RUANG KELAM: MATI

RUANG KELAM: MATI

 

“Demi nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

 

Kekakuan yang telah menyantap tubuhku beberapa waktu yang lalu selesai sudah di sore yang mendung dan penuh dengan air mata. Mereka telah mengantarku ke tempat yang seharusnya dan aku tak dapat menolak. Aku tak dapat meminta mereka untuk tetap di sini, menemaniku dan mendongengiku tentang segala masa lalu mereka tatkala bersamaku. Ketika semua telah usai, memang hanya ada sunyi di dunia, memang hanya ada kepedihan dan kepedihan.

Sore ini, aku tergantung di salah satu dahan pohon kamboja di area pemakaman tempat dimana aku mendapat sebuah kamar paling abadi yang pernah ada. Beberapa meter dari depanku, sebuah gundukan tanah segar dan penuh bunga beraroma kesedihan diam menanti sebuah sentuhan lagi dan lagi. Itu kamarku. Itu tempat tinggalku saat ini. Namun, walau aku memilikinya, tak sedetikpun aku mampu mengatur ruangannya atau bahkan mendekorasinya. Aku tak punya daya tuk membeli pengharum ruangan, kasur yang empuk, atau hanya sekadar selimut tuk mengusap air mataku. Tuhan rupanya tak semudah itu aku bujuk dengan air mata dan darah. Aku tergantung di salah satu dahan pohon kamboja tak jauh dari kamarku. Tubuhku pucat, terbalut kain mori dan kedua lubang hidungku tertutup kapas. Kedua mataku juga tertutup lembaran kapas walau entah mengapa aku tetap dapat melihat segalanya. Aku hanya sanggup diam sambil merasakan angin yang berhembus merana menggoyang-goyangkan tubuhku pelan.

Terkadang, aku juga melihat kawan-kawanku yang menghuni area ini, berteriak dan mereka muncul dari dalam kamar masing-masing, dengan wujud yang terlalu menyayat hatiku. Aku melihat Aldi waktu itu. Ia memanggil-manggil namaku dengan nada yang begitu ketakutan. Lalu, kulihat ia muncul dari kamarnya sambil kedua tangannya menggapai-gapai langit yang kelabu. Ia menjerit-jerit dan menatapku. Namun, aku tak sanggup berbuat apa-apa. Tubuhku masih terselubung kain kafan dan salah satu malaikat bertubuh hitam legam mengikat dan menggantungku di dahan pohon ini. Entah apa tujuannya. Aldi tetap berteriak dan ia berusaha meyeruak memunculkan seluruh tubuhnya ke atas tanah. Namun, seketika itu pula kulihat dari dalam mulutnya yang menganga, muncul dengan cepat sebuah benda panjang, runcing, dan menyala merah.

Itu tombak milik para algojo liang kubur…

Aldi semakin meraung dan dari kedua matanya, kulihat air mata yang sangat merana, seolah aku mendengar zat itu menangis dan putus asa. Tombak yang runcing dan menyala itu masuk kembali ke dalam mulut Aldi seolah ditarik dari bawah oleh sesuatu yang begitu kasar dan muncul lagi seolah kembali ditusukkan dengan tanpa ampun. Hal seperti inilah yang kulihat setiap harinya. Segala penyesalan dan penderitaan oleh mereka yang telah kembali ke tanah, oleh mereka yang tak siap mati.

Akupun tak pernah tahu sampai kapan kan terbungkus kafan. Aku merasa dunia ini selalu sore setiap harinya. Langit yang berwarna jingga kelabu dan suasana yang begitu sepi. Jika suatu saat aku melihat ada seseorang atau segerombol manusia yang melewati jalan itu, mereka hanya berlalu tanpa bersuara. Dunia ini menjadi begitu menyesakkan dadaku. Namun, apa yang dapat kulakukan? Tubuhku semakin berbau busuk tiap hari berganti. Kain kafan yang membungkusku juga semakin kumal, coklat, dan berat.

