The Chosen - Chapter 1; First Blood

Sekali lagi, aku harus berlari, Menyelamatkan hidup ini dari para bedebah itu. Manusia-manusia tolol yang telah merenggut semua keluarga dan juga sahabatku, aku akan terus berlari, hingga aku siap menghadapi mereka. Entah sampai kapan.

***

Chapter - 1

Gelas berisi kopi itu terlihat lebih nikmat dibandingkan dengan bir yang ditawarkan oleh pramusaji. Aku mengambil dan menghirup aroma kopinya dalam-dalam sesaat sebelum aku meneguk cairan hitam yang hangat itu. Kopi selalu membuatku nyaman, tidak peduli dimanapun aku berada. Seperti saat ini, aku tersudut ditengah pesta bodoh yang tidak aku mengerti. Kalau bukan karena Irish, aku tidak mungkin datang kesini.

Ya, Irish adalah nama pacarku. Walau usia kami terpaut cukup jauh, tapi dia menyayangiku sepenuh hati. Well, sebenarnya aku tidak begitu mengerti ungkapannya saat itu, dia mengatakan bahwa aku adalah separuh hidupnya, setengah jiwanya, atau separuh nafasnya. Yah, hal-hal semacam itulah. Aku belum mengerti jika dia belum menjelaskannya secara harfiah.

Kali ini dia sedang asik dengan dunianya sendiri, berjoget ditengah kerumunan teman-temannya diiringi dengan musik trance yang menghentak. Sedangkan aku, duduk disudut ruangan ditemani kopi hitam yang mulai dingin. Dia melarangku untuk ikut berjoget disana. Katanya, terlalu berbahaya bagi anak kecil dan aku akan terlihat bodoh. Cih, yang benar saja, justru mereka semua yang terlihat bodoh. Dengan jarak kurang dari lima meter dari speaker super besar itu, gendang telinga mereka bisa rusak dalam sekejap. Dan yang paling aneh, mereka senang melakukannya sepanjang malam, satu lagi hal yang tidak kumengerti dari dunia orang dewasa.

Aku menyesap sisa kopi hitamku, meninggalkan sisa ampasnya yang tebal di dasar cangkir. Kulihat Irish berjalan menghampiriku,

"Kau terlihat bosan, kau mau turun kesana?" Irish berteriak seakan-akan aku orang yang tuli.

Aku menggelengkan kepalaku.

"Ayolah, Zee! setidaknya nikmati saat-saat ini, sudah lama aku tidak bertemu teman-temanku, ayo, ikut denganku?" Irish mengulurkan tangannya padaku.

"Setengah jam yang lalu kau melarangku kesana mati-matian, sekarang kau malah memaksaku untuk ikut bergabung dengan teman-temanmu yang konyol. Tidak terima kasih" Aku beranjak dari tempat dudukku dan pergi menuju toilet, meninggalkan Irish dengan tatapan tajamnya.

'aku sudah cukup penat terperangkap di pesta valentine bodoh ini' gumamku dalam hati, aku berusaha meraih keran air yang terlalu tinggi bagiku, dan mencari-cari barang yang bisa dijadikan pijakan untuk meraih keran di wastafel ini. Ya, tubuhku terlalu pendek untuk berkaca di wastafel orang dewasa. Tapi, aku termasuk tinggi diantara teman-teman sebayaku yang berumur 15 tahun.

Mungkin kau tidak percaya aku yang baru berumur 15 tahun ini bisa memiliki pacar yang umurnya 7 tahun lebih tua dariku. Tapi, begitulah kenyataanya jika kau memiliki kepribadian yang 'berbeda' dari orang-orang di umur sebayamu.

Kali ini aku menatap lekat-lekat wajah seorang laki-laki berparas tampan di kaca itu, aku merapihkan rambut hitamku yang berantakkan, dan membasahinya sedikit dengan air. Sesaat aku menghela nafas, sambil memejamkan mata. Tidak lama setelah itu, pandangan mataku mulai kabur, semuanya buram dan rasa panas menjulur disekitar mataku. 'datang lagi...' geramku dalam hati

Aku melihat orang-orang berseragam hitam dengan persenjataan lengkap menembaki sekelompok manusia di atap sebuah gedung tinggi. Suara desingan peluru terdengar begitu dekat, dan bau mesiu ini juga nyata, aku melihat di kejauhan, orang-orang itu berjatuhan satu persatu.

Kilatan bayangan itu muncul sangat cepat, namun aku bisa mengingat keseluruhan detailnya. Aku harus memberi tahu Irish, jika tidak, banyak orang yang akan mati malam ini. Aku yakin seratus persen bahwa apa yang kulihat benar-benar akan terjadi. Sejak aku berumur lima tahun, aku bisa melihat peristiwa yang akan terjadi secara acak, entah itu 5 menit, 10 menit, bahkan 30 menit sebelumnya. Dan ini termasuk salah satunya.

