi beginilah hidup. Dan, kau tidak akan disalahkan karena telah merakit rudal. Tidak. Karena senjata-senjata ini juga untuk kedamaian dunia.”

Kedamaian … dunia.

Kalimat itu terdengar kontradiksi di telingamu. Tapi sungguh, tak bisa kamu sanggah pernyataannya mengenai hidupmu. Bahwa kamu—kenyataannya memanglah sosok yang abu-abu. Kamu terpuruk, terperosok, terinjak. Jika memang perusahaan ternama seperti Excalibur corp tak bisa mengangkat derajatmu. Maka—Bergabung dengan Martha mungkin, ada bagusnya juga. jika bersamanya bisa membuat eksistensimu dikenal sebagai sosok jenius yang dapat di banggakan, lalu kenapa kamu harus menolaknya? Takut di cap jahat? Semua manusia itu jahat. Batinmu bergolak, penuh monolog yang sebagian besar memintamu untuk ikut dengan Martha.

“Jadi … apakah aku akan diincar polisi atau orang-orang tertentu jika ikut denganmu?”

“Oh—kau tidak perlu khawatir dengan hal-hal remeh seperti itu. Aku punya banyak koneksi dan bodyguard yang akan melindungimu dari remah-remah kecil pengganggu. Tenang saja.”

Kamu terdiam, kembali berpikir. Tanganmu merogoh saku jas lab yang saat ini sedang melekat di tubuhmu, dan mengeluarkan sekotak rokok, mengambil sebatang, dan menyelipkannya (lagi) ke dalam bibir pucatmu yang terasa kering. Kali ini Martha tak mengindahkan aksimu. Hanya terpaku, menunggu kedua bibirmu terbuka dan mengeluarkan suara.

“Sebenarnya, aku masih tidak suka dengan pekerjaanmu. Tapi, aku tak punya kehidupan yang lebih bagus daripada ini. lagipula, aku juga tidak yakin dapat keluar hidup-hidup jika menolakmu..”

“Aku tidak suka basa-basi.” Pekik Martha singkat. Kamu mendesah pelan.

“Baiklah. Aku ikut.”

Senyum itu melebar. Terpancar aura sumringah tak tercela dari raut wajahnya. dan itu semua ditujukan padamu seorang.

“Selamat datang di Bukkichou Unit, BU.”

Jadi, disinilah kamu. Terlahir kembali menjadi sosok yang baru. Anna March, tiga puluh dua tahun. Memiliki bawahan yang dua belas tahun lebih muda daripada dirimu. Namun sangat kharismatik, sekaligus sadistik. Sosok yang mengajarimu tentang hidup, yang juga mengikis mental lemahmu dan membuatnya menjadi es. Lamat-lamat kamu mulai terlihat sepertinya. Tidak peduli sedang berada di medan perang langsung atau di balik layar, kamu mulai terlihat acuh dengan tumpahan darah dan nyawa orang-orang. hidup dan tujuanmu saat ini hanya ada dua, mengabdi pada Martha, dan menekuri hobimu dalam bereksperimen.

Itu saja.

“Whoah… apa itu, Anna? Cantiknya—”

“Magpul Masada. Rifle emas terbaik yang pernah kubuat.”

Kamu lempari satu persatu Martha dan anak buahnya senjata-senjata ciptaanmu. Berada di sekitar mereka, membuat hidupmu terasa berarti. Rasanya menyenangkan, jika ada seseorang yang menghargai hasil karyamu. Ya, kamu memang jujur. Sepertinya, tahap demi tahap kamu mulai jatuh cinta pada Martha, sosok bos yang paling ideal bagimu.

