BoR N2 Semifinal : versi Ten Gallon Tank

 

"Menyerahlah.."

"Kau sudah tak punya alasan lagi untuk meneruskan pertarungan ini, Ndree.."

===

"Kak Heaaaaa! Kak Heaaaaa!" Seorang gadis berambut pirang berantakan berlari sambil berurai air mata mendekati Kepala Manajer.

"...Siapa kau...?" tanya Hea tak mengenali gadis itu.

"Gawaaaat, Kak! Catatan Setsu hilang! Semua catatan Setsu hilaaang!" tangisan gadis berpakaian serba hitam itu makin nyaring.

"Kau... Asisten detektif LCDP? ...Yang sering berubah bentuk itu? ...Rieva?"

"Iya, Kak! Tapi itutakpenting! Lihatini! Semua catatan Setsu tentang kasus Galon hilang, Kaaak!" Dengan panik Setsu menunjukan buku kecil berisi kertas biru pucat yang semua lembaranya kosong.

"Oh..." tanggap Hea tanpa minat.

"Jangan cuma 'Oh', Kaaak! Setsu harusbagaimanaa? Gara-gara kutu pemakan kata semua laporan penyelidikan kasus selamainilenyaap! Termasuk punya Galon juga, Kak! Setsu harusbagaimanaa?" jerit gadis pirang itu sambil berguling di lantai.

"Ya... Tulis saja lagi..."

"Apa!? Tidakmau, Kak! Kasus yang sudah terpecahkan itu tak menarik lagi untukditulisulang, Kak!" Kepala Manajer hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah gadis itu. Mungkin ini sebabnya posisi Setsu tak pernah berubah, hanya sebagai asisten saja.

"Lalu... Bagaimana dengan pertandingan semifinal Galon...?" tanya Hea lagi.

Setsu menggembungkan pipinya tanda kesal. Dia tampak berpikir keras. "Baiklah, Setsu akan menulis ulang pertandingan semifinal Galon sekaligus beberapapenjelasankasusnya. Tapi Setsu jugabutuhbantuan Kak Hea."

Kepala Manajer hanya mengangkat alisnya menunggu lanjutan permintaan Setsu.

"Begini, Kak.."

===

Untuk kesekian kalinya Galon berendam dalam kolam air hangat di ruang pribadinya untuk menyembuhkan selangnya yang bocor. Ruang di bawah tanah kafe antar realm itu sangat sunyi. Tak ada lagi nyanyian pilu segitiga merah muda datar. Tak ada lagi dentuman pertarungan kecil dan teriakan mengejek antar peserta. Juga tak ada sorakan kegembiraan pemenang babak turnamen. Kafe itu hampir kosong hanya tersisa para pelayan yang masih sibuk bekerja. Semula tabung itu mengira turnamen telah usai, namun Hea memberitaunya masih ada 3 peserta selain dirinya yang akan melanjutkan ke babak semifinal.

Tabung hitam itu sedang merenungkan pembicaraanya dengan wanita yang keluar dari lukisanya di Lost Canvas. Dia sangat muak mendengar semua kebohongan wanita itu. Tak mungkin itu benar. Galon tidak mungkin jadi penyebab kematian seluruh penduduk desa Pulau Kecil Selatan. Semua itu pasti salah Negeri Tetangga! Akibatnya tanpa ampun Galon membunuhnya bahkan sebelum wanita itu sempat menyebutkan namanya. Kali ini dia tak merasa sedih ataupun menyesal melakukanya.

Kemudian Galon teringat pada gadis bernama Rieva yang ditemuinya di bonus level pertama. Gadis itu berjanji akan membantunya menyingkap kebenaran kasusnya. Tabung itu berpikir kapan kiranya dia bisa bertemu Rieva lagi. Semoga kebenaran yang ditemukan gadis itu sesuai dengan harapanya. Kalau tidak..

Tiba-tiba pintu kayu di belakangnya berderit terbuka, menampilkan sosok serba putih Kepala Manajer.

"Ikutlah denganku... Sudah saatnya... kau mengikuti babak semifinal..."

===

Hitam dan putih.

Hanya dua warna itu yang dapat dilihat Galon dalam dunia aneh ini. Rasanya seperti dia kembali ke Lost Canvas. Bedanya kali ini dia bisa melihat ketiga peserta lain yang akan menjadi lawanya; Mliit si tikus tanah, Allan si pemain biola ceking, dan Ligaya sang penunggang kerbau bertanduk tiga. Masing-masing dari mereka didampingi oleh para pemandu; Spa, Dia, dan Clo, sama seperti Galon yang kini didampingi Hea. Sedangkan tak jauh di hadapan mereka berdiri sosok serba tertutup Sakaki Ko dan anak lelaki berseragam hijau yang tak dikenal.

Mendadak Galon teringat pada Mailerism! Benar, dunia hitam putih ini punya kesan yang sama persis dengan dunia yang dilihat tabung itu dalam pertandingan penyisihan. Segera Galon mengedarkan corong penyemprotnya untuk mencari monster hitam berbahasa aneh itu. Dia bahkan tidak memperhatikan Sakaki yang sedang menyapa para peserta dengan canggung.

Kemudian benda itu tersadar bukan saatnya memikirkan hal lain, penting baginya untuk memperhatikan peraturan pertandingan semifinal. Namun panitia bermasker di hadapanya hanya bergumam tak jelas, membuat kewibawaanya semakin pudar di mata air Galon. Tabung pemadam kebakaran itu kembali mengedarkan corong penyemprotnya ke arah para peserta. Dia mulai memperkirakan bagaimana cara mengalahkan mereka semua.

Sampai sebuah kata 'Kebenaran' dari anak lelaki tak dikenal itu menarik perhatian Galon.

"Tapi, aku hanya ingin menyampaikan satu hal untuk kalian ingat ke depannya..” Anak lelaki yang sedari tadi tidak menampakan wajahnya dengan jelas, kini menghadap lurus ke arah para peserta, memperlihatkan sebuah senyuman.

Senyuman kecil yang terlihat polos.

“..Bahwa takdir adalah milik mereka yang menghendakinya.”

===

"Selamat datang di pertandingan Battle of Realms N2 Babak Semifinal!!" sambut keempat pemandu secara serempak.

