Makanan Paling Nikmat Sedunia adalah…

 

Kisah ini berawal dari kesalahan fatal saya dalam mengelola keuangan pribadi. Kira-kira seminggu yang lalu, dompet langsung menipis drastis lantaran dibelanjakan komik. Memang sisa beberapa ribu, namun saya tak menyadari saat itu jikalau ‘beberapa ribu’ tidaklah cukup untuk biaya hidup beberapa hari.
 
Hari Minggu kemarin, tepatnya sore hari, uang di dompet tersisa sekitar 5000-an. Stok kas di ATM udah habis, dan ibu saya baru bisa mengirim uang sekitar hari Selasa berikutnya.
 
Bingunglah saya bagaimana bisa dengan uang segitu, bisa survive sampai hari Selasa.
 
Karena sekarang saya tinggal di kosan yang nda ada perabot apa pun, tentunya tidak bisa ngirit-ngirit happy masak mie instan seperti ketika di asrama dulu. Terpaksalah saya membeli makanan termurah yang bisa saya dapat di sekitar kosan, dan pilihan pun pada akhirnya jatuh pada mie goreng seharga 2500. Saya beli double, satu dimakan malam hari dan satu lagi buat sahur.
 
Yup, barangkali saya harus berpuasa sunnah….
 
Hari Senin, GYAAAAAAA…..!!!!! Uang di dompet benar-benar habis!
Untungnya masih ada recehan seratus, dua ratus, yang bertebaran di sekitar kamar saya, di tas, dan di berbagai tempat. Setelah dikumpulkan, akhirnya cukup untuk membeli 2 roti 1000-an untuk mengganjal perut.
 
Alhamdulillah, saya sempat minjam uang buat makan di kantin Gelap Nyawang. Malamnya pun, saya beruntung ditraktir makan oleh teman satu studio saya, sebut saja Danuh 21 tahun.
 
Hari Selasa, hari yang terjanji, namun sampai sore uang belum juga ditransfer lewat ATM. Saya menjalani perkuliahan hanya dengan berbekal sarapan 1 roti 1000-an, dibeli dengan uang terakhir saya. Menjelang siang, lapar pun kembali menyerang. Rasanya ingin ngutang lagi ke teman, tapi malu juga kalau hutang melulu.
 
Lagipula saya cukup pendiam, sehingga hampir tak ada orang yang tahu permasalahan kanker kronis saya.
 
Untungnya ketika Genardi, teman satu studio saya yang lain, mengajak saya ke kantin Arsitektur. Saya sempat menolak dengan beralasan tidak punya uang, beliau pun menjawab, "Gua yang bayarin, deh…” Mendengar kata-kata ajaib itu, saya pun tak bisa menolak.
 
Hari mulai malam, energi dari nasi putih dan ayam goreng porsi mini yang saya makan siang hari sudah habis.
 
Setelah acara mingguan KISR bersama TPB FSRD 2007, kami kembali ke studio. Kami cukup terkejut ketika gedung SR sudah gelap gulita tergembok dan hilang peradaban. Mungkin mahasiswa yang meramaikan gedung ini semuanya pergi ke Jakarta untuk menghadiri pameran seorang mahasiswa SR juga.
 
Mungkin ini sebabnya, petugas menggembok gerbang SR lebih awal dari biasanya, toh di SR tak ada orang…
 
Kemudian kami pun pergi dulu ke tempat makan depan gerbang SR. Ada Zul, Arif, saya, dan Danuh. Rencananya saya dan Danuh akan kembali ke studio setelah selesai makan. Sebab, biarpun gerbang SR dikunci, ada kemungkinan pintu studio sendiri belum dikunci… meskipun kemungkinan ini kecil mengingat SR sudah gelap gulita.
 