‘Excalibur Corp luluh lantak. Penjarahan chip dan berkas-berkas penting. Gedung bagian utama rusak. ilmuwan yang menjadi kartu AS mereka tewas tertembak’

Begitulah sepenggal paragraf yang kamu baca pada surat kabar dinihari. Kamu tahu, beberapa minggu yang lalu, mafia bayaran dari sebuah perusahaan yang namanya di rahasiakan membuat pertemuan dengan Martha. Mereka seperti tengah mendiskusikan sesuatu, dan berakhir dengan persetujuan yang cerah. Martha bilang, kamu akan membuat beberapa senjata sejenis Beretta ARX-160 untuk mereka. Dan kamu patuh.

Namun, satu hal yang tidak akan kamu sangka, senjata cipataanmu—ARX-160 itu—ternyata sampai mengenai teman semasa SMA-mu, dan membunuh orang-orang yang dulu pernah mencacimu dan menuduhmu plagiat. Kamu merasa … dunia begitu sempit, saat itu.

“Masih kepikiran soal kasus yang terlampir di koran?”

“…”

“Atau … kepikiran untuk berhenti bekerjasama denganku?”

Kamu mengadahkan wajahmu ke langit-langit. Berharap menemukan sesuatu disana.

Lalu tiba-tiba saja kamu tertawa.

“Kau pasti bercanda, memberikan pertanyaan semacam itu, hei, nona?”

Kamu ambil sesuatu yang tergeletak di atas meja. Mengelapnya sampai mengkilat dan memasukkan sebuah timas keras ke dalamnya.

“Nah, kalau yang ini, kira-kira akan jatuh kepada siapa ya?”

Kamu mulai meracau seperti biasa. menebak-nebak, siapa yang akan kamu tembak—secara tidak langsung—selanjutnya. Dengan asal, kamu putar silinder pistolmu, kemudian mengangkat moncongnya dan mengarahkannya pada sesuatu yang berada di luar jendela kamar hotel tempatmu beristirahat.

Russian Roulette, Martha berpikir demikian. Adalah gayamu yang sangat khas dalam mengekspresikan rasa bosan. Dengan sedikit permainan yang menantang dan—

CLEK.

Sedikit keberuntungan.

Kamu bergumam. Martha menghela napasnya.

Peluru itu tidak terlihat meluncur ganas dari mulut pistolmu. Sepertinya ia masih bersemayam nyaman, di dalam tempatnya. Martha menahanmu,

“Kau mau merusak jendela hotel ini dan membuatku membayarnya?”

Tawa kecil tersemat di wajahmu.

“Maafkan saya karena telah menakuti anda.”

Kamu angkat kembali pistolmu, dan mengarahkannya pada tengkorak kepalamu. Martha membelokkannya. Dan—

DARR.

Peluru itu muntah keluar, memecahkan sebuah guci antik yang terpajang di kamar hotel. Kamu tertawa, Martha menatapmu intens, penuh dengan aura gelap.

“Kalau sampai kau mati dengan cara sekonyol itu, demi salad basi, aku akan melempar mayatmu ke laut lepas.”

“Uh-oh. Aku tidak menyangka bahwa pelurunya akan keluar secepat itu. maafkan saya.”

“Tolong berhenti dengan sikap tidak-sayang-nyawa-mu ini, Anna. kau itu intan di perusahaanku.”

“Aku tidak janji.”

Kamu mengerling, menggoda bosmu sendiri. Martha hanya menjambak rambut panjangnya yang halus, dan memasang wajah frustasi penuh komedi. Beberapa bodyguard-nya kemudian datang mendobrak pintu. mereka bilang, mereka telah mendengar sebuah suara tembakan dari arah kamar tepat dimana kamu dan Martha berbincang. Kamu hanya meringis, mendapati ulahmu tengah menarik perhatian.

“Maaf ya, sudah membuat khawatir.” Ucapmu, sekenanya.

Mereka mendesah.

Sebuah guci yang retak, kini tengah di bersihkan. Kamu telah membuat bosmu kerepotan, untuk mengatakan bahwa semuanya aman di bawah kendali.

Dan, dua ribu dollar pun melayang.