"Seperti yang kalian lihat, saat ini kita berada di Altar Dimensi!" sahut Spa sambil merentangkan kedua tanganya.

Keempat peserta yang sedang berdiri di sisi teratas rubik raksasa ikut memperhatikan sekelilingnya.

"Apa kami akan bertarung di sini?" tanya Mliit dengan sikap waspada.

"Kurang tepat," Dia menggoyangkan jarinya. "Untuk pertandingan semifinal ini telah disediakan 8 arena sekaligus sebagai tempat pertarungan kalian. Tolong perhatikan peta ini.."

Kepala Maid menembakan tonfanya ke udara. Percikan kembang api merekah di langit, membentuk 8 kotak sederhana yang dihubungkan dengan garis-garis. Kotak paling kiri bertuliskan 'Kafe Antar Realm' membuat cabang garis ke 3 kotak yang berderet vertikal di sampingnya yang bertuliskan 'Kota Almnesse', 'Altar Dimensi', dan 'LCDP'. Sedangkan dari kotak 'Altar Dimensi' terbentuk 4 cabang garis lainya menuju 'Tiny Galaxy', 'Unlimited Beds', 'Mirror Labyrinth', dan 'Lost Canvas'.



"Peraturanya hampir sama dengan babak sebelumnya, yang bertahan paling akhir adalah pemenangnya. Peserta yang menyerah juga dianggap kalah. Tidak ada batas waktu. " lanjut Clo mengalihkan perhatian para peserta dari peta di langit.

"Setiap peserta akan ditemani oleh seorang pemandu sepanjang pertandingan ini. Kalau kalian mau, kami bisa memindahkan kalian ke arena mana saja seperti yang tertera dalam peta di atas, namun hanya terbatas 3 kali. Kami juga bisa membantu memberi saran atau memberitaukan posisi lawan dan informasi penting lainya, tapi kami tidak akan ikut bertarung dalam pertandingan kalian. Sampai di sini apakah kaliah paham?" Semua peserta kecuali Galon mengangguk menanggapi penjelasan Kepala Mantri.

"Boleh aku membunuh mereka semua?" Pertanyaan tabung pemadam kebakaran mengejutkan semua makhluk yang ada di tempat itu. Ketiga peserta lain sudah mengetaui perubahan bentuk Galon, namun rasanya ada suatu perbedaan besar dalam nada suaranya yang membuat mereka tercengang. Suara tabung yang terkenal penakut itu terdengar.. sinis?

"Menarik, izinkan aku mengurus pemakaman kalian," komentar Allan dengan senyum ramahnya.

"...Maaf. Dari pertandingan ini... kami butuh 2 pemenang untuk melanjutkan ke babak final... Jadi kalian dilarang membunuh.... sampai waktunya..." Kali ini Hea yang menjawab.

"Apa maksudmu 'sampai waktunya'?" sela Ligaya diiringi lenguhan kerbaunya.

Dengan nada monoton Kepala Manajer melanjutkan, "Berdasarkan usul seseorang... kami setuju menambahkan permainan kecil... Masing-masing kalian harus mencari sebuah bendera segitiga... Pada bendera itu akan dituliskan lokasi di mana kalian harus menancapkanya... Siapa pun peserta yang juga muncul di lokasi itu adalah lawan kalian yang sebenarnya... Saat itulah... kalian bebas mengalahkanya dengan cara apapun termasuk membunuhnya... Sebelum itu kalian dilarang membunuh peserta lain..."

"Oh, satu hal lagi," Kepala Malaikat menambahkan, "Kafe Antar Realm akan menjadi arena khusus pengobatan. Jadi saat kalian terluka parah, kalian bisa meminta pemandu kalian masing-masing untuk mengantar kalian ke sana. Tapi jangan lupa, kami hanya akan memindahkan kalian maksimal 3 kali. Mengerti?"

"Baiklaah.." Dengan aba-aba Kepala Maid semua pemandu bergerak mendekati setiap peserta. Sekali lagi Dia mengacungkan tonfanya ke udara, siap menembakan letusan pembukaan. Keempat peserta itu pun jadi tegang dan bersiaga.

"Dengan ini babak semifinal.. dimulai!"

===

Meskipun telah diperintahkan untuk tidak saling membunuh, tetap terjadi pertarungan sengit di arena Mirror Labyrinth. Mungkin bukan pertarungan, lebih tepatnya Mliit yang menyerang secara brutal, ketiga peserta lain hanya berusaha menghindari semua tembakanya yang memantul di dinding cermin. Entah bagaimana semua peserta berkumpul di sana. Tak mau ambil resiko terbunuh di awal pertandingan, Allan dan Ligaya segera meninggalkan arena membingungkan itu.

Galon sendiri masih berjuang menggulingkan rodanya menyusuri arena berliku itu. Sesekali dia menembus salah satu sisi dinding cermin dan muncul dari sisi lainya. Bila dia menembus dinding sebelah utara, dia akan muncul dari bawah lantai. Kalau dia menembus cermin di atasnya, dia akan muncul dari dinding barat. Terkadang dinding sebelah timur akan membawanya ke dinding selatan. Arena itu seakan berotasi dan mengubah posisi ruangnya tiap detik. Tabung itu harus berkonsentrasi penuh mendengar arahan Hea agar bisa terhindar dari semua serangan Mliit.

"Siaaal! Di mana benderanyaaa!?" raung Galon kesal.

"Entahlah... Arena ini bukan daerah kekuasaanku... Clo hanya memberi petunjuk... benderanya ada di balik dinding yang bukan cermin... Kalau kita ke Lost Canvas mungkin aku bisa langsung memberitaumu..." jawab Kepala Manajer santai sambil duduk membaca di bagian atas kereta dorong.

"Berisik! Kau bilang lukisanku masih ada di sana! Aku tak mau melihatnya lagi!"

"Terserah padamu..." Hea mengedikan bahunya tak peduli. "Oh... Spa di jam 7..."
Mendengar arahan Hea, Galon segera membelokan jalur rodanya menembus dinding timur. Namun sialnya Mliit muncul dari bawah lantai menghalanginya!

"Flashnigto!"