Terkadang, aku teringat akan masa lalu yang sungguh kurindukan. Serentetan peristiwa kehidupan yang tak bisa kuulang, yang ternyata jauh lebih indah dari segalanya. Sekarang aku mengerti, mengapa orang-orang selalu berkata, “nikmatilah hidupmu!”. Aku sudah mendapat jawaban yang memuaskan…saat ini.

Kedua orang tuaku adalah manusia-manusia yang sederhana. Mereka tak pernah mendambakan sesuatu yang lebih dari apa yang dapat mereka raih. Ayah dan ibuku selalu memberiku petunjuk mengenai apa yang sebaiknya kulakukan untuk karir, kehidupan, dan cinta. Sering mereka memarahiku, memukulku, dan ibuku menangis darah karenaku. Aku tak tahu, entah mengapa aku rindu akan hal itu. Saat ini, bagiku, pukulan seribu kali dari ayahku jauh lebih membahagiakan daripada terdiam dalam bungkusan kafan. Mati.

Mati…

Aku teringat saat-saat kematianku. Beberapa orang dengan kepanikan yang tiada tara berlari mendekatiku. Mereka mengangkat dan membawaku ke tepi jalan. Motor yang kukendarai hancur oleh hantaman sebuah truk gandeng. Saat itu, aku melihat darahku sendiri menggenangi jalan dan perlahan mengalir ke tepi. Aku begitu takut ketika melihat wajahku yang berlumur darah. Aku takut ketika mendengar beberapa orang berbisik, “dia sudah mati”.

Aku dibawa ke rumah sakit terdekat untuk hal yang sia-sia. Mereka tak pernah mampu tuk menghidupkanku. Ketika kedua orang tuaku datang sambil menangis, aku ikut menangis. Aku mendekat dan ingin memeluk kaki mereka. Namun, aku telah mati. Aku tak dapat menyentuh mereka. Ibuku pingsan sesampainya di ruang itu dan aku berteriak pada siapapun yang sanggup mendengarku.

Aku hanya ingin diberi kesempatan. Satu kali saja.

“Ketika kita mati, hanya Tuhan yang ada sana.”

Aku masih ingat kata-kata itu. Ucapan seorang guru ngaji ketika aku kecil. Ya. Hanya Tuhan yang ada di sini. Ketika aku berteriak dan menangis, hanya Tuhan yang mendengar. Manusia tak akan pernah mampu tuk menjamah duniaku saat itu. Indera mereka terlalu terbatas untuk meraih getaran yang kukirimkan. Hanya Tuhan yang ada. Kita tinggal menunggu keputusan.

“Akulah Tuhanmu, Raja manusia semesta alam! Akulah Pemilik alam raya!”

Satu seruan yang beberapa kali terdengar olehku setelah itu. Sebuah suara yang tak kuasa tuk ku dengar, seolah suara itu begitu berwibawa dan sangat agung. Entah hanya halusinasiku, atau memang…

Aku menangis kemudian…

@@@

 

Aku melihat sesosok manusia yang sangat kurus mendekatiku. Ia memiliki sayap seperti kelelawar dan memiliki lidah yang sangat panjang. Aku takut! Tubuhnya begitu legam dan kakinya seperti akar-akar pohon. Ia mendekat pelan, pelan, dan tubuhnya begitu lentur.

Malaikat…?

Sosok itu berdiri sangat dekat denganku saat ini. Wajahnya yang tak jelas mendekati wajahku sampai jarak yang sangat dekat hingga aku dapat merasakan nafasnya. Matanya, jika itu dapat disebut sebagai mata, menatapku. Aku tak berani membalas tatapannya. Aku tak berani. Aku merasa lemah dan tanpa daya. Aku makhluk hina dan.. sudah mati.

“Aku akan melepaskan tali yang menjeratmu!”

Aaaaaa…!!! Tuhan!!! Tuhan!!! Suaranya sungguh mengerikan!!! Suaranya sungguh mengerikan!!!

