Antara Aku, Kakek dan Nenek

Kalau dipikir-pikir, ternyata hidup yang kita jalani memang bagai cerita. Tempat yang jelas, tokoh-tokoh, dan alur yang telah direncanakan oleh Allah. Mungkin bak kehidupan, cerita yang baik adalah jika alur dan akhirnya sulit ditebak.

            Sekitar setahun yang lalu aku datang sebagai orang baru disini. Tinggal di sebuah rumah dengan pemilik sepasang kakek-nenek. Ditaksir, kira-kira umur mereka sudah diatas 70 tahun. Selalu kubayangkan bahwa kehidupan tua pasti harmonis. Bisa menjalani hidup bersama dalam kurun waktu yang lama jaminannya adalah bahagia. Cerita dari orang-orang, perkataan pada sepasang pengantin semoga langgeng sampai kakek-nenek melekat kuat di kepalaku. Seperti kebanyakan manusia lainnya, tetulah memiliki harapan kelanggengan dalam menjalani hidup berkeluarga. Normal.

            Sehari-hari tanpa sengaja aku menjadi bagian mereka. Mengamati kehidupan sepasang sejoli. Kakek dan nenek. Mungkin karena sejak kecil jarang berinteraksi dengan sosok tua, awalnya acuh tak acuh saja. Mereka mau bagaimana selalu biasa saja. Begitulah. Aku kaku kalau berhadapan dengan sosok asing. Mending diam dan urusi urusanmu sendiri, pikirku. Sampai suatu ketika kudapati sebuah fakta : kehidupan mereka ternyata kurang harmonis.

            Aku bisa memperkirakan mana saja diantara mereka yang berperan sebagai tokoh antagonis dan protagonis. Kesimpulan sementara, sang kakek adalah tokoh jahatnya. Sedangkan nenek adalah si tokoh baik. Aku mengatakan ini bukan lantaran nenek itu kerap membantu mengangkat jemuranku ketika aku sedang tidak ada di kos, atau dia selalu membuatkanku teh manis di pagi hari. Juga memaklumi kehidupan penyewanya yang pas-pasan - tidak menagih uang kontrakan seperti pemilik kos lain. Jika keadaannya begini, sejatinya si pengontraklah yang harus tahu diri. Apabila orang baik kepadamu, jangan malah terus kamu manfaatkan. Nanti ketahuan kan siapa yang jahat dan suka memanfaatkan orang? Kamu.

            Aku jadi berpikir lagi, apakah aku mengatakan si kakek jahat karena dia suka mengganggu kesenanganku? Suka memperingatkan agar aku tidak berboros listrik. Suka tiba-tiba mematikan saluran air ketika aku mencuci. Sebal sekali kan? Sudah selesai menguras bak air tiba-tiba kran mati. Konsekuensinya kamu harus berbenah dan keluar untuk menyalakan air lagi. Kenapa dari awal nggak ada perjanjian sekalian? Bayar listrik sekian, bayar kos sekian. Jadi tidak perlu main belakang seperti ini. Yah, anggap saja mungkin aku yang terlalu boros. Meskipun sebenarnya mencuci dan menguras bak kulakukan seminggu sekali. Jadi serba salah.

            Diingat-ingat lagi, si kakek ada baiknya juga kok. Kasus genting bocor dia yang tangani. Juga kasus kematian listrik secara tiba-tiba. Hanya dia laki-laki yang bisa diandalkan. Masa’ nenek yang pakai jarit? Atau aku yang takut ketinggian? Mau tidak mau dia harus turun tangan. Berubah menjadi spiderman yang sedang memanjat dinding. Waktu adegan itu aku jadi membayangkan betapa nenek harap-harap cemas memikirkan keselamatan sang kakek. Takut asam uratnya kambuh atau tiba-tiba tulang tuanya rapuh. Dan aku berperan seolah orang ketiga yang iri melihat kehidupan mereka. Ingin memisahkan kehidupan kakek dari nenek selamanya.

            Namun, seketika lamunanku buyar. Entah disebabkan apa tiba-tiba si kakek memarahi nenek. Dasar memang pembawaannya kurang sabaran. Cuma gara-gara salah naruh tangga agak jauh saja marah. Kemudian, nenek yang penyabar menuruti kemauan si kakek. Tanpa menggerutu atau memberontak beliau tergopoh-gopoh menyeret tangga agar bisa agak dekat dengan kakek. Sedangkan si aku yang LoLa ini terlambat menyadari penderitaan nenek. Sudah hampir sampai baru ikut membantu.