===

"Lalu, bagaimana dengan Geana!? Aku jelas melukis Geana, tapi kenapa kau yang muncul!?"

"Siapa itu Geana, Ndree?"

"Geana.. Temanku.. Dia putri kepala sekolah!"

"Ndree.. Kepala sekolah belum menikah, apalagi punya seorang putri.. Tidak ada gadis yang bernama Geana.. Kau tidak pernah punya teman, Ndree.."


"Hey... Bangun..." Gaung suara Kepala Manajer mengembalikan kesadaran Galon.

"Hea? Di mana kau?" Dengan kebingungan tabung air itu mengedarkan corong penyemprotnya ke semua sisi, namun yang tampak hanya pantulan bayanganya sendiri yang membesar dan mengecil akibat permukaan dinding cermin yang melengkung.

"Aku di sini..."

"Di mana!? Aku tak bisa melihatmu!" teriak Galon semakin panik.

"Aku masih di atas keretamu... Tenang saja... Ini hanya ilusi dunia Clo... Seolah-olah kau hanya sendirian di sini... Padahal tidak..."

"Benarkah?" Mendengar jawaban Hea membuat tabung itu lega.

"Menggelikan.. Kau sama sekali tak mengerti bagaimana rasanya sendirian.."

Galon menemukan pemilik suara parau itu di sebelah kirinya. Ternyata di antara dinding cermin cekung dan cembung ada satu dinding datar yang bukan cermin, dinding itu hanya berupa kaca bening transparan. Tampak Mliit berdiri di baliknya sambil menggenggam bendera segitiga warna kuning.

"Kau tidak tau rasanya jadi yang terakhir dari rasmu.. Ditinggalkan penciptamu.. Tak punya pasangan untuk melanjutkan keturunanmu.. Bahkan saat aku menemukan sahabat dan saingan pertamaku di turnamen ini.. Aku juga kehilangan dia.." Mata sang Homolg tampak membara di balik jubahnya. "Aku harus memenangkan pertandingan ini.. untuk mendapatkan kebenaranku.. dan mengakhiri rasa kesepian ini! Spa, kita pergi."

Dalam sekejap Mliit menghilang dipindahkan pemandunya.

"Brengsek! Kita terlambat! Kenapa tadi kau tidak cepat membangunkanku!?" Galon memarahi pantulan bayangan Hea yang mulai muncul di setiap dinding cermin.

"Aku... tidak bisa mengobatimu di sini... atau di mana pun... kecuali di kafe..." Gadis serba putih itu malah menguap.

"Tch! Ya sudah, kita keluar dari sini!"

===

"Khelbow, awaaas!"

"Moooo!!"

"Uwaaa!!"

Galon yang baru saja keluar dari portal cermin langsung berciuman dengan tombak Ligaya! Untunglah tubuhnya yang terbuat dari metal menyelamatkanya dari serangan mendadak itu.

"Apa yang kau lakukan!?" geram Galon kesal.

"Maaf! Darurat! Harus ke kafe!" Makhluk seputih kapas itu terus memacu kerbaunya menjauhi mereka. Di belakangnya meringkuk sosok berambut coklat terang yang berlumuran darah!

"A-apa itu? Clo terluka!?" Galon seolah tak percaya dengan penglihatanya sendiri.

"Ya..." Tak ada perubahan emosi dalam nada suara Hea. "Sepertinya tadi ada pertarungan antara Ligaya dan Allan... Tidak mau membunuh sesama peserta... dia malah menyerang pemandu..."

"Di mana Allan sekarang?"

"Lost Canvas... bersama Dia... Mereka baik-baik saja..." Kepala Manajer memandang hampa tumpukan kanvas tempat dia biasanya berbaring.

"Bagus! Kita ke Tiny Galaxy!" Galon menggerakan roda keretanya menuju portal lingkaran miniatur planet di arah timur Altar Dimensi.

===

Sayangnya sekali lagi Galon terlambat. Arena luar angkasa itu tampak kacau balau. Beberapa planet telah hancur jadi serpihan debu. Bintang besar yang seharusnya menyimpan bendera segitiga warna biru juga sudah pecah jadi ribuan keping bintang-bintang kecil. Kemungkinan besar Ligaya yang berhasil mendapatkan bendera itu. Galon yang semakin kesal memutuskan segera pergi dari situ, sampai sebuah suara yang tak asing baginya menghentikan niatnya.

"Ndree.. Kenapa..?"

"Siapa!?" tanya tabung itu memastikan dia sedang tidak berhalusinasi.

"Kenapa..? Kenapa..? Kenapa kau berhenti mengucapkan 'Ndree'!?"

"Ke.. kepala sekolah!?" Galon sangat terkejut melihat wajah pria yang dihormatinya itu muncul di salah satu kepingan bintang.

"Ndree.."

"Ndree.."

"Ndree.."


Satu per satu wajah penduduk desa Pulau Kecil Selatan bermunculan di kepingan bintang lainya. Mereka semua berulang kali mengumandangkan kata yang sama.

"Kenapa.. kau membunuh kami..?"

"I-itu tidak benar! Bukan aku yang membunuh kalian!" bantah Galon. "Negeri Tetangga yang.."

"Kenapa.. kau membunuh kami..?"

"Sudah kubilang bukan aku!" Tabung itu merasa tersiksa mendengar tuduhan kepala sekolah.

"Kenapa.. kau membunuhku!?"

"Bukaaaaan!! Aku tidak bersalaaaaah!!!" Rasanya dia semakin gila.

"Ndree.."

"Ndree.."

"Ndree.."

"Kenapa kau membunuh kami..?"


"Kenapa.. kau tidak mengatakan 'Ndree'?"

"Diaaaam!! Memangnya kenapa..!? Memangnya kenapa kalau aku tidak mengucapkan kata konyol itu!?" raung Galon mengalahkan seruan bintang-bintang berwajah manusia.

Namun tak ada jawaban. Tempat itu mendadak sunyi. Wajah kepala sekolah dan para penduduk desa memudar. Sinar dari bintang-bintang kecil itu juga meredup sampai mati. Tiba-tiba terdengar bunyi derak mengerikan dari semua arah. Retakan-retakan membara merekah merambat saling menyambung dari tiap sudut angkasa hitam. Serpihan-serpihan langit berukuran raksasa mulai berjatuhan!