Aku sekuat tenaga untuk tak mendengarkan suaranya. Aku berusaha untuk tak melihatnya. Dia sangat menakutkan! Tuhan! Aku mengguncang-guncangkan tubuhku sendiri yang terbalut kafan. Aku tak tahu mengapa aku melakukannya. Aku hanya begitu ketakutan.

“Kau bisa kemanapun kau mau.”

“Anjing! Keparat!”

Aku melolong-lolong tak karuan. Ketakutan ini belum pernah kurasakan sebelumnya. Kurasakan hembusan nafasnya makin kuat di wajahku. Dia semakin mendekatkan wajahnya.

Lalu, tiba-tiba aku terjatuh dengan cepat. Aku mendarat ke tanah. Segera aku coba berdiri. Ya. Aku bebas walau kafan masih mengikatku. Namun, aku tak lagi melihat makhluk menakutkan itu. Dia menghilang setelah memberiku kebebasan. Aku tak tahu apa ini. Mengapa dia membebaskan diriku?

Kucoba tuk berjalan. Tak bisa. Kafan masih membalut tubuhku. Kucoba menggerakkan tanganku. Tak bisa. Balutan kafan begitu kuat.

Akhirnya aku menyadari bahwa aku tak dapat menggerakkan semuanya. Tetapi, aku dapat menekuk sedikit lututku untuk melompat. Kucoba dan berhasil.

Aku dapat menuju ke suatu tempat dengan cara melompat…

Segera aku seperti kesetanan. Aku ingin pulang! Aku ingin melihat lagi orang tuaku! Aku kesetanan! Air mataku mengucur deras. Aku mulai melompat menuju ke luar area pemakaman. Saat aku dalam perjalanan ke luar, kulihat wajah-wajah kematian yang terpampang di antara tanah, bebatuan, dan pepohonan menatapku. Wajah-wajah tanpa kepala, tangan, atau anggota tubuh yang lain. Mereka menatapku sambil terdiam. Namun, aku tak peduli. Aku rindu orang tuaku

Aku rindu ibu…

Aku rindu bapak…

Aku rindu udara kehidupan…

@@@

 

Aku sampai di depan rumahku. Aku masih hafal jalannya walau rasanya sudah berabad-abad aku tak pulang. Rumah sederhana yang bercat biru dan memiliki pekarangan yang sempit. Aku ingat, kedua orang tuaku sebenarnya sering dikucilkan oleh tetangga kami. Kami memang keluarga kecil dan hanya hidup dari hasil kebun. Namun, walau demikian, bapak dan ibuku tidak pernah merasa rendah diri. Mereka selalu tersenyum pada orang-orang yang menghina dan tak mau menerima mereka.

Mereka juga tersenyum pada satu-satunya anak durhaka darah daging mereka sendiri…

Aku mulai melompat memasuki pekarangan. Entah mengapa aku melihat beberapa sosok yang berdiri di antara kegelapan di sekitar rumahku. Aku tak dapat melihat wajah mereka, tetapi aku tahu bahwa mereka menatapku.

Aku mencoba masuk ke dalam rumah melalui dinding kamarku. Aku berhasil! Aku kembali ke dalam kamarku! Aku sungguh rindu lantainya, dindingnya, tempat tidurnya, meja belajarnya, lampunya, dan yang lain. Kamar ini terlihat bersih, bersih sekali. Pasti kedua orang tuaku selalu merawatnya.

Aku mendekat ke lemari buku yang berukuran kecil di samping meja belajarku. Kuamati buku-buku milikku. Mereka masih ada, tertata sangat rapi di sana. Aku tersenyum dan tanpa kusadari air mataku mengalir.

Lalu aku teringat kembali tujuanku pulang. Kedua orang tuaku!

“Ibu! Bapak!”

Aku mencoba berteriak, tetapi entah mengapa suaraku tak dapat kudengar. Aku melompat ke kamar mereka dan aku bertemu kembali dengan orang tuaku. Mereka tengah terlelap. Itu bapak di sebelah kanan dan ibuku di sebelah kiri. Saat ini, aku cinta mereka. Aku rindu mereka.

“Assalamualaikum… Bu, aku cinta ibu! Pak, aku cinta bapak!”