            Melamun lagi, aku teringat beberapa penggal kalimat yang tercantum pada sebuah buku. Wanita Jawa cenderung masokis. Eit, jangan berpikiran macama-macam dulu. Disana tertulis, meskipun disakiti oleh pasangannya, perempuan tersebut malah semakin cinta. Tersadar, tiba-tiba aku ingin teriaaak! Tidak mau. Aku gadis keturunan Jawa tulen, nggak mau menuruni sifat itu. Diperkuat dengan pengakuan seorang narasumber. Dia adalah korban KDRT suaminya. Tapi tetap saja keukuh mempertahankan perkawinan mereka. Selain alasan anak, dia masih bilang cinta sama pasangannya, ckckck…

            Kakek-nenek itu… Juga aku…

            Pernah suatu ketika aku ingin pindah kos. Bisa dibayangkan betapa kesepiannya tinggal sendirian. Tidak ada teman yang bisa diajak mengobrol. Cuma ada tembok, atap, juga satu ekor cicak yang mondar mandir di dinding kamarmu.

            Mungkin pelajar lain kurang tertarik tinggal disini. Menyewa kamar sebelah yang masih kosong. Kamar bercorak tua dan kurang terawat. Aku maklum. Nenek-kakek sudah terlalu lemah untuk mengurusi dirinya, terlebih rumah mereka. Atau jangan-jangan aku yang kurang beruntung? Tergesa-gesa cari tempat tinggal. Lalu tinggal rumah kakek-nenek ini yang tersisa. Soalnya, kos yang lain sudah penuh. Aku carinya telat, sih. Udah pasca penerimaan murid baru baru cari tempat.

            Saat ingin pindah, berat rasanya meninggalkan mereka. Nenek yang baik hati, kakek yang kurang baik hati tetap saja meninggalakan kesan tersendiri. Tapi jika tidak, aku yang akan gila sendirian. Walau terkadang mereka menawariku menonton TV bersama atau mengobrol tetap saja ada yang kurang. Selera kami jelas-jelas berbeda. Apapun yang mereka katakan aku mengangguk saja. Apapun yang mereka berikan, aku terima saja. Hanya itu yang aku tahu dan lakukan. Sopanlah, sopanlah, penggalan kata itu yang terngiang di kepalaku.

            Terlepas dari semua yang melingkupiku. Tanpa alasan yang jelas. Pastinya bukan mereka. Sudah saatnya suatu saat aku pergi. Kutahu, pembosan adalah aku. Kegemaranku adalah berpindah-pindah. Entah, aku hanya ingin mengambil kisah dari sebuah perjalanan yang kulalui. Kemudian meringkasnya. Melanjutkan perjalanan lagi. Membawa tubuh sendiri terasa ringan. Sebelum datang kehidupan baru yang mengharuskanmu untuk menetap. Tinggal. Pada satu titik.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer irayukii
irayukii at Antara Aku, Kakek dan Nenek (9 years 19 weeks ago)
80

Ini terinspirasi dari kisah nyatamu kah Nit? hehe Alur dan kisah yang susah ditebak dalam sebuah cerita semakin membuat kualitas cerita menjadi bagus. Begitu dengan hidup pun cinta, bukan? Kasian neneknya ya :'(
Ehem..Tidak ada teman yang bisa diajak mengobrol. Cuma ada tembok, atap, juga satu ekor cicak yang mondar mandir di dinding kamarmu. aku pernah merasakan suatu hari di kos sendirian seperti itu. kesepian sekali nahloh kan jadi ngelantur ngomong kemanah-mana :p *maapin

Writer muras
muras at Antara Aku, Kakek dan Nenek (9 years 19 weeks ago)

nyadarin sih, :)

dari awal aku mengira ini memang produk gagal. Yah, namanya juga coretan. Semangat 3M!hahahaha

Writer cobaltblue
cobaltblue at Antara Aku, Kakek dan Nenek (9 years 19 weeks ago)
80

Pemotongan tanda komanya banyak yang kurang efektif (salah meletakkan).

"Secara dia laki-laki". Nope, ini salah satu penggunaan kata populer modern yang aku kurang suka: 'secara'. Masih bingung sebenernya darimana asal 'secara' itu bisa jadi berarti 'otomatis'. Menurutku kalimat ini perlu dirombak. 'Normalah' juga bisa diubah kalimatnya biar lebih efektif. "Di KDRT" juga. KDRT kan konteksnya jadi noun, kata benda. Kok bisa jadi diperlakukan sebagai di- (imbuhan) -dan ngomong-ngomong, 'di' sebagai imbuhan itu harusnya ditempel dengan kata di belakangnya atau diberi tanda strip (-) jika kata kerjanya masih dalam bahasa asing.