"...Keluar ...Cepat!" Untuk pertama kalinya Hea berseru menarik Galon menuju portal.

"Terjadi yang apa!?"

"Ini runtuh... akan tempat...! Sudah... Spa...!"

===

"Yang apa di terjadi sana!? Tempat runtuh kenapa itu!? Sekarang kita kenapa Kafe ada Realm di Antar, seharusnya di Dimensi kita bukankah Altar berada!? Juga kacau bahasaku kenapa begini jadi!?" Galon sangat bingung. Sejak keluar dari Tiny Galaxy semua susunan kalimatnya jadi berantakan! Padahal dia tak bermaksud berkata seperti itu.

"Kubilang sudah...! Tewas... Spa...! Yang keteraturan... ini dimensi mengelola dia turnamen...! Mati kalau semua... kacau keteraturan jadi dia juga...!" Rupanya susunan kalimat Hea juga berantakan. Galon harus berpikir keras untuk mengatur ulang setiap kata yang diucapkan gadis pemandu itu agar bisa mengerti apa maksudnya.

"Hitam itu pemandu meninggal bersayap gadis? Apa!? Bisa bagaimana!?"

"Tau... aku tidak juga..."

Tabung pemadam kebakaran itu semakin pusing. Kini jelas baginya bahwa kematian salah satu pemandu bisa membawa perubahan besar bagi turnamen ini. Spa yang biasanya mengelola pengaturan, peraturan, dan keteraturan sudah tiada. Akibatnya semua keteraturan dalam turnamen ini juga berantakan.

Hal ini sangat terlihat pada interior kafe. Ada pelayan menempel di langit-langit, sedang menggoreng sepatu memakai sikat toilet di atas tumpukan pakaian. Sementara pelayan lain mengenakan piring sebagai pakaianya, sedang mengepel tempat tidur menggunakan bingkai jendela di dalam lemari. Dan masih banyak lagi kejanggalan lainya. Beruntung penampilan Galon dah Hea tidak berubah, hanya dialog mereka yang aneh.

"Posisi berarti urutan juga ini pertarungan apakah berubah lokasi?" Galon sendiri bingung apa yang dikatakanya.

"Begitu... sepertinya..."

"Juga pertandingan berarti hilang semifinal ini peraturan?" tanya Galon memastikan.

"Saja tidak tentu...! Hidup kami selama masih... pertandingan masih semifinal berlaku tetap peraturan... Menjaga akan memandu kami dan selesai pertandingan sampai ini...!" jawab Hea tegas. Tampaknya kematian Spa juga membawa perubahan pada kepribadianya.

"Sudah ya.. Pindahkan kalau Beds ke begitu aku Unlimited."  

===

Kemampuan teleport Kepala Manajer masih bekerja dengan baik. Mereka berhasil sampai ke Unlimited Beds. Arena berlatar hijau itu sangat tenang dan sejuk. Sama sekali tak ada bekas pertarungan di tempat ini.

Sejauh pandangan corong penyemprot, terlihat banyak sekali kasur dalam berbagai bentuk. Ada yang melayang, ada yang berputar, ada yang melompat, ada yang bergetar, ada yang bergelombang, ada yang kasar, ada yang lembut, ada yang bergerigi, ada yang panas maupun dingin. Ada kasur yang berbentuk kubus, balok, limas, prisma, trapesium, silinder, bola, berbentuk hati, berbentuk peti mati, berbentuk sarang, berbentuk gua kecil, berbentuk karang, berbentuk buah, berbentuk hewan, berbentuk benda, juga berbentuk abstrak. Namun kebanyakan seperti balon berbentuk gumpalan awan. Kasur-kasur awan itu masing-masing tergantung pada seutas benang perak tak berujung.

"Hatilah-berhati... yang kasur yang hanya awan berbentuk dipijak bisa... lainya makhluk kasur meninggal sudah milik yang... Memasuki mereka sekali kau mimpi menginjaknya akan... terpengaruh juga kesadaranmu bisa..." Kepala Manajer memperingatkan.

"Petunjuk di bendera apa tempat keberadaan ini segitiga?"

"Penasaran yang dalam mimpi di mimpi paling membuatmu kasur..." jawab Hea menurut petunjuk Dia.

"Membuatku yang kasur penasaran paling? Kasur di menurutku saja sini semua sama.." Galon mengarahkan corong penyemprotnya meneliti semua kasur putih di sekelilingnya. "Lihat oh! Sana biru di kasur warnanya!"

"Mana yang kasur?"

"Kasur penasaran membuatku itu pokoknya. Sana ayo ke kita!" Tabung itu pun mengajak Kepala Manajer melompat memasuki kasur berbentuk buku yang terbuka.

===

"Ardera, sejak menciptakan anak ini, kurasa ada sesuatu yang berbahaya padanya.." bisik seorang wanita berkepang pada seorang pria berkacamata yang sedang memakaikan popok hitam pada sebuah galon.

"Hey Tatia, kau serius mau terus memanggilnya 'Galon Percobaan'? Bagaimana kalau kita pilihkan nama yang bagus untuknya.." kata pria berkacamata itu seolah tak berhubungan dengan pernyataan sang wanita sebelumnya.

"Nama yang bagus! Ndree Ndree, semoga kebaikan selalu menyertaimu," wanita berkepang itu tersenyum.

"Ndree.." Tiba-tiba galon yang memakai popok hitam itu berbicara!

"Lihat, dia juga menyukai nama itu! Mulai sekarang kami akan memanggilmu Ndree Ndree. Dengan menyebutkan 'Ndree', semua nasib buruk akan menjauhimu." Ardera menggendong tabung air itu dengan ceria.


Kabut tebal mengaburkan pemandangan kebahagiaan ketiga makhluk itu, seperti tirai yang menutup dan membuka adegan drama berikutnya.

"Apa yang terjadi, Ndree!? Apa yang kau lakukan pada anak-anak itu!?" Ardera yang kini memiliki kumis tampak sangat panik.

