Slow Hell

Ada dua hewan.

“Gitu doang?”

“Ya, cuma gitu aja? Seenggaknya kenalin kami berdua dong.”

Koreksi.

Ada dua hewan, yang satu Tupai dan yang satunya Unta.

“Rasanya pernah denger pembukaan ginian, tapi di mana ya?” tanya Tupai sambil menggaruk-garuk pantatnya. “Hei, pantatku gatal, jangan komentar!”

“Iya, kayaknya pernah denger. Authornya ga kreatif nih,” keluh Onta.

“Jangan pake lelucon yang sama kayak cerita lain,” keluh Unta.

“Mungkin emang ga kreatif dianya. Udah biarin aja.”

“Ya, yang lebih penting aja kita bahasnya,” balas Unta.

“Misalnya?” Tupai tampak tersenyum. “Aku bingung, bukan senyum!” Tupai tampak bingung. “Sekarang aku marah woy!” Tupai mulai labil.

“Jangan ngeluh. Ntar authornya kesenengan. Lagian, Tupai ga lucu kali kalo marah.”

“Iya juga ya. Ah, jadi lupa. Tadi kita mau bahas apa?”

Unta menekuk keempat kakinya seolah sedang berusaha santai di atas kapal yang sedang berlayar di sebuah danau besar berwarna hitam pekat. Air danau tersebut beracun.

“Emangnya kapal berlayar di danau ya?” komentar Tupei.

“Sudah kubilang jangan pake lelucon yang sama!” keluh Unta.

“Hei, jawab aku dong. Emang kapal berlayar di danau?” Tupai kembali bertanya.

Unta menggeleng. “Entah. DI apdang pasir ga ada kapal.”

“Kamu bilang apa tadi?”

“Eh? …Ga ada kapal?”

“Sebelumnya.”

“Entah?”

“Setelahnya, lengkap sama sebelumnya.”

“Entah. Di padang pasir ga ada kapal?”

“…Beneran kamu bicara gitu tadi? Hmmm, apa aku salah denger yah?”

“Mungkin. Kita kan baru aja ketemu. Lagian mana ada Tupai sama Unta bicara bahasa yang sama?”

“Bener juga. Unta bisa ngomong aja udah mustahil.”

“Tupai juga iya.”

Mereka berdua dengan bodohnya membicarakan hal yang tidak penting. Otak hewan memang sungguh kecil.

“”JANGAN MENGEJEK KAMI!”” seru keduanya dalam harmoni.

Unta yang pertama kali bisa mengatur nada bicara dan emosinya kembali tenang.

“Ehem, yang jelas ini bukan kapal. Kayaknya perahu.”

“Bedanya?” Tupai terlihat penasaran.

“Ukurannya, kecil dan di danau. Yah, baru kali ini juga sih aku lihatnya.”

“Hebat! Baru pertama lihat aja uda langsung tahu namanya!”

“Ya, ga kayak author kita. Perahu kok dibilang kapal,” ejek Unta.

“Nah, itu ga penting. Sekarang kita udah tahu posisi kita. Lalu selanjutnya apa?”

Unta menguap. “Mana ada unta menguap? Aku cuma mengantuk saja.”

“Hei, hei, jangan cuekin aku lagi lah. Sekarang kita ngapain nih?” Tupai mulai cemas.

“Ga tahu, kata author tadi danau ini airnya beracun. Aku ga mau ambil resiko kayak misalnya renang ke tepian.”

“Kita kan punya kapal, kenapa harus renang?”

“…”

“…Nah lo.”

“…Iya juga yah?” gumam Unta linglung.

“Trus kita ngapain nih? Ujung daratan ga keliatan dan aku lapar, haus juga,” recok Tupai sambil menarik-narik kaki Unta.

“Aku ngantuk, mau tidur,” jawab Unta singkat.

“Ja-jangan tidur lah! Aku lapar…”

“Kalo gitu makan aja, susah banget.”

“Makan apa? Dagingmu?”

“Kayu. Ini perahu dari kayu kan?”

“Tapi kalo perahunya rusak nanti kita tenggelam pula.”

Unta mengangguk. “Aku menggeleng woy! Tupai, kita ga mungkin mati. Kalo kita mati, author ga bisa menuhin tantangan gegara ceritanya selesai cepat.”

“Tantangan?”

“Seribu kata minimal. Lagian kita belum ngegombal dan ga ada keringat atau bahkan air mata. Dia pasti ga lolos seleksi.”

“Jadi…?”

“Aku ada ide,” ujar Unta yang mulai berdiri tegak melepas kemalasannya. “Sebagai tanda terima kasih gegara udah masukin kita dalam ceritanya, gimana kalo kita kasih sedikit balas budi buatnya?”

“Maksudmu si author?”

“Ya, dan kamu haus kan? Jadi sekalian sambil menyelam minum air.”