Aku berlari keluar toilet untuk memperingati Irish. Belum sempat aku berlari jauh, listrik gedung ini padam, diikuti dengan raungan sirine mobil dimana-mana. Pandangan mataku gelap dan tidak bisa mendeteksi benda apapun di depan mataku, bahkan aku tidak bisa melihat tanganku sendiri. kudengar jeritan panik orang-orang disekelilingku, sedangkan aku tidak pernah terbawa suasana, cukup diam tidak bergerak diruangan ini dengan senyum lebar menyeringai.

***

Belum sampai lima menit aku menunggu, muncul sepasang cahaya hijau sebesar kacang polong menghampiriku. Irish.

"Aku mencarimu, bodoh. Raptors datang, aku tidak melihat kedatangan mereka” Ujar Irish yang terlihat bingung. Matanya yang menyala hijau dalam gelap berusaha menerawang setiap sudut ruangan ini.

“Ya, kau terlalu sibuk berjoget dengan teman-teman tololmu itu kan?” Aku mendengus kesal, tidak lama, Irish menggenggam tanganku dan menarikku ke suatu tempat.

Aku yang tidak bisa melihat apa-apa karena suasana yang gelap, mau tidak mau harus mengikuti Irish. Percayalah, matanya bisa melihat tembus pandang sejauh 100 meter, bahkan dia bisa merubah matanya ke mode nightvision. Yah, aku tahu memang keren. Tapi aku yakin, kemampuanku masih jauh lebih keren daripada Irish.

Irish yang menggandengku sambil setengah berlari kini berhenti, mata hijaunya melihat kebawah, dan secara tiba-tiba dia mundur perlahan-lahan.

“Ohh, tidak. Zero, Tear Gas!!” Irish berteriak dan berlutut, kini dia menempelkan dahinya pada dahiku. Aku mengerti apa yang dia lakukan, dia sedang mencopy kekuatannya padaku. Ingat kemampuan keren yang aku beritahu sebelumnya? Ini juga salah satu kemampuanku, Mengcopy kekuatan orang-orang ‘spesial’.

Tidak butuh waktu lama untukku bisa mengcopy kekuatannya, hanya dibutuhkan sekitar 1 menit untuk Irish. Yah, tergantung besarnya kekuatan yang aku copy, hanya saja kekuatan yang aku copy tidak bertahan begitu lama. Setelah mataku bersinar biru dan bisa melihat dalam gelap, aku melihat kearah yang tadi ditunjuk Irish.

“Lihat, mereka sedang bersiap menembakkan Tear gas kea rah kita Zee! Kau tahu kan, aku tidak bisa menggunakan kekuatanku jika ada benda itu?” Ujar Irish ketakutan. Jika ada satu hal yang paling dibenci Irish di dunia ini, Tear gas adalah jawabannya.

“Tenang, kita sudah pernah melakukan ini sebelumnya. Sekarang, bantu aku mencari Cuka atau Lemon Juice!” Aku memberi perintah dan mulai mencari kedua benda tersebut. Sesaat kemudian, Selongsong tabung sebesar genggaman tangan memecahkan kaca dibelakangku dengan suara mendesis yang keras. Aku hapal betul, itu suara Tear gas.

“Zero!, Aku dapat.” Irish melemparkan sebotol cuka padaku, dan aku menangkapnya dengan sempurna. Tanpa basa basi aku mengambil serbet di meja dan menumpahkan cuka itu, membasahi semua serbet dengan bau masam yang menyengat.

Sesaat sebelum suara mendesis itu berhenti, aku sudah membungkus Tear gas itu dengan serbet cuka tadi. Percayalah, jika kau menemukan Tear gas, Cuka atau lemon adalah solusi yang tepat. Walaupun tidak bertahan lama, bau cuka lebih terasa sebagai udar segar dibandingkan dengan asap yang menyesakkan paru-paru.

Aku tersenyum melihat gumpalan serbet itu mengeluarkan asap berbau cuka. Tiba-tiba terdengar suara pintu didobrak, kali ini kami berlari menaikki tangga, belari sekencang mungkin. Karena kami tahu, yang mengejar kami bukanlah orang baik-baik. Raptors, pasukan pemusnah-penangkap mutant. Jika kami tertangkap, otak kami akan dijadikan bahan penelitian mereka. Menyebalkan.

Setelah berlari cukup lama menaiki tangga, akhirnya kami sampai di atas gedung ini. Tidak kuduga, keadaan diatas sini lebih menegangkan. Aku melihat ada 3 orang laki laki dan 2 orang perempuan saling membelakangi satu sama lain membentuk lingkaran. Sedangkan diatas mereka, ada tiga buah helikopter berputar-putar sambil menodongkan senapan besarnya.