"Bu-bukan aku! Aku tidak melakukan apa-apa! Mereka yang lebih dulu menyakiti Geana! Lalu.. aku bilang.. aku akan membunuh mereka.. Tapi sungguh, aku tidak melakukan apa-apa! Tiba-tiba saja mereka pingsan dan badan mereka penuh benjolan! Tapi aku benar-benar tidak melakukan apapun pada mereka! Bukan aku yang membunuh mereka!" Tabung plastik biru hitam itu terus menjerit. Isi tubuhnya bergejolak.

"Bodoh! Kenapa kau berhenti mengucapkan 'Ndree'!?" ulang pria berkacamata itu untuk kesekian kalinya.

"Kenapa aku harus terus mengucapkan kata konyol itu!? Aku benci nama itu! Geana juga bilang itu nama yang jelek! Nama 'Galon' lebih bagus! Mulai sekarang aku adalah Galon!"

Napas Ardera mulai tersendat. Benjolan biru bermunculan di sekujur tubuhnya. Namun dia masih berusaha berdiri tegak untuk mengatakan, "Itu karena.. Ndree adalah.."


"Hey... kau sudah sadar...?" tanya Hea sambil mengetuk tabung Galon.

"Ya.. Aku tidak apa-apa.. Apa kita masih di dalam kasur mimpi kepala sekolah?" Tabung itu memperhatikan keadaan sekelilingnya yang berkabut.

"Tentu saja... Itu... Ada kasur mimpi... Masuklah... Benderanya pasti ada di sana..."

===

Galon menggenggam erat bendera segitiga warna merah pucat dalam simpul selangnya. Pada bendera itu tertulis 'Kota Almnesse'. Hea memberitaunya bahwa Ligaya dan Mliit sedang bertarung di LCDP. Itu artinya Allan adalah lawanya yang sebenarnya di babak semifinal ini. Kepala Manajer telah memindahkanya langsung ke kota kecil itu, namun Galon masih belum menemukan sosok ceking si penjaga makam.

Hujan lebat mengguyur kota Almnesse, diselingi gemuruh guntur dan kilasan cahaya. Galon dan Hea terus berkeliling menyusuri setiap sudut kota itu tanpa perlindungan dari tetesan air.

"Mana di? Hea..? Mendengarku kau!?" seru Galon mengatasi gemerisik hujan.

"... ...Jam 8 arah ...Allan Dia dan... pantai di... ..."

Sesuai arahan Hea, kedua sosok itu tampak di ujung pantai, sedang berteduh di bawah satu-satunya payung pantai yang terbuka. Kepala Maid bermain dengan seekor gagak, sedangkan Allan melantunkan nada sendu dengan biolanya.

"Oh, akhirnya kalian sampai juga, ndree. Dengar, ini lagu terbaruku. Judulnya Heaven's Rain. Kalian suka, ndree?" sapa Allan begitu melihat lawanya.

Galon tak menjawab. Dia heran kenapa pria kurus itu tampak santai menghadapinya. Mungkin penjaga makam itu sama saja dengan lawanya sebelumnya, selalu meremehkan kemampuanya.

"Mungkin kalian heran kenapa aku bisa berbicara lancar, ndree? Karena biolaku, aku berbicara melalui musik. Nada adalah bunyi dengan irama yang teratur, kan? Jadi kalian juga tak perlu malu untuk berbicara denganku, ndree," pria berkemeja putih itu masih mengembangkan senyuman ramah.

Entah kenapa Galon merasa muak melihat senyuman pria itu. Tanpa aba-aba dia langsung menyemprotkan cairan asam ke wajah Allan!

"Wowow, serangan mendadak?" Allan yang terkejut langsung menggesekan biolanya dengan gesit.

Bukanya mengenai Allan, percikan cairan asam itu malah berbalik menyerang Galon! Beruntung tabung itu segera menggerakan rodanya dan berhasil menghindar. Dia tak mengerti apa yang baru saja terjadi. Mungkinkah Allan juga bisa mengendalikan jenis cairan seperti dirinya!? Tabung pemadam kebakaran itu kembali mencoba menyemburkan cairan merah, namun sekali lagi seranganya berbalik pada dirinya sendiri.

"Haha, tidak perlu kaget seperti itu. Masih banyak yang bisa kulakukan dengan lagu ini, ndree. Mau lihat?"

Bersamaan dengan satu gesekan nyaring senarnya, sebuah halilintar melesat menyambar tabung metal Galon!

"Uwaaaaaaaaaa!!"

Kesakitan luar biasa menyengat sekujur tabung pemadam kebakaran itu. Percikan kilat melahap tiap tetes isi tubuhnya hingga nyaris kering. Tak ayal benda itu terjatuh tak berdaya.
Allan memainkan nada lembut meredakan rintik hujan sekaligus mengakhiri lagu terbarunya.

"Waah, maaf. Sepertinya aku terlalu berlebihan, ndree. Tidak kusangka aku akan menang secepat ini." Pria kurus itu menurunkan biolanya dan membiarkan gagak peliharaanya hinggap di bahunya.

"Belum! Aku masih belum kalaaah!" Rupanya Galon tidak pingsan. Tabung itu berusaha berdiri namun seluruh tubuhnya mati rasa, dia pun terjatuh lagi. "Hea, kau baik-baik saja?"

Sosok berpakaian serba putih yang terbaring tak jauh dari Galon mulai bergerak dan bangkit. Gadis pemandu itu menggosok kedua kupingnya. "... ...Ya. ...Uuh... Telingaku masih berdenging... ..."

"Bodohnya aku. Maafkan aku Nona Hea. Apakah Nona terluka, ndree?"

"... ...Aku... Tak apa-apa... ..." Kepala Manajer melompat berdiri lalu menyeret kereta dorong Galon mendekati ombak pantai.

"Aku sungguh minta maaf, Nona," ucap Allan penuh penyesalan. "Oh ya, aku mendapatkan bendera dari Lost Canvas. Emed, di mana benderaku?"

Sang gagak berkoak sambil membawa bendera segitiga putih di paruhnya.