“Urrrghh, kalo nyelem di danau itu kamu jadinya minum racun, Unta.”

“Mau denger ideku ga nih?”

“M-Mau mau!” Ada secercah harapan di mata Tupai untuk segera melepas dahaganya.

“Nah, gini rencananya. Kamu keringetan dan aku nangis, deal?”

“Maksudmu?”

“Aku juga haus kali. Jadi kamu gimana caranya biar keringetan dan aku nangis. Kita ntar tukeran air buat minum.”

“Minum keringatku? Kamu ga masalah?”

“Daripada minum air matamu, ntar aku ga puas dan masih haus lagi.”

“Iya juga sih, air mataku kan kecil-kecil.”

“Makanya, buruan keringetan gih.”

“Eh, kamu juga keringetan ya biar aku ga haus lagi. Keringet unta kan lebih banyak.”

“Gimana caranya coba? Badanku besar dan kaku, aku ga bisa gerak selincah kamu. Mending aku nangis.”

Tupai kembali menggaruk pantatnya yang tidak gatal.

“Pantatku gatal woy!” Tapi setelah mengeluh, dia mencoba untuk membuat beberapa keringat. Namun sebelum dia berusaha untuk bergerak, dia kembali terdiam dan menggaruk pantatnya lagi.

Matanya tertuju pada Unta yang mulai meliuk-liukkan wajahnya, seperti sedang menahan buang air.

“Kamu lagi ngapain, Unta?”

“…Latihan nangis. Ternyata susah juga.”

“Eh eh, jangan nangis dulu. Bantu aku dikit dong, aku ga tahu gimana caranya keringetan.”

Unta menatap Tupai seperti sedang melihat eksistensi terbodoh sepanjang masa.

Tapi karena baik hati, Unta mulai menghela napas dan memberi masukan pada Tupai.

“Coba kamu nari-nari asal atau olahraga apa aja deh, lama-lama pasti keringetan.”

Tupai tampak berpikir, sebelum kemudian paham akan maksud Unta.

“Iya juga ya? Oke, makasih sarannya!”

Tupai mulai berolah raga, bergerak ke sana kemari mencari alamat palsu. Tapi tak lama kemudian, Unta meginterupsi.

“Coba berhenti sebentar, aku mau tes psikologis.”

“Tes psikopogis?”

“Ga usah niruin, ngikut aja aku bilang apa.”

“Kalau gitu jelasin dikit deh kamu mau ngapain.”

“Ntar aja. Kalo aku jelasin sekarang, namanya bukan tes lagi.”

Tupai akhirnya menyerah dan berusaha menahan rasa penasarannya.

“Oke, aku mulai. Jenis kelaminmu apa?”

“Perempuan.”

“Mana ada?! Ah, dari situ aku simpulin kalo kamu betina, oke, ini lebih gampang.”

“Mau ngapain eh tanya-tanya gituan?”

“Bapak kamu tukang es campur ya?”

Tupai tampak bingung dengan pertanyaan Unta.

“Maksudmu? Bapakku bukan tukang es campur. Lagian, apa itu tukang es campur?”

Kalau Unta punya tangan, pasti dia sudah menepuk dahinya saat ini—jika dia juga berdahi.

“Coba kamu jawab ‘Kok tahu?’,” perintah Unta.

“Ehm, aku ga begitu ngerti sih, tapi…Kok tahu?”

“Karena kamu udah mencingcau-cingcaukan hatiku~”

“…”

“…”

Sunyi.

“…Maksudnya apa yah? Apa itu ‘mencingcau-cingcaukan’?” Tupai memang bingung.

Unta berusaha menepuk dahinya dengan kakinya tapi gagal.

“Ah, aku tahu salahku apa. Coba jawab, apa yang dipercayai para Tupai sebagai hal yang suci atau keramat?”

“Eh…? Malaikat?”

“Oke, kalau gitu coba ini. Dulu kata ibuku, malaikat itu ada dan selalu tersenyum indah bak surga sedang menyambutku, tapi aku ga percaya dulu.”

“Lalu?”

“Tapi sekarang aku percaya kalau malaikat itu ada setelah lihat kamu.”

“…Beneran?” tanya Tupai dengan wajah memerah. Unta mulai tersenyum puas.

“Sungguh, sosokmu bak malai—“

“KAMU MAU NGEJEK AKU HAH?!”

Unta kaget dengan mulut terbuka melihat Tupai berteriak marah padanya.

“Wo-woy, tenang dulu! Emang ada apa sih? Sampe marah gitu.”

“MALAIKAT ITU YANG NGERUSAK DESAKU  TAHU! MEREKA SERING NEBANG POHON PAKE SENJATA BERISIK!”

Tak butuh waktu yang lama untuk Unta menyadari bahwa yang dimaksudkan oleh si Tupai itu adalah manusia, yah, maklum kalau begitu. Pengartian ‘malaikat’ pada tiap eksistensi memang berbeda.

