Him or Him ~part 03~

~part Three~

                Bobby meringkuk di sofa nyaman favoritnya. Dilantai kamarnya berserakan puzzle DNA rumit yang lebih dari setengahnya sudah diselesaikan. Sedikit kesal setelah berbicara dengan ibunya, Bobby memutuskan untuk menenggelamkan dirinya dalam wangi khas sofa beludru kesayangannya. Kamar yang ditempati Bobby tidak terlalu besar. Kamar itu bersih, tapi tidak tertata rapi. Sofa yang ditiduri Bobby terletak ditengah ruangan. Ranjang empuknya berada di salah satu sisi ruangan itu dan tepat disebelah ranjangnya berdiri sebuah meja kecil dengan laci. Buku-buku dan puzzle-puzzle berserakan di mana-mana, juga kotak-kotak rubik berbagai ukuran dan bentuk bergelatakan. Jendela besar yang menjulang tinggi dilain sisi tertutup rapat oleh korden tebal berwarna gelap. Tanpa sinar matahari yang mencuri jalan untuk masuk kedalam kamar Bobby, hal itu menyebabkan kamar Bobby menjadi suram.

                Bobby membuka matanya perlahan. Selama 10 tahun ini, dia tak mengerti sama sekali dengan perlakuan yang diberikan ibu dan keluarganya. Apa yang telah dia lakukan sehingga membuat orangtuanya memutuskan untuk berlaku seperti itu? Bobby tidak mengerti...

Kemudian Bobby berdiri dan berjalan perlahan menuju lemari kayunya yang berada di sudut ruangan. Dibukanya pintu ganda pada lemari itu, dan kemudian dalam sekejap, terlihatlah pantulan kilauan-kilauan kecil indah dari dalam lemari itu. Bobby hanya memandang kosong koleksi perhiasan curiannya. Sejak dua tahun terakhir, Bobby memutuskan untuk mencari kesenangan baru dalam hidupnya, yaitu mencuri perhiasan-perhiasan berharga mahal, dan selama itupun, belum sekalipun dia pernah tertangkap oleh orang-orang yang mengejarnya. Semua itu karena rencana-rencana rapi yang dia susun sebelum beraksi. Tapi kesenangan itu hanya dia dapat ketika dia melakukan pencurian-pencurian itu, dan setelahnya, kesenangannya itu hilang begitu semua selesai. Tumpukan perhiasan indah dalam lemari Bobby hanya menjadi barang-barang tak berguna baginya. Bobby hendak menutup kembali pintu lemarinya, tapi kemudian dia menyadari satu hal, kalung berlian yang dia ambil dari pencurian terakhirnya tak ada. Kalung indah yang mempertemukannya dengan seorang gadis. Seulas senyum mengembang di wajah Bobby.