Entah kenapa tadi saya memutuskan untuk tidak makan, padahal ada teman saya yang menawari untuk membayarkan. Hati kecil saya sebenarnya ingin sekali menerima tawaran itu. Perut pun sudah sangat keroncongan, namun ego berargumen, “Malu rasanya kalau dibayarin terus”.
 
Acara makan selesai, dua teman saya pulang. Sedangkan saya dan Danuh kembali ke studio. Ternyata betul dugaan kami, studio pun sudah terkunci. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang juga, meskipun si Danuh cukup kesal mengingat tas dan sepatunya masih ada di dalam studio.
 
Perut tetap kelaparan, kami pun pulang ke arah Cisitu. Danuh yang bayar semua ongkos saya... duh, dibayarin terus…
 
Karena Danuh tahu saya belum makan dari tadi, dia pun mengajak saya ke rumahnya. Kali ini saya pun tidak menolak dan akhirnya saya pun menikmati nasi putih dengan lauk baso, serta kerupuk emping yang lezat…
 
Memang, saat ini saya sudah tidak kelaparan lagi. Ibu saya mentransfer sejumlah uang, Rabu sore kemarin. Namun saya pun menyadari satu hal ketika teman-teman saya berkali-kali mentraktir saya:
 
Betapa nikmatnya bisa makan ketika kita memang lapar!
 
Selama ini memang saya kurang bersyukur, tak bisa mengelola uang dengan baik.
 
“Makanan yang paling nikmat sedunia bukanlah makanan yang paling mahal ataupun makanan yang dibeli di kafe atau Rumah Makan ternama. Makanan yang paling nikmat adalah makanan yang kita makan ketika kita benar-benar lapar…”
 
 
 
--
Heru Setiawan, Maret 2008

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer hiro
hiro at Makanan Paling Nikmat Sedunia adalah… (7 years 35 weeks ago)

1. Makan ketika sedang lapar
2. Makanan Nyokap

Hehehe

keduanya bisa digabungkan, malahan :D
--
trims sudah berkunjung

Writer Luca
Luca at Makanan Paling Nikmat Sedunia adalah… (7 years 45 weeks ago)
80

wah betul tuh ...

Trims~

90

wah true story banget, saya juga ngerasain penderitaanmu nak :')

Makasih. Tapi ini adalah cerita (penderitaan) empat tahun yang lalu. Hehe :D

80

tosssh! pernah ngalamin pengalaman yang sama :D wah... menandakan juga kalau saya nggak pandai ngelola uang, suka keterusan. solusinya kalau nggak ngutang, makan di rumah orang, hahahahaha...

Gelap nyawang?

Gelap Nyawang itu nama jalanan di belakang Masjid Salman, tempat berderetnya banyak warung makan yang beragam. Cukup ramai.
--
*Tos*
Makasih sudah mampir lagi. Kelola uang memang perkara yang rumit. Harus tega sama diri sendiri kalau mau punya tabungan T__T

ah, indahnya berbagi. X) keinget temen kakak saya yang suka numpang makan di sini.

Wah, berarti dirimu bagian yang mentraktir, dong. Terima kasih, terima kasih, dari golongan tertraktir :D

80

Eh memang bakal kerasa laparnya ya? Aku ngekos pernah gak makan seharian, stress mikirin tugas numpuk :(

Yang bikin laper itu pas kita ndak makan seharian, lalu melihat teman-teman lain makan dengan lahapnya ...
--
Soal ndak makan seharian mah saya juga sering, waktu keasikan main game :D
--
Makasih udah bertandang~

100

hehehe... kisah nyata ya... makan di gelap nyawang ga diare? wkwkwkw. saya juga pernah ngalamin pas masih ngekos. dua kali kelaparan banget, pingin ngehemat, dan seketika itu juga ada yang nraktir/ngasih makan. subhanallah pisan lah.

Di Gelap Nyawang lumayan juga kok. Cari kantin yang tepat aja~
Kisah-kisah kelaparan anak mahasiswa memang terkadang mengharukan :D
--
makasih sudah mampir