“Maaf, tapi hei, kau udah keliatan banyak keringat, mungkin gegara marah-marah? Ah, yang penting, saatnya minum~”

“TUNGGU, MANA JATAHKU?”

“Kenapa kamu ngomong pake tulisan gede-gede gitu sih? Padahal nadamu kan cuma tanya biasa?”

“GA TAHU, KENAPA YAH KIRA-KIRA?”

“Ah, authornya mulai sarap nih. Oh ya, aku belum nangis. Bentar yah, aku coba nangis.”

“YA.”

Tak lama, Unta mulai membuka mulut lebar dan air mata keluar dari sudut matanya.

“KAMU KOK GA NANGIS?” tanya Tupai. “GA PERLU DIJELASIN JUGA UDAH PADA TAHU YANG TULISANNYA GEDE ITU AKU.”

“Ah, ga perlu, susah banget pura-pura nangis itu. Air mata ini udah cukup gede kok. Kalau gitu, selamat minum~”

Tupai bergerak mendekati Unta dan mulai meminum air mata hasil menguap Unta dan tampak puas namun dengan kerutan alis.

“RASANYA ANEH.”

“Terima aja, namanya juga air mata. Sini, sekarang bagianku~”

Unta mulai memasukkan Tupai ke dalam mulutnya seolah hendak memakannya. Dia berusaha sekuat mungkin menyedot semua sari-sari keringat yang ada di tubuh Tupai hingga beberapa bulu ikut tertelan.

Setelah puas, Unta memuntahkan Tupai.

“Puah~ Walau rasanya sedikit aneh, tapi aku udah ga haus lagi.”

“SAMA, TAPI KOK RASANYA NGANTUK YAH?”

“Masa? …Ah iya, kok rasanya kayak mau pingsan yah?”

Tupai yang baru saja dimuntahkan terkapar lemas beralaskan dingin perahu kayu yang terus melaju dengan kecepatan yang tidak signifikan namun pasti.

Unta juga mulai kehilangan keseimbangannya. Wajahnya tampak pucat dan perlahan dia melemah.

“A, apa yang…terjadi?”

“GA…TAHU…”

Mereka sekarat, tidak lama kemudian keduanya akan mati.

“Ke…kenapa kami mati…?”

Karena mereka telah meminum racun dari danau.

“…KOK…BISA…”

Mudah saja. Air danau menguap menjadi udara dan menempel di tubuh mereka. Ketika mereka berdua saling menjilat, otomatis mereka juga meminum racun dari air danau yang menguap.

“Jadi…apapun yang terjadi…”

“KITA AKAN TETAP…MATI?”

Ya, takdir mereka tidak bisa dihindari lagi. Tak lama kemudian keduanya akan mati, pasti.

“Dasar…”

“…AUTHOR…”

“…tak tahu diri…”

Memuji penulisnya, keduanya menghembuskan napas terakhir.

Perahu yang membawa keduanya terus melaju ke sebuah ujung di mana neraka berada.

Dan dari awal, mereka sebenarnya sedang dibuang oleh penulisnya.

Hahah.

Read previous post:  
152
points
(1204 words) posted by nereid 9 years 16 weeks ago
84.4444
Tags: Cerita | Cerita Pendek | komedi | eksperimen | fantasi | latihan | parodi
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Chaca_EvilMago
Chaca_EvilMago at Slow Hell (8 years 25 weeks ago)
90

XD XD XD XD XD XD #gak bisa ngomong ketawa terus#

Writer Hikaru Xifos
Hikaru Xifos at Slow Hell (8 years 25 weeks ago)

selama baca cerita ini saya jd senyum2 gaje.. :D apalagi yg bagian dialog unta yg TYPO itu ternyata jd bagian cerita.. :D Mantap mantap!

Writer Hikaru Xifos
Hikaru Xifos at Slow Hell (8 years 25 weeks ago)
80

selama baca cerita ini saya jd senyum2 gaje.. :D apalagi yg bagian dialog unta yg TYPO itu ternyata jd bagian cerita.. :D Mantap mantap!

Writer Erick
Erick at Slow Hell (8 years 37 weeks ago)
80

dialog jenaka nih,

ternyata tokoh-tokoh cerita bisa kayak gitu juga sama pembuatnya... :D

Writer kemalbarca
kemalbarca at Slow Hell (8 years 43 weeks ago)
90

wakakak, entah apa yang kubaca tadi
kayaknya ini bakal keren kalau dibikin drama gitu

Writer imreara
imreara at Slow Hell (8 years 43 weeks ago)
90

hahahhahahahha. lucu, dan saya sedikit tertawa tapi banyak tersenyum :)) ada bagian yang agak garing tapi.. hahahha

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Slow Hell (8 years 44 weeks ago)
100

XD
kayak opera van java nih. naratornya ikut jadi tokoh, gangguin aja haha. tulisan yang sangat jujur.