                “Ini akan menjadi lebih menyenangkan..” ujarnya.

~~~

 

                Fraedea menyuap satu sendok besar ice cream vanila kedalam mulutnya. Satu kebiasaan Fraedea setelah orangtuanya meninggal adalah melampiaskan perasaan tidak enaknya pada ice cream. Ya, Fraedea adalah seorang yatim-piatu sejak usianya menginjak 12 tahun. Sejak saat itu, Fraedea diasuh oleh pengasuhnya sejak kecil. Seorang wanita setengah baya yang baik hati. Bu Yuta namanya.

                “Fraedea, kau lihat dimana buku agendaku?”

                “Hm? Tidak..” jawab Fraedea ketika ditanya oleh pengasuhnya –bu Yuta-.

                “Benar kau tak lihat? Seingatku terakhir kali aku titipkan padamu.” Tanya bu Yuta sekali lagi sambil terus mencari.

                “Emmm... mungkin dilaci?” jawab Fraedea sambil terus melahap ice cream nya.

                “Aku sudah mencarinya dilaci, dan agendaku tak ada disana.” Kata bu Yuta. Menghela nafas.

                “Kalau begitu, mungkin ada di dapur...?” jawab Fraedea lagi. Acuh tak acuh.

                “Sifat pelupamu memang tak pernah berubah...” kata bu Yuta memandang Fraedea. “Juga sifat jelekmu yang ini.” Lanjut bu Yuta, menyambar kaleng ice cream dari tangan Fraedea. “lagipula tak mungkin KAN, agendaku ada didapur.” Kata bu Yuta, kemudian melempar kaleng ice cream Fraedea kedalam tong sampah.

                “AH! Ice cream ku!” kata Fraedea.

                “ITU kaleng ice cream mu yang ke-tiga Fraedea. Kau sudah terlalu banyak makan ice cream hari ini. Selama tujuh hari kedepan, tidak ada ice cream untukmu sama sekali. Mengerti?!” kata bu Yuta.

                “Ah... ibu menyadarinya...?” kata Fraedea.

                “Tentu saja!” jawab bu Yuta. “Oh ayolah Fraedea... ingat-ingat dimana kau simpan buku agendaku! Aku sangat memerlukannya sekarang!” lanjut bu Yuta mulai mencari lagi ke seluruh ruangan.

                “... Aku tak tahu, dan juga tak ingat.” Kata Fraedea kesal. Dia beranjak dari tempat duduknya. “Dan lagi bu Yuta. Aku tak berniat untuk mengingatnya.” Lanjut Fraedea. Setelah nyengir pada bu Yuta, Fraedea kemudian berlari menuju kamarnya.

                “Fraedea...!” panggil bu Yuta. Tapi Fraedea sudah masuk kedalam kamarnya. Bu Yuta menyadari bahwa gadis kecilnya sekarang telah berubah. Fraedea yang bu Yuta tahu selama ini bukanlah Fraedea yang pemurung, yang meskipun Fraedea coba untuk menutupinya, bu Yuta tetap dapat melihatnya. Bu Yuta juga mengetahui bahwa setiap Fraedea melahap banyak ice cream, hal itu dia lakukan untuk menghilangkan semua perasaan buruknya.

Setelah menyelesaikan apa yang harus diselesaikannya, bu Yuta berjalan menghampiri kamar Fraedea.

                “Fraedea...?” panggil bu Yuta. Bu Yuta membuka pintu kamar Fraedea dan masuk. “Hai sayang... kau sedang apa...?” tanya bu Yuta lembut. Bu Yuta mendapati Fraedea tengah duduk diatas kasurnya dan sedang membaca buku. “Apa yang kau baca sayang?” tanya bu Yuta lagi.

                “Buku.” Jawab Fraedea pendek. Bu Yuta tersenyum simpul. Sejak dulu, sifat cuek Fraedea memang menjadi ciri khas Fraedea ketika berbicara dengan bu Yuta.

                “Buku apa?” tanya bu Yuta sabar. Kemudian bu Yuta menuju ranjang Fraedea dan duduk di tepinya. Bu Yuta mengintip sedikit judul buku itu. “The Wife.” ucap bu Yuta. “Baguskah?” tanya bu Yuta.

                “Sejauh ini... Ya.” Jawab Fraedea.

                “Darimana kau mendapatkannya?” tanya bu Yuta lagi. Mencoba mendapatkan perhatian penuh Fraedea.

                “Sepupuku yang memberikannya padaku...” jawab Fraedea, mulai meletakkan buku yang semula dibacanya dan menaruh perhatian yang lebih pada bu Yuta. “Ok, ibu dapat perhatianku.” Lanjut Fraedea, tersenyum. Bu Yuta membalas senyuman Fraedea.

                “Ada apa sayang? Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” tanya bu Yuta. Bu Yuta memandang Fraedea dengan cermat.

                “Tidak... tidak ada.” Jawab Fraedea, menghindari tatapan lembut bu Yuta. Bu Yuta menarik nafas panjang.

                “Baiklah... kau belum ingin membicarakannya denganku.” Kata bu Yuta. Membuat Fraedea merasa sangat bersalah pada bu Yuta. “Bicarakanlah denganku jika kau sudah siap untuk membicarakannya...” tambah bu Yuta lagi. Bu Yuta kemudian beranjak dari duduknya dan hendak keluar,

                “Bu Yuta!” panggil Fraedea.

                “Ya sayang?” jawab bu Yuta. Fraedea tampaknya ingin mengatakan sesuatu, tapi entah kenapa dia hanya diam. “Fraedea...” kata bu Yuta lembut, kembali berjalan mendekati fraedea. “kau tak perlu memaksakan dirimu sayang...” lanjutnya mengelus rambut Fraedea. “Bicarakanlah denganku setelah kau siap.” katanya lagi.

