BOR N2 SemiFinal : versi Allan Fenestra

 

Hitam putih. Seperti catur saja.

Apa dunia ini adalah papan catur? Sepuluh orang yang berada di sini adalah bidak, begitu?

Aku tak bisa melihat diriku sudah jadi bidak ataukah belum, karena pakaian yang biasa kukenakan pun berwarna hitam dan putih. Juga seluruh tubuhku. Kecuali biola itu, agak kemerahan. Setelah kuperiksa warnanya jadi hitam. Kucoba mengeluarkan darah dari kelingking jari kananku, warnanya juga hitam. Aku tidak menggores luka panjang-panjang—selain aku bukan masokis—kau tahu, jari jemari adalah nyawa pemain biola.

Pria bermasker itu mengucapkan selamat dan menjelaskan peraturannya, namun gayanya sama sekali tidak seperti orang yang bertanggung jawab. Ini hanya firasatku atau kami sebagai peserta benar-benar dipermainkan? Sungguh konyol, ya aku yang konyol. Mau-maunya mengikuti turnamen tidak jelas di dunia antah berantah. Dan, coba lihat sisa peserta itu. Binatang, binatang, benda mati. Ralat, benda mati yang hidup. Mungkin peserta manusia benar-benar sudah lelah dan sengaja mengalah.

Dipikir-pikir para peserta memang konyol. Mereka mencari kebenaran, apakah berarti mereka orang yang salah? Sejauh ini, aku tak merasa ada yang salah dariku. Bocah berambut jagung dengan senyumnya yang mencurigakan berbicara mengenai takdir—entah apa hubungannya turnamen ini dengan takdir. Hmp, aku tak begitu sependapat dengannya. Mungkin dia bisa mengatakan hal semacam itu pada orang yang hendak mengakhiri hidupnya sendiri.

Ah, bicara tentang takdir dan kebenaran, pertandingan selanjutnya diadakan dua hari lagi. Partnerku adalah Dia, gadis cantik bermata satu dengan rambut semerah bara api. Kebetulan sekali, aku ada sedikit permintaan dengannya.

***

Allan Fenestra. Orang bermata licik itu—dan ya, dia memang licik!—yang akan jadi partnerku? Si masker gas menghilang entah kemana dan tahu-tahu muncul dengan tugas mengerikan. Bekerja sama dengan penjaga kuburan, oh demi Tuhan, dan permintaan pertamanya adalah membawa mayat Yunus Firdaus ke kamarnya.

Penasaran, tentu saja aku penasaran.

Aku mengintip ke kamarnya dan dia memang melakukan hal gila bersama pacarnya, Lena Chronoss. Rafolt Dimon langsung pusing setelah masuk ke kamar itu, untunglah dia bertemu denganku dan pria besar itu langsung kuseret ke ruang pengobatan. Aku curiga dia keracunan atau diracun, tapi syukurlah tak ada yang perlu dikhawatirkan. Ruang pengobatan akan segera ditutup untuk pecundang yang kalah.

“Lawanmu Galon tuh,” kataku setengah kasar, aku tahu dia tidak suka orang yang berperilaku sembarangan. Dasar munafik.

“Galon? Oh, sungguh menyenangkan,” jawabnya santai sambil mengelap biola itu.

Aku mengangkat sebelah alis, “kau sama sekali tak khawatir ya?”

Allan memasang benang-benang tajam pada busur biolanya, tak sedikitpun dia memperhatikanku. “Jadi, bagaimana peraturan pertandingannya, Nona Panitia?”

Aku mendengus kesal dan melampiaskannya pada dua tonfaku, “yang berdiri terakhir menang. Lokasi pertandingannya di kafe ini, altar dimensi, kastel LCDP, Kota Almnesse, Tiny Galaxy, Unlimited Beds, Mirror Labyrinth, dan Lost Canvas. Selain lewat portal, kau bisa meminta teleport sebanyak tiga kali.”

“Kau bisa men-teleportku ke Kota Pinus?”

***

- Allan Fenestra vs. Ten Gallon Tank – The Living Dead -

***

Semua peserta Battle of Realms yang tersisa berkumpul di ruang utama Kafe Antar Semesta. Peserta yang tidak bertanding menyemangati yang bertanding, ada juga yang memasang taruhan ataupun bersiap sembunyi dari marabahaya nanti. Yang paling heboh mantan anggota Blok A, Ezequiel, Xyz, dan Grey mengenakan kostum lengkap dengan pom-pom untuk menyemangati Mliit. Si tikus senyum-senyum saja tak tahu malu.