“Jangan melakukan perlawanan, atau kutembak kalian semua!” seseorang diatas helikopter berteriak melalui pelantang suaranya.

Aku dan Irish berlari menghampiri mereka, "Choosen?" Irish bertanya pada mereka, orang-orang itu kompak menganggukan kepalanya. "Ok, ada siapa saja disini?" Aku ikut bertanya.

"Dua Morpher, dua Porter, dan satu Gigantros" Seorang pria berambut cepak dengan tindikkan di bibirnya menjawab mantap. "Bagaimana dengan kalian?"

"Aku Visioner, dan dia seorang Copier" ujar Irish sambil menunjukku. Copier, sebutan mutant yang bisa menerima atau mentransfer kekuatan mutant lain, Aku tidak begitu menyukai sebutan itu, tapi mau bagaimana lagi. Masih banyak sebutan-sebutan lain yang lebih buruk dari Copier. Aku akan jelaskan beberapa; Morpher adalah seorang mutant yang bisa merubah dirinya menjadi benda atau binatang, Porter sebutan bagi para kaum Teleport yang terbagi lagi menjadi beberapa bagian: Porter Time yang bisa melintas waktu, dan Porter Place yang bisa melintas tempat tanpa berhubungan dengan waktu. Sedangkan Gigantros adalah sebutan bagi mutant yang bisa memperbesar bagian tubuh tertentu atau seluruhnya. Mereka memiliki kekuatan yang luar biasa menyeramkan. Tapi, kaum jenis ini tidak bisa lama-lama memakai kekuatannya karena semakin lama mereka memakainya, semakin cepat ke-elastisitasan kulit mereka bertambah, menyebabkan mereka berkeriput lebih cepat dari manusia normal. Dan yang terakhir Visioner, serperti yang kalian tahu mereka bisa melihat tembus pandang dan melihat dengan jelas dalam keadaan gelap gulita. Choosen adalah sebutan bagi kami, manusia yang memiliki kekuatan 'spesial'. Tapi kami lebih sering dipanggil mutant oleh para Raptors.

"Kita harus bekerja sama untuk lari dari mereka, dengar, hal yang pertama yang harus kita lakukan adalah berbagi kekuatan" aku mulai memberi perintah, "Ayo, tempelkan dahi kalian secara berantai"

"Hei, Hei, tunggu dulu anak kecil, kau pikir siapa dirimu bisa menyuruh kami sesuka hati?" Pria gendut yang kuperkiran seorang Gigantros memprotesku.

"Ya ampun, Gel! kenapa tidak kau turuti saja perintah anak itu? lagipula tidak ada jalan lain selain melawan Raptors sialan itu!" Seorang wanita muda membentak si gendut itu dari belakang. Dari penampilannya, aku menebak dia seorang Porter Time.

"Dengar, Dia seorang Copier Sight. Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi aku tidak bodoh untuk tidak mengikutinya." irish sedikit menaikkan nada bicaranya, matanya menyala merah, menandakan emosinya yang sedang tinggi.

"Yeah, ok. whatever. Tapi menjadi seorang Copier yang bisa melihat masa depan bukan berarti dia bisa memerintahku seenaknya" Gel memutar matanya dan ikut berlutut untuk memulai ritual perpindahan kekuatan. Inilah salah satu kemampuan favoritku, meng-copy kekuatan mutant lain untuk dipakai bersama-sama. Kami semua berangkulan dan sinar berwarna kuning mulai menyelimuti kami.

***

Tidak sampai 5 menit, cahaya kuning itu hilang. dan aku merasakan ada semacam gejolak energi didalam tubuhku. 'Perpindahan yang sebentar menandakan bahwa mereka bukan mutant dengan kekuatan tinggi' aku bergumam dalam hati. Selama proses tadi, aku juga membisikkan hal-hal apa saja yang harus mereka lakukan setelah proses selesai.

"Baiklah, kita mulai" Ujar Irish semangat. Dua orang wanita yang tidak kukenal tadi ternyata memang seorang Porter Time dan Porter Place. mereka duduk berhadapan, mencoba membuka portal waktu dan tempat secara bersamaan, dibutuhkan waktu yang sedikit lama untuk bisa berpindah tempat. Karena tidak mudah membuka portal bagi mutant level rendah. Kecuali mereka adalah seorang Mutant berlevel Ultimate. Mereka bisa berpindah dengan cepat seperti dalam film Jumper.

