Jika Hidupku Adalah Dongeng (1/2)

Aku resmi tersesat di hutan. Bersama wanita bodoh ini.

Biar kuceritakan dari awal. Ini semua gara-gara ibu tiri sialan itu. Tengah malam dia berbisik pada ayahku agar membuangku di hutan karena kehidupan sedang krisis. Mereka kira aku sedang tidur dan tak mendengar apa yang mereka bicarakan, padahal aku kan sering bergadang nonton sinetron "Putri Kerajaan yang Tertukar" sehingga jam segitupun aku masih melek.

Ayahku juga bodoh amat sih, masa dia tega buang anak semata wayangnya yang ganteng ini. Aku sebenarnya sudah melakukan persiapan dengan meninggalkan jejak berupa sobekan roti selama perjalanan. Ketika ayahku meninggalkanku sendiri, aku langsung mengikuti jejak kembali ke arah rumah. 

Tapi terjadi hal yang tak terduga. Seorang wanita memakan roti yang kutinggalkan satu per satu sehingga aku tak tahu lagi arah pulang.

"Hei, apa yang kau lakukan?? Itu jejak pulangku!!" bentakku.

Wanita itu terkejut, lalu dia menjawab dengan gugup, "Maaf, aku sangat kelaparan. Sudah berhari-hari aku tersesat di hutan ini."

Sebenarnya aku masih kesal, tapi kasihan juga melihat wanita dekil dan lusuh seperti itu, padahal dia mempunyai wajah cantik.

"Ya sudah. Sekarang kita berdua tersesat. Aku Kemal, siapa namamu?"

"Namaku Snow White."

Nama yang aneh, pikirku. "Kenapa kau bisa tersesat di hutan?"

"Ratu ingin membunuhku. Dia bertanya pada cermin siapa yang palig cantik, lalu cermin bilang aku. Ratu mengirim pengawal untuk membunuhku. Tapi kau tahu? Ternyata pengawal itu ayahku! Dia membunuh babi sebagai gantiku. Jadi aku kabur kesini dan tersesat."

Ratu bertanya pada cermin? Pengawal membunuh babi? Oke, kurasa kepanya terbentur pohon.

"Terserahmu deh. Ayo kita cari tempat berlindung sebelum malam."

Kami pun berdua mulai menyusuri hutan. Selama perjalanan kami tak banyak berbicara karena aku masih menganggapnya aneh. 

Setelah berjam-jam hanya pohon dan pohon, kami melihat sesuatu yang berbeda. Sebuah rumah! Tapi sepertinya terbuat dari....kue? coklat? atau mungkin permen?

"Rumah macam apa itu?" tanyaku.

"Aku tak tahu. Mari kita bersihkan rumah itu."

"Apa? Kau stress? Itu rumah orang!"

Snow White tak menjawab. Aku kembali memfokuskan pandangan ke rumah untuk mencari-cari apakah ada orang atau tidak.

Ada seorang wanita. Dia sedang menjilat-jilat pintu yang sepertinya terbuat dari coklat yang sangat besar.

"Sepertinya itu pemiliknya, ayo kita temui."

Ketika kami mendekat, wanita itu ternyata panik. Dia langsung lari tunggang langgang ke dalam hutan. Mungkin saking paniknya, dia meninggalkan sepatunya sebelah.

"Hei! Kami tak bermaksud jahat!" teriakku, tapi wanita itu sudah menghilang.

Tepat setelah itu pintu rumah terbuka. Terlihat seorang perempuan paling jelek yang pernah kulihat. Hidungnya bengkok, giginya sudah banyak yang tanggal, rambutnya kusut dan kulitnya dipenuhi jerawat. Dia melihat marah pada kami. Snow White bersembunyi di belakangku.

"Keke! Aku akhirnya menangkapmu!" suaranya sama jeleknya seperti mukanya.

"Apa??" 

"Kau yang selalu memakan rumahku diam-diam kan?? Jangan pura-pura bodoh!"

"Bukan! Aku bersumpah!" aku menjawab takut, "Seorang wanita yang melakukannya."

Dia menengok ke belakangku, "Wanita di belakangmu itu?"

Snow White mengerut. "Bukan, wanita itu kabur ke hutan tadi. Lihat, itu sepatunya."

Aku menunjuk ke sepatu yang ditinggalkannya tadi. Si nenek jelek itu mengambilnya. 

"Oke," katanya, "ayo kita ke kota. Kita pasangkan sepatu ini ke semua wanita disana satu per satu. Yang cocok kakinya, akan langsung kutangkap dan kumakan! Kekeke!"

"Kita? Apa kami juga harus ikut?"

"Tentu saja bodoh!" nenek itu mengeluarkan semacam tongkat dari jubahnya, "accio Firebolt!!

Tiga buah sapu keluar dari rumah kue. Dia menyuruhku menaiki salah satunya. Lalu si nenek dan Snow White menaiki sapu yang lain. Nenek menghentak tanah dengan keras dan dia pergi melesat ke atas. Aku tak melakukan apa-apa, tapi sapuku dan Snow White juga ikut terbang dengan cepat. Kami menuju ke kota dengan kecepatan tinggi.

 

 

Apakah mereka akan menemukan si pencuri? Tunggu kisahnya di cerita berikutnya!

Read previous post:  
Read next post:  
80

Eh, seru nih.

80

beneran loh... dilanjutin...

Writer kemalbarca
kemalbarca at Jika Hidupku Adalah Dongeng (1/2) (9 years 34 weeks ago)

iye yang ini dilanjutin
yang kmaren2 lupa mulu, hehe

Writer muras
muras at Jika Hidupku Adalah Dongeng (1/2) (9 years 34 weeks ago)
80

wahh... sudah tak sabar menunggu cerita selanjutnya... :D