“Ehem, ehem!” Mendadak Spa si Kepala Malaikat berdiri di salah satu meja kafe, “bagi kalian yang belum paham, biar aku yang jelaskan peraturan pertandingan semifinal! Ini adalah pertandingan satu waktu antara Mliit melawan Ligaya, serta Allan melawan Galon!”

Setelah Spa menjelaskan detil pertandingannya dan para penonton ber-‘oooh’ bersamaan, Clo membunyikan gong, yang entah dari mana asalnya sebagai tanda bahwa pertandingan dimulai. Mliit langsung melancarkan serangan pertama, sebuah bola api ditembakkan dan Ligaya berhasil menghidar dengan mudah. Tapi, perabotan kafe ada yang terbakar, sehingga dengan bijak Mliit memasuki salah satu portal diikuti Spa, Ligaya, dan Clo.

“Kau benar-benar Galon?” Allan mengernyitkan keningnya pada tabung besi hitam yang kini sudah tidak menggelinding lagi.

“Huh, siapa lagi kalau bukan!” jawab Galon, kali ini tidak dengan suara khasnya.

“Kau sudah berubah menjadi lebih kuat sekarang,” komentar Allan. Dan sedikit tidak sopan, tambahnya dalam hati.

Galon tak membalas, ia meliukkan selangnya dan menembakkan peluru-peluru bulat berwarna putih yang langsung pecah begitu menyentuh sesuatu. Allan berlari menghindarinya, alhasil lantai, tiang, dan perabotan kafe diwarnai bercak-bercak putih.

Seolah berhasil menebak pergerakan Allan, Galon tidak menembak ke arahnya, namun langkah selanjutnya yang kira-kira diambil pria kurus itu. Tembakan beruntun dilancarkan, dan tak sengaja Allan menginjak salah satu bercak putih. Kakinya tak bisa digerakkan dan Galon memanfaatkannya dengan menembak lebih banyak peluru-peluru putih pada lawannya. Allan memeriksa cairan putih yang menodai tubuhnya. Lengket, dan Galon berhasil menembakkan pada senar biolanya.

“Ahaha, segitu saja kemampuanmu?”

“Oh, bagus. Aku tak bisa memainkan biolaku kalau begini,” Allan tersenyum sinis pada Galon. Padahal biola itu baru dilap dan dipernis, tambahnya lagi.

“Kalau begitu diamlah selagi aku membunuhmu!” seru Galon sambil meliukkan selangnya dan mengarahkannya pada Allan.

Tapi, mendadak tabung hitam itu tak bisa meliukkan selangnya dengan leluasa. Ia melihat Allan menggerakkan busur biolanya dengan gerakan mencurigakan, dan Galon merasakan selangnya tidak mau mengikuti kemauannya. Malah selang itu bergerak sendiri, membelit dan menjerat tubuh Galon. Si tabung tampak meronta dan berusaha membebaskan diri.

“Ah, kita seimbang sekarang,” Allan menurunkan busur biolanya. Seekor gagak besar menghampiri, menertawakan tuannya yang terjebak dalam cairan putih lengket menjijikkan. “Ada yang aneh denganmu, ndre. Kemana Galon yang kukenal? Kenapa kau berhenti mengatakan ndree?”

Galon masih berusaha menggerakkan selang di tubuhnya, “berisik! Memangnya kenapa kalau aku tidak mengucapkan kata konyol itu?! Memangnya dunia akan kiamat?!”

Tabung hitam itu sangat serius dengan ucapannya, selang yang melilit tubuhnya menggembung, diisi cairan yang sudah berubah menjadi gas. Dari corongnya terdengar suara bergemuruh yang membuat Allan membelalakkan matanya.

“Dia! Teleport Almnesse!” perintahnya.

***

 

 

Read previous post:  
40
points
(989 words) posted by Sam_Riilme 8 years 49 weeks ago
80
Tags: Cerita | Cerita Pendek | lain - lain | Battle of Realms | N2 | Ronde Turnamen
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

