Layang-Layang

            Angin bulan Januari sebagian berhembus kencang. Menyibak apa saja yang dilewatinya. Jumlah pepohonan di kawasan tempat tinggalku sekarang kian menipis. Angin bisa membawa apa saja yang dilewatinya. Termasuk air, debu, dan jenis-jenis polusi lain yang membuat kotamu terasa semakin sesak. Dari tempatku berdiri aku bisa melihat semuanya. Sisa-sisa banjir yang masih menggenang. Memaksa masuk rumah-rumah para warga. Tanpa permisi. Banyak barang-barang hanyut terbawa olehnya.Tidak hanya itu, tanpa tanggung-tanggung banjir menelan korban manusia. Menelan rumah-rumah, pepohonan yang tinggal sedikit, dan beberapa gedung dibuat kewalahan. Jalanan menjadi tergenang. Akses menuju sektor penting seperti ekonomi dan politik terhambat. Kudengar, negara mengalami kerugian mencapai bermilyar. Selain kerugian, tentu saja yang tersisa adalah kepedihan. Tanpa bisa ditolak, sebuah bencana akan menimbulkan trauma. Setidaknya untuk hilangnya apa-apa yang kau punyai.

            Januari, namamu akan selalu terkenang. Bukan soal kesedihan bencana yang menyiksa. Melainkan tambahan tragedi lain yang bernama perpisahan. Yeah, mungkin cengeng dan berlebihan. Bencana yang dirasakan secara kolektif kurasa belum ada apa-apanya dibanding bencana yang menimpa hati sendiri. Oke, aku akan berapologi. Bahwa kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Dan berlangsungnya pernikahan dia adalah sebuah keniscayaan. Telah digariskan Tuhan.

            Saat-saat seperti ini mencari tempat tertinggi adalah salah satu solusi. Jangan berpikiran aku akan bunuh diri. Sederhananya agar aku bisa melihat luasnya dunia. Ternyata, masalahku belum ada tandingannya bila dibanding dengan orang-orang di sekeliling yang lebih menderita. Mereka benar-benar putus asa dan tak menemui jalan keluar. Ditinggal mati orang yang dikasihi, rumah dan harta benda ludes diterjang banjir, belum lagi orang-orang yang masih menanggung hutang sedangkan jaminannya terkena imbas bencana. Mau bayar pakai apa? Sedih sekali.

            Aku jadi ingin bermain layang-layang. Re sudah aku hubungi. Kenapa dia tak juga datang. Apakah aku keterlaluan? Menyuruhnya mencarikan layang-layang di musim hujan. Mungkinkah ada toko yang buka padahal hari-hari masih berduka. Semoga saja dia berhasil. Lagipula, kenapa dia menyanggupi. Jika memang tidak mungkin tinggal bilang saja.  

            Aku terlanjur menaiki atap gedung berlantai sembilan. Malas juga kalau harus turun dan mencari sendiri. Meminta bantuan Re lebih efektif. Baru sekali ini minta pertolongan. Tidak apa-apa kan?

            “Hei…” seseorang menyapaku dari arah belakang. Kutahu itu suara Re.

            Ku balikkan tubuhku dan berjalan menghampirinya. Seulas senyum kusunggingkan padanya, “dapat?”

            Satu kata ini adalah bahasa basa-basi. Padahal telah terlihat dua buah layang-layang sedang di tentengnya.

            “Aneh. Usia  sudah kepala dua tapi mintanya mainan anak-anak.”

            “Kenapa? Memangnya tidak boleh?” jawabku sinis.

            Angin berhembus melewati jarak pandang kami. Menyibak anak rambut Re. “Ya, aneh saja,” ucapnya.

            Boleh dia mengataiku aneh. Seandainya memang aku terlihat aneh. Re tidak tahu saja. Sudah lama aku menginginkan permainan ini. Memainkan permainanmu sendiri. Dulu, sewaktu kecil aku cuma kebagian memegangi layang-layangnya saja. Setelah terbang, aku tidak boleh memegangnya. Takut jatuh atau putus kata mereka. Bagaimana mereka tahu layang-layang itu akan putus atau jatuh? Sedangkan aku tidak pernah diberi kesempatan dan kepercayaan untuk mengendalikannya. Sesekali pernah aku membeli dan ingin menerbangkannya sendiri. Tiba-tiba mereka datang merecoki. Mengambil permainanku. Betapa menyedihkannya jadi seorang pecundang. Menjadi seorang yang kurang percaya diri lantaran tidak pernah diberi kesempatan.