"Tempat itu sangat menarik, ndree. Aku seperti masuk ke dalam dunia lukisan. Ada banyak pulau dwiwarna dan sosok kebenaran tiap peserta. Lee dalam lukisan itu sangat cantik. Tapi petunjuknya, semua warna adalah kebohongan. Ketika aku memainkan biolaku, semua lukisan itu langsung luntur menjadi warna putih. Ternyata benderanya tersamarkan dalam latar belakang putih itu, hampir saja aku tak melihatnya. Dan inilah dia! Warnanya sungguh ironis, seolah menyuruhku segera pulang ke Kota Pinus, ndree. Hahaha.."

Hea hampir tak mendengarkan cerita Allan. Gadis itu sedang sibuk mengarahkan corong penyemprot Galon untuk membantunya menyedot air laut.

"Allan, kenapa kau terus-terusan mengatakan 'Ndree'?" tanya Dia penasaran.

"Eh? Bukankah memang seperti itu? Setiap orang yang bertemu Galon pasti akan mengatakan 'Ndree', kan?" Allan malah balik bertanya.

"Tidak, tidak semuanya.."

"Begitukah? Hahaha.." Penjaga makam itu tertawa canggung. "Sebenarnya aku sangat bingung bagaimana cara bertarung dengan Galon. Kalau boleh memilih, aku lebih suka bertarung dengan Mliit atau Ligaya. Aku tidak terbiasa menghadapi benda mati yang bergerak seperti makhluk hidup. Maksudku, Galon berbeda dengan para mayat hidup yang biasa kukendalikan. Tapi aku tetap tak akan membunuhnya secara langsung, setidaknya aku tak akan merusak tabungnya. Kalau aku mengosongkan isinya saja itu sudah cukup, kan?"

"Tentu saja," jawab Dia.

"Tempat ini agak sepi. Izinkan aku sedikit meramaikan suasana." Allan kembali menggesek biolanya. Kali ini dia memainkan lagu sederhana pembangkit mayat.

Terdengar derap ribuan langkah dari arah selatan. Para mayat hidup yang sudah membusuk berlarian memenuhi pantai. Beberapa bangkai hewan dari tempat pemotongan daging juga ikut bergabung. Bahkan ikan-ikan berbau amis dari kapal penjaring tak mau ketinggalan.

"Kuharap hadirin sekalian menyukai pertunjukan kami."

Pemuda ceking itu semakin bersemangat menggerakan busurnya merangkai nada menyayat yang ceria sekaligus berkesan gelap. Seluruh mayat dan bangkai mulai menari dalam gerakan seirama. Sedikit menyerupai balet yang dicampur goyang patah-patah. Para bangkai ikan melompat meliuk-liuk gembira. Pasir pantai Almnesse bergemuruh. Sosok bangkai ikan raksasa merangkak keluar. Ternyata bangkai ikan paus yang dulu pernah terdampar di sana juga ingin ikut menari! Kumpulan mayat dan bangkai itu menari riang sambil bernyanyi bersama Allan dan gagaknya.

"Allan, awaaas!!"

Keriuhan itu segera berakhir ketika Galon menembakan peluru campuran Galliquid dan bahan kimia berbahaya yang meledak menghanguskan mereka semua! Beruntung peringatan Dia tadi berhasil menyelamatkan Allan dan Emed.

"Oh, kau sudah sehat kembali, ndree? Apakah kita sudah bisa bertarung lagi sekarang, ndree?" Penjaga makam telah bersiap memainkan Heaven's Rain lagi.

"Berisik! Berhentilah mengucapkan 'Ndree'!" Galon pun telah mengubah seluruh isi tabungnya menjadi lumpur pekat untuk mencegah serangan petir.

"Baiklah kalau itu maumu," Allan memutar bola matanya dan mulai memainkan lagu terbarunya.

Sebelum menunggu Allan menurunkan hujan dan petir, sekali lagi Galon menembakan peluru campuran material padanya. Tapi rupanya permainan biola kali ini bukan untuk menurunkan hujan. Penjaga makam membentuk makhluk-makhluk putih dari air laut untuk melindunginya dari semua tembakan Galon. Kekuatan itu sangat mirip dengan kemampuan Lena!

Setelah merasa terus-terusan menembakan peluru campuran material tak ada gunanya, Galon berganti siasat menyemburkan gas beracun. Namun Allan juga bisa menggunakan pengendalian angin, dia menciptakan tornado kecil yang menghempaskan partikel-partikel beracun itu ke tengah laut!

"Sialaaan!!"

"Hahaha.. Keluarkan saja seluruh kemampuan yang kau miliki, aku akan membalas semuanya!" tawa Allan penuh kebanggaan.

Mendadak terdengar gemuruh dahsyat dari kejauhan, seolah ada gunung yang runtuh. Secara refleks Allan, Dia, Hea, dan Galon melindungi kepala mereka. Tak ada yang jatuh menimpa mereka. Tapi gemuruh itu tetap membahana.. semakin mendekat!

"Apa yang terjadi!?" Galon menyuarakan kebingungan mereka semua.

"Hea..!!" Dia berseru. Kepala Manajer mengangguk.

"....Pertarungan Mliit dan Ligaya... sudah selesai... ...Clo terbunuh..."

===

"Apa!?"

"Clo meninggal!?"

"Jadi.."

"Artinya pengaturan dimensi ruang juga akan rusak. Mirror Labyrinth, Altar Dimensi dan Kafe Antar Realm telah runtuh. Tak lama lagi dimensi tiruan LCDP dan Kota Almnesse ini akan menyusut dan hilang!" Kepala Maid menjelaskan.

"Kita tak bisa main-main lagi.. Ten Gallon Tank! Kerahkan seluruh kemampuanmu! Aku juga akan serius dalam serangan terakhir ini!" seru Allan sambil mengacungkan busur biolanya.

"Huh! Tak perlu kau suruh.. Aku akan dengan senang hati membunuhmu, Allan Fenestra Volucis!" Kepulan asap hitam mengalir dari ujung corong penyemprot Galon.

"Hea! Kau yang mengatur dimensi waktu dalam pertandingan ini, kan?" Gadis berambut perak itu mengangguk menjawab pertanyaan peserta yang dipandunya. "Tolong atur waktunya agar kehancuran dimensi Kota Almnesse diperlambat.. Sebentar lagi.. Beri aku waktu sebentar lagi!"