Holaaaa, saya mampir nih Kak Ann~
.
Seperti biasa, tulisannya Kak Ann masih tetep keren.. Sebenernya baik versinya Galon sama versinya Allan sama2 keren nih... Bikin bingung, apalagi dengan pertimbangan Galon berpotensi jadi musuh utama (sisi villain) di final.. Tapi, tapi, tapi, kembali ke pendapat pribadi, karena saya ga suka Galon jd jahat, jadi yah.. Vote Allan Win

kyaaa~~ makasi Miraa ~~ >.<
.
ternyata bener ya, Allan nya malah ketutupan Gallon (?)
wkwkakakak
.
makasi dah sempet mampir :'D

vote allan win :D

woooooooooyyy =__=

80

Dari cerita selama 2 part pertama sendiri buat saya superb seperti biasa. I expected no less dari seseorang yang kebanjiran A terus selama Sistem Liga. Semuanya kebangun dari pembukaan cerita ini sampe konflik ngelawan Galon, dan itu sesuatu yang bisa dibilang 'rapi' buat saya
.
Battle-nya juga asik kayak biasa, cuma saya beneran menyayangkan finishingnya. Mungkin karena masalah waktu yang mepet banget ya.
.
Satu yang kurang buat saya di sini justru adalah Allan-nya sendiri. Saya ga bisa nemu sesuatu yang ngedorong atau ngeharusin dia maju, bahkan dari penulisnya sendiri kerasa sepanjang ceirta lebih condong ke Galon. Galon jadi terlihat nyimpen lebih banyak potensi buat digali di final oleh kedua penulis (Allan dan Galon) di mata saya.

seperti biasaa.. #jleb
.
hehe, niat sy bikin Galon jadi baik lagi ndree
.
ia niy, Allan sendiri bilang kalo kebenerannya lebih baik buat Galon n dy sendiri udah males ngikut turnamen ini..

Quote:
Sungguh konyol, ya aku yang konyol. Mau-maunya mengikuti turnamen tidak jelas di dunia antah berantah.

dan dia juga udah minta dipulangin XD
.
tapi kayaknya nggak tersampaikan dengan baik ya ._.
.
oh, soal ending tadinya sy mao kasi Allan vs Lena yg udah tercemar (?) virus R dan mengakhiri drama mereka..
tapi ya akhirnya sy potong haahahaaaaa
.
yaaa makasi kak Sakakii~~

Kenapa dipotong??????????????????????????????????????????

GYAAAAAAAAAAAAA,, KAK WARWIRRR~~ KEMANA SAJA DIRIMUHH~~~ QAQ
.
udah ditulis kaks, mwahahaha sy bingung ngeakhirinnya gimana (?) jadi gitu doang ihiks /-\

kok saya ga bisa masuk ke facebook yah? katanya ada yang lapor kalo identitasku palsu???? hiks ..... teganya teganya teganyaaaa

uwaa, gak ngerti saya.. namanya kali kaak D:
biasanya disuruh pk nama depan belakang gitu, cba aja ganti nama kak ._____.
.
kata kak Smith bukan dilaporin, tapi dicurigai sama sistem fbnya kali
.
dan setelah saya tanya2 (?) ternyata emg namanya kak

100

Wahahaha kebenaran galon ada2 aja ni cabangnya macem2.
.
Keren Ann, keren. .
.
Cuma battlenya terasa terburu waktu.

ehehe, ia kak Suun ~~ >.<
.
makasi kaks, kalahkan Galon di final yaah~~ :'D

100

beneran suka cerpen ini kak, lucuuu :D
skaligus jijik jg pas bagian wilder
yg plg horor itu pas shina kluar sambil blg ndreee xD
cairan putih yg galon semburin itu apa kak? cat? :o

aaa.. ini saya setres ngerjainnya tauk =3=
sy gak jadi ngebunuh pemandu, pastinya kalah heboh dengan punyamu Red Orz
wokwok, untung bapaknya nggak baca bisa dimarahin sy #plak
niatnya lem, eh Galon bisa ngeluarin lem gak si?? tauk ah #penulis semena-mena dilempar sendal
.
makasii Redrie, duel yg menyenangkan ndree >.<

100

Vote Allan yah!
battlenya keren. army vs army. sesuatu banget!

kyaa, makasi kak Ivan >.<

kyaaaaaa, Demet TT_________TT
makasih banget dukungannya, sy smp sjauh ini berkat dirimu juga.. untuk memaksa kak Sam (?) untuk gak jadi WO berkatmu jga.. TT-TT
.
mungkin krn penulisnya dah putus asa,
ntar sy edit lah #plak
.
makasi banyak Demet :") #terharu (?)

uwoo *shock*, ciyus niy ?? dh baca punya Galon ?? #plak
makasi yaaa >.<

lanjot!!

udah kak >.<

makasih ya Demet, berkat komenmu yg mengharukan ini sy jadi gak pengen WO :'D

80

Ahh sayang sekali ya, padahal aku sudah tunggu2 ceritanya

maaf mengecewakan kak :")