Kuserukan panggilan itu dengan tangisan yang begitu terisak. Kuserukan walau aku tak dapat mendengar apapun yang kuucapkan. Kuulangi lagi dan lagi berharap mereka mendengar. Kuserukan lagi dan lagi berharap mereka mendengar! Kuulangi lagi dan lagi karena aku cinta bapak dan ibu.

Aku menangis, sungguh menangis. Aku ingin memeluk mereka. Namun, apa dayaku? Kami berbeda dunia. Mereka masih hidup dan aku sudah mati. Aku hantu sekarang. Kucoba perlahan mendekatkan bibirku ke wajah ibuku. Aku ingin menciumnya. Aku tahu bahwa hal itu tak mungkin kulakukan. Maka, ketika bibirku terlihat sudah menempel di pipi ibu, aku tahan posisi ini beberapa menit. Aku paksa diriku sendiri tuk menganggap bahwa aku telah menciumnya.

Kulihat air mataku menetes menembus pipinya. Aku tahu aku sudah mati walau dalam dadaku ingin rasanya kukumpulkan air mataku dan kupersembahkan pada mereka. Pelan, aku mendekati bapakku dan melakukan hal yang sama. Aku tahan rasa sakit di hatiku! Aku tahan penyesalan di dadaku! Namun,semua tiada arti. Aku mati.

Setelah aku puas membuktikan cintaku pada mereka, aku punya keinginan lain. Aku ingin tidur di antara mereka. Kucoba melayangkan tubuhku dan berhasil. Aku melayang dan meyejajarkan punggungku dengan kasur ini sampai akhirnya aku dapat merasakan kembali di antara mereka. Aku paksa diriku sendiri tuk tersenyum dan menahan tangis yang masih ada. Aku paksa diriku tuk menganggap bahwa aku tengah tidur di atas kasur mereka, walau sebenarnya aku tak merasa tengah berbaring. Tubuhku hanya melayang dan kusejajarkan dengan kasur lalu kurapatkan jarak itu sehingga aku terlihat seperti berbaring di atasnya.

Kupaksa tuk menyamankan posisiku. Kupaksa bibir ini tuk terus tersenyum sambil sesekali memandang mereka yang tertidur. Aku paksa diriku tuk menganggap bahwa mereka merasakan kehadiranku, walau sebenarnya mereka tak pernah dapat merasakan aku dan tak pernah lagi dapat melihatku.

Aku tersenyum dan kupaksa diriku tuk mengingat kembali semua peristiwa yang telah kami lalui.

@@@

 

Ketika aku kecil, ibuku yang mengajariku berbicara, berjalan, membaca, berhitung, dan menulis. Kata ibu, aku memiliki bentuk yang lucu dan menggemaskan. Kulitku putih kemerahan waktu itu. Namun, aku juga sangat nakal. Ketika umurku lima tahun, aku suka menarik-narik rambut ibuku dan tertawa terbahak-bahak. Aku bahkan pernah melempar kepala bapakku dengan batu kecil dan tertawa terbahak-bahak juga. Namun, mau bagaimana lagi. Aku anak satu-satunya dan mereka sangat menyayangiku. Mereka tak pernah marah dan justru makin sayang.

Aku selalu menolak dan susah disuruh mengaji. Waktu itu, bapak yang mengantarkan aku ke mushola dan ketika sampai, aku menangis menjerit-jerit karena memang tidak mau mengaji. Akupun tak tahu mengapa aku tak mau. Masa anak-anak, aku sering berlarian dengan teman-temanku dan kami melakukannya di dalam rumah sampai-sampai ibuku memarahiku karena hal itu mengganggunya ketika memasak.

Aku gagal menembus SMA negeri karena kebodohan dan kemalasanku dalam belajar. Awalnya, kedua orang tuaku sungguh kecewa. Namun, mereka tak memarahiku. Mereka menganggap apa yang terjadi adalah kehendak Tuhan dan mereka percaya Tuhan punya rencana lain. Suatu sore, ketika aku telah mendaftar di salah satu SMA swasta, ibuku menasehatiku. Ia berkata bahwa aku harus berhati-hati dalam pergaulan karena murid-murid di SMA swasta biasanya banyak yang nakal. Ia juga mengatakan bahwa jika aku mulai jatuh cinta pada seorang gadis, pikirkan hal itu baik-baik. Apakah dia memang dapat membuatku lebih baik atau sebaliknya.