Martha kini membentuk bibirnya menyerupai angka 3. seperti anak kecil yang marah dengan kelakuan konyol ibunya. Kamu terus membujuknya, mencoba untuk mengendurkan urat-urat yang tegang di kepalanya.

“Sudahlah nona. Saya sungguh menyesal.” Ucapmu dengan ekspresi yang tidak sinkron. Justru wajah penuh tawa yang kamu timbulkan saat itu.

“Duh! Anna!”

Kamu tahu, Martha tidak pernah bersungguh-sungguh marah padamu. Karena kamu yakin, kamu adalah anak emasnya. Yang artinya, semua perkataanmu pasti di dengarkan olehnya. dan kamu merasa bangga akan hal itu. status diri yang sangat sempurna. Profil yang mantap. Sosok berwarna jelas, seperti yang kamu dambakan sebelumnya.

Dulu, kamu lebih dikenal sebagai sosok ilmuwan cerdas yang mendambakan penghargaan nobel di sepanjang hayat. Namun sekarang, semua orang enggan berkomentar lebih tentang keberadaanmu. Hanya orang-orang yang tidak tahu dan tidak sayang nyawa saja yang berani menggosipkan dirimu kepala khalayak ramai. Orang-orang dimasa kini lebih respek kepada sosokmu. Dalam konteks bahwa mereka begitu takut dengan kekuatan yang kamu miliki dibalik punggung kecilmu.

Dan, kini semua pun tahu. Bahwa Anna March, bukan lagi seonggok ilmuwan polos nan lugu yang hanya membicarakan cita-cita ini-itu. kamu yang sekarang kini tengah membanting stirmu kuat-kuat. berjalan tanpa gentar di tempat yang gelap, dimana kamu bekerja sebagai kaki-tangan dari seorang penjual senjata api yang kotor.

Fin

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Luca
Luca at Kilas Balik dan Antiklimaks (8 years 25 weeks ago)
100

ceritanya bagus..
mengalir, walaupun aku masih SMP, tapi ntah kenapa ceritanya mirip aku saat dimanfaatin tmen skolah bwt ngerjain tugas BIOLOGY.. *nangis

Writer Bloodberry Lime
Bloodberry Lime at Kilas Balik dan Antiklimaks (8 years 25 weeks ago)

Araaa... nyesek banget itu .___. makasih ya, udah mampir :D

Writer fitria evadeni
fitria evadeni at Kilas Balik dan Antiklimaks (8 years 26 weeks ago)
100

Akhirnya bisa komen juga ke nih cerita -_-
full score bray~ xDD
komennya tadi udah ya di sekolah. nitip poin aja xP

Writer Bloodberry Lime
Bloodberry Lime at Kilas Balik dan Antiklimaks (8 years 26 weeks ago)

iya iya. thank you yaa :*

Writer pratama_fariz
pratama_fariz at Kilas Balik dan Antiklimaks (8 years 26 weeks ago)
90

Suka suka suka bangeeet. Narasinya mengalir, rapi, apik. Ada kesalahan EYD dikit tapi aku tetap suka :O penyalahgunaan kepintaran kayak gitu tuh ckck

Writer Bloodberry Lime
Bloodberry Lime at Kilas Balik dan Antiklimaks (8 years 26 weeks ago)

makasiih makasiiih banget XD fufu, tapi dia jadi orang yang paling berpengaruh dan kaya kan? :v

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Kilas Balik dan Antiklimaks (8 years 26 weeks ago)
80

weh. saya kira ini bakal jadi cerita bersambung... bukan ya? *liat tag
kesannya kayak ini tuh baru prolog dari sesuatu yang lebih... lebih apalah hehehe. kayak cerita fantasi nih.

Writer Bloodberry Lime
Bloodberry Lime at Kilas Balik dan Antiklimaks (8 years 26 weeks ago)

wahaha. iya nih. masih bisa dikembangin lagi sebenernya, jadi multi-chapter. tapi yah, entah, males meradang jadi dibuat gini aja #plok.