Allan mendahului dengan memainkan barisan nada terakhir Heaven's Rain yang memekik nyaring. Rangkaian nada itu khusus diciptakan untuk pengendalian darah, atau pengendalian cairan isi tabung Galon!

Tabung hitam itu sangat terkejut ketika selangnya bergerak sendiri tanpa kendali. Seluruh cairan tubuhnya dipaksa keluar meninggalkan wadahnya! Cairan lumpur itu menyembur ke segala arah. Allan berencana menyedot habis semua isi tabung Galon!

Tentu saja benda itu tak tinggal diam. Asap hitam yang tadi telah dihembuskanya mulai merambat meliuk seperti ular mendekati kaki Allan yang serius memainkan biolanya. Kepulan gas itu mewujud bagaikan cakar raksasa yang langsung menghujam tubuh penjaga makam!

"Uhk! Apa ini..?" Pemuda kurus itu pun tersungkur berlumuran darah. Biolanya jatuh terlepas dari tanganya. Tapi busurnya tetap bergerak sendiri memainkan lanjutan Heaven's Rain.

"Itu.. Gas Bayangan yang kupelajari saat melawan Greed!" Galon seakan tersenyum puas melihat hasil seranganya.

Merasa serangan pengendalian cairan mulai melemah, Galon mengikat erat selangnya sendiri untuk menyumbat cairan yang keluar. Tapi ledakan semburan dari dalam masih memaksa keluar sehingga topi keranya bocor dan terlepas!

"Hahaha.. Kau sungguh naif jika mengira aku akan mati cuma karena ini.." Senyuman Allan dihiasi darah merah gelap. "Emed, bantu aku!" Setelah mengatakan itu Allan juga bersiul panjang memanggil Hollow.

Semula gagak itu tampak enggan mengikuti perintah tuanya, tapi akhirnya dia terbang mendekati Galon dan mematuknya. Baru saja Emed mematuk tiga kali, sebuah tembakan meledakanya!

"Dia!! Apa yang kau lakukan!? Bukankah kalian dilarang ikut campur dalam pertarungan!?" Allan sangat terkejut melihat pemandunya sendiri menembak mati gagak peliharaanya.

Tawa Galon bergaung dalam tabungnya yang hampir kosong.

"Bodoh! Apa kau lupa!? Aku juga sudah menguasai penggunaan darah R-virus dari Lance! Cairan merah yang kusemprotkan di awal pertandingan tadi akhirnya mulai bereaksi! Kau bahkan tak sadar Hea selalu menuruti perintahku..? Hahahahaha!!"

"Brengsek! Dasar botol keparat!!" Kematian gagak tersayangnya telah memicu amarah Allan.

Tepat saat itu Hollow muncul sambil melolong.

"Kudengar anjingmu sangat suka api?"

Pertanyaan Galon itu menjadi perintah bagi Dia untuk memuntahkan rentetan peluru pada si anjing hantu. Akibatnya Hollow memekik kesakitan dan berlari pulang kembali ke alamnya.

"...Galon... waktunya..." bisik Hea mengingatkan.

"Selamat tinggal, Allan.."

Kepala Maid menancapkan peluru terakhirnya jauh ke dalam otak peserta yang dipandunya..

Langit Kota Almnesse mulai melengkung berkerut bagai kertas kusut..

Isi tabung Galon tersisa kurang dari 2 liter..

Allan Fenestra Volucis tewas..

Tapi biolanya masih tetap berbunyi..

Galon memerintahkan Dia yang mulai berubah menjadi monster untuk membawa biola terkutuk itu sejauh mungkin..

Menenggelamkanya di dasar lautan Kota Almnesse..

Ten Gallon Tank memenangkan babak semifinal..

===

"... ...Selamat... Kau adalah pemenangnya... ..."

Hea menyerahkan kembali bendera segitiga merah pucat ke dalam simpul selang Galon. Pada bendera itu tertera kalimat tambahan; 'Di bawah tiang bendera SMP Almnesse.'

"... ...Kau tinggal menancapkan benderanya... pada lokasi yang tertulis di situ... Akan ada portal... yang membawamu ke babak final... ..." Kepala Manajer memang biasa bicara dengan elipsis, tapi kali ini napasnya juga tersengal.

"Tolong pindahkan aku ke SMP Almnesse."

"... ...Karena dimensi ruangnya sudah menyusut... seharusnya sekolah itu dekat... dari sini... Tapi baiklah... aku akan mengantarkanmu... ..."

Dengan sisa tenaganya Hea membawa Galon tepat ke hadapan tiang bendera SMP Almnesse yang juga semakin mengecil.

Sebuah portal terbuka saat tabung itu menancapkan benderanya..

Sekali lagi dia menatap gadis pemandu yang sudah menyertainya sepanjang pertandingan babak ronde pertama, babak turnamen, dan babak semifinal..

Dugaanya benar, ada yang aneh pada gadis itu..

Dia tidak berubah jadi monster..

Sikapnya juga bukan seperti orang yang dikendalikan R-virus..

"Kenapa kau tidak terpengaruh R-virus? Aku tidak ingat pernah menyemprotkan penawarnya padamu. Apakah kau memang kebal terhadap virus itu?" Akhirnya Galon bertanya.

Hea menggeleng. "... ...Aku tidak tertular... karena aku... sudah terjangkit virus... yang lebih berbahaya... ..."

Galon tersadar, dari balik piyama putih gadis itu terbayang banyak benjolan biru!

"Karena virus dariku..?"

Kepala Manajer mengangguk.

"Ma.."

"... ...Tidak perlu... Pergilah... Aku senang... jadi pemandumu... ..."

Untuk kedua kalinya Galon melihat senyum manis terukir di wajah mungil Hea..

"... ...Terima kasih... atas semua imajinasi... dan cerita menarik... yang kau tunjukan padaku... ..."

Dengan satu dorongan kecil..

Hea mengantarnya..

memasuki portal..

menuju babak final..

...

...

...

===

...

...

...

Galon melayang..

dalam dunia hitam putih..

Tabung itu bermimpi..

mimpi yang mirip dengan mimpi Ardera sang kepala sekolah..

Berawal dari masa penciptaanya..

hingga saat dia meninggalkan desa Pulau Kecil Selatan..