About the story itself? No complain about it ;)

Writer muras
muras at Antara Aku, Kakek dan Nenek (9 years 19 weeks ago)

hihi, *garuk-garuk kepala

makasih :)

hers at Antara Aku, Kakek dan Nenek (9 years 19 weeks ago)
90

asik, ceritanya mengalir dengan baik.
hanya saja (menurut saya loh!) masalah-masalah yang dibangun dengan begitu apik, malah dibiarkan tanpa penyelesaian bahkan ditutup dengan masalah dan pernyataan lain. efeknya, pesan di alinea terakhir seolah-olah menjadi bagian lain dari cerita.
-
o ya, ada beberapa kata yang masih saja terbayang :p
Normalah, manfaatin
-
salam anita :)

Writer muras
muras at Antara Aku, Kakek dan Nenek (9 years 19 weeks ago)

makasih.

salam :)

Writer cobaltblue
cobaltblue at Antara Aku, Kakek dan Nenek (9 years 19 weeks ago)

"Manfaatin" malah nggak papa kalau sejak awal pake sudut orang pertama. Tapi "normalah" itu setuju, berasa kagok. "Pembosan" juga. Tapi pembosan kayaknya lain perkara, sih. Kalau dianggep sebagai "kata yang sengaja dibuat-buat oleh protagonis dalam cerita" juga bisa soalnya.

Memberi kesan kalau si tokoh ini memang seneng melamun dan mikir sendiri.

Setuju juga kalau penyelesaiannya agak kurang gimana. Mungkin kalau ke depannya dibenahi lagi waktu ada ide baru kayaknya bisa bagus ini.

Haha, sori numpang reply :)

Writer muras
muras at Antara Aku, Kakek dan Nenek (9 years 19 weeks ago)

hehe, gapapa :)

hers at Antara Aku, Kakek dan Nenek (9 years 19 weeks ago)

bukan masalah apa2 atau ga apa2nya sih, hanya saja konsistensi pemakaiannya. artinya, memang ga apa-apa dan dianggap sebagai menjadi gaya bahasa jika pemakaiannya konsisten, dari awal sampe akhir.
tapi menjadi aneh aja saat ga konsisten. padahal masih jelas, sebelumnya ada kata yang bermakna dan berkata dasar sama: 'manfaatkan'. meskipun, sedikit kurang tepat dalam pemakaian imbuhan. atau kata berimbuhan lain seperti, mengatakan, memeringatkan dsb. kalau memang konsisten dan ngga apapa, seharusnya kata2 tersebut ditulis juga dengan memakai imbuhan -in, seperti yang sering diucapkan dalam keseharian. :)

Writer muras
muras at Antara Aku, Kakek dan Nenek (9 years 19 weeks ago)

wah, makasih sudah memperhatikan...

Yang jelas, memang terlalu terburu-buru :)

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Antara Aku, Kakek dan Nenek (9 years 19 weeks ago)
90

Mungkin karena sejak kecil jarang berinteraksi dengan sosok tua, awalnya acuh-acuh saja.
-
acuh v peduli; mengindahkan: ia tidak -- akan larangan orang tuanya;
-
berarti si "aku" ini orang yang peduli-peduli aja ya? hehe.
-
feel-nya kuat, mungkin karena digali dr pengalaman sendiri ya? he... ngingetin karo pakdhe-budhe-ku... aku juga wong jowo tapi ora iso ngomong jowo wahaha...

Writer muras
muras at Antara Aku, Kakek dan Nenek (9 years 19 weeks ago)

nah, bener kan ada yang kesleo? makasih udah ngingetin :)

hehehe, apa yang kamu punya bagilah, siapa tahu berguna. meskipun secuil cerita :) iyo, aku yo ora isoh kromo inggil kok, ngisin-ngisini :)

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Antara Aku, Kakek dan Nenek (9 years 19 weeks ago)

lebih ngisini meneh wong jowo sing besar di jawa (tengah dan timur). saya mah mending besar di (jawa) barat hehehe...
-
setuju. diri sendiri bisa jadi sumber cerita yang ga habis2 X)

Writer muras
muras at Antara Aku, Kakek dan Nenek (9 years 19 weeks ago)

aduh, kukira tulisan ini masih kurang rapi.

yang namanya tukang ngarang ada lah bohongnya, campurin aja keduanya.
Makasih dan salam kenal :)