Para Raptors kini sudah menurunkan pasukannya di atas atap, berdiri dihadapan kami dengan senjata lengkap. Dengan kode jentikan jari, kami berlari ke arah pasukan itu menerjang sambil berteriak. Kapten Raptors kaget dengan gerakkan kami yang tiba tiba. Dia langsung memerintahkan untuk menembak. Namun, sesaat sebelum peluru itu bersarang ditubuh kami, kami semua berubah menjadi serangga kecil. aku dan Irish memilih nyamuk, karena ukurannya yang kecil, sedangkan laki laki berambut cepak, temannya dan Gel memilih menjadi lebah.

Aku dan Irish terbang ke hadapan para pasukan yang berjumlah sekitar 20 orang. Gel dan kedua temannya masing-masing masuk kedalam helikopter, dalam hitungan detik, Gel merubah dirinya lagi menjadi badak bercula di dalam heli. Hanya saja kali ini dia menggabungkan dengan kekuatan Gigantrosnya. Hasilnya, tentu saja helikopter itu tidak mampu menahan beban Badak sebesar Mammoth dia kehilangan kendali, dan meluncur kebawah dengan kecepatan yang menyeramkan. Hal yang sama juga terjadi dengan dua helikopter lainnya, kali ini masing-masing helikopter berisi ikan Paus dan binatang prasejarah Triceratops.

Para pasukan Raptors tertegun menyaksikan helikopternya hancur dengan cara yang tidak biasa. kesempatan ini tidak kami sia-siakan, dengan sigap Irish berubah menjadi Rayap raksasa dan menyemprot pasukan Raptors dengan cairan kimianya, menyudutkan mereka kesisi gedung, satu persatu mereka jatuh kebawah tanpa sempat menarik pelatuk senjatanya. Sedangkan aku, sibuk membuat jaring laba-laba raksasa didasar gedung untuk menangkap para Raptors yang terjatuh. bagaimanapun juga, aku tidak pernah tega membiarkan mereka mati. Tidak peduli seberapa kejamnya mereka terhadap kami.

Aku kembali meminjam kekuatan Morpher, berubah menjadi elang, dan terbang menuju atap gedung, menuju teman-temanku yang sudah berkumpul.

"Wow, tadi benar-benar menyenangkan, aku suka sesaat sebelum helikopter itu jatuh, dan aku terbang menjadi burung gagak. benar-benar keren!" Gel bercerita dengan ekspresi yang berlebihan.

"Hei, Portalnya sudah terbuka, ayo kita pergi dari sini!" Sang Porter Time mengajak kami sambil melompat kedalam Portal. Aku dan Irish saling berpandangan dan berjalan menuju Portal. Namun tiba-tiba Irish terjatuh disebelahku dengan dada bersimbah darah dengan lubang menganga. Aku menajamkan pandanganku kesekeliling gedung dengan mode Nightvision, Dan benar saja, aku melihat seorang laki-laki berdiri di gedung seberang memegang teleskop, tangan satunya ia bentuk menjadi sebuah pistol dan ia arahkan padaku. tidak salah lagi, itu sang penembak udara. "SPITTER!!" aku berteriak.

***

Read previous post:  
34
points
(689 words) posted by Hell_Warrior 8 years 39 weeks ago
68
Tags: Cerita | Cerita Pendek | fantasi | Adventure | Fiction | HERO | mutant | Power
Read next post:  
Writer Ao-Chan
Ao-Chan at The Chosen - Chapter 1; First Blood (8 years 18 weeks ago)
100

Aduh, aku jadi deg deg an bacanya. .

Writer usagi
usagi at The Chosen - Chapter 1; First Blood (8 years 50 weeks ago)

hai. . aku komen ya :D
Penggunaan katanya harus diperhatikan kayak "memperingati . . ." seharusnya kan memperingatkan, iya kan?
but overall, two thumbs for you! :D

100

gak sekalian tuh Ampecoelias Fragilimus (dino sepanjang 60 meter) ato Seismosaurus (32 meter) biar rame

hahahahaaa... bisa bisa bro, tapi ntar yang make kekuatannya langsung kendor kulitnya :p

Writer arielf
arielf at The Chosen - Chapter 1; First Blood (8 years 51 weeks ago)

penuh aksi yaa..

ia bro, ga dinilai nih bro hehe :p

100

Ini cerita yang menarik, klo film mirip2 kayak Hero, X-man dll. aku tunggu kelanjutannya.

ia beberapa inspirasi memang dari film2 tersebut bro, dari naruto dan HxH juga ada. btw, chapter 2 nya uda ada, kalo sempat tolong dibaca ya bro . makasi.

80

arigatou sensei-sama. btw, kalo boleh minta pendapatnya, dari segi ceritanya gimana yah?

Writer L. Filan
L. Filan at The Chosen - Chapter 1; First Blood (8 years 52 weeks ago)
80

Serasa membaca X-men.
Tapi msh byk kesalahan eyd. Huruf besar, huruf kecil. Penulisan preposisi + tempat.
Yah hanya perlu dirapikan.