[cerita sampingan] Busur Biola

 

Seorang gadis berambut warna wortel tampak melamun di hamparan padang bunga lili. Tempat itu adalah kesukaannya, ia seperti melihat dirinya sendiri serta merasa tenang dalam belaian kelopak bunga-bunga lili. Namun, kali ini ia tidak menikmati hembusan angin semilir atau wewangian bunga-bunga itu. Di tangannya tergenggam sebuah jas hitam berlumuran darah. Pikirannya kacau, berkali-kali ia meremas jas itu dan bercerita pada bunga lili, berharap pemilik jas hitam itu baik-baik saja.

“Lee.”

Mendadak suara bocah laki-laki mengagetkan gadis itu.

“Ed? Ada apa?” tanyanya, ia tak senang bocah itu bisa menemukannya yang ingin sendiri.

“Hehehe, sampai kapan kau mau galau seperti itu? Allan barusan menelepon..”

“Allan?” pekik si gadis, memotong ucapan si bocah, “kapan? Bagaimana keadannya? Dia bilang apa?”

Si bocah bermata gelap hanya mendengus, “dia ingin bicara denganmu. Katanya sebentar lagi dia akan menelepon lagi.”

Seulas senyuman tipis terlihat di wajah si gadis, lalu ia berlari kecil mengikuti si bocah ke arah area pemakaman, sambil menggenggam erat jas hitam di tangannya.

 

***

 

Kafe Antar Semesta, entah sampai kapan tempat itu melayang-layang di kehampaan. Peserta Battle of Realms yang sudah atau tidak bertanding menghabiskan waktu di sana, entah beristirahat, bersenda gurau, atau sekedar memanfaatkan fasilitas yang ditawarkan cuma-cuma. Sebagian peserta yang tidak lolos Liga sudah kembali ke tempat asalnya, sebagian lagi masih bertahan.

Salah satu peserta yang baru saja menyelesaikan penyisihan enam belas besar, tampak duduk-duduk sembari menenggak anggur di meja bar. Allan Fenestra, ia menyempatkan diri mengunjungi kafe itu sebelum ke babak semi final, dan kemuraman masih menutupi wajahnya bagai kabut tipis. Ia baru saja meminjam ‘telepon antar dimensi’ dan sebentar lagi ia akan mengenakannya kembali. Diputarnya angka-angka di telepon antik itu dengan jarinya yang kurus, lalu ia mulai memikirkan kata-kata apa yang akan diucapkannya nanti.

Trrt-Trrt-Trrt

“Halo?” sapa Allan pada penerima telepon di seberangnya. Sedetik, dua detik, tampak tak ada jawaban. Namun terdengar suara desahan nafas yang membuat Allan tersenyum. “Lee?”

Si penerima telepon belum bisa menjawab, bibirnya bergetar. Banyak yang mau ia katakan, namun tak ada yang bisa terucap.

“Apa kabar sayang?” sapa Allan lagi, ia hapal ekspresi gadis itu ketika dia bimbang, “aku baik-baik saja di sini, ada beberapa kendala yang mengganggu, tapi—”

“Allan!” pekik gadis di seberangnya, namun tak ada kata-kata lain yang terucap selain desah nafas yang mulai tak teratur. Mendengarnya Allan tertawa kecil.

“Lee sayangku, jangan menangis. Maaf, mungkin Hollow dan dua gagak itu mengejutkanmu.”

“Aku menerima jasmu yang berlumuran darah!” seru Lee disela isak tangisnya, “bagaimana keadaanmu sekarang? Kau terluka apa?”

Allan kembali tertawa, “kau ini seperti tak pernah melihatku terluka saja. Itu bukan darahku, sayang—hmp, memang aku sedikit terluka tapi itu tidak masalah. Ada banyak hal aneh di sini, kau sendiri baik-baik saja kan?”

Mereka ingin bercakap-cakap lebih lama sekaligus melepas rindu, namun beberapa pelayan kafe seperti mencuri dengar percakapan mereka yang membuat tak nyaman, si pria melemparkan tatapan suram yang membuat mereka mundur. Tak ingin berlama-lama, Allan segera ke inti masalah kenapa ia menelepon kekasihnya.

“Aku mempunyai masalah di sini, busur biolaku patah dan kau tahu aku kesulitan,” katanya.

“Apa yang bisa kubantu?”

“Dalam lemari jam dinding batu perak, aku menyimpan awan dan hujan beserta tongkat yang bisa berjalan sendiri. Dalam musim semi tahun ketiga, kau akan melihat batu karang. Pecahkan batu itu dan,” Allan mengambil pulpen dan buku kecil dari saku kemejanya, “katakan padaku apa yang ada di dalamnya.”

Gadis itu memindahkan sambungan ke telepon lepas, kemudian pergi ke ruang baca rahasia yang ada di bawah tanah. Di salah satu lemari buku, ia menemukan beberapa catatan harian Allan yang ditulis tangan. Dibolak-baliknya buku-buku itu, lalu berhenti ketika menemukan sesuatu yang dirasa cocok. Sejenak ia menoleh ke sekeliling, lalu berbisik kata-kata aneh di telepon.

Allan mencatat semua yang diucapkan Lee, beberapa kali ia meminta pengulangan. Selesainya, ia tersenyum dan berkata, “terima kasih sayang. Kau tahu, aku ada di sini untukmu. Banyak yang gugur di sini dan—”

“Jangan mati!” potong Lee, “kau tidak akan dibayar untuk memakamkan mereka! Jangan mengambil kesenangan yang berlebih!”

Allan menyeringai, “tentu saja manis. Aku akan segera kembali.”

Setelah berkata begitu, telepon ditutup. Masih dengan seringaian yang ganjil, Allan menatap buku catatannya, membacanya baik-baik dan sesekali mencoretinya. Sambil bersenandung dan memainkan jarinya. Begitu terus hingga ia memesan segelas wisky dan langsung dihabiskan.

“Aku memerlukan beberapa bahan yang—hm, sedikit aneh dan langka, apa kafe ini menyediakannya?” tanya Allan pada salah satu pelayan kafe.

“Tentu Tuan, pelayanan ekstra untuk pemenang!” jawab si pelayan ceria, Allan tertawa.

“Baiklah, bisakah kau bawakan aku ini..” Allan menyebutkan kata-kata aneh yang membuat si pelayan mengernyitkan keningnya dan bergidik, berkali-kali ia juga tak sengaja berteriak, ‘hah?! Untuk apa?’, namun si pelayan menurut saja dan berkata akan kembali setelah semuanya siap.

 

Read previous post:  
174
points
(2393 words) posted by Ann Raruine 9 years 34 weeks ago
91.579
Tags: Cerita | Cerita Pendek | lain - lain | Battle of Realms | dark gothic | N2
Read next post:  
Be the first person to continue this post

uwooo jadi imba. . Jadi pgn lawan allan!!

100

makasih banyak kak ann udah upgrade kemampuan allan
pertarungan dgn galon jd lebih menyenangkan :3
menunggu cerita semifinalnya allan juga
semangat! :D

Writer centuryno
centuryno at [cerita sampingan] Busur Biola (9 years 3 weeks ago)
100

Fuuuhh... setelah baca ternyata biolanya Allan mirip2 ma teshaiganya Inuyasha yang dibuat dari salah satu tubuh mahkluk hidup.

100

mana nih kancutannya???