SMA, aku mulai terpengaruh lingkungan SMA-ku. Aku jadi anak yang nakal dan mulai suka memeras uang orang tuaku. Aku pikir, kehidupan remaja harus gaul dan sering bepergian. Jika tidak, aku akan dicap sebagai anak kuper dan culun. Aku hanya ingin uang untuk membeli piercing dan motor. Hanya itu. Namun, tampaknya bapak dan ibu tak bisa secepat itu mengabulkan keinginanku. Saat itu aku mulai kalap. Aku mulai berani membentak dan mengancam mereka. SMA aku mulai dilanda berbagai persoalan mulai dari permusuhan dan cinta. Aku gelap mata tatkala gadis yang kucintai justru mencintai orang lain. Sepulang sekolah, aku tak pernah segera ke rumah. Aku selalu mampir ke kos salah seorang temanku dan kami minum di sana sambil menonton film porno untuk melepas segala beban, hasrat, dan dendam. Hal ini sering kulakukan bersama temanku itu. Aku tak ingat lagi akan shalat dan mengaji. Aku rasa kehidupan ini sungguh kejam dan jika aku tak membebaskan diriku, aku tak punya kesempatan kadua. Akupun tak lagi ingat bahwa kedua orang tuaku masih hidup di bawah kaki cemoohan dan hinaan para tetangganya. Aku lupa bahwa mereka selalu mendoakanku dalam setiap butir tasbih di tangan mereka.

Sabtu, 13 Desember pukul dua belas siang, aku melaju dengan cepat di jalanan untuk menemui salah seorang sahabatku. Saat itu, aku memang mengendarai terlalu bersemangat dan kencang, dan aku lupa bahwa saat itu pukul dua belas siang. Di salah satu tikungan, aku seperti meminta kematian. Aku lupa semuanya. Aku lupa bahwa aku anak satu-satunya kedua orang tuaku. Aku lupa bahwa seorang anak masih harus membahagiakan orang tuanya. Aku lupa bahwa mereka akan menderita tanpa aku. Aku lupa bahwa aku masih begitu jauh dengan Tuhan. Aku lupa bahwa ibuku sangat ingin punya cucu. Aku lupa kata orang bahwa kematian itu mengerikan…

Aku sadar bahwa setelah itu aku tak dapat memperbaiki segalanya…

Hanya itu yang kusadari…

Aku masih ingat saat-saat mereka memandikanku. Tak banyak dari para tetangga yang datang membantu. Saat itu aku berada di antara mereka, menyaksikan diriku sendiri yang telah mati. Hari yang kelabu. Langit mendung dan angin berhembus dingin. Suasana begitu sunyi seolah hanya ada kami di tempat itu. Aku tak tahu. Aku tak melihat adanya tangan dan kaki di rohku sendiri. Aku tergolek diam di atas tanah. Aku tak tahu apa yang Tuhan lakukan padaku. Aku sangat sulit untuk bergerak. Aku hanya sanggup menggeliat-geliat di atas tanah.

Rintihan doa kematian yang terlantun terdengar memilukan di sore yang mendung itu. Ibuku menangis meraung-raung. Bapakku pun tak dapat menahan penderitaan dalam dadanya. Aku hanya diam di ambang pintu, menyerah pada kenyataan. Aku melihat diriku terbalut kafan dan wajahku tampak mengerikan. Aku tak lagi bernyawa, terbujur kaku di atas meja.

Beberapa lama kemudian, mereka mengangkatku, memindahkan tubuhku. Sebuah keranda tua disiapkan. Mereka perlahan memasukkan jasadku ke dalamnya dan menutupnya dengan lembaran kain kematian. Ibuku semakin menjadi, bapakku terisak, aku mulai ketakutan. Aku ada di dalam keranda itu, putuslah dari kehidupan. Tutuplah keranda itu dengan kain dan antarkan aku ke ujung kehidupan.