Fraedea mengangkat kepalanya dan memandang bu Yuta yang tersenyum sangat lembut. Fraedea benar-benar merasa bersalah karena dia belum siap untuk membicarakan peristiwa yang terjadi padanya pada malam pertama dia di New York. Tapi kemudian,

                “Bu Yuta...” kata Fraedea. “Apakah... sebuah pernikahan itu indah...?” tanya Fraedea lirih, memandang buku The Wife yang tadi diletakkannya. Bu Yuta memandang fraedea yang tertunduk. Kemudian, bu Yuta menjawab,

                “Tentu. Pernikahan itu adalah sesuatu yang sangat indah ketika sebuah pasangan yang menikah menjalaninya dengan cinta.” Kata bu Yuta. “Kau mempercayainya kan Fraedea? Karena hal itu telah dicapai dan terjadi pada kedua orangtuamu...” lanjut bu Yuta. Bu Yuta tersenyum ketika melihat Fraedea mengangguk. “Suatu hari nanti, kau pun akan mengalaminya...” katanya lagi. Fraedea menunduk semakin dalam.

                “Bahkan sekarang aku berpikir, apakah suatu hari nanti aku bisa menikah dan menjadi seorang istri...” bisik Fraedea lemah.

                “... apa maksudmu?” tanya bu Yuta kaget.

                “Ah! Ti-tidak!” kata Fraedea cepat-cepat. “tidak ada apa-apa bu Yuta, aku hanya bicara...” tambahnya lagi. Fraedea mengangkat wajahnya dan tersenyum.

                “... Baiklah...” kata bu Yuta. “ Tidurlah Fraedea, hari ini kau pasti lelah.” Tambahnya. “Oh ya, kau mau kubuatkan segelas susu hangat?” tanya bu Yuta.

                “Tidak. Terima kasih.” Jawab Fraedea. Tersenyum. “Tapi, jika ibu mau membuatkanku ko...”

                “Tidak! Tidak ada kopi.” Potong bu Yuta.

                “Kalau Cappucinno?” tanya Fraedea.

                “Tidak!” jawab bu Yuta.

                “Ice cream?” tanya Fraedea lagi.

                “Tidak!!” katanya lagi.

                “Mocca....”

                “TIDAK! Tidak kopi, cappucinno, moccacinno, atau yang lainnya!” tegas bu Yuta.

                “Bagaimana kalau susu??”

                “Tidak! Tidak juga su...”

                “Ucapan ibu tidak bisa ditarik lagi ya...!” kata Fraedea jahil.

                “Eh... tunggu! Frae...”

                “Selamat malam bu Yuta...”

***

Read previous post:  
29
points
(915 words) posted by Kuro_kaze@akiba 9 years 25 weeks ago
58
Tags: Cerita | Novel | drama
Read next post:  
Writer nusantara
nusantara at Him or Him ~part 03~ (2 years 26 weeks ago)
70

bagus

Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Him or Him ~part 03~ (2 years 26 weeks ago)

Terima kasih :)
Love xoxo

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Him or Him ~part 03~ (8 years 40 weeks ago)
80

mbak kuro, kalo udah ada versi lengkapnya mah saya pingin baca sekalian aja hehehe... barangkali minat barter dg saya punya X)

Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Him or Him ~part 03~ (8 years 40 weeks ago)

haha, dipanggil 'kuro', padahal kuro itu artinya item (yah, walaupun bukan berarti saya ini putih kayak orang korea :p). Waduh, masih proses nih belum rampung. Ini sambil kuliah juga, jadi belum bisa nyelesaikan:).

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Him or Him ~part 03~ (2 years 26 weeks ago)

waha, ternyata udah pernah meninggalkan jejak di cerita ini XD
di bagian Bobby masih mengundang penasaran, tapi di bagian Bu Yuta, seperti pemelaran, bukan aksi yang bikin penasaran.

Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Him or Him ~part 03~ (2 years 26 weeks ago)

Hem, ternyata begitu ya? Mungkin memang kurang greget di bagian bu Yuta (maaf bu Yuta :p).
Terima kasih masukannya, dan terima kasih yang lainnya karena sudah menyempatkan untuk membaca kembali. Saya terharu.
Love xoxo

Writer L. Filan
L. Filan at Him or Him ~part 03~ (8 years 41 weeks ago)
70

Tulisan didalam itu dipisah (di dalam). preposisi+tempat selalu dipisah. Kalau di-nya itu ada dalam kalimat pasif dimakan, diantar, dll, baru disatukan.
Itu yang saya tahu! ^_^

Salam & tetap semangat!

Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Him or Him ~part 03~ (8 years 41 weeks ago)

wah, terima kasih lagi untuk koreksinya, bener2 membantu! Masih harus banyak belajar nih..^^

Writer L. Filan
L. Filan at Him or Him ~part 03~ (8 years 41 weeks ago)

Oh ya, kalo bisa taro previous post-nya biar ga susah kalo org yg mau baca dari awal sampai posting terbaru.

Writer Kuro_kaze@akiba
Kuro_kaze@akiba at Him or Him ~part 03~ (8 years 40 weeks ago)

okok. Nanti saya coba buat menyertakan link previous-nya, masih belum ngerti, masih gaptek.. haha