Dia bermimpi..

tentang pembicaraanya dengan wanita dari lukisanya..

namun dalam versi yang berbeda..

Dalam versi itu Galon tidak membunuhnya..

Dalam versi itu Galon mendengarkan dan percaya padanya..

Pada wanita yang menciptakanya..

Wanita berkepang bernama Tatia..

Karena wanita itu tidak berbohong..

Wanita itu mengatakan kebenaran..

"Mengapa kau mengganti namamu, Ndree?"

"Mengapa kau berhenti mengucapkan 'Ndree'?"

"Karena Ndree Ndree adalah nama khusus yang kami berikan padamu.."

"Artinya semoga kebaikan selalu menyertaimu.."

"Nama itu adalah mantra untuk menyegel kekuatan jahat yang ada dalam dirimu.."

"Kau yang membunuh kami, Ndree.."

"Karena kau berhenti menyebutkan mantra perlindungan itu.."


"Aku tau.." jawab Galon dalam mimpinya..

"Aku sudah ingat.. Semua itu adalah kesalahanku.. Aku yang membunuh kalian semua.. Bukan Negeri Tetangga.." Galon mengakui..

"Menyerahlah.."

"Kau sudah tak punya alasan lagi untuk meneruskan pertarungan ini, Ndree.."

"Kau sudah tak perlu membalaskan dendam pada siapapun.."

"Kau sudah cukup menghukum dirimu sendiri.."

"Menyerahlah.."


"Tidak!"

"Aku tidak akan menyerah!"

"Aku sudah sejauh ini!"

"Tinggal selangkah lagi!"

"Aku tidak peduli meskipun aku sudah tak punya tujuan lagi!"

"Aku juga tak peduli apakah Geana itu nyata atau tidak!"

"Aku ingin jadi lebih kuat!"

"Aku harus menang!"

"Aku akan mendapatkan kebenaran yang kuinginkan!"

“Karena takdir adalah milik mereka yang menghendakinya!”

======================================================

 


terima kasih buat kakak smuanya yg udah baca cerpen gaje ini :)

mohon dukunganya dgn memberi [vote galon win] pada komentar

tapi sebelumnya tolong baca versi Allan juga ya agar bisa memberi vote dgn adil http://www.kemudian.com/node/272331
 

terima kasih banyak :D

Read previous post:  
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
90

sesuai dugaan Galon memang berbahaya, dan seperti biasa style penulisannya selalu enak buat dibaca karena terkesan ringan :3

benar2 battle epic yang seolah di akhir cerita penulisnya bilang "just as planned"

maka saya vote GALON WIN

90

Vote Galon!!!!

oh y, stlh d timbang dan d telaah, VOTE GALON WIN!

80

Serius? Belom ada yang vote di tempat ini?
.
WIN GALON
.
Gimana, ya... Setelah baca ini, saya jadi ngerasa penulis bener-bener udah nyiapin segalanya dengan terencana kalau Galon sampe sejauh ini. Revelationnya, motivasinya, suddenly it all makes sense. Bahkan perubahan karakter Galon sekarang jadi tolerable buat saya. Jempol deh buat semifinal yang satu ini.
.
P.S. : Bahkan sebelum semifinal Allan dan Galon saya pikir saya bakal condong ke karakter Allan, tapi tulisan ini berhasil meyakinkan saya kalau Galon deserves it more. Saya penasaran final kayak gimana yang udah penulis rencanain kalau Galon nyelesein turnamen ini (seandainya dia maju)

makasih banyak atas votenya kak sam :D
*terharu* #plok x3

niy, saya tambahin votingannya
.
WIN GALON
.
maap ya kak Sun, sy rasa Galon lebih pantas berhadapan denganmu.. T.T
.
#terkapar bersama biola yg dilempar ke laut (?)

knp dvote dsini kak? o.o
rasanya g adil >.<
klo gitu vote d allan jg deh #pletak x3

hoy, itu sy vote dengan jujur sesuai kata hati nurani (?)
.
dengan adil jugak krn sy uda baca versi Allan =w=

._.

100

bagaimana mengatakannya, ini adalah semifinal yang kuharapkan, yang gagal kutulis. semua kekacauan yang dibangun menjelang pertarungan puncak bisa jadi advantage besar nih. dan revelationnya galon mencengangkan.

pada akhirnya galon menjadi lawan yang sangat mengerikan.

tapi bagaimana mengatakannya, galon pasti akan kukalahkan!!

tapi bagaimana mengatakannya, galon pasti akan kukalahkan!!

advantage gmn kak? :o
tp galon masih gampang dkalahkan kok :3
iya kak, semangat! :D
galon jg akan berusaha *klomenang* #plok x3

gimana ya, seperti kata sam, seakan ini sudah di rancang sejak awal. jadi plotnya kuat, ga tambal sulam. pokoknya dari sini pun uda keliatan dasar suasana untuk finalnya, seakan ini bukanlah suatu battle yang terpisah.
.
fuh...

100

KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA~~~ INI KEREEEEEEEEEEEEEENNNN~~~
*nangis darah*
.
AAAAA.... POKOKNYA SAYA speechless #wtf caps masi nyala, maap2
.
Pertarungannya heboh, uh uhk IC akut saya ndree Q-Q/
.
Allannya jadi periang, tapi dia jadi lucu.. ahahaha, sy seneng biolanya dilempar ke laut (?)
.
Pertarungannya buru2 tapi ttp asik ahhaa pokoknya sy suka semuanya..
terutama pas bagian HEA itu... gyaaaaaaaaa..... HEAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
*nangis kejer*
.
entahlah sy pasrah, mungkin sy post bukan untuk mengalahkan cerita ini..
namun hanya sekedar gak WO orz Q-Q/
#terkapar (?)
.
AWAS YA KAU GALON, AKU DENDAM PADAMUUUHHHH

ngg, jd bingung mau komen apa x3
makasih banyak poinya kak :D
oya, maap klo Allan jadi OOC kak #plakplok >.<
terburu2 krn dedlen dan krn arenanya hampir runtuh sih
dedlenya diundur ya kak? o.o
semangat kak, pasti punya kak ann bakal lbh seru dr ini \:D/
AYO ALLAN, HAJAR GALON #eh? xD