Gerimis mulai turun tatkala aku diberangkatkan ke liang kubur. Doa-doa yang disentuhkan pada kematian begitu menjerit-jerit dalam hati. Aku ikut bersama mereka di belakang barisan. Namun, aku yang tak memiliki tangan dan kaki harus sekuat tenaga menggerakkan diriku mengikuti mereka hanya dengan geliatan di perut dan dadaku. Aku harus mengikuti mereka. Aku ingin melihat mereka menguburkanku. Aku hanya ingin melihat bagaimana terjadinya akhir dari yang paling akhir dalam kisah jasadku. Aku mulai menangis sepanjang jalan. Tanpa tangan dan kaki aku tak mampu menyamai kecepatan mereka. Aku harus bisa! Aku tak boleh tertinggal…

Jalanan yang dilewati begitu sulit. Penuh batu dan tanahnya licin. Mereka terlihat sangat berhati-hati. Medan yang naik dan turun menyebabkan mereka terkadang berhenti untuk mengatur strategi dalam membawa keranda. Namun, tatkala mereka hendak mengusung lagi keranda itu, salah seorang dari mereka terpeleset sehingga keranda terbanting ke tanah, berguling dan jasadku yang terbungkus kafan terlempar. Riuh seketika.

Mereka panik. Tobat dan ampunan bersahut-sahutan di tempat itu. Gerimis membuat tanah yang mereka lewati menjadi begitu licin. Segera mereka mengangkat jasadku yang telah kotor oleh tanah yang basah dan memasukkanku kembali dalam keranda dengan hati-hati. Di kejauhan, aku menyaksikan kejadian itu dengan sangat merana. Hari itu, aku hanya mendengar tangisan dan rintihan doa.

Mungkin setengah jam kemudian, aku tak begitu yakin. Kami telah sampai di area pemakaman. Aku berhasil sampai di tempat itu sebelum mereka menguburkanku. Aku menggeliat-geliat berusaha melihat dari dekat liang lahat yang akan menjadi kamar terakhirku.

Mereka mulai menyibakkan tirai yang menutupi keranda dan perlahan mengusungku masuk ke dalam liang lahat dengan sangat berhati-hati. Inilah hari terakhir aku melihat jasad asliku. Inilah saat-saat terakhir jasadku melihat dunia. Masukkanlah! Kuburkanlah! Doakanlah! Selesai sudah, berakhir sudah, habis sudah aku di dunia ini. Aku tak tahu apakah aku siap tuk mengarungi kegelapan yang tiada akhir. Aku tak tahu apakah aku siap untuk mati. Hari itu aku berakhir di bawah gerimis, di antara kesunyian, di dalam ruang kelam.

@@@

 

Aku tersadar dari lamunanku tatkala air mata di pipiku mulai mengering. Aku masih melayang di atas kasur ini. Aku masih ingin berada di antara kedua orang tuaku. Namun, aku tak bisa berlama-lama. Aku mencium bau busuk tubuhku sendiri. Aku tak tahu apakah aroma ini juga tercium oleh mereka. Namun, aku cinta bapak dan ibu. Aku tak ingin mereka mencium aroma ini. Aku juga ingin menampakkan diriku pada mereka. Namun, aku tahu bahwa aku sudah tak lagi seperti dulu. Aku tahu bahwa mereka akan takut melihat wujudku. Aku ingin menampakkan diriku di depan mereka karena aku rindu mereka memanggil namaku. Aku cinta bapak dan ibuku. Aku tak mungkin melakukannya. Biarlah aku yang menatap mereka dari kejauhan tanpa pernah mereka dapat menatapku. Biarlah aku mengatakan cinta tanpa pernah mereka dengar lagi.

Aku cium kembali kedua orang tuaku, kedua malaikatku. Biarlah mereka tidur dengan nyenyak dan esok hari mereka dapat kembali bekerja dan melanjutkan hidup di dunia yang begitu indah.