            Sampai sekarang, aku terbiasa merelakan sesuatu yang aku cintai untuk orang lain. Asal mereka bahagia. Asal mereka tak menggangguku. Aku tidak apa-apa. Awalnya memang berat. Tapi akhirnya terasa ringan.

            “Re, sekarang aku tahu rasanya menjadi pengendali. Aku mau berhenti jadi layang-layang,” kataku sembari berkonsentrasi mengendalikan terbang layang-layang yang belum stabil.

            Kami duduk sambil memegangi layang-layang masing-masing. Angin bulan Januari yang sewaktu-waktu kencang cukup membantu kami untuk menerbangkannya. Di tambah posisi kami yang sedang berada di atas atap gedung.

            “Aku bahagia,” kataku lagi.

            Maaf Re, aku sering menjadikanmu tempat sampah. Kau boleh pergi jika kau mau.

            “Dari dulu aku selalu berharap kamu bisa jadi dirimu sendiri. Sekarang sudah tahu kan rasanya?”

            Saking terlalu bahagia aku ingin menangis. Hal-hal kecil yang kau rindui setelahnya terpenuhi bisa membuatmu jadi terharu. Luapan bahagia yang tidak dapat dilukiskan.

            “Re, apakah sekarang aku masih terlihat seperti pecundang?”

            Dia menggeleng, “mungkin hanya perasaanmu saja.”

            “Tidak apa-apa kok. Sebetulnya aku tidak marah sama siapapun. Sama dia yang pergi dengan orang lain. Bukankah ini bagian dari proses?” lagi-lagi aku benci berapologi dan berpura-pura kuat.

            “Beneran tidak apa-apa,” lanjutku. Kali ini aku tak mampu menahan lagi. Satu persatu air mataku jatuh.

            Tangan Re meraih kepalaku dan menyandarkan ke bahunya. “Iya, tidak apa-apa.”

            “Re…”

            “Hm…”

            “Apakah ini yang dinamakan patah hati?”

            Senyum tipis mengembang di bibirnya. “Mungkin.”

            “Kamu pernah ngerasain?”

            “Pernah.”

            Sunyi. Angin kembali hadir membelai keberadaan kami. Menyadarkanku bahwa waktu sudah menginjak sore. Aku ingin kembali meyakinkan diriku sendiri. Mengatakan pada dunia.

            “Re, aku nggak mau jadi layang-layang lagi. Aku lelah. Capek di tarik ulur terus-terusan. Dipermainkan. Mending diputus saja. Biar sekalian sakit.”

            Entah. Aku sering ngelantur saat merasa tak karuan seperti ini. Aku hanya ingin berhenti jadi layang-layang. Itu saja.

            Lelah.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer sekar
sekar at Layang-Layang (8 years 47 weeks ago)

ngedouble sorry *edited

Writer sekar
sekar at Layang-Layang (8 years 47 weeks ago)
70

nice tapi agaknya keterkaitan antara konsep cerita diawal (bencana) dan 'bencana' di hati pelaku, agak memaksakan, jadi seperti tidak berhubungan sama sekali. but still nice :)

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Layang-Layang (9 years 22 weeks ago)
60

mungkin senada kayak komen sebelum2nya. baca cerpen ini tuh kayak dengerin dua orang ngobrol, tapi ga begitu paham sama apa yang diobrolin. dapet sih intinya, cuman terasa kurang to the point aja gitu... mungkin bisa dipadatkan, sekaligus diperjelas. ini mungkin lho... *ikutan kampai62

Writer kampai62
kampai62 at Layang-Layang (9 years 22 weeks ago)
60

mungkin akan lebih baik kalau ada flasback ke masa-masa dia masih ama kekasih dan alasan kenapa dia sampai ditinggal atau ke masa-masa dia selalu diremehkan dengan demikian mungkin pembaca akan semakin bisa merasakan kepedihan dari tokoh utama disini..
ini mungkin lho,,

Writer muras
muras at Layang-Layang (9 years 22 weeks ago)

makasih sarannya :)

Writer didi
didi at Layang-Layang (9 years 22 weeks ago)
70

ceritanya bagus, tapi kayaknya lebih bagus kalo ceritanya dipanjangin

Writer muras
muras at Layang-Layang (9 years 22 weeks ago)

iya? makasih :)

Writer Tio-prast
Tio-prast at Layang-Layang (9 years 23 weeks ago)

ide cerita sangat bagus.
proses kadang dibutuhkan dalam bercerita. maaf aku belum dapat klimaks dari cerita ini...

Writer muras
muras at Layang-Layang (9 years 22 weeks ago)

ngga apa-apa, makasih :)