“Bapak, ibu… ijinkan aku pamit. Aku ingin pulang ke rumahku yang sekarang. Aku hanya bisa berharap bapak dan ibu selalu sehat dan selalu dalam kasih sayang Tuhan. Maafkan aku yang selalu menyakiti perasaan bapak dan ibu. Malam ini, aku bahagia bisa bertemu bapak dan ibu. Aku benar-benar kangen. Aku kangen, sungguh. Aku ingin memeluk bapak dan ibu, tapi tak bisa. Aku ingin menyampaikan satu kalimat cinta pada bapak dan ibu, tapi aku tak sanggup. Suaraku tak bisa keluar. Aku hanya berharap malam ini bapak dan ibu mimpi indah. Selamat malam… aku kan selalu rindu dan cinta. Assalamualaikum…”

Dengan air mata yang kembali mengucur, aku melompat keluar kamar ini. Aku menjauh dari dua malaikat yang selalu kurindukan sepanjang kematianku. Aku melompat dan terus melompat sampai aku keluar rumah. Di luar, kupandangi sejenak rumah itu dan pergi menjauh, menghilang dalam kegelapan.

@@@

 

Aku duduk di atas makamku. Langit kelabu dan semua serba kelabu. Aku duduk terdiam dan mencoba merasakan hembusan angin yang menembus tubuhku. Aku benar-benar hampa saat ini. Aku tak dapat merasakan apapun. Aku tak dapat lagi mendengar dan berbicara. Namun, aku tetap dapat melihat. Dunia ini kelabu dan para arwah itu masih hidup dalam dunia mereka sendiri. Aku juga masih menyaksikan penyiksaan setiap hari, tepat di depan mataku. Aku memang dapat berkelana, pergi kemanapun aku suka. Aku dapat melihat orang tuaku kapanpun aku mau. Namun, aku tak dapat lagi mendengar suara mereka. Aku juga tak dapat berkata apa-apa untuk mereka. Aku tak tahu permainan macam apa yang Tuhan sematkan untukku. Mungkin memang inilah yang harus kutanggung. Hidup sebagai manusia yang gagal dalam mengemban tugasnya. Akupun tak mampu tuk mencoba tinggal di dalam rumahku lagi. Aku tak tahan udaranya yang panas menyesakkan. Aku hanya dapat mengunjunginya beberapa menit saja dan pergi.

Tanah ini basah oleh air mata kematian. Pepohonan mulai meranggas dan ranting-rantingnya membentuk cakar, menggapai-gapai langit yang kelam. Daun-daun kering yang dipermainkan angin seolah menggambarkan apa yang terjadi pada kami, orang-orang yang telah mati. Kami tak dapat berbuat apa-apa hanya menjalani permainan yang Tuhan berikan untuk kami. Kami jiwa-jiwa kesepian. Andai seseorang di luar sana masih ada yang peduli, kami kan memohon pada Sang Majikan untuk membahagiakan orang itu. Kami selalu haus dan lapar. Kami butuh makan tetapi kami tak dapat mencari sendiri. Hanya orang-orang yang masih ingat dan mencintai kamilah yang dapat memberi setetes air minum atau sepotong kue yang lezat. Kami akan sangat senang.

Duniamu masih sangat luas, kawan. Kau tak mungkin mengarunginya seorang diri. Kau butuh orang lain yang kan membantumu. Kau butuh cinta tuk menggapai semua angan dan mimpimu. Hargailah hidupmu walau kau membencinya! Sadarilah bahwa kau tak pernah sendiri di dunia ini asalkan kau tahu jalan mana yang seharusnya kau tempuh. Ketika kau mati suatu hari nanti, percayalah bahwa penderitaan terburuk selama kau hidup akan menjadi kenangan yang begitu indah yang kan membuatmu menangis rindu sepanjang kematianmu.

“Sesungguhnya, kita adalah milik Allah, dan hanya kepadaNya-lah kita kembali”.

 

##SELESAI##

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post